
"Apa kamu mencurigai seseorang?" Tanya Rebbeca penuh selidik.
"Aku bukan hanya curiga. Tetapi aku tahu siapa orang itu." Tania menggertakkan giginya. Apa tidak cukup mendesainnya dengan menidurinya namun dengan membiusnya dan tidak mau mengakui perbuatannya? Kenapa ia juga tega mencemarkan nama baiknya seperti itu? Apa salahnya padanya? Apa karena ia hanya iseng untuk memberitahu Rebbeca jika orang yang dicintainya kembali? Tapi apakah ini adil?
Tidak! Ini keterlaluan.
"Rebbeca, tolong antar aku ke apartemen Imperial." Tania tidak menjawab dan Rebbeca juga tidak terus mengejarnya. Juga memerintahkan supirnya untuk mengantar Tania ke apartemen Imperial seperti yang dia minta.
Namun tersangka yang dipikirkan Tania bahkan pada saat ini juga sama marahnya seperti dirinya. Ia tidak pernah merencanakan bahkan sedikitpun berpikir untuk merusak reputasi Tania seperti itu. Ia memang memasang kamera CCTV bahkan di dalam kamar namun bukan untuk menyebarluaskan seperti saat ini. Ia hanya akan menggunakan rekaman itu untuk membuat kakek Seno dan Nenek Ambar menyetujui perceraian nya. Bahkan, rencana awalnya tidak sejauh itu.
Pria asing itu memang diperintahkan untuk membuat hype dengan Tania. Namun hanya sekedar mengambil gambar saja. Tidak lebih. Itulah mengapa saat ia melihat penampilan mencurigakan pria bayaran itu, ia tahu bahwa sesuatu yang salah telah terjadi.
Faktanya, Khansa tidak bisa duduk diam. Dia menghubungi orang suruhannya dan memintanya untuk memberikan pria bayaran itu obat perangsang. Begitu juga dengan Tania. Semua itu adalah ulahnya. Ia yakin jika Kevin akan bisa lepas dari Tania begitu saja. Jadi dia harus menghancurkan Tania sampai Kevin pun tidak akan mau melihatnya. Menurut pemahaman nya, ia tahu bahwa Kevin tidak akan mau menyentuh sesuatu yang menurutnya kotor. Jika dia berhasil membuat Tania masuk ke dalam jebakannya, dia akan kotor dan dibenci oleh Kevin selamanya. Dengan begitu, ia dapat memastikan jika Tania tidak akan kembali lagi.
"Tuan, orang itu sudah berhasil saya temukan." Danil masuk ke dalam ruang kerja Kevin dan membuyarkan lamunan Kevin dan membuatnya mengangkat kepalanya.
"Bawa pria ba-ji-ngan itu masuk." Ucap Kevin dengan suara rendah. Danil mengangguk ringan sebelum keluar dan kembali lagi dengan menyeret seorang pria dengan wajah yang lumayan tampan masuk. Pria itu adalah pria yang sama yang berada di dalam kamar hotel bersama dengan Tania dan juga merupakan pria bayaran nya.
Kevin tidak bisa menahan emosinya saat melihat wajah pria itu. Ia ingat betul bagaimana ia menatap Tania tadi malam. Juga, bagaimana saat ia menggunakan tangannya yang kotor membelai wajah Tania dengan penuh naf-su. Mengingat hal itu, ia ingin memotong tangan kotor itu dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil untuk memberi makan ikan di laut.
Kevin dengan cepat bangun dari duduknya dan mencengkeram kerah kaos pria itu dan mengangkatnya tinggi. Membuat otot di tangan Kevin menyembul keluar.
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu melakukan semuanya?" Tanya Kevin penuh amarah. Ia mengabaikan bahwa pria itu hampir tidak bisa bernapas dan tidak bisa bicara sama sekali.
"Egh... Egh... Egh..." Pria itu memegang tangan Kevin dan berusaha melepaskan dirinya untuk menyelamatkan nyawanya. Dia salah telah mengkhianatinya dan menyinggungnya demi uang itu. Meskipun uang yang diberikan pihak lain memang banyak, tapi itu masih tidak layak disebutkan jika dibandingkan dengan nyawanya.
"Tuan, dia bisa mati." Danil mengingatkan dari samping. Sebagai tangan kanan Kevin, Danil mengerti jika pada saat ini ia tidak akan bisa menyingung perasaan bosnya atau dia yang akan kena imbasnya. Jadi alih-alih melarang Kevin atau hanya sekedar meminta Kevin melapaskan pria itu, Danil hanya mengingatkan nya saja. Ia yakin dengan pengendalian diri Kevin yang baik, ia yakin Kevin sudah pasti dapat berpikir dengan jernih.
__ADS_1
Mendengar pengingat dari Danil, Kevin pun segera melepaskan pria itu yang langsung meluncur jatuh ke bawah. Terduduk di lantai dengan terbatuk-batuk. Melihatnya yang menderita, Kevin hanya meliriknya tanpa perasaan.
"Tuan ampuni saya tuan. Saya tahu saya salah. Saya khilaf tuan. Tolong ampuni saya." Pria itu yang dengan susah payah akhirnya mendapat kan kekuatannya segera merangkak dan memegang erat kaki panjang Kevin yang segera mengibarkannya dengan jijik.
"Potong omong kosong mu! Katakan siapa yang menyuruhmu melakukan itu?!" Bentak Kevin dengan keras sambil mendorong pria itu agar melepaskan kakinya.
"Saya... Saya tidak tahu tuan. Saya hanya menerima telepon dari seorang wanita tanpa melihat wajahnya. Dia memberikan banyak uang untuk saya. Saya mengatakan yang sebenarnya tuan. Saya tidak akan berani berbohong pada tuan. Saya berani bersumpah." Takut Kevin tidak akan mempercayainya, pria itu bersumpah dengan sungguh-sungguh.
Kevin melirik Danil yang segera memahami apa yang diinginkan sang bos. Ia segera mengeluarkan ponsel milik pria itu yang telah dia sita sebelumnya. Lagipula, ia harus berjaga-jaga jika saja pria itu dengan sengaja menghilangkan bukti yang mengarah pada pelaku utama dalang dibalik semua ini.
Kevin menerima ponsel itu dan tidak sabar. Lalu membuka ponsel demi menemukan jika ponsel itu dikunci dengan sandi angka.
"Katakan apa sandinya." Kevin melirik pria yang masih berlutut ketakutan di depannya.
" Satu empat nol dua dua dua." Setelah Kevin mengetik seperti yang dikatakan pria itu, ia tidak bisa tidak menaikkan alisnya dengan heran.
Sadar dengan tatapan Kevin yang aneh, pria itu menjelaskan dengan malu-malu. "Itu... Itu adalah hari jadian saya dengan kekasih saya. Satu tahun yang lalu." Saat membahas kekasihnya, wajahnya yang tegang sedikit terurai.
"Ternyata dia orangnya. Aku benar-benar tidak menyangka jika dia akan tega merencanakan hal yang begitu buruk pada Tania yang bahkan tidak pernah bertemu dengan nya." Gumam Kevin dengan mata berkilat kebencian.
Brak! Pintu dibanting hingga terbuka. Lalu Tania bergegas masuk dengan penuh emosi. Awalnya, ia ingin kembali ke apartemen Imperial. Ia berniat akan berganti pakaian di sana dan juga mengambil mobilnya sebelum mencari Kevin. Namun ternyata, apartemen Imperial telah dikerumuni oleh para wartawan yang mengepung dari segala sisi yang tidak memungkinkan nya untuk masuk. Jadi dia meminta Rebbeca untuk mengantar kannya ke butiknya.
Di dalam butik, meskipun semua karyawannya menatapnya dengan rasa ingin tahu, namun ia tahu jika mereka sebenarnya sedang mengkhawatirkan nya. Namun saat ini, ia tidak memiliki waktu untuk menghibur mereka dan bergegas masuk untuk berganti pakaian dan pergi setelah itu.
Tujuan utama Tania adalah mencari Kevin. Dan dia menebak jika Kevin pasti sedang berada di kantornya saat ini. Jadi meskipun ia melihat semua tatapan karyawan yang memandangnya jijik, juga mendengar semua hal buruk tentang nya di sepanjang perjalanan nya menuju ruang kerja Kevin, ia mengabaikan semuanya untuk menemui pria yang saat ini adalah suaminya yang sebentar lagi, firasatnya mengatakan bahwa mereka akan segera menjadi mantan.
*
__ADS_1
*
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_33🍁
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
***
Keistimewaan Bulan Ramadhan dari
☘️Ali Bin Abu Tholib☘️
🍃Malam Ke Dua puluh Dua🍃
🌸Pada malam ke dua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap kesusahan dan kesedihan 🌸
Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰
__ADS_1
Salam sayang 😘
❤❤❤Queen_OK❤❤❤