
"Aku juga baru tahu setelah aku sampai. Jika aku tahu aku juga tidak akan setuju untuk dikirim bahkan jika perusahaan mengancam ku untuk mencekalku selama satu tahun." Jawab Tania kesal. Jika bukan ancaman itu, ia tidak akan sampai di sini dan bertemu dengan Kevin. Laki-laki yang paling tidak ingin ia temui di dunia ini.
"Oh. Jika seperti itu, aku juga setuju jika kamu tidak membawa anak-anak datang. Lagipula, Kaisar memiliki hampir sembilan puluh wajah pria be-reng-sek itu. Dia akan mengenalinya sebagai anaknya hanya dengan sekali lihat." Arsya mendesah pelan. Tidak dapat dipungkiri jika wajah keponakannya yang tampan memang mewarisi dari wajah Kevin. Melihat Kaisar, ia seperti melihat Kevin versi mini. Benar-benar mirip.
"Yah itulah yang aku takutkan."
"Tidak apa-apa. Selama anak-anak tidak di sini, mereka akan aman. Aku akan menemui mereka nanti."
Malam itu, kedua kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu itu menghabiskan waktu dengan bahagia. Mereka membicarakan banyak hal yang telah mereka lewati. Membagikan banyak hal bersama dengan penuh tawa dan kehangatan yang sangat menenangkan.
Malam pun semakin beranjak. Mereka dengan enggan akhirnya memutuskan untuk pulang. Mereka harus pergi bekerja besok. Lagipula masih ada hari yang panjang untuk bertemu kembali nanti.
Jadi Tania keluar dari ruang VIP itu dengan wajah bahagia. Membawa bukt bunga lili yang indah di pelukannya. Arsya berjalan di sampingnya. Menggamit pinggangnya dengan mesra. Siapapun yang melihatnya, mereka akan setuju jika keduanya pasangan yang mesra. Pun dengan seseorang yang melihat mereka dengan geram.
"Huh! Berani sekali dia bermesraan dengan pria lain di tempat umum seperti ini. Dia benar-benar mempermalukanku." Gumam Kevin.
"Tuan, bukankah itu Tuan Arsya Wiratmaja? Kakak laki-laki nona. Lagipula semua orang tahu jika nona Tania saat ini bukanlah siapa-siapa anda. Jadi apa yang nona Tania lakukan tidak akan berpengaruh pada anda sama sekali." Danil berbicara seperti ingin meredakan kemarahan Kevin, namun pada kenyataannya tidak.
Beberapa saat yang lalu, ia baru saja mendapatkan sejumlah banyak uang di rekeningnya. Entah dari mana, Erna mengetahui jika Tania telah kembali dan bahkan berada sangat dekat dengan cucunya. Dia bahkan tahu apa yang dilakukan Kevin di perusahaan pada Tania. Lalu, secara khusus Erna meminta Danil untuk membuat Kevin tergila-gila pada Tania dan mengejarnya.
Danil tidak menyangka jika tidak lama setelah ia menerima perintah, ternyata muncul kesempatan untuk menyelesaikan tugas nya. Lagipula melihat bagaimana tuannya memperlakukan Tania, ia mengetahui jika sebenarnya tuannya ini memang sudah mencintai Tania namun masih tidak mau mengakuinya saja. Ah! Sepertinya ini tuas yang mudah. Bonus besar terlihat di depan mata.
"Apa kamu pikir aku bodoh? Semua orang tahu bahwa mereka bukan saudara kandung. Tidak ada hubungan darah sama sekali di antara mereka. Bagaimana bisa mereka bertindak seperti itu?"
Malam itu, Kevin baru saja selesai meeting dengan salah satu klien di restoran yang sama dengan Tania. Kevin datang sedikit lebih Lambat dari Tania. Jika tidak, ia akan tahu jika Tania juga datang ke tempat itu dan bahkan bertemu dengan Arsya. Menurut Kevin, meskipun mereka adalah adik kakak di masa lalu, mereka sama sekali tidak ada hubungan darah. Jadi Arsya tidak berbeda dengan laki-laki lain pada umumnya. Melihat Tania yang tersenyum bahagia sambil memeluk buket bunga yang menyebalkan itu sungguh membuat orang marah.
"Danil, apakah apartemen itu sudah selesai?" Tanya Kevin tiba-tiba.
"Em. Sudah tuan. Sore ini semua pekerjaan telah selesai dilakukan. Semua kebutuhan tuan juga sudah siap tersedia di sana." Jawab Danil dengan semangat. Sepertinya tugasnya akan segera selesai.
"Bagus. Aku akan tinggal di sana malam ini." Kevin mengangguk sebelum berjalan meneruskan langkahnya yang sempat terhenti setelah ia melihat Tania dan Arsya sebelumnya.
__ADS_1
"Baik tuan." Danil mengangguk sebelum mengikuti Kevin.
Keesokan harinya, Tania bangun terlambat karena setelah ia kembali dari restoran ia tidak segera tidur. Setelah bertemu dengan Arsya, suasana hatinya menjadi jauh lebih baik. Jadi dia menuturkan untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan siang harinya. Dan sekarang, karena bangun kesiangan, Tania tidak sempat membuat sarapan dan hanya memakan roti dengan selai kacang sebagai pengganti sarapan. Ia bahkan memakannya sambil berjalan cepat menuju lift yang sudah hampir tertutup.
"Tunggu! Tolong tahan dulu lift nya." Teriak Tania. Berharap seseorang di dalam lift menahan pintu lift untuk tidak tertutup terlebih dulu. Dan beruntung, sepertinya orang di dalam lift mendengar suaranya dan menahan pintu lift. Tania bernapas lega sambil berlari mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam lift. Jika pintu lift terlanjur ditutup, dia harus menunggu sampai lima menit lagi sebelum lift selanjutnya sampai.
"Huft huft..." Tania membungkukkan tubuhnya sambil memegang lututnya mengatur napas.
"Terima ka...sih." kosa kata terakhir yang diucapkan Tania hampir tertelan kembali begitu ia melihat siapa yang berada di dalam lift.
"Sama-sama." Kevin menjawab dengan acuh.
"Kamu! Kamu bagaimana bisa ada di sini?" Tanya Tania terkejut.
"Kenapa tidak bisa? Bukankah kamu juga ada di sini?"
"Itu karena aku tinggal di sini."
"Aku juga tinggal di sini. Jadi aku juga bisa ada di sini."
"Hem. Selamat pagi tetangga." Kevin mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Tania. "Ngomong-ngomong, kamu terlihat jauh lebih cantik dengan rambut panjang sepertu ini daripada di masa lalu." Lanjutnya sambil memainkan rambut Tania di tangannya. Menggulungnya dengan jarinya.
"Lepaskan! Jangan bertindak kurang ajar." Tania menghempaskan tangan Kevin yang membelai rambutnya.
"Kurang ajar? Bukankah ini masih lebih baik daripada membiarkan pria lain memeluk pinggangmu di depan umum?"
"Apa maksudmu? Jangan bicara omong kosong!" Ketus Tania.
"Tadi malam. Di restoran Pelita di ruang VIP 2. Apakah Miss Angela sudah ingat?" Kevin menekan semua kata dalam kalimatnya. Takut Tania dia mengerti satu kata pun dari ucapannya. Ia pun dengan sengaja berbicara di samping telinga Tania. Yang langsung didorong oleh wanita itu.
"Restoran Pelita?" Tania mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Ya. Bahkan masih dengan membawa bukat bunga lili yang jelek yang merusak pemandangan. Apa kamu masih mau mengelak?"
"Hah! Apa kamu memata-matai ku?"
"Tidak. Memangnya aku memiliki waktu luang untuk memata-taimu? Aku bukan seseorang yang dengan sengaja meninggalkan ruang rapat dan bolos kerja hanya untuk menemui laki-laki lain. Kamu juga tidak boleh berduaan dengan laki-laki lain." Sindir Kevin.
"Huh! Dari tadi kamu selalu menyebutkan laki-laki lain. Laki-laki lain yang kamu sebutkan adalah kakakku sendiri. Dan sekarang ini tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita. Jadi aku mau pergi dengan siapa, bersama dengan siapa juga bukan urusanmu. Memangnya kamu siapa berani melarangku?"
"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Lagipula Kita akan menjadi pasangan model untuk pakaian musim ini. Jika kamu memiliki gosip dengan laki-laki lain, citra produk juga akan terpengaruh."
"Huh! Aku juga bukannya setuju." Tania melirik nomor lantai yang akan segera sampai. Mendengus dan bersiap untuk keluar. Tepat setelah itu, pintu lift terbuka. Tania keluar dengan cepat. Meninggalkan Kevin yang semakin kesal. Untuk sementara waktu sampai masalah model diselesaikan, ia harus menjauhi laki-laki ini dengan cara apapun.
Namun sayangnya....
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_64🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...