
Sementara kedua orang di dalam ruangan sedang bermain dengan semangat, para bawahan menunggu di luar dengan tenang. Ralat. Tidak semua bawahan karena hanya Mona dan Danil yang duduk di kursi mereka dengan tumpukan berkas yang menunggu di periksa. Sedangkan Khanza, gadis itu mondar mandir di depan ruangan seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya di luar ruang persalinan yang sedang berusaha mengeluarkan bayi mereka. Jika Khanza mengetahui jika saat ini di dalam ruangan yang ditunggunya, Kevin dan Tania sedang membuat bayi mereka tanpa memikirkan nya, sudah pasti dia akan memuntahkan darahnya.
"Danil, aku mau masuk ke dalam. Aku belum membuatkan kopi untuk Kevin." Ucap Khanza menemukan ide untuk masuk ke dalam ruangan. Ia mengetuk meja Danil sebelum menatap Danil dengan memerintah.
"Nona Khanza tenang saja. Saya sudah menyuruh OB untuk membuatkannya untuk Tuan sebelum anda datang." Jawab Danil tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya.
"Aku... Kevin tidak biasa meminum kopi buatan orang lain." Khanza tidak menyerah.
"Yah. Kalau begitu nona bisa pergi ke pantry untuk menyiapkan nya."
"Aku mau membuatnya di ruang Kevin." Khanza menghentakkan kakinya.
"Pantry di ruangan tuan sudah tidak ada. Jadi nona bisa pergi ke pantry di sana." Danil akhirnya mendongak. Menatap Khanza dengan penuh ejekan sebelum menunjuk arah pantry. Di dalam ruang kerja Kevin sebelumnya ada pantry kecil. Namun karena saat ini ruangan Tania dipindahkan ke dalam, pantry akhirnya dihapus.
Khanza menatap Danil dengan kesal. Laki-laki ini selalu saja menguji kesabarannya. Menghentakkan kakinya sekali lagi dengan marah sebelum ia berbalik dan duduk di kursinya dengan kesal.
Setelah beberapa saat, Khanza tidak bisa mempertahankan ketenangan nya. Ia menghubungi ponsel Kevin. Namun lagi-lagi meskipun panggilannya tersambung, tidak ada orang yang mengangkatnya. Tidak bisa menghubungi Kevin, Khanza kembali berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Menggedor pintu dengan marah. Namun meskipun ia telah menggedor pintu itu dengan keras, tidak ada respon dari dalam ruangan. Beruntung semua ruangan di lantai itu sudah dilengkapi dengan peredam suara tingkat tinggi yang memblokir suara berisik yang Khanza buat.
"Argh! Jika seperti ini terus aku bisa gila!" Gerutu Khanza frustasi. Ia meremas pakaiannya yang rapi. Khanza sekali lagi menatap Mona dan Danil yang duduk dengan tenang bekerja di meja mereka. Lalu mengalihkan pandangannya dari Danil yang akan membuat nya kesal dan berganti menatap Mona yang tampak serius. Gadis itu membaca berkas yang sebenarnya adalah pekerjaan Tania. Sesekali Mona menaikkan kacamatanya yang melorot hingga ke ujung hidungnya.
"Hei asisten." Panggil Mona sombong. Dia tidak mengetahui nama Mona yang tidak penting baginya. Mona tidak merasa jika Khanza sebenarnya memanggilnya. Sejak tadi Khanza tidak bisa tenang dan mengganggu. Yang membuatnya harus berpura-pura bahwa Khanza tidak ada di sana. Menganggap suara Khanza tak ubahnya seperti suara dari sebuah radio rusak yang telah usang di ujung ruangan. Apalagi Khanza tidak memanggil dengan namanya. Jadi dia sama sekali tidak menyadarinya.
"Brak! Apa kamu tuli? Aku memanggilmu!" Mona sangat terkejut saat Khanza menggebrak mejanya dan membuatnya mengelus jantungnya yang berdegup kencang.
"Nona memanggil saya?" Tanya Mona saat ia telah menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Ya! Memangnya siapa lagi?" Khanza balik bertanya dengan marah. Apakah asisten Tania ini begitu bodoh? Betapa sama saja dengan atasannya. Huh! Khanza mendengus. Menatap Mona dengan sombong. Namun sejak awal Mona telah memperlakukan Khanza sebagai radio rusak yang diabaikan di ujung ruangan, jadi saat Khanza menatapnya seperti itu, dia sama sekali tidak terpengaruh.
"Oh.... Saya kira siapa. Nona Khanza, anda pasti tidak mengenal saya. Nama saya Mona." Mona tersenyum manis memperkenalkan dirinya. Mengulurkan tangannya dengan percaya diri.
"Aku tidak perlu tahu namamu. Kamu kira kamu itu siapa heh? Dasar tidak penting!" Dengus Khanza.
"Eh? Saya hanya tidak ingin jika lain kali saya tidak bisa mengetahui jika nona memanggil saya karena anda memanggil saya hanya dengab asisten. Bukankah di lantai ini, bahkan di tempat ini, saya dan anda sama-sama adalah asisten." Mona menjelaskan.
"Huh! Kamu pikir kita berdua sama? Mimpi. Meskipun aku juga adalah asisten, tapi aku adalah asisten Kevin. Pemilik dari Kev Fashion ini. Mana bisa aku dibandingkan dengan asisten seorang bintang biasa?" Cibir Khanza.
"Saya mengerti nona." Jawab Mona pada akhirnya. Fix dia merasa jika Khanza bukan hanya seorang pengganggu, dia juga seorang yang senang berada di atas dan dipuja. Dia dmegam cerdas menganggukkan kepalanya patuh.
"Memang an-jing peliharaan tidak akan jauh berbeda dengan majikannya." Khanza melihat Mona yang patuh dan menganggapnya mudah ditindas.
Danil mendengar semuanya dan mengerutkan alisnya. Lalu tanpa mengangkat wajahnya, ia berkata, "Yah itu juga benar. Tetapi di sini masih tidak jelas siapa an-jing yang sebenarnya. Namun tidak masalah. Untuk mengetahuinya sangat mudah, an-jing selalu suka menggonggong di manapun."
"Kamu!" Khanza sangat marah. Belum lama Tania juga mengatainya an-jing. Dengan susah payah ia melupakannya. Tapi sekarang, Danil sudah mengingatkan nya lagi. Melihat kedua orang yang begitu menyebalkan itu, Khanza tidak tahan dan pergi dari sana dengan marah. Setiap langkah yang diambilnya berat dan penuh amarah. Hak highheel yang dikenakannya mengetuk keras dan menimbulkan bunyi berirama yang memecah keheningan lorong.
"Terima kasih tuan Danil." Mona memandang Danil dan berterima kasih dengan tulus.
"Tidak masalah. Orang seperti itu memang harus sedikit diberi pelajaran." Jawab Danil serius. Ia sudah kembali fokus pada berkas di depannya. Pekerjaan ini harus segera dia selesaikan. Mona menganguk setuju.
Setelah itu tidak ada lagi suara selain suara kertas yang dibalik dan mata pena yang digoreskan. Juga suara keyboard komputer yang ditekan seperti irama yang merdu. Pintu yang ada di depan mereka masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Sejak pintu itu ditutup dua jam yang lalu, pintu itu belum terbuka sampai saat ini. Apalagi ruangan itu dilengkapi dengan peredam suara tingkat tinggi yang mustahil bagi orang di luar yang akan mendengar suara yang ada di dalam.
"Tuan Danil, kenapa Miss Angela dan tuan Kevin tidak juga keluar? Apa mereka benar-benar tidak memerlukan sesuatu?" Tanya Mona setelah ia melirik pintu yang tenang itu.
__ADS_1
"Tidak. Jangan cemas. Jika mereka selesai dengan urusan mereka, mereka juga akan keluar." Jawab Danil mengerutkan keningnya.
"Ooh... Memangnya kenapa tiba-tiba ruangan Miss Angela dipindahkan ke dalam?" Setelah Tania keluar dari ruangannya dan meminta Mona menunggunya di ruangan, Danil datang tidak lama kemudian dan mengatakan jika Tania akan pindah ruangan. Begitu juga dengan Mona. Namun Danil tidak mengatakan alasan mereka dipindahkan. Sekarang Mona memikirkannya dan tidak mengerti jawabannya.
"Mereka akan menjadi pasangan besok. Jadi mereka perlu membangun chemistry agar mereka tampil natural nanti." Jawab Danil sekenanya. Ia tidak mungkin memberi tahu Mona dengan jujur.
"Oh seperti itu." Mona mengangguk mengerti sebelum kembali melihat ke arah pintu yang sama sekali tidak ada pergerakan.
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_109🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...