
"Huh! Hanya seorang designer saja gayanya seperti bos. Keluar pada saat jam kerja sesuka hati." Khanza menyindir saat ia melihat Tania yang hendak pergi.
"Oh? Mungkin karena nona Khanza adalah seorang asisten pribadi, jadi anda munkin tidak mengerti jika seorang Designer memiliki jam kerjanya yang bebas karena sebuah ide tidak dapat diatur akan muncul dimana. Bekerja di kantor hanyalah formalitas saja. Selebihnya, seorang designer akan bekerja sesuai dengan mood mereka. Lagipula saya sudah meminta izin pada Tuan Abraham dan dia mengizinkan. Apakah Nona Khanza memiliki masalah dengan itu?"
"Kamu! Aku adalah..."
"Anda adalah asisten pribadi Kevin sekarang dan tidak akan berubah." Tania segera memotong ucapan Khanza. Lagipula ucapan Khanza selalu sama. Ia akan mengatakan jika ia adalah calon nyonya Abraham masa depan. Dan Tania sudah hapal. Biasanya dia akan membiarkan saja, namun lama kelamaan dibiarkan, Khanza ini semakin menekan dan menindas Tania. Karena Tania tidak pernah menolak, ia mengira jika Tania mudah ditindas dan diintimidasi. Jadi kali ini Tania ingin melawannya.
"Kamu! Beraninya kamu! Aku adalah..."
"Ya ya. Saya mengerti nona Khanza yang terhormat. Jika anda bilang seperti itu anggap saja itu benar. Ya sudah, saya tidak akan menghabiskan waktu anda lagi. Bye..." Tania melambaikan tangannya dan pergi setelah ia melihat Khanza yang terlihat kesal dan marah.
Tania memutar bola matanya. Yah. Tidak hanya Kevin yang merepotkan, Khanza juga. Namun dibandingkan dengan Khanza, Kevin lebih sulit dilawan.
Setelah lepas dari kedua orang yang merepotkan itu, Tania tidak membuang waktu dan bergegas keluar dari kantor. Selama itu masih di area perusahaan, ia masih khawatir jika dia tidak bisa lepas dari pengawasan Kevin.
"Xi Lin ada ap?" Tania segera menghubungi Xia Xi Lin lagi setelah ia sampai di kafe terdekat.
"Nona, ini salahku. Tolong hukum aku." Ucap Xia Xi Lin begitu sambungan tersambung dan ia mendengar pertanyaan Tania. Ia merasa gagal sebagai seorang bawahan.
"Xi Lin. Kamu selalu saja seperti itu. Katakan dulu ada apa." Tania memijit pelipisnya. Gadis ini selalu saja meminta hukuman setiap saat.
__ADS_1
"Ini mengenai si kembar. Kemarin tuan Arsya datang. Lalu keduanya mengatakan jika mereka akan menjemput nya. Siapa yang menyangka saat kami tiba di bandara, keduanya ternyata sudah bersiap dengan tas mereka. Ini salah saya karen lalai. Jika saya tahu, saya akan menemukan tas itu. Saya benar-benar salah nona."
"Eh? Ini bukan salahmu. Aku tahu bagaimana kedua anak itu. Mereka itu jika sudah memiliki keinginan, tidak akan berubah. Mereka akan melakukan apapun demi keinginan mereka. Meskipun kamu menemukan tas mereka, juga bukan tidak mungkin mereka masih akan bersikeras datang. Jadi ini bukan salahmu sama sekali. Sekarang kalian di mana?" Kepala Tania semakin berdenyut. Kedua anaknya ini sangat keras kepala. Sama seperti Kevin dan dirinya. Memang mau seperti apa anak mereka jika kedua orang tua nya seperti itu?
"Kami tinggal di apartemen yang disewa Tuan Arsya. Tadi ruang Arsya berkata jika apartemennya ada di apartemen sebelah." Jawab Xia Xi Lin.
"Oke. Aku tahu." Tania menganggukkan kepalanya.
"Lalu nona, apa yang harus saya lakukan sekarang? Apa saya harus tetap di sini?" Tanya Xia Xi Lin membuyarkan lamunan Tania.
Tania diam dan berpikir, menimbang banyak hal sebelum ia akan memutuskan. Mengenai kedua anaknya, dia tidak boleh ceroboh dan membiarkan kesalahan sekecil apapun terjadi. Saat ini ia masih tidak bisa percaya pada Kevin sepenuhnya. Di masa lalu, mereka bahkan memiliki kontrak pernikahan yang akan dijalankan dalam jangka waktu tertentu. Namun nyatanya, Kevin sendirilah yang melanggarnya dan memutuskan pernikahan mereka dengan caranya sendiri, yang sangat tidak adil baginya.
Lima tahun lalu, adalah tahun terburuknya selama ini. Bagaimana karir yang dibangunnya dari nol hancur dalam sekejap. Ditinggalkan semua orang yang ia sayangi. Dan bahkan dia dipaksa pergi jauh dari tanah air kelahirannya dan pergi ke negara orang lain yang sama sekali asing baginya.
Tidak memiliki siapapun yang dia kenal dan dia andalkan, Tania menggunakan kedua tangan dan kakinya sendiri untuk bertahan. Hingga menghidupi dia dan dua bayi yang tiba-tiba saja tumbuh di dalam rahimnya.
Jika dia tidak bertemu dengan Xia Xi Lin saat kandungannya berumur lima bulan, mungkin dia sudah tidak dapat bertahan sejak saat itu. Sebenarnya bukan hanya Tania yang membantu gadis keturunan China tersebut, tapi Tania juga. Dengan gajinya yang pas-pasan saat itu, mereka hidup dengan kesederhanaan. Dia bekerja sebagai desainer magang di sebuah perusahaan Fashion. Sedangkan Xia Xi Lin juga bekerja sebagai penjaga stand minuman dingin untuk membantu Tania. Dengan gaji keduanya digabungkan itulah mereka menghidupi diri mereka. Apalagi Tania sedang mengandung saat itu, jadi meskipun mereka hidup pas-pasan, Tania masih menjadikan bayinya prioritas.
"Xi Lin, karena itu adalah tempat kakak, itu adalah tempat yang terbaik untuk saat ini. Lalu, karena kakak tidak memberitahukan masalah ini padaku, aku yakin kakak memiliki rencananya sendiri."
"Tapi nona, bagaimana jika si kembar merengek untuk menemui anda?"
__ADS_1
"Tidak mungkin. Aku tahu bukan aku lah yang mereka ingin temui sebenarnya. Kamu tenang saja. Masalah anak-anak serahkan pada kakak. Apapun yang kakak minta kamu lakukan, lakukan saja." Tania yakin jika kakaknya ini memiliki rencana dengan kedua anaknya ini. Ia tahu jika kakaknya juga mengetahui apa yang dia khawatir kan. Ia yakin kakaknya tidak akan mungkin membiarkan keduanya bertemu dengan ayah mereka tanpa izinnya.
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_114🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1