
Meskipun Tania tidak tahu apa yang dilakukan Kevin dan Khanza di rumah sakit, ia yakin mereka datang bukan untuk periksa kandungan. Akhir-akhir ini Kevin selalu bersamanya setiap malam. Bahkan saat dia berhalangan Kevin juga menemaninya. Kecuali dua hari saat ia pergi keluar negeri. Tapi itu masih satu Minggu yang lalu. Jika memang hal seperti itu terjadi, tidak mungkin begitu cepat kan?
"Tania, tapi melihat keduanya sangat dekat, mereka juga pasti memiliki hubungan yang tidak biasa-biasa saja. Kamu sebaiknya menjauh saja dari laki-laki seperti itu."
"Aku tahu kakak."
"Kalau ada sesuatu, jangan lupa jika kamu punya aku untuk melindungi mu, oke?"
"Ya kakak."
"Jia Kevin berani macam-macam padamu. Aku tidak keberatan untuk melawan dunia dan membawamu pergi jauh darinya."
"Baik kakak. Aku percaya."
"Tania. Aku bersungguh-sunguh." Arsya sedikit kesal. Seperti nya Tania tidak menganggap perkataannya sama sekali.
"Iya kakakku. Aku tahu." Tania tersenyum. Kakak nya ini. Dia benar-benar beruntung memiliki kakak seperti Arsya yang sangat peduli dan menyayanginya lebih dari saudara kandungnya sendiri.
Melihat Tania yang masih memasang senyum polosnya, Arsya semakin kesal. "Hemp!"
Setelah mereka kembali dari kantin, Robi sudah kembali ke sana. Tapi pintu ruang ICU masih tertutup rapat. Farel juga masih duduk di tempatnya sebelumnya. Arsya dan Tania langsung menanyakan keadaan Tari pada Robi.
"Bagaimana kondisi mama, pa?" Tanya Arsya.
"Buruk. Setelah hasil lab terbaru, Kondisi kanker mama sudah menyebar ke sekeliling. Bahkan sebenarnya dengan melakukan operasi saat ini sudah bisa dibilang terlambat. Kesempatan keberhasilan operasi hanya sepuluh persen. Yang sangat jauh dari standar." Jawab Robi tanpa daya. Ia merasa jika hidupnya tidak lagi berharga.
"Apa?! Bukannya tadi dokter bilang dengan operasi...."
"Itu karena masih mengacu pada hasil lab yang sebelumnya. Tapi setelah hasil lab terbaru keluar, kondisinya sudah jauh berbeda."
"Bagaimana mungkin? Bukankah mama selalu menjalani perawatan rutin selama ini?" Tania tidak bisa menahan diri lagi.
"Kamu hanya orang luar. Tidak memiliki hak berbicara di sini." Farel yang sejak awal tidak menyukai keberadaan Tania segera angkat suara.
"Kak Farel, Tania hanya bertanya karena khawatir pada keadaan mama. Untuk apa kakak berkata dengan sangat jahat padanya?"
"Farel, papa tidak ingin mendengar keributan seperti ini lagi. Apapun urusan kalian. Selesaikan di luar. Jangan mengganggu istirahat mama kalian." Robi menengahi. Membuat Farel mendengus kesal. Lalu ia berdiri dengan wajah masam karena merasa tidak ada yang berdiri di pihaknya.
"Aku akan ke perusahaan dulu pa. Jika ada perkembangan terbaru tentang mama, tolong seger kabari aku." Farel pamit dan segera pergi setelah mendengar Robi mengangguk tanpa menjawab.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Farel sudah tidak lagi terlihat. Robi yang sejak tadi hanya memperhatikan Tania secara diam-diam mulai berani berterus terang.
"Apa kamu hidup dengan baik selama ini?" Tanyanya pada Tania meskipun dia tidak menyebut nama secara langsung.
"Baik pa. Papa dan mama telah memberikan pendidikan yang baik selama ini. Aku tentu saja tidak akan membuat papa dan mama kecewa jika aku tidak dapat menggunakannya dengan baik."
"Bagus." Jawab Robi singkat. Namun dengan jawaban singkat itu, Tania tahu jika sebenarnya papanya ini masih peduli padanya.
"Pasien sudah bangun. Apa di sini ada yang bernama Tania? Pasien mencarinya." Seorang perawat keluar dari ruangan ICU yang tertutup sejak awal. Tiga orang yang menunggu di luar segera berdiri dengan cemas.
"Saya sus, saya adalah Tania." Tania menunjuk dirinya sendiri.
"Nona Tania, silakan ikut saya." Jawab Suster itu dan menunggu.
"Baik sus." Tania mengangguk paham. "Pa..." Tania ragu apakah ia akan diizinkan masuk. Jadi dia ingin bertanya pada Robi.
"Masuklah. Mamamu mencarimu. Sebenarnya tidak peduli siapa yang masuk, yang penting bisa membuat mamamu senang." Robi menganggukkan kepalanya. Dia paham mengapa istrinya tidak mencarinya terlebih dahulu setelah sadar bahkan malah mencari Tania, anak angkat yang telah mereka sia-siakan lagi.
"Kalau begitu aku masuk dulu pa, kak Arsya." Tania menjawab sambil berjalan menghampiri perawat. Setelah Tania masuk, baik Arsya maupun Robi hanya diam. Bahkan Robi tidak mengirim pesan pada Farel jika Tari sudah sadar. Ia sangat mengenal putra bungsunya itu. Dia tahu betul ambisi dan sikapnya yang tidak mau mengalah. Jika dia datang sekarang, keributan tidak akan dapat terhindarkan lagi.
Setelah melalui berbagai tahapan sterilisasi, Tania baru diizinkan masuk ke dalam ruang ICU. Tari terlihat berbaring lemah di ranjang rumah sakit yang dingin. Berbagai macam alat bantu dipasang di tubuhnya. Suara-suara yang ditimbulkan oleh alat-alat ini membuat ruangan ICU yang suram semakin terasa suram. Beberapa perawat siap siaga di dalam ruangan. Semuanya memakai pakaian steril berwarna hijau.
"Tania..." Bibir Tari yang kering dan pucat bergetar saat menyebut nama putri angkatnya ini. Matanya yang memandang Tania mulai berkabut. Siap mengeluarkan air mata.
"Mama, Tania di sini mama..." Jawab Tania dengan cepat menghampiri Tari. Memegang tangan Kanan Tari yang bebas dari alat apapun. Dengan hati-hati, ia mengangkat dan menciumi tangan keriput itu.
"Apa kamu sangat marah pada mama sehingga kamu tidak pernah pulang menjenguk mama?" Ucap Tari dengan suara yang sangat pelan yang hampir tidak terdengar.
"Tidak mama. Tidak seperti itu. Tapi bukankah papa dan mama sudhs mengusir Tania?"
"Kamu juga sudah tahu sifat papa mu. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu jika papamu melakukan itu hanya untuk menyelamatkan perusahaan nya? Kenapa kamu malah menganggapnya serius dan tidak terus pulang?"
"Mama, masalah itu sudah berlalu. Tolong jangan diungkit lagi ya. Tania sudah tahu Tania salah." Ya. Sudahi sampai di sini. Mengenai ucapan Tari. Apakah bisa semudah itu?
Robi dan semua keluarga bilang sudah memutuskan hubungan keluarga dengannya saat mereka dalam masalah. Lalu satu waktu, mereka berkata jika itu mereka lakukan hanya untuk perusahaan. Baru menyalahkan nya karena tidak pengertian dan malah marah dan pergi. Apakah arti Tania bagi mereka selamanya hanya untuk dipermainkan?
Namun saat ini, keadaan Tari sudah demikian. Dia tidak mau dianggap sebagai anak yang tidak tahu balas budi dan juga pendendam. Jadi dia hanya bisa menerimanya dan melupakan penghinaan dan rasa sakit tahun itu. Lagipula speerti yang Tania katakan bahwa semuanya telah berlalu. Luka itu telah kering seiiring berjalannya waktu meskipun rasa sakitnya masih akan terasa sampai saat ini. Dan yang lebih penting lagi, dengan semua masalah di tahun itu telah mengajarkannya banyak hal mengenai dunia. Mengenai arti sebuah kehidupan. Yang sangat berharga.
Tania menghela napas. Mencoba melonggarkan hatinya yang sesak.
__ADS_1
"Maafkan Tania mama. Tania yang membuat mama seperti ini." Ucap Tania penuh penyesalan. Ia tidak dapat menahan air matanya. Tidak benar jika dia tidak menganggap perkataan Farel. Meskipun di luar dia terlihat acuh, tapi sebenarnya ia terus memikirkannya. Apakah memang benar dia yang menyebabkan kondisi Tari menjadi seperti ini?
"Ini bukan salahmu. Ini salah mama sendiri. Mama yang tidak bisa menjaga diri sendiri."
"Mama, mama harus sembuh ya ma."
"Tidak Tania. Mama rasa hidup mama sudah tidak lama lagi."
"Mama tidak boleh berkata seperti itu."
"Mama memanggilmu ke sini karena mama ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting." Ucap Tari dengan kesusahan.
"Mama jangan banyak bicara dulu. Mama istirahat saja ya. Ada masalah apa, tunggu mama sembuh dulu baru bicarakan." Ucap Tania khawatir.
" Tidak. Mama harus bicara sekarang sebelum semuanya terlambat." Tari bersikeras berbicara meskipun ia kesulitan.
"Mama..."
"Ini mengenai orang tua kandungmu...." Tania tertegun. Ia tidak pernah berpikir untuk mencari tahu mengenai orang tua kandungnya. Mereka telah memasukkannya ke panti asuhan, artinya mereka sudah tidak menginginkannya. Untuk apa dia mencarinya sekarang?
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_140🍁...
...kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...