Belenggu Cinta Mantan Suami

Belenggu Cinta Mantan Suami
Bab 82. Bertemu Harry Saputra


__ADS_3

Tania tampil cantik dengan pakaian semi formal yang ia kenakan. Karena Danil yang merupakan sekretaris Kevin tidak berada di sana, Tania lah yang akan menggantikannya menjadi sekretaris laki-laki itu untuk sementara waktu. Awalnya tentu saja Tania menolak karena pada dasarnya telah mengatakan bahwa tugasnya selama di sana bukanlah sebagai sekretaris melainkan sebagai desainer, seperti pada kenyataannya. Namun satu jam sebelum jadwal meeting yang disetujui, Kevin tiba-tiba mengubah rencana dan memaksanya menjadi seorang sekretaris.


Di sanalah mereka sekarang berada. Di sebuah ruang pertemuan VIP di sebuah hotel bintang lima. Kevin yang datang dengan Tania duduk di depan seorang laki-laki tiga puluh tahunan yang tampan. Meskipun mereka berada di Australia saat itu, namun laki-laki ini tidak seperti orang asing. Wajah dan tubuhnya seperti orang Asia yang kental.


Namanya Harry Saputra. Ya. Dia memang asli orang Indonesia. Baik ayah dan ibunya keduanya adalah orang asli Indonesia. Namun mereka memang sudah lama menetap di Australia. Kedua orang tua Harry adalah perantauan yang berharap dapat mengubah nasib mereka di tempat baru. Dengan ketekunan, kegigihan dan keyakinan, setelah bertahun-tahun bahkan puluhan tahun berlalu, mereka telah berhasil mendirikan kerajaan bisnis mereka di sana.


"Tuan Abraham, siapa nona cantik yang bersama anda ini?" Tanya Harry melihat Kevin datang dengan Tania dan bukan Danil yang seharusnya dia temui dua hari lalu.


Harry menatap Tania dengan rumit. Dan tatapan ini jatuh ke mata Kevin yang duduk tepat di depannya. Melihat tatapan mata Harry yang tidak biasa saat ia menatap Tania, Kevin tidak bisa tidak merasa masam. Kenapa wanita ini tampil begitu cantik hari ini sehingga mengundang kumbang liar datang pada kesempatan pertama? Apakah sudah terlambat untuk mengirimnya kembali ke hotel sehingga tidak akan ada kumbang-kumbang liar lain yang akan tertarik padanya?


Namun apa yang dirasakan Kevin berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Tania. Tania merasa bahwa tatapan mata Harry tidak asing untuk nya. Dengan itu, sebelum Kevin sempat menjawab, Tania sudah mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.


"Terima kasih atas pujiannya tuan Saputra. Saya adalah Tania. Desainer Kev Fashion sekaligus sekretaris tuan Abraham." Tania memperkenalkan dirinya dengan baik. Ia tersenyum manis memandang wajah tampan Harry.


Di sampingnya, Kevin seperti kebakaran jenggot nya. Ia segera menarik tangan Tania yang tidak kunjung dilepaskan.


"Mohon jaga sopan santun anda Tuan Saputra. Bukankah Anda sudah memiliki istri dan anak? Jika seseorang melihat ini, tidak akan ada hal baik yang terjadi." Sinis Kevin menarik tangan Tania ke bawah meja untuk digenggamnya erat. Sedangkan Tania tentu saja mencoba untuk melepaskan tangannya.


"Ha-ha-ha-ha. Tuan Abraham sangat berterus terang. Saya suka itu. Namun anda tidak perlu khawatir, saya masih seorang pria sejati yang memegang teguh prinsip saya untuk setia pada satu orang wanita saja dan itu adalah istri saya. Saya bahagia dengan pernikahan kami. Istri saya bahkan saat ini tengah bersiap untuk menunggu kelahiran anak kedua kami. Jadi anda tenang saja, nona Tania hanya akan menjadi milik anda. Ha-ha-ha-ha. Kalian berdua adalah pasangan yang sangat serasi." Harry tertawa lebar. Ia tidak marah sama sekali dengan sikap Kevin padanya. Itu memang salahnya sendiri.


Saat pertama kali ia melihat Tania, ia seperti nya pernah bertemu dengan wanita cantik ini. Namun dengan memori otaknya yang luar biasa, ia tidak mungkin akan melupakan wajah Tania yang khas dan mencolok seperti itu. Tapi anehnya, ia benar-benar tidak merasa asing dengannya.


"Baguslah kalua begitu. Saya harap tuan Saputra akan memegang kata-kata yang telah diucapkan." Ucap Kevin masih dalam keadaan marah. Ia masih tidak dapat melepaskan masalah ini sepenuhnya.


"Maafkan bos saya tuan Saputra karena tidak berpikir jernih. Hari ini mungkin sebagian otaknya masih belum terkumpul setelah perjalanan yang sangat jauh." Sinis Tania sambil mengejek Kevin. Laki-laki yang dilirik Tania dengan kesal itu semakin kesal. Ia mendengus.


"Ha-ha-ha-ha. Aku suka ini. Aku suka kalian berdua. Kalian berdua memang benar-benar saling melengkapi. Aku yakin jika kalian membina rumah tangga di masa depan, rumah kalian pasti akan penuh dengan kebahagiaan." Harry sangat senang melihat interaksi antara Kevin dan Tania. Itu mengingatkannya di masa lalu yang indah saat ia pertama kali mengenal istrinya.


"Tuan Abrahan, tapi kami bukan pasangan." Tania berusaha menjelaskan. Ia tidak boleh membiarkan orang baik yang baru dikenalnya itu salah sangka terus padanya entah sampai kapan.

__ADS_1


"Eh? Bukan? Kalian bukan pasangan?" Tanya Harry tidak percaya. Ia benar-benar yakin dengan penilaiannya.


"Bukan Tuan. Hubungan kami murni hanya atasan dan bawahan." Tania menjelaskan. Kevin akan berbicara namun oleh Tania, paha Kevin dicubit tipis untuk menghentikannya.


"Baiklah baiklah. Aku paham aku paham." Harry berkata dengan senyum lebar di bibirnya.


Tania menyadari jika senyum Harry terlihat aneh jadi dia berniat untuk menjelaskannya lagi. Tapi Kevin segera menghentikan nya dengan menggenggam tangannya.


"Baiklah. Waktu adalah uang. Sudah cukup basa basinya. Sekarang mari kita bicarakan bisnis terlebih dahulu." Ucap Kevin memotong ucapan Tania sekaligus menghalanginya untuk membahas masalah itu lagi.


"Ya ya. Tuan Abraham benar. Memang waktu adalah hal yang paling berharga di dunia bisnis ini." Jawab Harry sebelum ia mulai pembicaraan mereka.


Di saat Kevin sibuk dengan Harry, Khanza yang tidak datang ke kantor hari ini sedang menunggu seseorang di sebuah Kafe. Sudah dua puluh menit dia menunggu di sana dan hampir kehilangan kesabarannya ketika ia melihat orang yang hendak ia temui terlihat masuk ke dalam kafe dengan terburu-buru.


"Mohon maafkan saya nona Khanza. Tadi ada beberapa masalah di kantor yang menghambat saya menemui nona." Seorang gadis muda berseragam OB Kev Fashion berdiri dan meminta maaf di depan Khanza.


Khanza menatap gadis itu dengan kesal. Namun ia segera menekan amarahnya karena ia mengingat jika ia masih membutuhkan informasi dari gadis ini dan dia masih harus menjaga citranya sebagi seorang wanita muda yang baik dan sopan, ia mengepalkan tangannya untuk segera menahan amarahnya.


"Terima kasih Nona Khanza. Anda memang wanita yang sangat baik." Gadis itu tersenyum lega.


"Baiklah. Sebenarnya aku memanggilmu kemari karena aku ingin menanyakan sesuatu." Ucap Khanza setelah ia membiarkan gadis itu memesan makanan dan minuman untuk nya.


"Memangnya apa yang ingin nona Khanza tanyakan. Jika saya bisa, saya akan menjawabnya." Gadis itu mengerutkan alisnya.


"Tapi apakah kamu bisa berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun? Ini sebuah rahasia." Khanza tidak lupa memberikan peringatan. Lagipula jika semua orang tahu jika dia bahkan tidak mengetahui keberadaan Kevin dan tidak dapat menghubunginya, namanya pasti akan segera hancur karena malu. Dia pasti menjadi bahan olok-olok an di kantor nanti.


"Baik nona. Tentu saja saya bisa berjanji. Saya berjanji utnuk tidak akan pernah mengatakannya pada siapapun." Gadis itu mengangguk yakin.


"Bagus bagus. Terima kasih sebelumnya. Sebenarnya ini mengenai Kevin. Kamu tahu sendiri jika Kevin tidak pergi ke perusahaan dua hari ini. Dia juga tidak datang ke AB Grup dan tidak ada di apartemennya. Dan aku juga tidak bisa menghubunginya sama sekali. Jadi aku merasa khawatir padanya. Lusa kemarin malam, bukankah kamu yang bertugas membersihkan ruangan Kevin?"

__ADS_1


"Ya nona. Memang saya yang membersihkan kantor tuan malam itu."


"Apakah kamu mengetahui sesuatu? Misalnya....apa kamu mungkin mendengar kemana Kevin akan pergi? Sebab malam itu Kevin juga tidak kembali ke apartemen." Khanza berbicara dengan sedih. Wajahnya yang cantik tampak lesu.


"Saya sebenarnya tidak begitu yakin. Tapi malam itu saat saya hendak masuk untuk membersihkan ruangan tuan, saya tidak sengaja mendengar tuan berbicara dengan seseorang di telepon dan berkata jika tuan ingin pergi ke Italia jadi tuan meminta orang itu untuk menyiapkan pesawat. Tapi saya hanya samar-samar saja mendengarnya dari celah pintu yang tidak tertutup rapat." Jawab gadis itu yakin. Pada saat ini ia merasa jika telah melakukan hal besar. Bagaimana jika sesuatu memang terjadi pada tuan mereka? Bukankah informasi kecilnya ini dapat bermanfaat?


"Italia ya?" Gumam Khanza sambil berpikir.


"Oke. Aku mengerti. Kalau begitu terima kasih banyak karena sudah datang. Aku akan mengingat kebaikanmu ini. Aku masih ada urusan. Jadi aku akan pergi dulu. Untuk makanan tadi biar aku yang traktir sebagai ucapan terima kasihku." Khanza mengambil tasnya dan berdiri.


"Baik nona. Tidak masalah. Terima kasih karena telah percaya pada saya." Gadis itu tersenyum senang. Khanza memang gadis yang baik.


*


*


*


...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_82🍁...


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...


...***...

__ADS_1


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2