
"Sudah cukup bermainnya. Lihatlah seluruh tubuhmu kotor." Kaylee menoleh tidak senang mendengar ucapan kembarannya.
"Katakan saja jika kamu iri. Huh! Kenapa masih memarahiku? Wlek!" Kaylee menjukurkan lidahnya. Ia kesal dengan suadara kembarannya ini. Sudah sejak tadi ia mencoba mengajaknya bermain namun diabaikan olehnya. Ia tidak tahu apa yang menarik di ponsel sehingga saudara kembarnya lebih memilih bermain ponsel daripada bermain dengannya seperti di masa lalu.
"Siapa yang iri dengan penampilan kotormu itu? Jika mami melihat bajumu seperti itu, dia pasti akan memarahimu kan?" Kaisar tidak mau kalah.
"Tidak mungkin. Mami paling sayang denganku. Dia tidak mungkin marah hanya karena aku mengotori pakaianku ini." Kaylee mengabaikannya dan kembali fokus pada pasir di depannya. Memasukan pasir ke dalam cetakan dan membuat bangunan baru. Kaisar menghela napas melihat saudari kembarnya yang tidak mau mendengarkannya. Yah! Yang terpenting adalah Kaylee bahagia, dia juga akan bahagia.
Di taman yang sama, nenek Ambar dan Kakek Seno sedang berjalan-jalan setelah mereka sarapan di sebuah restoran. Hari ini adalah hari ulang tahun nenek Ambar. Tetapi nenek Ambar tidak mau merayakannya dengan meriah seperti biasanya. Nenek Ambar telah mendengar dari mata-matanya yang mengikuti Tania ke Italia bahwa cicitnya akan pergi ke Indonesia. Tentu saja dia tidak lagi memiliki waktu untuk mengurus ulang tahunnya. Ia sudah sangat lama ingin melihat mereka secara langsung. Memeluk mereka dengan hangat. Mendengar mereka memanggilnya nenek buyut.
Jadi pada saat ia mendengar hal ini, pesta yang sudah dipersiapkan dengan matang dan hanya perlu menyebar undangan, dia batalkan begitu saja. Kebetulan sekali hari ini ia mendengar jika mereka berdua berada di taman. Jadi dia sengaja mengajak Kakek Seno untuk melihat mereka. Tentu saja, kakek Seno langsung setuju pada saat pertama.
Pasangan tua itu berjalan dengan tidak terburu-buru. Tidak ingin memberikan kesan yang buruk dan menakuti kedua cicit mereka pada pertemuan pertama mereka, tidak ada seorang pun yang mengikuti mereka. Mereka kali ini terlihat seperti pasangan tua pada umumnya yang sedang menghabiskan waktu pagi mereka dengan berjalan-jalan di taman.
"Uh.... Dimana sebenarnya anak itu membawa cicit-cicit kita?" Nenek Ambar yang sudah berkeliling cukup jauh mulai lelah. Dengan tubuhnya yang sudah lanjut dan juga, kondisi tubuhnya yang memang sudah menurun beberapa tahun terakhir membuatnya sudah kepayahan setelah berjalan beberapa lama.
"Sebaiknya kita duduk saja. Lalu minta anak buah kita encari keberadaan mereka. Baru setelah mereka ditemukan, kita akan menemui mereka. Bagaimana?" Kakek Seno membujuk nenek Ambar untuk duduk. Sejak tadi dia sudah melihat nenek Ambar yang kepayahan dan membujuknya. Namun istrinya itu berkeras tidak mau. Sekarang karena nenek Ambar yang mengeluh terlebih dulu, ia kembali membujuknya berharap dia akan setuju.
"Tidak bisa. Kedua anak itu sangat cerdas. Aku khawatir mereka akan menemukan ada yang aneh dan langsung curiga." Nenek Ambar masih tidak bersedia.
"Kalau kamu tidak mau mengirim mereka pergi, setidaknya kamu duduk dulu beristirahat sebentar. Baru setelah tidak lelah lagi, kita akan mencari mereka lagi." Kakek Seno membujuk lagi. Kondisi nenek Ambar baru membaik setelah mendengar jika kedua cicit mereka datang. Namun Dia tidak ingin kondisinya akan memburuk lagi juga karenanya.
__ADS_1
"Tidak perlu. Aku masih sanggup. Waktu ini sangatlah berharga. Kita tidak tahu apakah anak-anak itu masih ada di taman ini setelah beberapa saat." Nenek Ambar berkeras.
"...." Kakek Seno menghela napas. Istrinya ini sejak dulu selalu saja keras kepala dan sangat sulit dibujuk jika telah memiliki keinginan. Dia akhirnya menyerah untuk membujuk lagi dan memilih untuk terus menopang tubuh nenek Ambar.
Kali ini karena nenek Ambar juga sudah lelah, mereka berjalan dengan lebih lambat. Mereka melanjutkan berjalan ke area taman. Namun setelah berjalan beberapa lama, cicit-cicit mereka masih belum juga terlihat. Dan pasa akhirnya, nenek Ambar juga menyerah karena ia sudah tidak kuat berjalan lagi. Tenggorokan nya mulai kering. Biasanya akan ada orang yang membawakan keperluan mereka. Namun kali ini mereka tidak membiarkan seorang pun mengikuti. Mereka semua menunggu di luar area taman..
"Kamu duduklah dulu yang patuh di sini. Aku akan pergi sebentar membeli minuman untukmu." Kakek Seno menepuk bahu Nenek Ambar untuk duduk.
"Baiklah." Nenek Ambar mengambil napas dalam. Di usianya ini, ia masih harus bekerja keras untuk menemui cicitnya.
Setelah nenek Ambar setuju, kakek Seno pun pergi dengan tenang. Ia melihat jika ada beberapa penjual yang menjual makanan dan minuman di salah satu sisi. Jika ia menghubungi anak buahnya untuk mengirimkan minuman, ia yakin jika istrinya akan marah. Jadi mau tidak mau, dia harus membeli minuman di tempat itu.
Nenek Ambar berusaha mengambil ponsel dengan menundukkan tubuhnya. Mengulurkan tangannya untuk menggapai ponsel yang ada di bawah bangkunya. Tapi sepertinya ponsel itu mempermainkan nenek Ambar dan malah semakin jatuh saat tidak sengaja nenek Ambar sedikit menggunakan tenaga.
Berbunyi beberapa saat, ponsel itu pun kembali diam. Namun nenek Ambar masih harus mendapatkan kembali ponselnya meskipun pemanggil itu sudah mematikan telepon. Jadi nenek Ambar kembali mengulurkan tangannya semakin jauh. Sayangnya, karena tidak dapat menjaga keseimbangan, nenek Ambar pun terjatuh.
"Ah!" Pekiknya keras.
Kaisar yang berada tidak jauh darinya dan mendengar teriakannya dan segera pergi mencari. Lalu ia menemukan Nenek Ambar yang masih duduk di tanah. Lutut Kakinya yang sedikit keriput terluka dan mengeluarkan darah. Wajah nenek Ambar jelas terlihat kesakitan. Sudah lama sekali sejak dia terluka untuk terakhir kalinya. Berada di kediaman Abraham, dia tidak pernah terluka bahkan lecet sedikitpun. Jadi saat ia melihat kakinya yang terluka dan rasa perih yang sudah sangat lama tidak dia rasakan, nenek Ambar hampir tidak dapat menahan air matanya dan menggenang di sudut matanya.
"Nenek, apakah anda baik-baik saja?" Suara seorang anak laki-laki yang manis membuat nenek Ambar menoleh dan segera merubah ekspresinya. Matanya yang berbinar terlihat cerah. Apalagi saat ia melihat anak kecil itu mendekat dan segera berinisiatif untuk membantunya berdiri. Bahkan tidak lupa mengambilkan ponsel yang membuatnya jatuh.
__ADS_1
"Nenek...." Kaisar mengerutkan alisnya saat nenek Ambar yang tidak dapat menahan diri untuk mengelus kepalanya. Yang tidak sembarang orang boleh menyentuhnya dengan sembarangan.
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_117🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1