Belenggu Cinta Mantan Suami

Belenggu Cinta Mantan Suami
Bab 83. Hukuman Untuk Tania


__ADS_3

"Saya sebenarnya tidak begitu yakin. Tapi malam itu saat saya hendak masuk untuk membersihkan ruangan tuan, saya tidak sengaja mendengar tuan berbicara dengan seseorang di telepon dan berkata jika tuan ingin pergi ke Italia jadi tuan meminta orang itu untuk menyiapkan pesawat. Tapi saya hanya samar-samar saja mendengarnya dari celah pintu yang tidak tertutup rapat." Jawab gadis itu yakin. Pada saat ini ia merasa jika telah melakukan hal besar. Bagaimana jika sesuatu memang terjadi pada tuan mereka? Bukankah informasi kecilnya ini dapat bermanfaat?


"Italia ya?" Gumam Khanza sambil berpikir.


"Oke. Aku mengerti. Kalau begitu terima kasih banyak karena sudah datang. Aku akan mengingat kebaikanmu ini. Aku masih ada urusan. Jadi aku akan pergi dulu. Untuk makanan tadi biar aku yang traktir sebagai ucapan terima kasihku." Khanza mengambil tasnya dan berdiri.


"Baik nona. Tidak masalah. Terima kasih karena telah percaya pada saya." Gadis itu tersenyum senang. Khanza memang gadis yang baik.


Khanza memikirkan apa yang dia dengar dari gadis office girl itu. Meskipun informasi yang ia dapatkan sangat sedikit. Setidaknya ia tahu kemana Kevin pergi. Namun, apa yang dilakukan Kevin di Italia sampai ia tidak mengaktifkan ponselnya begitu lama?


Italia... Bukankah Tania adalah desaigner dari partner kerja Kev Fashion yang berasal dari Italia? Pada saat ini, Tania juga tidak berada di perusahaan karena sedang cuti. Apakah memang Kevin menyusul wanita itu?


Khanza memang belum pernah bertemu dengan Tania. Namun ia pernah melihat banyak fotonya dan menurutnya wajah Tania juga tidak bisa dibilang luar biasa dibandingkan dengan wanita cantik lainnya. Ia tahu Kevin pernah melihat banyak wanita yang lebih cantik dengan Tania. Namun Kevin tidak pernah tergoda sama sekali oleh mereka. Itulah mengapa ia masih bisa santai saat ia berada jauh dari Kevin karena tahu jika tidak semua wanita bisa berada dekat dengan Kevin. Dia sendiri bahkan bisa dekat karena balas budi Kevin padanya. Jika tidak ada ras balas budi itu, ia yakin jika Kevin bahkan tidak akan pernah meliriknya. Karena itulah ia tidak pernah melewati batas selama ini.


"Tidak. Tidak mungkin. Aku tahu Kevin bukan orang seperti itu. Ia tidak akan tergoda hanya karena wajahnya. Tapi apa yang membuat wanita ini begitu istimewa?" Gumam Khanza berpikir.


"Ah. Sepertinya aku masih harus mencari informasi yang lebih banyak lagi. Aku harus mendapat banyak orang kepercayaan untukku." Tekad Khanza.


Karena Khanza tahu bahwa Kevin kemungkinan besar sedang berada di luar negeri, ia tidak melakukan apapun selain diam dan menunggu. Tentu saja selain itu ia masih harus memikirkan bagaimana bisa mendapatkan orang-orang yang akan bersedia berdiri di pihak nya.


"Selamat atas kerjasama kita. Semoga kerjasama kita akan berjalan lancar dan berkesinambungan." Harry menjabat tangan Kevin dengan erat. Senyum puas di wajahnya tampak jelas terlihat. Kerjasama kali ini bukan hanya mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan nya namun juga dia merasa beruntung bertemu dengan Kevin dan Tania yang menurutnya menyenangkan. Bekerja sama dengan orang yang menyenangkan pasti akan terasa lebih mudah.


"Selamat untuk anda juga tuan Harry. Ke depannya saya yakin jika kerjasama kita akan berjalan dengan mulus." Kevin balas menjabat tangan Harry dengan mantap.


"Baik baik. Saya juga yakin seperti itu. Baiklah, untuk merayakan kerjasama kita kali ini, saya akan emrasa terhormat jika anda berkenan untuk menerima undangan saya untuk makan malam, malam ini." Ucap Harry sambil menatap Kevin dan Tania bergantian.


"Kami sangat ingin datang untuk bergabung dengan tuan Harry, namun di Indonesia masih banyak perkerjaan yang menunggu kami untuk diselesaikan. Jadi kami akan langsung terbang setelah ini." Kevin menolaknya dengan sopan. Lagipula selama meeting berlangsung, ia sudah menahan diri melihat tatapan Harry pada Tania yang membuatnya tidak nyaman.


"..." Tania hendak memprotes. Namun saat ia melihat lirikan Kevin yang mengancam, ia akhirnya diam saja dan tersenyum canggung memandang Harry.


Harry melihat interaksi kecil ini dan tersenyum. Ia merasa jika hubungan antara kedua orang ini sangat unik.


"Sayang sekali. Namun karena alasan tuan Kevin memang tidak bisa ditunda, saya juga bisa memaklumi. Namun tuan Kevin harus berjanji akan datang kembali dan memberikan saya kehormatan dengan mengizinkan saya menjamu anda dan nona Tania dengan layak." Meskipun Harry enggan untuk berpisah dengan Tania, dia masih harus melepaskannya karena ia tahu jika ia memaksa lagi, Kevin mungkin tidak akan membiarkan Tania ikut lain kali.

__ADS_1


"Itu pasti tuan Harry. Kalau begitu kami akan pamit terlebih dahulu." Pamit Kevin kembali menjabat tangan Tania.


"Baik tuan Kevin. Nona Tania. Semoga perjalanan kalian menyenangkan. Biarkan saya mengantar kalian keluar hotel." Harry berbicara dengan sopan. Tidak memberikan celah pasa Kevin untuk menolaknya.


Lagipula setelah ini ia tahu kapan lagi akan bertemu dengan Tania. Wanita cantik yang membuatnya mengingat seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.


Wajah Kevin gelap sepanjang jalan karena Tania dan Harry yang mengabaikannya. Kedua orang itu mengobrol dengan akrab.


"Sepertinya kalian begitu akrab." Ucap Kevin setelah ia dan Tania masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka langsung ke bandara. Lagipula mereka tidak membawa banyak barang. Jadi tidak ada barang yang perlu mereka kemasi karena Hannah dan Jasson yang sudah mengurus semuanya untuk mereka.


"Siapa?" Tania masih tidak mengerti arah pembicaraan Kevin.


"Huh. Masih pura-pura tidak tahu. Tentu saja kamu dan tuan Harry itu. Memangnya selain dengannya, kamu dekat dengan siapa?" Dengus Kevin kesal.


"Memangnya kenapa? Tuan Harry adalah orang yang baik dan menyenangkan." Jawab Tania santai. Ia merasa jika Kevin sangat aneh.


"Seperti yang kamu dengar tadi, dia sudsh berkeluarga. Apa kamu mau merusak keluarga orang lain?"


"Ah!" Pekik Tania terkejut saat tiba-tiba tubunya ditekan.


"Kev! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Teriak Tania panik sambil terus mendorong tubuh Kevin menjauh.


Jasson dengan sadar diri menaikkan dinding pembatas agar ia dan Hannah tidak akan melihat atau mendengar apapun yang terjadi di dinding belakang. Awalnya, Jasson penasaran dengan guna dinding pembatas yang dipasang di mobil itu sampai saat ini ia baru mengetahuinya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Hannah curiga saat melihat Jasson yang tersenyum tidak jelas.


"Tidak apa-apa. Dulu aku tidak mengerti apa guna dinding pembatas ini dipasang. Dulu aku pikir semua ini sia-sia dan membuang-buang uang. Kini aku tahu apa gunanya." Jasson tertawa saat menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya. Pada kembarannya, dia tidak menyembunyikan apapun.


"Memang sebaiknya kamu diam saja di depan bos. Jangan sampai kamu dipecat dan menjadi bebanku jika kamu dipecat gara-gara mulutmu yang tidak bisa diatur itu." Hannah mendengus kesal. Menatap kembarannya dengan tanpa daya.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?" Jasson bertanya dengan bingung.


"Tidak ada. Yang penting kamu perhatikan saja ucapanku. Jika kamu ingin berkeja terus pada bos. Kamu harus tetap diam jika bos tidak ada yang bertanya padamu." Ancam Hannah serius. Jasson mengangguk paham meskipun ia tidak begitu mengerti.

__ADS_1


Sementara itu, Tania segera menghirup oksigen dengan rakus setelah Kevin melepaskan ciumannya yang menuntut dan mndominasi. Tangan Tania mencengkeram kerah baju Kevin dengan lemah. Ia menatap marah pria yang wajahnya sangat dekat dengannya itu.


Keadaan Kevin masih lebih baik dari Tania. Meskipun ia sendiri hampir kehabisan napas, ia masih bisa menghirup udara dengan normal. Hanya saja detak jantungnya yang kencang masih harus ditenangkan. Jadi dia menyatukan keningnya pada kening Tania sambil menatap wajah cantik Tania yang tampak merah menggoda itu.


"Itu adalah hukuman jika kamu memuji pria lain. Namun ini hanyalah hukuman ringan saja. Jika lain kali aku mengetahuinya, aku akan memberimu pelajaran yang akan membuatmu ingat." Ucap Kevin memperingatkan.


"Kevin, kamu tidak boleh melakukan itu padaku. Kita bukan siapa-siapa lagi selain atasan dan bawahan. Kamu tidak berhak melakukan ini padaku."


"Sesuatu yang menjadi milikku akan selamanya menjadi milikku."


"Kamu menyebalkan." Tania mendorong keras Kevin sebelum memalingkan wajahnya dan memandang pemandangan di luar jendela mobil yang lebih menarik.


*


*


*


...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_83🍁...


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...


...***...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2