
"Kamu bilang dulu kamu siapa?" Kevin tidak berhenti. Sudah sampai di sini, dia tidak akan membiarkan Tania kabur. Dia akan membuat wanita ini mengakuinya. Mengakui jika pernikahan mereka masih sah.
"Ah... Aku...aku... Aku adalah istrimu!" Teriak Tania keras. Persis seperti orang yang men-de-sah. "Aku Tania adalah istri Kevin Axmala Abraham!" Lanjutnya setelah Kevin masih mempermainkan pinggangnya.
"Benar. Kamu adalah istriku. Nyonya Abraham...." Kevin sangat senang. Ia menghentikan tangannya yang bermain-main dan memeluk erat Tania. Hatinya sangat senang mendengarnya. Meskipun cara yang dipakai untuk membuat Tania mengakuinya adalah dengan cara pemaksaan, namun ia sangat senang mendengarnya.
Setelah hari ini, dia tidak akan pernah membiarkan wanita ini pergi lagi. Dan untuk anak-anak mereka, jika ibunya telah masuk ke dalam jaring, anak-anak yang baik tentu saja akan ikut. Ia akan perlahan-lahan mendapatkan hati mereka. Seperti mendapatkan hati ibu mereka. Tentu saja caranya tidak akan sama....
Tania bangun dengan linglung. Ia ingat semalam jika Kevin terus memanggilnya istri saat mereka sedang bercinta. Jujur saja, mendengar Kevin memanggilnya istri terdengar sangat menyenangkan. Apalagi malam tadi Kevin sangat lembut. Terasa sangat memanjakannya. Membuat Tania tidak bisa melupakan bagaimana mereka bermain dengan penuh cinta semalam.
Ah! Memikirkannya saja membuat Tania memerah karena malu.
"Apa aku harus begini?" Tania menyadari jika dia mungkin berlebihan. Dia merasa seperti seorang gadis muda yang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sangat bersemangat. Untuk meredakan perasaannya, ia memukuli pipinya lembut. Berharap warna merah yang mewarnai pipi putihnya segera menyebar dan hilang. Namun bukannya hilang, karena tepukan itu pipi yang sudah merah semakin bertambah merah.
"Kenapa dengan kamu? Apa menjadi bo-doh karena terlalu senang?" Kevin yang baru keluar dari kamar mandi melihat Tania yang menepuk pipinya seperti orang bodoh segera bertanya.
"Kamu yang jadi bo-doh. Kamu yang terlalu senang."
"Kalau aku yang senang memang benar. Tapi kalau aku bo-doh, tentu saja tidak. Jika aku bo-doh, bagaimana aku bisa membuatmu mengakui diri sebagai istriku?" Ucap Kevin percaya diri.
"Dasar tak tahu malu." Sinis Tania sambil melilitkan selimut dan turun dari ranjang. Ia juga harus segera mandi dan bersiap. Hari ini ia masih harus pergi bekerja.
"Hari ini aku tidak pergi ke Kev Fashion. Ada sesuatu di kantor pusat yang harus aku tangani sendiri." Ucap Kevin setelah mereka selesai sarapan dan akan berangkat ke kantor.
"Oke. Aku bisa berangkat sendiri." Jawab Tania. Ia merasa malah lebih baik jika Kevin tidak datang hari ini. Dengan begitu, ia tidak akan merasa canggung.
"Tidak. Aku akan mengantarmu dulu. Lagipula kita satu jalur." Tolak Kevin.
"Tapi aku berniat untuk pergi ke tempat anak-anak nanti. Aku juga akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mama sepulang kerja."
"Nanti aku akan minta Danil untuk mengantarmu."
__ADS_1
"Tidak perlu. Danil pasti sangat sibuk nanti. Aku bisa naik mobil sendiri."
"Baik. Kalau begitu nanti kamu pakai mobil di bagasi kantor saja jika mau pergi." Ucap Kevin serius. Mobil itu adalah mobilnya yang lain.
"Kalau begitu baiklah." Tania mengangguk setuju. Kevin sudah berkata jika dia akan mengantarnya hari ini. Juga sudah membuat pengaturan untuknya. Tidak ada gunanya menolak.
Kevin langsung pergi setelah menurunkan Tania di depan lobi kantor. Semua orang sudah terbiasa melihat Tania yang pulang pergi bersama dengan Kevin. Jadi tidak ada seorang pun yang kaget. Namun, satu orang masih saja menatap hal itu dengan marah.
"Tania, kamu benar-benar membuatku marah. Aku memang harus segera memberimu pelajaran agar tidak mengganggu hubunganku dengan Kevin." Khanza menatap Tania dengan penuh permusuhan.
Tania juga merasa jika ada yang menatapnya dengan kebencian. Membuat buku kuduknya terasa berdiri saat punggungnya terasa dingin. "Ada apa? Apa mungkin ada yang menyumpahiku di belakangku?" Gumam Tania meraba tengkuk belakangnya.
"Ah! Pasti ini hanya perasaanku saja." Lanjut Tania tidak mempermasalahkan nya. Ia segera berjalan cepat masuk ke dalam kantor. Naik ke atas melalui Lift khusus dan sampai di atas dengan sempurna.
Sedangkan Khanza, ia masih tifks bergerak di tempatnya. Lalu mengambil ponsel di tas jinjingnya dan membuat panggilan.
"Lakukan hari ini juga. Hari ini adalah kesempatan yang paling baik ksrnea Kevin akan sibuk di kantor utama AB Grup dan tidak akan pergi ke Kev Fashion." Ucap Khanza di telepon.
Lalu saat ia melihat ponsel dan memeriksa jadwal Kevin, ia tahu bahwa hari ini Kevin tidak akan berada di Kev Fashion. Dengan tidak adanya Kevin di kantor Kev Fashion. Rencananya yang ia buat dengan matang pasti akan berjalan dengan sangat lancar.
Setelah itu.... Tidak akan ada lagi wanita bernama Tania yang akan mengganggunya mendapatkan Kevin.
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tania terasa sudhs hampir makan siang. Kevin tiba-tiba merasa perasaannya tidak enak. Jadi ia ingin menelepon Tania namun tak tersambung sama sekali. Ada apa ini? Tidak biasanya telepon Tania mati.
Firasat Kevin semakin kuat dari waktu ke waktu. Hingga pada puncaknya, meskipun rapat yang telah direncanakan oleh Kantor Pusat AB Grup belum selesai, ia sudah tidak tenang dan meminta Danil untuk mengakhiri rapat secara tiba-tiba. Ia harus segera pergi menemui Tania.
"Tuan, tapi rapat masih belum selesai. Anda masih harus berada di sini untuk membahas banyak hal." Danil mengingatkannya saat Kevin memintanya untuk mengakhiri rapat begitu saja.
"Lakukan saja seperti yang aku katakan." Ucap Kevin tegas.
"Tapi tuan, saat ini banyak orang yang sedang menargetkan posisi anda." Ucap Danil khawatir.
__ADS_1
"Jika mereka mampu, mereka sudah mendapatkannya sejak awal. Karena mereka tidak mampu, biarkan saja mereka melakukan apapun yang mereka inginkan." Kevin tidak sabar lagi. Ia berdiri tanpa menunggu Danil menutup rapat. Meninggalkan rapat yang sangat penting dimana seluruh pemegang saham sedang berkumpul.
"Ehem... Mohon maaf atas ketidaknyamanan para tetua sekalian. Tuan Kevin memiliki sesuatu yang sangat mendesak yang harus segera dia tangai, jadi rapat selesai sampai di sini." Ucap Danil dengan senyum sopan.
"Heh! Baru jadi Presdir berapa lama sudah sangat sombong! Kakeknya dulu bahkan tidak pernah meninggalkan rapat sebelum rapat selesai. Ini apa?" Seorang pria tua memukul meja dengan keras.
"Urusan apa yang lebih penting dari perusahaan? Benar-benar tidak masuk akal." Pria lainnya juga tidak kalah emosinya.
"Danil, kamu adalah asisten Kevin. Katakan pada kami apa hal yang lebih penting yang harus Kevin lakukan sehingga dia berani meninggalkan rapat. Jika kamu tidak memberikan kamu jawaban yang memuaskan, kami tidak akan diam saja diperlakukan seperti ini." Pria lain dengan kumis tebal berbicara dengan penuh emosi.
"Saya memang asisten Tuan, namun saya tidak memiliki kewajiban menjawab pertanyaan anda. Lalu, tuan juga berpesan, jika ada yang tidak puas dengan rapat hari ini, bisa datang menemui tuan secara pribadi. Tuan akan snagat senang dan menjamu anda dengan baik. Permisi." Ucap Danil tegas sebelum berbalik dan meninggalkan ruang rapat. Bergegas pergi mengikuti Kevin. Ia juga tidak tahu apa yang membuat Kevin terburu-buru seperti itu. Namun ia yakin semua itu pasti ada hubungannya dengan Tania.
*
*
*
🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_150🍁
... Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...