
"Nah, tolong bantu aku pesankan sebuah ruang VIP di restoran X untuk makan siang, siang ini." Tadi malam sebelum Tania keluar dari mobil Arsya, kakak laki-laki nya itu memberitahu bahwa dia menemukan sesuatu dan akan mengatakan padanya hari ini. Melihat ekspresi Arsya yang sangat serius, ia yakin jika hal itu pasti sangat penting.
"Baik Miss. Anda tenang saja, saya pasti akan menjalankan tugas yang anda berikan."
"Aku tahu."
"Kalau begitu saya akan keluar sekarang." Mona segera pergi melakukan tugasnya.
Kali ini Tania benar-benar ditinggalkan sendiri di ruangannya. Mengingat apa yang baru saja terjadi, suasana hati Tania yang udah terangkat berkat Mona kembali turun. Ia yang baru saja mengambil pakaian yang baru saja dicoba Kevin, melemparkan pakaian itu ke atas meja dengan marah.
"Memangnya siapa dia? Aku juga tidak peduli dengan siapa dia dekat. Jadi tidak ada yang perlu aku dengar darinya." Tekad Tania bulat. Ia tidak akan membiarkan Kevin masuk ke apartemennya nanti.
Tania sudah melupakan kejadian tidak mengenakkan itu dan kembali fokus pada pekerjaannya. Memperbaiki pakaian yang akan dikenakan Kevin esok untuk ditunjukkan pada dewan direksi untuk diperiksa sebelum dapat diproduksi secara massal. Namun Khanza dan Kevin kembalu berdebat soal itu pada sore harinya.
Kali Khanza kembali membuat ulah dengan meminta Kevin agar membiarkan dirinya yang menjadi model wanita dan menggantikan Tania. Tentu saja Kevin tidak akan mengizinkannya. Namun Khanza tidak menyerah begitu saja. Ia tidak boleh membiarkan Tania dan Kevin tampil di depan umum sebagai pasangan meskipun itu hanya untuk pertunjukan.
"Ayo lah Vin. Bukankah sebelumnya Miss Angela juga sudah menolaknya? Daripada dia membuat masalah besok, bukan kah lebih baik membiarkan aku saja yang menggantikan dia." Khanza terus merengek di kantor Kevin.
"Dia sudah setuju. Lagipula ini adlsah proyek dua perusahaan. Dia tidak mungkin membuat masalah." Jawab Kevin acuh. Ia masih memfokuskan perhatiannya pada berkas di atas meja kerjanya dan menanggapi Khanza seperlunya.
"Tapi kan masih ada kemungkinan. Jangan biarkan dia membuat masalah nanti. Bukankah antisipasi juga perlu. Lagi pula ini hanyalah menjadi model saja. Aku yakin Miss Angela tidak akan keberatan jika kamu merekomendasikan aku untuk menggantikannya. Aku sudah lama ingin menjadi model. Apalagi bisa berdiri denganmu. Aku sudah lama menantikan nya."
"Menjadi model tidak sesederhana yang kamu bayangkan. Apalagi model untuk produk pakaian. Pakaian yang akan dijadikan model dibuat secara khusus sesuai dengan model pemakainya. Dan model pakaian ini dari awal sudah dipersiapkan untuk dipakai Miss Angela. Jadi jika kamu yang memakainya, efeknya tidak akan bagus." Jawab Kevin akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Khanza sedikit tidak sabar.
"Bukankah Miss Angela bisa menyesuaikan pakaian itu untukmu. Jadi aku rasa dia juga pasti bisa menyesuaikan nya denganku kan?"
"Khanza tolong jangan buat masalah lagi."
"Aku tidak membuat masalah. Menurut kabar yang aku dengar, bukankah Miss Angela adalah mantan istrimu? Bagaimana jika dunia tahu jika kamu dan mantan istrimu bekerja sama dan bahkan menjadi model bersama. Pakaian ini adalah pakaian Couple. Seperti nya tidak pantas jika dia yang menjadi pasangan dengan mu."
"Masalah itu telah berlalu lama di masa lalu. Aku yakin semua orang telah melupakannya jika tidak ada orang yang sengaja menyebarkannya lagi. Lagipula meskipun kami dulu pernah berpisah, juga tidak mungkin untuk bersatu kembali." Jawab Kevin melirik Khanza mengancam.
"Eh... Kevin, apakah kamu benar-benar dengan kata-kata mu?" Khanza benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ya. Jika sudah tidak ada lagi yang kamu katakan, segera keluar dari ruangan ku." Usir Kevin.
"Tapi..." Khanza tidak mau keluar begitu saja. Tapi Kevin segera memotong ucapannya sebelum ia bisa menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Minta Danil masuk."
"Uh! Oke. Kalau begitu apakah kamu mau aku buatkan secangkir kopi?" Khanza harus mencari alasan untuk kembali masuk ke ruangan itu.
"Tidak perlu. Bukankah kamu baru saja mengirimnya? Jika kamu sangat suka membuat kopi, bagaimana jika kamu membuka kedai kopi untuk membiasakan keinginanmu?" Kevin berkata dengan lembut. Namun matanya jelas dingin dan masih mengejeknya.
"Er... Tidak tidak. Maaf aku lupa. Saat aku bersamamu, aku sering melupakan banyak hal. Lagipula aku hanya akan membuatkan kopi untukmu saja. Jadi lupakan tentang ide kedai kopi itu." Ucap Khanza panik. Ia harus menolaknya sebelum Kevin benar-benar mewujudkan ucapannya.
"Aku akan segera memanggil Danil kemari." Khanza segera bangun dan berjalan cepat keluar dari ruangan Kevin dan memanggil Danil.
Sore harinya Tania sudah sampai di apartemennya. Sebenarnya setelah ia keluar malam siang dengan Arsya, Tania tidak kembali ke apartemen. Dengan keadaan hatinya yang tidak baik, ia tidak mungkin bisa bekerja. Jadi setelah keluar dari restoran, ia menghubungi Mona untuk memintakan cuti untuknya.
Sampai di apartemen, Tania bahkan masih tidak dapat melupakan apa yang dikatakan Arsya padanya. Hari ini Arsya mengatakan padanya jika Tari sedang sakit keras. Wanita paruh baya itu menderita kanker hati stadium tiga dan dokter memperkirakan umurnya tidak sampai tiga bulan. Namun Tari masih merahasiakan penyakitnya pada keluarganya.
Flash Back On....
Arsya juga mengetahuinya secara tidak sengaja melihat Tari di rumah sakit saat ia sedang mengantar korban kecelakaan tabrak lari yang dia temui di jalan. Melihat mamanya, Arsya hendak memanggilnya namun Tari yang tidak menyangka akan bertemu dengan putranya tidak mendengar panggilan Arsya dan dengan cepat berjalan ke ruangan dokter.
Melihat jika mamanya tidak melihatnya, Arsya segera mengikuti Tari dan mengetahui jika Tari sebenarnya masuk ke dalam ruangan dokter spesialis Kanker. Tentu saja Arsya tidak bisa tidak terkejut. Untuk memastikan apa yang terjadi, Arsya menunggu Tari di depan ruang dokter untuk bertanya secara langsung pada mamanya.
"Tolong katakan pada Arsya ma. Apa yang terjadi? Kenapa mama pergi menemui dokter spesialis kanker?" Tanya Arsya tidak sabar begitu mereka sampai di kafe.
"Mama.... Mama menderita kanker hati stadium tiga Arsya. Dan... Dan... Dan umur mama mungkin tidak akan sampai tiga bulan lagi." Tari menjawabnya dengan suara bergetar. Tangannya memegang erat gelas teh di tangannya.
"Apa?! Kenapa mama tidak pernah bilang?" Arsya bertanya dengan kaget. Ia memegang tangan mamanya yang gemetar. Menggenggamnya erat.
"Arsya, tolong mama untuk menyembunyikan nya dari papa dan semuanya ya. Kamu tahu sendiri bagaimana kondisi di rumah. Mama tidak ingin menambah masalah." Tari berkata penuh harap.
Beberapa bulan belakangan, sejak Robi memutuskan untuk memilih penerusnya, keadaan di rumah terasa semakin tidak nyaman. Farel dan Fina selalu saja bersaing dengan Arsya yang dinilai lebih mampu. Karena itu pasangan suami istri itu sering membuat masalah di rumah. Mereka bahkan tidak segan menggunakan putra mereka untuk mengancam Robi.
"Bagaimana pun mama tidak bisa mengabaikan kesehatan Mama begitu saja. Apapun yang ada di rumah tidak boleh menghentikan mama untuk pergi berobat. Ma, bagaiaman kalau mama berobat ke Singapura saja? Arsya akan menemukan dokter terbaik untuk menyembuhkan mama."
"Tidak Sya. Kondisi mama sudah sangat parah. Kesempatan untuk sembuh sangat kecil bahkan jika mama sudah dioperasi atau dengan dikemoterapi. Jadi dari pada mama pergi, mama lebih baik tetap di rumah. Mama tidak mau selama mama pergi, keluarga kita terpecah belah. Mama masih dibutuhkan di rumah." Tari berkata yakin.
"Tapi ma...."
"Tolong mama Sya."
__ADS_1
"Jika memang setelah kak Farel bisa tenang setelah menduduki posisi pewaris, aku rela melepaskannya ma." Arsya membulatkan tekadnya.
"Tidak boleh. Kamu tidak boleh menyerah. Kamu tahu sendiri kemampuan kakakmu itu tidak bisa diandalkan. Dia hanya bisa dikendalikan oleh Fina. Jika kakakmu yang akan mewarisi bisnis keluarga kita, entah di masa depan, berapa lama nama perusahaan masih akan menjadi milik keluarga Wiratmaja." Tari mendesah pasrah.
"Tapi ma, kesehatan Mama adalah yang paling penting sekarang." Arsya berusaha membujuk mamanya.
"Tidak Arsya. Mama sudah memutuskan nya. Jadi tolong dukung keputusan mama. Tolong berjanji pada mama untik menjaga rahasia ini demi mama." Tari menarik tangan Arsya dengan tiba-tiba dan meletakkan nya di atas kepalanya.
Flash Back Of...
Hari demi hari berlalu, dan keadaan Tari semakin buruk. Tubuh Tari semakin kurus dan sering pingsan tanpa sebab. Namun ia masih menolak untuk pergi ke dokter dan pergi ke dokter sendiri saat semua orang tidak mengetahuinya. Melihat ini, Arsya sudah tidak tahan lagi.
Hari ini Arsya memberitahukannya pada Tania berharap jika adiknya ini mau menemui mama mereka meskipun Tania telah keluar dari keluarga Wiratmaja. Namun Tari adalah orang yang telah membesarkan Tania sejak ia masih kecil, tidak mungkin tidak memiliki rasa sayang yang akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Ia berharap jika Tania dapat membujuk Tari untuk mau pergi berobat ke luar negeri.
Tentu saja Tania sangat ingin menemui Tari, namun hati kecilnya masih ragu. Dia sendiri tidak yakin apakah Tari masih mengakuinya sebagai anaknya...
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_92🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1