
Kevin meletakkan Tania di atas kursi dengan hati-hati. Khawatir jika dia mungkin tidak sengaja melukai dirinya. Lalu dia melayani Tania makan secara pribadi. Mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Tania tanpa bertanya. Tania merajut alisnya terkejut. Apakah pria ini tahu makanan kesukaannya? Hampir semua yang tersedia di meja makan adalah makanan kesukaannya.
"Terima kasih Kev." Ucap Tania tulus saat menerima piring dari Kevin sebelum mulai memakannya dengan lahap.
Kevin tidak ikut makan dan hanya duduk di depan Tania. Memperhatikan Tania yang sedang makan dengan sangat menikmati. Tidak hanya karena rasa makanan itu memang enak, namun juga karena ia sudah menahan lapar sejak tadi.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apa kamu tidak makan?" Tania menyadari jika Kevin menatap nya dan segera bertanya setelah ia sadar jika Kevin tidak makan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sangat senang melihatmu. Aku tidak lapar." Jawab Kevin jujur. Daripada menunduk dan melihat makanan di atas piring. Pemandangan seseorang yang sedang makan tiba-tiba terlihat sangat indah. Mungkin itulah kekuatan cinta. Menyadari pemikiran nya sendiri, Kevin menggeleng kan kepalanya.
"Ooh..." Tania menganggukkan kepalanya paham. Lalu dia kembali fokus makan dan mengabaikan tatapan Kevin yang terus melihatnya.
"Pelaku di balik ini semua sudah ditemukan." Ucap Kevin setelah melihat Tania selesai makan.
"Siapa?" Tania mengangkat wajahnya dan bertanya dengan penasaran.
"Sinta. Dia juga telah mengakuinya." Jawab Kevin tegas.
"Huh! Aku tidak mengerti apa yang membuatnya membenciku sampai seperti itu? Padahal aku tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Aku bahkan hampir tidak pernah bertemu dengannya di kantor." Tania menghela napas. Ia tidak pernah repot-repot mengurus urusan orang lain. Dalam hatinya, dia datang ke kantor untuk bekerja dan mendedikasikan dirinya untuk pekerjaannya. Ia tidak tahu apa yang salah dengannya yang membuat orang membencinya. Namun Tania tidak mengerti jika karena hidupnya yang terlalu lurus inilah yang membuat orang memandangnya sombong.
"Mau bagaimana lagi, dia sebelumnya termasuk desaigner yang disegani di kantor. Sebagian besar produk di sini adalah hasil desainnya meskipun merupakan kerjasama dengan para desaigner lainnya. Namun setelah kamu datang, kamu langsung merebut perhatian darinya."
"Ah sudahlah. Aku juga tidak bisa membuat semua orang menyukaiku. Aku juga tidak mau." Jawab Tania santai.
"Kamu tenang saja. Setelah ini kamu tidak akan lagi melihatnya di kantor."
Tania mengerutkan alisnya. "Kamu memecatnya?"
"Ya. Jika dia tidak diberi pelajaran bahwa tidak semua orang dapat ditindas, dia tidak akan kapok."
"Ooh..." Tania mengangguk paham.
"Bagaimana pendapatmu? Apa kamu rasa aku terlalu kejam?"
"Tidak. Orang seperti itu memang harus diberi pelajaran. Bahkan aku rasa pelajaran seperti itu saja tidak akan cukup." Mendengar jawaban Tania, Kevin bernapas lega. Dia bahkan merasa lebih bangga sekarang. Sebelumnya ia khawatir jika Tania akan memarahinya jika memberi hukuman yang cukup berat pada Sinta. Jadi dia menyembunyikan setengah yang lebih besar dari hukuman Sinta. Ia tidak berharap jika Tania yang terlihat lembut akan bisa berpikir menghukum berat seseorang.
Apa Kevin tidak mengingat jika Tania juga sedang kerasa padanya sebelumnya?
Melihat Kevin yang terlihat terkejut, Tania mengerutkan alisnya.
"Kenapa? Apa keterlaluan?"
__ADS_1
"Tidak. Tentu saja tidak. Sebenarnya aku juga tidak melepaskan nya dengan mudah begitu saja. Di ibukota ini bahkan di kota-kota sekitarnya, aku tidak percaya jika akan ada perusahaan yang akan menerimanya bekerja." Jawab Kevin dengan senyum kejam.
"Maksudmu, kamu memblokir akses Sinta?" Tanya Tania sedikit terkejut. Ia tidak menyangka jika Kevin akan dapat melakukan sampai sejauh itu.
"Ya. Sebenarnya aku ingin mengirimnya ke pulau Papua. Tapi..."
"Apa?! Kev, meskipun dia memang sudah keterlaluan, kamu tidak boleh bermain dengan hidup seseorang seperti itu. Dengan memecatnya saja sudah cukup. Tidak boleh memblokirnya seperti itu. Menutupi pintu rezeki orang itu tidak baik. Bagaimana jika seseorang melakukan hal yang sama padamu?" Tania memijit pelipisnya yang tiba-tiba kembali berdenyut.
"Memangnya mampu?" Jawab Kevin enteng.
"Ah sudahlah. Berbicara dengan mu memang tidak berguna. Sudah malam. Aku akan pulang." Ketika dia berbicara, Tania berdiri dari duduknya. Tenaganya sudah pulih setelah ia makan.
"Kenapa? Menginap di sini saja." Kevin terkejut. Menahan tangan Tania yang hendak pergi.
"Jangan berpikir karena aku tadi bersedia Aku bersedia melakukannya, lalu aku akan mau melakukannya lagi? Tidak mungkin. Aku melakukannya hanya untuk berterima kasih padamu. Lagipula aku juga tidak mu melihat seseorang yang kesakitan di depanku begitu saja. Sekarang aku sudah tidak memiliki hutang padamu. Kita impas. Kamu juga sudah tidak apa-apa. Jadi jangan berpikir aku akan tinggal lebih lama." Tania menghempaskan tangan Kevin dan berjalan pergi.
"Tania....kamu belum memaafkanku?" Kevin mengejar Tania yang sudah hampir sampai di depan pintu.
"Sudahlah. Jangan dibahas lagi."
"Tania..."
Sementara Tania pulang ke rumahnya dan beristirahat dengan tenang, Khanza masih mencari keberadaan Kevin. Khanza sibuk menghubungi orang yang mungkin mengetahui keberadaan Kevin dan Tania. Namun semua orang yang mengetahui dimana keduanya hanyalah orang-orang kepercayaan Kevin yang tidak akan membocorkan informasi mengenai bos mereka meskipun Khanza mengancam dengan berbagai macam cara.
Pada saat ini, Khanza sedang berhenti di depan sebuah hotel bintang lima milik Kevin yang berada paling dekat dengan kantor Kev Fashion. Dia sudah mencari di beberapa rumah sakit dan tidak menemukan Kevin, saat ini, ia mulai mencari nya di hotel. Meskipun ia tahu pasti udah terlambat, ia tidak boleh melepaskan masalah ini begitu saja.
Tidak membuang waktu, Khanza segera masuk dan naik ke lantai dimana Kevin tinggal. Pihak apartemen sudah mengenal Khanza dan membiarkan nya masuk. Jadi Khanza dengan lancar sampai di depan pintu apartemen Kevin dan menekan bel pintu beberapa kali dengan frustasi.
Setelah menunggu beberapa saat, pintu apartemen itu terbuka. Khanza sangat senang dan bersiap untuk terbang dan memeluk Kevin pada saat pertama. Namun dia tidak berharap bahwa bukan lah Kevin yang membuka pintu untuknya melainkan Danil. Dan parahnya, Danil yang melihat Khanza bergegas datang memeluknya langsung menghindarinya yang membuatnya terjatuh di lantai.
"Uh... Nona Khanza. Jika anda sedang tidak enak badan dan tidak dapat menjaga keseimbangan tubuh, lebih baik anda istirahat di rumah daripada berkeliaran. Beruntung anda jatuh di sini, jika jatuh di tempat lain, CK CK CK...." Danil berkata dengan kalimat yang terdengar mengasihinya. Namun wajahnya jelas menunjukkan yang lainnya. Lalu ia masih menggelengkan kepalanya di akhir kalimatnya.
Khanza menatap Danil dengan tatapan permusuhan. Ia sangat membenci laki-laki yang menjadi sekretaris Kevin ini. Setiap kali ia melihatnya, keinginan untuk segera menyingkirkan Danil dari sisi Kevin selalu muncul. Menyadari jika Danil sedang mengoloknya, Khanza segera bangun dan mengibaskan roknya yang kusut.
"Kenapa kamu ada di sini? Dimana Kevin?"
"Mengapa saya tidak boleh di sini? Saya adalah sekretaris tuan Kevin, jadi sudah wajar jika saya ada di sini. Lalu anda, anda hanyalah asisten yang terpaksa diatur. Kenapa anda juga ada di sini?" Danil tidak takut dan menjawab Khanza dengan melipat tangannya.
"Aku memang hanya asisten Kevin saat ini, tapi di masa depan, aku akan menjadi nyonya Abraham. Sekarang, aku sarankan agar kamu tidak selalu melawanku. Jika tidak, kamu akan menjadi orang yang aku pecat pertama kali." Khanza mengepalkan tangannya.
"Uh....saya takut." Danil berpura-pura gemetar ketakutan mendengar ancaman Khanza. Namun wajahnya tersenyum dengan sangat cerah.
__ADS_1
Khanza mendengus kesal. Ia tahu jika Danil sedang mencemoohnya. "Katakan dimana Kevin?" Tanya Khanza sekali lagi.
"Eh? Bukankah tadi ada yang bilang jika dia adalah calon nyonya Abraham masa depan? Bukannya seharusnya lebih tahu?" Danil menyipitkan matanya.
"Danil! Jangan kurang ajar! Jika Kevin tahu bagaimana kamu memperlakukan ku, aku yakin dia pasti akan segera memecatmu!" Teriak Khanza marah.
"Oh ya? Bagaimana jika kita berdua bertaruh. Jika Tuan mengetahui siapa dalang tersembunyi yang memberikan obat perangsang pada Miss Angela sebenarnya adalah anda, apa yang mungkin akan tuan lakukan? Memecatku, atau mengirim Anda pergi jauh lagi?" Ucap Danil saat ia berhenti di samping Khanza dan membisikkan nya.
Khanza tidak menyangka jika dia akan ketahuan. Dia mundur dua langkah karena terkejut. Danil sebenarnya mengetahui jika Khanza adalah orang yang berada di belakang Sinta. Namun karena ia tidak memiliki cukup bukti, ia tidak bisa memberitahukannya pada Kevin.
"Bagaimana mungkin dia tahu?" Gumam Khanza melihat punggung Danil yang semakin menjauh.
"Apa mungkin Kevin juga sudah tahu?"
"Tidak. Pasti tidak. Menurut sifat Kevin, jika dia mengetahui jika akulah yang memerintahkan kepada Sinta untuk mengerjai wanita itu, aku pasti tidak akan baik-baik saja sekarang seperti ini. Aku pasti bernasib sama dengan Sinta." Lanjut Khanza setelah ia cukup berpikir.
"Benar. Tapi jika Danil mengetahuinya, kenapa dia tidak memberitahu Kevin?" Gumam Khanza sambil berpikir.
"Oh aku tahu. Pasti Danil tidak memiliki cukup bukti."
"Sepertinya aku harus waspada mulai sekarang." Ucap Khanza tegas sebelum ia juga pergi dari tempat itu. Saat ini malam sudah larut. Ia sebaiknya pulang sekarang.
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_105🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1