Belenggu Cinta Mantan Suami

Belenggu Cinta Mantan Suami
Bab 140. Tari Sadar


__ADS_3

"Huh. Baiklah kalau begitu. Yang penting aku sudah memperingatkan mu. Nanti jika pada akhirnya papa dan mama luluh lagi dan menerima gadis itu kembali, jangan salahkan aku yang tidak mengingatkan." Ketus Nina. Di matanya, Tania masih menjadi saingan untuk posisi penerus.


"Aku tahu aku tahu. Kamu tenang saja. Papa tidak pernah menarik kembali ucapannya. Sekali dia dikeluarkan, dia tidak akan pernah diterima kembali."


"Huh! Semoga saja apa yang kamu katakan benar." Ucap Nina membuang napas kasar sebelum bangun dari duduknya. Farel menahan tangannya.


"Mau kemana kamu?" Tanya Farel panik. Ia khawatir Nina akan membuat masalah lagi dengan Tania.


"Menjemput Vero. Sudah waktunya aku menjemputnya pulang." Jawab Nina santai. Lalu melenggang pergi tanpaa menunggu jawaban Farel atau bahkan pamit pada suami dan papa mertuanya.


Setelah suara ketukan highheel Nina tidak terdengar lagi, suasana kembali sepi. Empat orang yang tinggal, tidak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan. Mereka semua fokus pada pintu ruang ICU yang terlihat dingin dan acuh.


Saat pintu ruangan itu terbuka, semua orang akan mendongak untuk memastikan yang keluar apakah dokter atau perawat. Jika itu dokter, mereka semua akan segera berdiri dan menghampiri dokter itu untuk menanyakan perkembangan kondisi Tari. Namun semua dokter yang keluar mengatakan bahwa mereka masih berusaha. Membuat semua orang semakin was was dari waktu ke waktu. Suasana juga semakin menegangkan untuk dirasakan.


Hampir satu jam mereka menunggu, dokter yang merawat Tari keluar dari ruang ICU sambil membuka maskernya dan memberikan masker itu pada perawat di belakangnya dan berganti mengambil alih laporan medis yang dibawa oleh perawat lain. Membukanya untuk memberitahukan pada anggota keluarga pasien.


"Dokter bagaimana kondisi istri saya?" Robi yang mewakili semua orang bertanya. Arsya, Farel dan Tania berada di sisi dan kanannya. Yang juga cemas.


"Untuk sementara kondisi nyonya Tari sudah stabil. Namun kondisi ini bisa berubah sewaktu-waktu. Apalagi sel kanker sudah menyebar dan tidak dapat dikendalikan." Jawab dokter itu jelas.


"Dokter, jadi apakah rawat jalan seperti biasanya sudah tidak bisa lagi dilakukan?" Tanya Robi menggenggam erat tongkat kayunya yang kokoh.


"Sayangnya sudah tidak bisa. Sebaiknya, tindakan operasi harus segera dilakukan, jika tidak, kami tidak dapat memastikan akan dapat menyelamatkan nyawa nyonya Tari lagi."


"Hah... Begitu ya. Lalu, apa saja yang harus saya persiapkan untuk tindakan operasinya dok?"

__ADS_1


"Ada beberapa prosedur untuk tidnakn operasi tuan Robi, sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya untuk lebih jelasnya." Dokter itu menganggukkan kepalanya.


"Baik dokter." Robi mengangguk setuju. Kali ini tidak ada cara lain. Entah Tari setuju atau tidak, tindakan operasi harus tetap dilakukan.


"Dokter, apakah mama saya sudah boleh dijenguk?" Tania bertanya dan menghentikan dokter yang sudah akan melangkah.


"Mohon maaf, nyonya Tari masih belum bisa dijenguk. Kami masih harus terus melihat perkembangan kondisinya dulu. Apalagi nyonya Tari baru saja selamat dari bahaya dan tidak baik jika ada gangguan sedikit pun. Nanti jika Nyonya Tari sudah sadar, kami akan memberitahu keluarga." Jawab Dokter itu tanpa daya.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak dokter." Tania mengangguk paham. Lalu menatap pintu ruang ICU yang tertutup dengan perasaan campur aduk. Wanita yang telah membesarkan nya sejak kecil kini terbaring di balik pintu melawan penyakitnya. Namun dia bahkan tidak dapat melihatnya sama sekali. Jika waktu dapat diulang, ia tidak akan sembunyi-sembunyi lagi saat melihatnya setiap kali wanita itu berobat. Ia akan muncul dan menemuinya secara langsung. Tapi, jika hanya tinggal penyesalan. Dan penyesalan tidak akan dapat dibayar kembali karena waktu, tidak mungkin dapat diulang.


"Sudah lewat jam makan siang. Apa kamu lapar? Bagaimana jika kita pergi ke kantin untuk membeli sesuatu?" Arsya mengajak Tania duduk, namun adiknya itu menolak dan memilih untuk berdiri seperti sebelumnya. Jadi dia mencoba mengajaknya pergi ke kantin.


"Tidak kak. Aku tidak lapar. Aku mau melihat mama dulu." Tolak Tania tegas.


"Mama belum sadar sekarang. Nanti jika mama sudah sadar, dokter juga akan memberitahu kita. Nanti aku akan menemanimu menemui mama." Arsya menghibur. Ia tahu Tania pasti cemas.


"Kenapa? Dia juga anak mama." Arsya tidak terima. Ia berdiri menghadap Farel yang berdiri angkuh di depannya.


"Apa kamu sudah lupa? Apa aku harus mengingatkanmu lagi? Tania hanya lah anak angkat di keluarga Wiratmaja. Menjadi keberuntungannya karena telah diadopsi dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang selama lebih dari dua puluh tahun. Tapi apa balasannya pada keluarga ini? Dia membuat malu nama keluarga dengan kelakuannya yang kurang ajar. Apa pantas wanita seperti itu datang menemui mama?" Farel berkata dengan sinis.


"Kakak, kita besar bertiga bersama. Kita tahu betul bagaimana sifat Tania. Kita semua tahu bahwa Tania tidak mungkin melakukan itu."


"Tidak masalah itu benar atau salah. Namun karena hal itulah perusahaan mendapatkan dampak yang besar. Membuat papa harus bekerja keras untuk membalikkan keadaan. Membuat mama khawatir setiap hari. Dia tahu apa?" Sengit Farel.


"Kita berdua tahu betul apa yang membuat papa dan mama lebih cemas. Masalah perusahaan atau kelakuan kakak dan kak Nina yang semakin hari semakin tidak terkendali."

__ADS_1


"Kamu! Aku dan Nina selalu melakukan sesuatu yang terbaik untuk perusahaan. Apa hakmu menuduh kami seperti itu?"


"Kak Arsya, jangan membuat ribut di sini atau kita akan mengganggu mama." Tania menarik lengan Arsya yang hendak membalas perkataan Farel.


"Huh! Kita berdua tahu apa aku berkata benar atau tidak. Asal kamu tahu kak, aku tahu semua apa yang kalian berdua lakukan. Selama itu masih tidak melewati batas. Aku tidak akan memberitahu papa dan mama. Aku tidak ingin membuat mama dan papa menjadi semakin sedih jika mengetahui hal itu. Namun sedikit dajankalian bertindak melewati batas, aku tidak akan segan mengambil tindakan pada kalian. Camkan itu baik-baik kak. Sampaikan juga pada kak Nina. Jangan sampai aku membuka kedoknya dan niat busuknya akan terungkap." Arsya menegakkan tubuhnya di depan Farel. Tubuh Arsya lebih tinggi dari Farel. Jadi dia bisa mengintimidasi kakak kandungnya itu dengan mudah.


"Kamu...." Farel mundur dua langkah saat ia mendengar apa yang dikatakan oleh Arsya. Apakah benar adik laki-lakinya itu tahu semua yang dia lakukan? Bagaimana bisa? Dia dan Nina melakukan nya dengan sangat rapi dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Tapi kata-kata Arsya terlihat sangat yakin. Apa mungkin Arsya memang tahu?


*


*


*


...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_138🍁...


...kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...


...***...

__ADS_1


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2