
"Lari? Memangnya aku bisa lari kemana?" Tania tidak berani menatap Kevin langsung dan langsung memalingkan wajahnya pada saat ia menjawab.
"Baiklah. Kalau kamu memang tidak lari, sekarang tolong katakan padaku bagaimana kehidupan kalian selama ini di luar sana? Kalian berada di negara yang jauh tanpa ada keluarga di sana. Bagaimana kamu merawat dan membesarkan kedua anak kita sendirian?" Kevin bertanya dengan wajah sendu. Semakin dipikirkan, semakin dia merasa gagal sebagai seorang laki-laki. Ia tidak pantas disebut sebagai ayah maupun suami dari seseorang.
"Uh...ini.... Ini.... Kami hidup dengan baik." Jawab Tania masih tidak berani menatap Kevin.
"Jangan berbohong padaku Tania. Katakan dengan jujur."
"Jika kamu tahu untuk apa masih bertanya?" Tania mendengus kesal. Memangnya bisa bagaimana lagi kehidupan seseorang yang sendirian di negara orang dan bahkan masih mengandung dua orang anak di perutnya. Kehidupan seperti apa yang bisa dijalani? Dapat hidup dengan cukup saja mereka sudah bisa dikatakan beruntung.
"Maafkan aku Tania. Aku benar-benar bersalah padamu." Kevin berdiri dan memeluk Tania.
"Huft... Setelah aku pergi tahun itu, aku melanjutkan pendidikan ku. Aku tidak tahu mereka ada bahkan hampir dua bulan berlalu. Aku tidak menyadarinya sama sekali sampai aku pingsan saat aku sedang melakukan program dengan rekanku. Mungkin mereka protes dan menunjukkan keberadaan mereka. Beruntung semua orang di sekitarku mendukungku meskipun mereka tidak mengenalku sebelumnya. Satu persatu orang bahkan membawakan ku makanan. Mereka berkata bahwa mereka tidak sabar menunggu keponakan mereka. Tahun itu aku menyadari, bahwa dimanapun aku berada, yang harus aku tahu adalah bahwa aku tidak boleh menyerah apapun yang terjadi karena masih banyak orang yang akan peduli padaku." Tania menerawang jauh ke belakang. Masa-masa itu adalah masa paling bawah dalam hidupnya. Bahkan masa dimana dia dibingkai oleh Kevin hingga membuat nya sampai dibuang oleh keluarga, masih tidak sebanding dengan masa itu.
"Tania, aku benar-benar minta maaf. Aku sangat bersalah padamu. Tolong katakan padaku bagaimana aku bisa menebus kesalahanku." Ucap Kevin sungguh-sungguh.
"Bagaimana dengan manjauh saja dariku dan anak-anak ku?" Tania mendongak dan menatap Kevin yang berdiri di depannya. Memeluknya.
"Tidak Tania. Tolong jangan katakan itu. Tolong jangan minta aku untuk menjauhi kalian. Aku mohon Tania." Kevin menatap Tania dengan sendu. Wajahnya penuh dengan penyesalan.
"Aku bisa melakukan apapun selain menjauh darimu." Lanjut Kevin yakin.
"Benarkah?" Tania mengerutkan alisnya.
"Ya ya. Katakan saja apapun. Asalkan kamu bersedia memaafkanku dan mau kembali bersamaku. Aku pasti akan melakukannya."
"Ha ha ha... Semua masalah ini berawal dari posisi Presdir AB Grup. Bagaimana jika kamu memberikannya padaku?" Tania tersenyum penuh maksud. Tania tahu betul betapa pentingnya posisi itu untuk Kevin. Dia yakin bahwa Kevin akan menyerah.
"Kalau itu yang kamu mau, tidak masalah. Aku bahkan bisa menyerahkan hidupku padamu, apalagi hanya posisi Presdir saja. Besok, kita urus masalah ini. Jadi semakin cepat kita dapat berkumpul kembali menjadi satu keluarga yang utuh." Kevin mengangguk setuju.
Tania hampir menjatuhkan rahangnya. Bagaimana Kevin bisa setuju begitu saja?
"Kevin, apakah aku salah dengar?"
"Tidak." Kevin menggeleng.
__ADS_1
"Apa kamu tidak berpikir jika kamu menyerahkan posisi itu, kamu secara otomatis juga akan menyerahkan seluruh saham yang kamu miliki. Bagaimana kamu hidup nanti?"
"Eh? Bukannya ada kamu. Kamu juga bukan orang lain. Aku pikir begitu juga baik. Kamu pergi bekerja dan mencari uang. Sedangkan aku di rumah mengurus anak-anak dan menunggumu kembali. Itu sepertinya cukup menarik." Ucap Kevin seraya memeluk Tania lebih erat. Kali ini ia bahkan menarik Tania yang awalnya duduk hingga berdiri. Bahkan mengangkatnya ke udara.
"Kamu! Kamu tidak tahu malu. Lepaskan aku!" Teriak Tania panik.
"Berteriak sekeras itu. Apa mau membuat anak-anak kita bangun dan melihat ini?" Tanya Kevin dengan senyum licik. Tania seketika sadar jika selain mereka, ada anak-anak di dalam apartemen itu meskipun mereka ada di dalam kamar. Tania tidak lagi berteriak namun berusaha untuk turun.
Kevin tidak ingin mempermainkan lama Tania. Ia segera menurunkan Tania setelah ia mengecup keningnya singkat sebelum menurunkan Tania dengan aman.
"Sudah malam. Ayo kita juga tidur." Ucap Kevin menggamit pinggang Tania lembut.
"Ya. Sekarang sudah malam. Kamu harus pulang sekarang." Tania melepaskan tangan Kevin.
"Tidak. Aku ingin menemani kalian di sini." Kevin tidak mau melepaskan Tania. Ia membisikkan kata-kata ambigu di telinga Tania. Membuat Tania memukul ringan tangan Kevin yang mengeratkan pelukannya.
"Kev jangan main-main. Ada anak-anak di sini. Lagipula hanya ada sofa saat ini. Apa kamu mau tidur di lantai?"
"Siapa bilang? Kamu lihat saja sendiri." Kevin mengajak Tania ke ruang kerjanya. Membuka pintu dan melihat ke dalam.
"Saat kamu menidurkan anak-anak, aku memint Danil datang dan mengatur semuanya. Aku sebenarnya lebih senang membawamu ke apartemenku. Tapi aku yakin jika kamu pasti tidak mau. Namun aku juga tidak ingin kamu tidur di sofa. Jadi aku pikir lebih baik menambah ranjang di sini."
"Kalau begitu terima kasih. Karena semua sudah diatur, aku akan eprgi tidur. Kamu cepatlah pulang." Tania menarik diri dan menjauh dari Kevin.
"Bukankah sudah aku katakan aku akan tinggal di sini malam ini?" Kevin kembali menarik Tania dan mulai mengecupi Tania.
"Tidak bisa. Anak-anak di sini. Besok jika mereka tahu jika mami mereka tidur dengan seorang pria, apa yang akan aku katakan?"
"Aku akan pergi sebelum mereka bangun. Begini bisa kan?" Kevin sudah dibakar gai-rah. Tangannya sudah bergerak masuk ke dalam baju Tania yang longgar.
"Keeev..." De-sah Tania pelan. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak membuat suara yang keras.
"Aku akan membantumu menelan suaramu nanti." Kevin membungkam bibir Tania dengan bibirnya saat tangannya mulai bekerja.
Di tempat lain, saat Kevin dan Tania sedang dibakar gai-rah, Khanza dibakar amarah. Hari ini ia tidak sengaja melihat Tania dan Kevin yang keluar dari lift dengan Kaisar dan Kaylee. Khanza sangat terkejut melihat mereka. Apalagi setelah ia melihat wajah kedua anak itu yang sangat mirip dengan Kevin. Khanza yakin jika kedua anak yang sedang digendong oleh Tania dan Kevin adalah anak mereka. Ia tahu bahwa hubungan mereka di masa lalu sudah sampai pada tahap itu. Jadi anak-anak itu pasti benih Kevin yang dibawa pergi oleh Tania tahun itu.
__ADS_1
Dengan adanya Tania sendiri saja sudah membuatnya kesulitan untuk mendapatkan perhatian Kevin. Jika anak-anak itu ada, jalannya pasti akan semakin sulit di masa depan. Tetapi anak-anak itu adalah anak kandung Kevin. Ia tidak bisa menargetkan mereka. Jika Kevin tahu, dia tidak akan selamat. Tetapi jika hanya Tania, Kevin mungkin akan melupakannya.
"Kamu sudah sampai dimana?" Tanya Khanza marah pada seseorang melalui sambungan telepon.
"Tunggu sebentar lagi. Kamu kira mudah mendapatkan barang ini? Aku masih harus mengambilnya dari orang di tempat lain."
"Aku tidak peduli. Yang penting kamu cepat datang."
"Iya. Sekitar sepuluh menit lagi aku sampai. Kamu siapkan uangnya. Setelah aku dapat uangnya, aku serahkan barangnya dan pergi.
"Kamu tenang saja. Semuanya sudah aku persiapkan dengan baik." Khanza menepuk amplop berwarna coklat yang tebal di tangannya sebelum mematikan telepon.
"Kamu akan ma-ti kali ini Tania. Jika kamu ma-ti, baik Kevin maupun anak-anak itu semuanya akan menjadi milikku." Gumam Khanza dengan kejam. Matanya memancarkan aura membunuh yang kental.
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_132🍁...
... kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1