Belenggu Cinta Mantan Suami

Belenggu Cinta Mantan Suami
Bab 63. Brother Complek


__ADS_3

Meskipun Arsya ingin seklai segera bertemu dengan Tania, namun ia tidak bisa seenaknya saja. Untuk sampai pada tahap ini ia telah melakukan banyak hal dan bekerja keras. Apalagi pada saat ini ia baru mulai mendapatkan kepercayaan dari Robi. Jika ia bertindak sembrono kali ini, usahanya selama bertahun-tahun ini akan hilang begitu saja. Jadi ia hanya bisa mengundur waktu pertemuan nya dengan Tania pada malam harinya setelah ia pulang bekerja. Lagipula ini adalah pertama kalinya Tania pulang. Jadi dia harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambutnya.


Arsya meminta Geo untuk mereservasi sebuah ruang VIP di sebuah restoran untuk bertemu dengan Tania. Ia bahkan telah berada di sana setengah jam sebelum waktu janji.


"Geo apakah aku sudah terlihat tampan?" Entah untuk yang ke berapa, Arsya bertanya pada Geo mengenai penampilan nya.


"Anda terlihat tampan seperti biasanya, tuan." Geo menjawab. Jika Ia tidak mengetahui bagaimana tuannya terhadap Tania, ia pasti akan menganggap jika tuannya ini sebenarnya ingin menemui seorang gadis yang ia cintai daripada menemui adiknya. Namun Geo mengetahui jika perasaan Arsya terhadap Tania murni adalah perasaan sayang kakak terhadap adiknya. Begitu juga sebaliknya.


"Benarkah?" Arsya bertanya dengan tidak percaya.


"Benar tuan."


"Ini pertama kalinya adikku kembali. Jika ia melihatku berantakan, aku akan malu. Jadi bicara dengan jujur sekarang." Arsya memicingkan matanya menatap Geo.


"Ya tuan. Saya sudah berkata dengan sebenarnya. Anda memang terlihat hebat."


Benar. Geo tidak berbohong sama sekali. Setelah ia memutuskan untuk ikut bersaing dengan Farel untuk perusahaan, ia telah banyak merubah penampilannya. Ia menjadi lebih rapi dan terlihat semakin dewasa. Namun saat ia menemui Tania, ia masih lebih sering memakai pakaian kasual dari pada pakaian formal seperti sekarang ini.


"Oke. Aku akan percaya kali ini. Tapi jika ternyata kamu membohongiku, awas saja aku akan memotong gajimu bulan ini, hemp!" Arsya mendengus.


"Huk! Saya tidak akan berani tuan." Geo merasa tidak berdaya. Mungkin ia telah tidak sengaja terseret dalam brother complek tuannya ini.


"Huh! Dimana bunga yang aku suruh kamu pesan sebelumnya? Kenapa belum sampai sampai saat ini?" Arsya bertanya dengan kesal.


"Sebentar tuan, saya akan menghubungi penjualnya untuk menanyakan." Geo menjawab dengan cepat. Takut ia akan disalahkan lagi.


"Ya ya. Cepat tanyakan. Katakan pada mereka jika mereka tidak mengirimnya dalam sepuluh menit, aku akan menghentikan pemesanan pada mereka di masa depan."


"Baik tuan." Geo segera berlalu. Ia keluar ruangan untuk menelepon. Lagipula, jika ia menelepon di dekat Arsya, ia khawatir jika sikap tuannya yang sedang seperti ini akan mempengaruhi citra tuan nya yang telah lama dibangun.


Tania juga tidak memiliki kegiatan setelah ia kembali dari kantor dalam keadaan marah siang tadi. Ia hanya mengurung diri di dalam apartemennya hingga malam hari ia pergi keluar untuk menemui Arsya sesuai dengan janji mereka.


"Syukurlah sudah berhenti. Kalau tidak, aku mungkin tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini. Apakah mereka sedang melakukan perbaikan?" Gumam Tania saat ia melewati set sebelahnya yang saat ia pulang tadi ia mendengar suara gaduh dari sana. Namun saat ini, suara-suara tadi telah menghilang sepenuh nya.


Apartemen itu bukan apartemen mewah yang memiliki peredam suara untuk seluruh ruangan. Hanya kamar saja yang dipasang peredam suara. Jadi saat berada di luar kamar, suara yang cukup keras masih akan terdengar.


"Hem? Tapi itu bagus juga. Aku pikir aku akan mencari hotel malam ini, tapi sepertinya sudah tidak perlu lagi." Lanjutnya sambil masuk ke dalam lift.


Dua puluh menit kemudian, Tania telah sampai di depan ruangan VIP yang telah dikirim Arsya. Sebenarnya Arsya sudah menawarinya untuk menjemputnya, namun Tania menolak dan memilih untuk langsung pergi di restoran sendiri saja. Setelah ia mengetuk satu kali, pintu ruangan terbuka dan ia dikejutkan dengan sebuket bunga lili putih yang indah.


"Selamat datang." Arsya membungkukkan tubuhnya sambil mengangsurkan bunga itu pada Tania yang segera diterima oleh wanita cantik itu.


"Terima kasih banyak. Ini sangat indah." Tania menerima bunga itu dengan senang hati. Mencium bunga itu sambil menghirup aromanya dalam-dalam saat ia berjalan masuk.


"Apa kamu menyukainya?" Arsya bertanya dengan senyum mengembang di bibirnya. Geo yang melihatnya dari samping bahkan membayangkan jika tuannya ini seperti seekor anjing kecil yang mengibaskan ekornya berharap akan dipuji. Jika klien ataupun karyawan di Wiratmaja Industri melihat penampilan tuannya ini, mereka mungkin akan meludahkan darah muda mereka.

__ADS_1


"Sangat. Aku sangat menyukainya. Terima kasih kakak." Tania memeluk Arsya dengan erat. Ia sangat merindukan kakaknya ini.


"Bagus. Aku juga sudah memesankan makanan kesukaan mu. Kamu pasti sudah lapar kan?" Arsya menggamit pinggang adiknya yang terasa lebih kecil ini dan tidak sabar untuk memberinya makan.


"Eum. Aku memang sudah lapar sejak tadi." Tania mengerucutkan bibirnya. Ia memang tidak makan sejak pagi tadi. Ia juga melewatkan makan siang karena keadaan hatinya yang buruk siang tadi. Jadi saat ini dia benar-benar lapar.


"Mari kita duduk dulu. Geo, suruh mereka menyajikan makanan sekarang." Kalimat yang pertama diucapkan dengan halus dan penuh perhatian. Sedangkan kalimat yang kedua diucapkan dengan tegas dan tanpa mau dibantah.


"Kamu di sini, bagaimana dengan anak-anak?" Tanya Arsya saat mereka tengah makan.


"Heum. Ada Xia Xi Lin yang menjaganya. Jika tidak, aku juga tidak akan tenang." Jawab Tania.


"Yah. Dia memang gadis yang cakap."


"Kakak benar. Aku beruntung memiliki nya di sisiku."


"Malah akulah yang merasa menjadi kakak yang tidak kompeten."


"Tidak kok. Kak Arsya masih tetap kakak terbaik untukku."


"Uh! Berada di luar negeri selama beberapa waktu membuat mulutmu ini semakin pandai berbicara manis."


"Ha-ha-ha-ha. Bagaimana pun, berbicara manis adalah keterampilan yang harus dimiliki jika ingin bertahan."


"Er... Aku sudah hampir dua Minggu di sini. He he." Tania tertawa canggung.


"Sudah dua Minggu dan kamu bahkan tidak memberitahu aku sama sekali hah? Kamu masih menganggap aku kakakmu atau bukan hah?" Arsya cemberut.


"Yah. Tentu saja aku masih."


"Lalu? Kenapa kamu datang seperti tidak ada aku di sini saja?"


"Aku hanya tidak ingin mengganggu kakak. Lagipula perusahaan juga sudah mengirim orang untuk menjemput ku."


"Huh! Meskipun begitu lain kali harus tetap mengabariku terlebih dahulu. Sampai di sini, mana boleh bukan aku yang melihatmu dulu."


"Iya. Aku akan ingat."


"Berapa lama rencananya kamu akan tinggal di sini?"


"Paling cepat setengah tahun kak. Ada urusan di perusahaan. Jadi aku harus tinggal sedikit lebih lama." Mengingat pekerjaannya, wajah Tania menjadi berubah.


"Bagus dong. Kenapa tidak membawa anak-anak kemari? Aku sangat merindukan mereka. Aku akan mampir ke apartemen mu setelah bekerja."


"Sepertinya tidak bisa." Tania menahan amarahnya. Ia mengepalkan garpu di tangannya.

__ADS_1


"Kenapa?" Arsya mengangkat alisnya. Ia sangat menyayangi kedua keponakannya yang baik itu. Dan dia sangat merindukan mereka berdua.


"Sebenarnya, pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan ku adalah Kevin."


"Uhuk uhuk uhuk." Arsya tersedak begitu mendengar jawaban Tania. Tania segera membantunya mengangsurkan air minum untuk kakaknya.


"Apa?! Jadi pria kurang ajar itu adalah bos mu saat ini?"


"Ya. Aku juga baru tahu setelah aku sampai. Jika aku tahu aku juga tidak akan setuju untuk dikirim bahkan jika perusahaan mengancam ku untuk mencekalku selama satu tahun." Jawab Tania kesal. Jika bukan ancaman itu, ia tidak akan sampai di sini dan bertemu dengan Kevin. Laki-laki yang paling tidak ingin ia temui di dunia ini.


"Oh. Jika seperti itu, aku juga setuju jika kamu tidak membawa anak-anak datang. Lagipula, Kaisar memiliki hampir sembilan puluh wajah pria be-reng-sek itu. Dia akan mengenalinya sebagai anaknya hanya dengan sekali lihat." Arsya mendesah pelan. Tidak dapat dipungkiri jika wajah keponakannya yang tampan memang mewarisi dari wajah Kevin. Melihat Kaisar, ia seperti melihat Kevin versi mini. Benar-benar mirip.


"Yah itulah yang aku takutkan."


"Tidak apa-apa. Selama anak-anak tidak di sini, mereka akan aman. Aku akan menemui mereka nanti."


Malam itu, kedua kakak beradik yang sudah lama tidak bertemu itu menghabiskan waktu dengan bahagia. Mereka membicarakan banyak hal yang telah mereka lewati. Membagikan banyak hal bersama dengan penuh tawa dan kehangatan yang sangat menenangkan.


Keduanya tidak menyadari bahwa seseorang berkali-kali bersin beberapa kali saat mereka berdua membicarakan kejelekannya dan mengumpatnya.


"Tuan, sepertinya anda sedang tidak enak badan. Apakah saya perlu memanggil dokter Lucas nanti?" Danil bertanya dengan penuh perhatian.


"Tidak perlu." Kevin menjawab tanpa ekspresi.


*


*


*


...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_63🍁...


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...


...***...


...Salam sayang 😘...


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...

__ADS_1


__ADS_2