
Tania tidak akan lagi menerima hinaan yang diakibatkan oleh Kevin seperti di masa lalu. Mendengar Khanza yang terus menerus menyebut nya wanita Ja-lang, Tania tidak lagi dapat menahan diri dan menampar pipi Khanza dengan sangat keras. Menimbulkan cetakan lima jari merah tergambar di pipi putih Khanza.
Khanza sama sekali tidak menyangka jika dia akan diserang tepat di depan Kevin. Pipinya terasa sakit dan nyeri. Namun harga dirinya jauh lebih sakit daripada pipinya. Ia ingin sekali menangis, tapi ia tidak ingin menunjukannya di depan Tania atau wanita ini pasti akan senang melihatnya menderita.
"Huh? Nona Khanza, saya tidak tahu bagaimana seseorang bisa sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan anda. Tapi saya sudah cukup sabar dan tidak bisa lagi bersabar menghadapi anda. Anda datang begitu saja dan menuduh orang dengan kejam. Lalu bahkan masih memaki-maki saya. Jika saya tidak melihat jika anda adalah wanitanya tuan Kevin, apakah anda pikir jika tangan saya akan diam saja setelah anda meludahkan begitu banyak omong kosong?" Ucap Tania dengan kesal.
"Tuan Kevin, saya sudah selesai dengannya. Segera bawa dia pergi atau saya tidak akan dapat berjanji untuk tidak membuat satu lagi sebagai kenang-kenangan agar seseorang selalu mengingat untuk berpikir terlebih dahulu sebelum memuntahkan kata-katanya yang kotor." Lanjutnya sambil melirik Kevin dengan kesal.
"Kevin tolong beri aku keadilan. Aku sudah dianiaya di depan matamu. Apa kamu akan membiarkannya lewat begitu saja?" Khanza mendengar ucapan Tania dan segera menoleh untuk memohon pada Kevin.
Namun bayangan Khanza yang menganggap bahwa Kevin tidak akan membiarkannya terluka dan akan membalas atas luka yang dia terima nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan. Kevin memberinya bahu dingin.
"Keadilan apa yang kamu inginkan? Pertama, kamu yang datang pada awalnya tanpa alasan yang jelas dan mengganggu pekerjaan. Kedua, bukan hanya mengganggu, kamu bahkan masih berani memakai seseorang tanpa alasan. Dan yang ketiga, sudah jelas di sini kamulah yang salah. Masih tidak mengakui kesalahan dan memintaku untuk mendukungmu? Khanza, aku pikir aku terlalu longgar padamu akhir-akhir ini. Sepertinya aku memang harus segera mengirimmu untuk mendapatkan pelajaran etika sekali lagi." Ucap Kevin tegas.
"Tidak tidak Kevin. Tolong jangan kirim aku lagi. Kamu tidak tahu bahwa mereka menyuruhku bangun pagi-pagi sekali dan melakukan banyak pekerjaan. Mereka bukan memberiku pelajaran tapi malah menyiksaku. Aku tidak mau pergi ke sana. Lagi. Aku tidak mau pergi. Aku salah. Aku tahu aku salah. Aku...aku... Aku akan... Akan...akan... Aku akan meminta maaf pada Miss Angela. Ya ya. Aku akan meminta maaf sekarang." Ucap Khanza panik.
Ia sudah susah payah pergi dari keluarga yang diktator itu. Ia tidak mau kembali lagi ke sana atau pergi ke tempat lainnya. Ia sudah lama tinggal jauh dari Kevin. Apalagi saat ini ada Tania di sekitar, dia tidak boleh memberikan kesempatan pada Tania dan membiarkan Tania berhasil merebut Kevin darinya.
Pada saat ini ia tahu jika melawan Kevin tidak akan membantunya sama sekali dan bahkan akan lebih membuat Kevin marah padanya. Jadi dia harus memikirkan cara untuk meredakan kemarahan Kevin pertama kali.
Seperti tercerahkan, Khanza segera berbalik dan menatap Tania dengan tajam. "Miss Angela, saya sudah salah sangka. Tolong maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi. Sekali lagi tolong maafkan saya." Ucap Khanza sambil mengepalkan tangannya. Jika bukan karena ia takut untuk dikirim pergi lagi oleh Kevin, ia tidak akan pernah merendahkan diri dan meminta maaf pada Tania. Di dalam hatinya, ia berjanji jika ia pasti akan membalas rasa sakit hari ini.
Melihat tatapan Khanza yang seakan dapat memakan dirinya, bagaimana mungkin Tania tidak tahu jika Khanza tidak meminta maaf dengan tulus padanya. Namun daripada ia melihat Khanza dan Kevin yang merusak pemandangan ini terus berada di ruangannya, ia hanya mendengus kesal.
"Ucapan ini tolong anda ingat di masa depan Nona Khaza. Saya tidak hanya akan menampar pipi Anda jika saya mendengar ini untuk yang kedua kalinya." Ucap Tania.
"Tuan Abraham, tolong bawa wanita anda pergi dari sini." Tania berbicara sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Melihat Tania yang sedang kesal, Kevin mengurungkan niatnya untuk menjelaskan dirinya. Menghela napas dan menatap tajam Khanza. "Tunggu apa lagi? Cepat keluar!"
Mendengar suara keras Kevin padanya, Khanza tidak bisa tidak ketakutan. Ia segera menatap Tania yang masih memalingkan wajahnya denga kesal dan menghentakkan kakinya sebelum ia pergi keluar dari ruangan itu.
"Tania, aku akan menemuimu nanti dan menjelaskan semuanya." Ucap Kevin sebelum ia juga keluar dari Tania tanpa menunggu persetujuan Tania karena ia yakin jika wanita itu pasti akan menolaknya.
Danil membungkukkan badannya pada Tania sebelum ia juga mengikuti tuannya keluar dari ruangan Khanza yang seketika menjadi sunyi.
"Anda baik-baik saja Miss?" Mona yang diam seperti patung sejak tadi maju bertanya dengan cemas.
"Aku baik-baik saja. Mona, pasti sulit untukmu berada di dekatku kan?" Tania berbalik dan menyipitkan matanya bertanya pada Mona. Dengan kabar yang beredar di perusahaan, ia yakin Mona yang merupakan asistennya pasti juga akan mendapatkan dampaknya.
Dugaan Tania memang benar. Sejak kedatangan Khanza, Mona selalu merasa bahwa ia dikucilkan. Apalagi dengan ketidakhadiran Tania di sana. Mereka yang awalnya hormat padanya karena ia adalah asisten Desaigner HR Mode seketika mulai memperlakukan nya dengan buruk.
"Saya tidak apa-apa Miss. Saya senang berada di dekat anda dan membantu anda. Saya rasa anda adalah atasan yang paling baik yang pernah saya temui." Puji Mona tulus.
"Tidak Miss. Saya tidak hanya membual saja. Saya benar-benar memang senang bisa menjadi asiten anda." Mona menjelaskan dirinya dengan panik.
"Baiklah baiklah. Aku tahu. Sekarang bisakah aku memint tolong padamu?" Tania menganggukkan kepalanya. Ia sangat terhibur dengan adanya Mona di dekatnya.
"Tentu saja Miss. Saya adalah asisten anda. Sudah tugas saya untuk membantu anda. Miss Angela katakan saja apa yang bisa saja bantu lakukan."
"Nah, tolong bantu aku pesankan sebuah ruang VIP di restoran X untuk makan siang, siang ini." Tadi malam sebelum Tania keluar dari mobil Arsya, kakak laki-laki nya itu memberitahu bahwa dia menemukan sesuatu dan akan mengatakan padanya hari ini. Melihat ekspresi Arsya yang sangat serius, ia yakin jika hal itu pasti sangat penting.
"Baik Miss. Anda tenang saja, saya pasti akan menjalankan tugas yang anda berikan."
"Aku tahu."
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan keluar sekarang." Mona segera pergi melakukan tugasnya.
Kali ini Tania benar-benar ditinggalkan sendiri di ruangannya. Mengingat apa yang baru saja terjadi, suasana hati Tania yang udah terangkat berkat Mona kembali turun. Ia yang baru saja mengambil pakaian yang baru saja dicoba Kevin, melemparkan pakaian itu ke atas meja dengan marah.
"Memangnya siapa dia? Aku juga tidak peduli dengan siapa dia dekat. Jadi tidak ada yang perlu aku dengar darinya." Tekad Tania bulat. Ia tidak akan membiarkan Kevin masuk ke apartemennya nanti.
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_91🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1