
Namun nenek Ambar tidak mengetahui apa-apa dan tidak bisa tidak khawatir. Ia segera naik ke atas untuk melihat. Tania, mau tidak mau mengikuti nenek Ambar dari belakang. Ia juga ingin tahu dengan pasti apa yang terjadi sebelumnya.
Pintu Ruang kerja sebelumnya memang tidak tertutup dengan rapat sehingga perdebatan antara kakek dan cucu di dalam ruangan terdengar jelas dari luar. Nenek Ambar yang mendengar kabar mengejutkan itu tidak bisa tidak menoleh dan menatap Tania dengan kekecewaan di matanya yang jelas.
"Maafkan Tania nek." Ucap Tania sambil menundukkan kepalanya dengan dalam. Rasa bersalahnya memenuhi hatinya.
Tidak seperti sebelumnya, Tania dan Kevin tidak menginap di kediaman Abraham malam itu. Kevin langsung mengajak Tania kembali ke apartemen mereka begitu saja tanpa menghiraukan tangisan nenek Ambar yang menyedihkan. Tania juga tidak bisa melakukan apapun selain menurut dan pulang bersama dengan Kevin. Jika ia tetap tinggal di sana lebih lama lagi, ia tidak yakin apakah ia akan sanggup melihat kesedihan nenek Ambar.
Meninggalkan Tania yang menggantung hatinya, Kevin sangat frustasi. Meskipun sebagian besar saham telah ditransfer atas nama Kevin, namun kakek Seno masih memiliki sejumlah bagian saham untuk menjaga kestabilan perusahaan. Dan kakek Seno mengancam Kevin akan menjual saham yang ada di tangannya kepada orang lain sehingga secara resmi, Kevin bukan lagi pemilik saham terbesar dan akan segera diturunkan dari posisi teratas nya.
Kevin memukul kemudi beberapa kali semenjak mereka masuk ke dalam mobil hingga perjalanan masih belum setengah jalan. Tania yang ada di sampingnya hanya meliriknya setiap kali Kevin memukul kemudi berulang kali.
"Kakek menentang perceraian ini." Ucap Kevin tiba-tiba.
"Lalu apa rencanamu?" Tania meliriknya dan bertanya.
"Bagaimana pun, perceraian ini harus tetap terjadi." Jawab Kevin tegas.
"...." Tania tersenyum miris.
Ia bahkan tidak tega melukai hati nenek Ambar. Namun cucunya ini bahkan tidak menoleh meskipun nenek Ambar memanggilnya untuk tinggal. Padahal ia tahu jika Kevin sebenarnya menyayangi neneknya. Jadi pasti ada sesuatu yang sangat penting yang membuat Kevin bahkan tidak terpengaruh dengan tangisan menyedihkan neneknya.
Apakah karena Kevin Sebenarnya telah menemukan cinta sejatinya?
Haah.... Tania menghela napas panjang. Lagipula setelah perceraian berakhir, ia tidak akan ada hubungannya lagi dengan Kevin. Jadi alasan apa pun yang dimiliki Kevin, dia tidak akan peduli. Yang harus ia pikirkan adalah bagaimana dia bisa sedikit mengurangi kesedihan nenek Ambar sebagai ungkapan permintaan maafnya pada nenek mertuanya itu.
***
Kevin dalam suasana hati yang buruk sejak hari itu. Kakek Seno terus menekannya setiap hari dan menambah beban pikirannya yang sudah terasa penuh sesak. Apalagi hari ini Nancy memberitahunya bahwa Khansa melakukan percobaan bunuh diri lagi dengan membuka paksa perban dan mengakibatkan luka di pergelangan kirinya kembali terbuka dan mengeluarkan banyak darah. Jika ia tidak menemukannya tepat waktu oleh Nancy, takutnya ia akan mati karena kehabisan darah. Akhirnya mau tidak mau, Kevin pun pergi ke negara F untuk menemui Khansa.
Kevin tidak langsung menemui Khansa saat ia sampai dan menemui dokter yang bertanggung jawab atas Khansa untuk mengetahui keadaan Khansa secara pasti. Dokter Robert, dokter terkenal dari negara W juga diundang untuk membantu pengobatan Khansa. Sebenarnya, kondisi Khansa sudah semakin baik dan hanya perlu pemulihan di rumah. Namun karena kejadian ini, dokter akhirnya memutuskan untuk tetap merawat Khansa di rumah sakit dengan bantuan psikiater.
__ADS_1
"Tuan Kevin, andalah yang paling dibutuhkan oleh nona Khansa sekarang ini untuk mendukung proses penyembuhan. Jika kejadian ini terjadi lagi, takutnya nyawa nona Khansa tidak akan tertolong." Ucap dokter Robert dengan jelas. Dokter yang awalnya bertanggung jawab atas kesembuhan Khansa juga mengangguk membenarkan.
"Dalam hal ini, kesehatan mental nona Khansa lebih berpengaruh pada kesembuhannya daripada pengobatan medis. Jika jiwa nona Khansa baik, maka pengobatan medis bisa dilakukan dengan baik pula. Sebagai orang yang paling dekat dengan nona Khansa, anda diharapkan memberikan banyak perhatian padanya." Tambah dokter Robert menjelaskan dengan wajah serius dan mengingatkan.
"Saya mengerti dokter. Terima kasih atas bantuan dokter. Kalau begitu, saya akan pergi menemui Khansa dulu." Kevin mengangguk paham sebelum ia berdiri untuk pamit.
"Baik. Sebisa mungkin tolong jaga agar mental nona Khansa tidak merasa tertekan."
"Baik dokter. Akan saya usahan." Kevin membungkukkan tubuhnya sebagai isyarat untuknya pamit dan keluar dari ruangan setelah itu.
Danil mengikuti Kevin yang berjalan di dalam koridor rumah sakit dengan beban di pundaknya yang terasa berat. "Tuan, apa sebaiknya kita mengirim nona Khansa ke negara D untuk pengobatan yang lebih intensif?" Ucap Danil dengan ragu berusaha memberikan solusi.
"Kamu juga sudah mendengar apa yang dikatakan dokter tadi bukan? Tidak peduli sebaik apapun dokter dan rumah sakit tempat merawat Khansa, jika dia sendiri memang masih melakukan perlawanan, pengobatan itu tidak akan pernah berhasil." Jawab Kevin dengan berat.
Danil menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak bisa membantu tuannya saat ini.
Hati Danil semakin berat saat mereka telah sampai di depan ruang rawat Khansa. Dari dalam ruangan, suara seorang gadis yang terdengar manis sayup-sayup terdengar. Berbicara dengannya, suara wanita lainnya yang penuh dengan kecemasan juga terdengar. Kevin tidak langsung masuk dan ingin melihat apa yang terjadi. Melalui jendela kaca di pintu, ia melihat segalanya d dalam ruangan.
"Nona, tolong nona makan dulu. Bagaimana bisa makan obat jika nona masih belum makan?" Nancy terus berusaha membujuk Khansa untuk menurut dan makan.
"Aku sudah bilang aku tidak mau. Kenapa bibi Nancy terus memaksaku?!" Khansa yang sudah tidak sabar mendorong sendok hingga jatuh. Sebagian makanan jatuh di atas kasur dan mengotori selimut. Nancy segera meletakkan mangkuk di atas meja dan mengambil tisu untuk membersihkan ranjang sebelum pergi ke lemari untuk mengambil selimut yang baru untuk mengganti selimut yang lama.
"Nona, biarkan aku mengganti selimut untuk nona. Jangan sampai nona masuk angin karena selimut yang dingin." Nancy dengan hati-hati menarik selimut di atas Khansa dan menggantinya dengan yang baru. Setelah selimut baru berhasil dipasang, nancy masih tidak berhenti untuk membujuk Khansa makan namun seperti apapun ia membujuk, itu tidak akan berhasil pada gadis yang dirawatnya itu.
"Nona, tuan muda berkata akan mengunjungi nona hari ini. Jika tuan muda melihat nona yang seperti ini, tuan muda akan bersedih. Jadi nona makan dulu ya." Nancy kembali menyendok makanan dan meletakkannya di depan bibir Khansa hanya untuk kembali dihempaskan oleh gadis itu. Membuat selimut nya kembali kotor karena bubur.
"Kamu sudah mengatakannya berulang kali. Tapi mana? Kevin bahkan masih tidak membalas pesan dariku. Kamu mau aku percaya saat dibohongi terus?" Khansa berteriak dengan marah.
Melihat Khansa yang mulai marah, Kevin akhirnya membuka pintu dan masuk.
Krieet...
__ADS_1
*
*
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_29🍁
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
...***...
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Dua puluh tiga🍃...
...🌸Pada malam ke dua puluh tiga, Allah SWT membangunkan sebuah kota untuk nya di surga🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...