
Pestan pertunangan berjalan dengan lancar. Baik Tania maupun Kevin terlihat serasi dan tampil alami seperti pasangan muda pada umumnya yang saling mencintai. Meskipun pada akhirnya para tamu undangan terkejut setelah mengetahui jika pasangan Kevin bukanlah Rebecca seperti yang tertulis di dalam undangan dan juga berita-berita gosip yang tersebar di jagat maya, namun tidak satupun dari mereka mengeksposnya di depan publik.
Baik Tania maupun Kevin memiliki latar belakang yang baik. Mereka tidak akan mempertaruhkan apapun hanya untuk rasa penasaran mereka. Kedua belah pihak merupakan orang yang tidak bisa mereka singgung.
Keesokan harinya, Kevin dan Tania sepakat untuk bertemu lagi untuk membahas perjanjian pernikahan mereka yang belum sempat mereka bahas sebelumnya. Karena saat ini Tania telah menyerah untuk melawan, ia mau tidak mau harus bekerja sama dengan Kevin untuk membuat perjanjian pernikahan mereka. Lagipula, ini juga demi kepentingan nya.
Tania selalu memimpikan sebuah pernikahan yang indah dan penuh dengan cinta, menikah dengan orang yang ia cintai dan juga mencintainya karena ia hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya. Meskipun keinginan itu sepertinya telah padam setelah cintanya pada Nathan tidak terbalas, hati kecilnya tetap memimpikan pernikahan yang hangat.
Pernikahan kontrak yang diajukan oleh seorang Kevin Axmala Abraham membuat mimpinya berakhir sudah. Pernikahan kontrak yang nantinya akan tercetak dalam kertas bermaterai jelas menyebutkan bahwa pernikahan tersebut hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah mereka bercerai, entah ia bisa menjalani hidup dengan tenang atau tidak. Apalagi untuk menemukan cinta yang lainnya.
Tania masih membaca kelanjutan isi kontrak pernikahan yang tertulis pada laptop milik Kevin yang ia pegang. Di bawah masa berlaku pernikahan keduanya, terdapat beberapa poin yang tertulis disana.
“Jadi pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun kan?”
“Ya. Sesuai dengan apa yang tertera di dalam kontrak.” Jawab Kevin dengan santai sambil menyesap kopinya.
“Disini banyak peraturan yang kamu buat. Aku juga seharusnya bisa menambahkan poinku sendiri kan?”
“Mmm baiklah. Memangnya apa lagi poin yang ingin?” Kevin meletakkan cangkir kopinya sebelum menopang dagunya dan menatap Tania serius.
“Aku ingin tidak ada kontak fisik selama pernikahan.” Ucap Tania menyipitkan matanya.
“Huh! Kau kira aku laki-laki gampangan yang meniduri wanita tanpa cinta?” Kevin mendengus kesal.
“Laki-laki normal itu sama saja. Disuguhi body **** juga mau.” Tania melipat tangannya di depan dada. Memandang Kevin dengan tatapan meremehkan.
“Itu tidak mungkin. Sudahlah jangan khawatir tentang itu. Aku tidak akan tergoda denganmu. Tulsi saja apa yang kamu mau di sana.”
“Oke-oke. Tapi awas! Jika sekali-sekali kamu berani macam-macam!” Tania dengan cepat mengetikkan poin yang dia inginkan. Kemudian membacanya agar didengar Kevin untuk diketahui laki-laki itu.
“Masalah pribadi seperti apa yang kau maksud?” tanya Kevin setelah Tania menyebutkan bahwa kedua belah pihak tidak akan saling mencampuri urusan pribadi di dalam poin peraturan kontrak pernikahan mereka.
“Termasuk masalah pekerjaan. Kita juga tidak boleh saling mencampuri urusan masing-masing. Juga jangan batasi dengan siapa aku bergaul. Aku juga tidak akan peduli kamu berhubungan dengan siapa saja.” Tania menjelaskan.
“Terserah. Itu bukan urusanku. Yang terpenting adalah jangan sampai mempermalukanku.”
“Mempermalukan bagaimana?”
“Intinya jangan dekat dengan lelaki manapun selama pernikahan kecuali untuk urusan pekerjaan.”
“Hei temanku tidak hanya perempuan.”
“Batasi pergaulanmu.”
“Kau ini mencari istri apa mencari tahanan sih.” Decak Tania.
“Lakukan saja apa yang aku ucapkan. Ingat nasib butik kesayanganmu ada di tanganku.” Kevin menatap Tania dengan ancaman.
“Ck. Dasar tuan pemaksa.”
“Jangan lupa tambahkan poin itu.”
__ADS_1
Tania segera mengetik apa yang Kevin ucapkan. Dengan kesal ia angsurkan laptop itu ke arah Kevin. Setelah membacanya sebentar, Kevin meminta Danil untuk mencetaknya.
Setelah kepergian Danil, mereka berdua tidak saling berbicara. Keduanya sama-sama sibuk dengan pekerjaan mereka. Kevin dengan handphone miliknya. Sedangkan Tania juga segera mengeluarkan buku khusus desainnya.
Tania hanyut dalam dunianya. Menggerakkan jarinya di atas kertas dengan sesekali mengambil minumannya atau makanan ringan yang ia pesan. Ia sangat serius sampai tidak menyadari bahwa teman di depannya memperhatikan dirinya.
“Apa yang kau lakukan?” pertanyaan Kevin membuat Tania mendongakkan kepalanya.
“Hah? Apa?” ia masih linglung.
“Ck. Apa yang kau lakukan?” tanya Kevin jengah. Ia tidak pernah begitu tidak diperhatikan sebelum ini. Biasanya ia akan selalu menjadi pusat perhatian. Namun di depan gadis di depannya ini, ia seperti tidak berharga sedikitpun.
“Oh, aku sedang mendesain gaun pernikahanku sendiri.”
“Bukankah kamu bisa menggunakan yang dipesan Rebecca?”
“Tidak-tidak. Karakter kami tidak sama. Tentu saja seleranya juga. Bagaimanapun pernikahan ini berlangsung, aku ingin tampil seperti yang aku inginkan.”
“Waktunya sudah mepet. Apa itu akan sempat?”
“Tenang saja. Jika aku sudah berkehendak, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan.” jawab Tania kembali larut dalam buku dan pensilnya.
“Ternyata kau itu cukup arogan.”
“Itulah aku. Oh ya, setelan untukmu tentu saja juga akan berubah. Jadi jika nanti sudah siap aku akan memberitahumu untuk segera mencobanya.” Tania menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari buku desain di depannya.
“Aku tidak peduli dengan detail seperti itu. Bagiku yang penting adalah status.”
“Oke-oke. Aku jadi penasaran, kamu begitu terburu-buru untuk menikah hanya untuk suatu status. Untuk apa?”
“Ck. Sepertinya kamu telah menyeretku dalam masalah yang sulit.”
“Tenang saja. Aku akan membayarmu dengan pantas.”
“Siapa yang minta bayaran?”
“Setelah kau menjadi istriku, sudah menjadi tanggung jawabku untuk memberimu nafkah. Jika tidak kakekku akan curiga.”
“Baiklah. Kalau sudah memiliki niat, jangan setengah-setengah. Setiap bulan aku akan menerima uang bulanan dari papaku sebanyak lima puluh juta. Jadi aku harap kau tahu diri.”
“Ternyata selain manja dan arogan, kau ini mata duitan.”
“Tidak ada yang salah dengan itu. Kau pikir semua tas yang aku incar akan muncul tanpa aku beli dengan uang? Anggap saja kompensasi. Kau akan membuatku terkekang, jadi harus ada imbal balik untuk semuanya.”
Sementara kedua calon pasangan itu sedang berdebat, seorang laki-laki tua di balik jendela ruang kerjanya tersenyum dengan seringaian licik sambil mendengarkan laporan dari bawahannya.
“Intai terus mereka. Laporkan apa saja yang mereka rencanakan.” Ucapnya dingin pada bawahannya.
“Huh! Anak muda, kau salah mencari lawan untuk kau bodohi.” Gumam laki-laki itu yang tak lain adalah Senopati, kakek Kevin.
Kakek Senopati kemudian berjalan ke arah meja kerjanya. Meraih setumpuk map yang baru saja diserahkan oleh anak buahnya. Dibukanya map itu lembar demi lembar.
__ADS_1
Meskipun pada dasarnya ia tidak peduli dengan siapa cucunya akan menikah, tetapi ia tetap harus memastikan jika cucunya akan menikah dengan gadis yang tepat. Begitu juga saat Kevin memeneitahunya jika ia akan menikah dengan Rebbeca, pria tua itu juga menyelidiki gadis itu namun ia segera kecewa dengan hasilnya. Namun karena cucunya telah memilihnya, ia hanya bisa menyerah dan setuju.
Dan sekarang ia terlihat sangat puas dengan calon istri pilihan anaknya. Tania Wiratmaja. Gadis manja yang masih polos. Dia cerdas dan baik hati. Dan yang paling membuatnya puas adalah ia juga memiliki sifat arogan yang hakiki yang hampir sama dengan cucunya. Mereka akan menjadi pasangan yang menarik untuk diperhatikan. Yah, dengan mengabaikan kenyataan pernikahan kontrak seperti yang baru saja bawahannya itu laporkan.
Namun jika melihat sifat keduanya, membuat mereka saling jatuh cinta tidak akan sulit. Dengan memanfaatkan sifat alami mereka, mereka akan dengan segera terbakar api cinta yang membara. Ah! Memikirkan tentang cinta, ia jadi mengingat masa mudanya dengan istrinya, Ambar. Yang juga memiliki kriteria hampir sama dengan Tania.
“Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?” inilah yang namanya jodoh, baru dipikirkan ia sudah muncul di hadapan.
Kakek Seno mendekati nenek Ambar yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja suaminya dengan nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring brownis coklat buatannya kesukaan suaminya.
“Kevin rupanya ingin bermain-main dengan kita.”
Sambil mengajak istrinya duduk di kursi di dekat jendela, kakek Seno menceritakan rencana Kevin pada istrinya.
“Benar-benar keturunanmu. Bukankah dulu kau juga melakukan hal yang sama padaku hah?”
“Itu adalah kesepakatan yang paling aku sukuri selam hidupku. Dengan awal yang tidak begitu baik, nyatanya membuatku sangat mencintaimu dan ingin menua bersamamu.”
Mendengar pasangan tuanya, nenek Ambar tidak bisa tidak bersemu. Ia juga selalu bersyukur atas semua itu. Kisah mereka yang manis yang menyatukan keduanya.
*
*
*
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_8🍁
Terima kasih sudah mampir 😍
Like, VOTE, rate dan komentar nya akoh tunggu...🤗
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Duabelas🍃...
...🌸Pada malam ke dua belas, ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah yang bersinar seperti bulan di malam purnama 🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...