
"Kaisar adalah putra terbaik mami. Kaisar akan tumbuh menjadi pria kuat saat dewasa nanti. Bahkan akan lebih kuat dari paman ini."
"Benar! Mami benar. Kaisar akan tumbuh sangat kuat dan melindungi mami dan Kaylee nanti. Mami tenang saja. Di masa depan tidak akan ada yang berani menindas mami selagi ada aku." Ucap Kaisar penuh semangat.
"Oke. Mami akan menunggu saat itu tiba nanti. Lalu meminta Kaisar untuk memberi pelajaran orang yang menindas mami. Kaisar harus berjanji ya?" Tania menatap punggung Kevin dengan licik.
"Ya mami. Kaisar berjanji akan menjadi kuat dan memberi pelajaran pada orang jahat itu."
"Ya ya. Tapi sekarang Kaisar masih kecil. Anak kecil butuh tidur yang cukup agar cepat tumbuh besar dan kuat. Jadi nanti setelah sampai di apartemen, Kaisar harus segera tidur ya..." Kevin tersenyum miring. Melirik Tania yang semakin kesal. Laki-laki itu sedang membalasnya.
Tania diam karena tidak bisa membalas perkataan Kevin karena yang dia katakan memang benar. Anak kecil dalam masa pertumbuhan harus memiliki cukup istirahat agar tidak mengganggu proses pertumbuhannya.
Tidak butuh waktu lama, ketiga orang itu telah sampai di lantai empat dimana apartemen mereka berada. Tania membuka pintu apartemennya dan membiarkan Kevin membawa kedua anak mereka masuk ke dalam. Apartemen itu awalnya memiliki dua kamar, tetapi karena satu kamar digunakan untuk ruang kerja Tania, hanya ada satu kamar yang tersedia. Yaitu kamar Tania.
Pertama-tama Kevin menurunkan Kaisar yang masih terjaga. Kaisar tidak langsung berbaring tetapi melihat sekeliling kamar. Sedangkan setelah menurunkan Kaisar, Kevin membaringkan Kaylee dengan nyaman.
"Mami, bukankah ini kamar mami? Kalau kami tidur di sini, mami tidur dimana?" Tanya Kaisar cemas.
"Kamu tenang saja. Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Ada satu kamar lagi di sini. Mami akan tidur di sana nanti." Jawab Tania sambil tersenyum. Lalu menata bantal dan membaringkan Kaisar di sana. Kevin mengerutkan alisnya. Memang ada dua kamar di apartemen itu, tapi ia tahu betul jika yang satunya lagi sudah diubah menjadi ruang kerja oleh Tania. Jadi kamar yang dimaksud Tania tadi bukannya he he....
Tania keluar kamar dan melihat apakah Kevin sudah kembali. Ia berharap jika Kevin sudah kembali karena untuk hari ini, ia tidak akan siap untuk bertemu dengan Kevin. Laki-laki itu tidak mungkin melepaskan masalah ini begitu saja. Namun begitu ia keluar dari kamar, ia mencium aroma harum masakan dari dapurnya. Tania tidak bisa tidak pergi ke dapur dan melihat.
Tania melihat jika Di atas meja terdapat beberapa makanan mewah. Porsi setiap makanan cukup besar untuk dimakan oleh dua orang saja. Lalu juga masih ada hampir sepuluh jenis masakan yang semuanya terlihat enak dan menggugah selera. Kevin memang sengaja memesan banyak makanan agar besok pagi, mereka tidak akan kelaparan jika mereka bangun kesiangan...
"Ini..."
"Aku meminta Danil membawanya dari restoran. Kemari dan duduk. Kamu pasti lapar kan? Makanlah dulu." Ucap Kevin seraya menarik kursi untuk Tania duduk.
"Hah...Baiklah kalau begitu. Terima kasih." Tania tidak segan duduk. Ia memang lapar saat ini. Kevin juga duduk di kursi di samping Tania. Lalu duduk dan makan bersama dengan tenang.
Baik Kevin maupun Tania, keduanya menikmati makanan di depan mereka. Tidak ada yang berbicara selain mengenai makanan di atas meja. Namun, hanya mereka yang tahu jika sebenarnya yang ada di dalam hati mereka lebih banyak dari itu. Kevin yang memiliki banyak pertanyaan di dalam benaknya mulai memilih pertanyaan apa yang akan dia tanyakan pada Tania nanti. Sedangkan Tania, dia sedang mempersiapkan diri untuk memberikan penjelasan yang mungkin akan ditanyakan Kevin nantinya.
Kevin mengelap bibirnya dengan tisu. Ia sudah selesai makan dan kenyang sekarang. Perut kenyang, ia akan memiliki tenaga cadangan untuk berurusan dengan Tania nanti. Kevin tidak pergi atau bahkan bergeser dari tempatnya. Ia duduk dengan tenang menunggu Tania selesai makan.
Tak lama kemudian, makanan di atas piring Tania juga sudah kosong. Ia mengambil tisu dsn mengelap bibirnya. Lalu saat ia berdiri untuk merapikan meja makan dan membawa sisa makanan dan piring kotor mereka ke dapur, Kevin menghalanginya.
"Biarkan dulu. Nanti aku yang akan membersihkannya." Ucap Kevin sambil menahan tangan Tania.
"Jangan menunda pekerjaan. Lebih baik kerjakan dulu apa yang di depan mata." Tania menarik tangannya. Lalu menumpuk piring kotor dan membawanya ke dapur. Kevin tidak ada pilihan lain selain menurut dan ikut membantu Tania merapikan meja makan mereka.
Lagi-lagi kedua orang itu diam dan hanya mengerjakan apa yang mereka kerjakan. Tetapi kali ini, Kevin sedikit terburu-buru karena dia ingin semuanya cepat selesai dan mereka dapat membahas masalah lain.
__ADS_1
Tania baru saja memasukkan makanan terakhir ke dalam lemari es saat Kevin tiba-tiba mengangkatnya dan mendudukkannya di atas meja dapur yang baru saja dia bersihkan.
"Ah!" Pekik Tania terkejut.
"Kev apa yang kamu lakukan?" Tanya Tania kesal.
"Sengaja. Agar kamu tidak bisa lari lagi." Jawab Kevin santai. Ia tahu betul jika dari tadi Tania berusaha untuk menjauhinya. Kali ini, wanita itu tidak akan bisa kabur.
"Lari? Memangnya aku bisa lari kemana?" Tania tidak berani menatap Kevin langsung dan langsung memalingkan wajahnya pada saat ia menjawab.
"Baiklah. Kalau kamu memang tidak lari, sekarang tolong katakan padaku bagaimana kehidupan kalian selama ini di luar sana? Kalian berada di negara yang jauh tanpa ada keluarga di sana. Bagaimana kamu merawat dan membesarkan kedua anak kita sendirian?" Kevin bertanya dengan wajah sendu. Semakin dipikirkan, semakin dia merasa gagal sebagai seorang laki-laki. Ia tidak pantas disebut sebagai ayah maupun suami dari seseorang.
"Uh...ini.... Ini.... Kami hidup dengan baik." Jawab Tania masih tidak berani menatap Kevin.
"Jangan berbohong padaku Tania. Katakan dengan jujur."
Tania diam karena tidak bisa membalas perkataan Kevin karena yang dia katakan memang benar. Anak kecil dalam masa pertumbuhan harus memiliki cukup istirahat agar tidak mengganggu proses pertumbuhannya.
Tidak butuh waktu lama, ketiga orang itu telah sampai di lantai empat dimana apartemen mereka berada. Tania membuka pintu apartemennya dan membiarkan Kevin membawa kedua anak mereka masuk ke dalam. Apartemen itu awalnya memiliki dua kamar, tetapi karena satu kamar digunakan untuk ruang kerja Tania, hanya ada satu kamar yang tersedia. Yaitu kamar Tania.
Pertama-tama Kevin menurunkan Kaisar yang masih terjaga. Kaisar tidak langsung berbaring tetapi melihat sekeliling kamar. Sedangkan setelah menurunkan Kaisar, Kevin membaringkan Kaylee dengan nyaman.
"Mami, bukankah ini kamar mami? Kalau kami tidur di sini, mami tidur dimana?" Tanya Kaisar cemas.
"Kamu tenang saja. Tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Ada satu kamar lagi di sini. Mami akan tidur di sana nanti." Jawab Tania sambil tersenyum. Lalu menata bantal dan membaringkan Kaisar di sana. Kevin mengerutkan alisnya. Memang ada dua kamar di apartemen itu, tapi ia tahu betul jika yang satunya lagi sudah diubah menjadi ruang kerja oleh Tania. Jadi kamar yang dimaksud Tania tadi bukannya he he....
Tania keluar kamar dan melihat apakah Kevin sudah kembali. Ia berharap jika Kevin sudah kembali karena untuk hari ini, ia tidak akan siap untuk bertemu dengan Kevin. Laki-laki itu tidak mungkin melepaskan masalah ini begitu saja. Namun begitu ia keluar dari kamar, ia mencium aroma harum masakan dari dapurnya. Tania tidak bisa tidak pergi ke dapur dan melihat.
Tania melihat jika Di atas meja terdapat beberapa makanan mewah. Porsi setiap makanan cukup besar untuk dimakan oleh dua orang saja. Lalu juga masih ada hampir sepuluh jenis masakan yang semuanya terlihat enak dan menggugah selera. Kevin memang sengaja memesan banyak makanan agar besok pagi, mereka tidak akan kelaparan jika mereka bangun kesiangan...
"Ini..."
"Aku meminta Danil membawanya dari restoran. Kemari dan duduk. Kamu pasti lapar kan? Makanlah dulu." Ucap Kevin seraya menarik kursi untuk Tania duduk.
"Hah...Baiklah kalau begitu. Terima kasih." Tania tidak segan duduk. Ia memang lapar saat ini. Kevin juga duduk di kursi di samping Tania. Lalu duduk dan makan bersama dengan tenang.
Baik Kevin maupun Tania, keduanya menikmati makanan di depan mereka. Tidak ada yang berbicara selain mengenai makanan di atas meja. Namun, hanya mereka yang tahu jika sebenarnya yang ada di dalam hati mereka lebih banyak dari itu. Kevin yang memiliki banyak pertanyaan di dalam benaknya mulai memilih pertanyaan apa yang akan dia tanyakan pada Tania nanti. Sedangkan Tania, dia sedang mempersiapkan diri untuk memberikan penjelasan yang mungkin akan ditanyakan Kevin nantinya.
Kevin mengelap bibirnya dengan tisu. Ia sudah selesai makan dan kenyang sekarang. Perut kenyang, ia akan memiliki tenaga cadangan untuk berurusan dengan Tania nanti. Kevin tidak pergi atau bahkan bergeser dari tempatnya. Ia duduk dengan tenang menunggu Tania selesai makan.
Tak lama kemudian, makanan di atas piring Tania juga sudah kosong. Ia mengambil tisu dsn mengelap bibirnya. Lalu saat ia berdiri untuk merapikan meja makan dan membawa sisa makanan dan piring kotor mereka ke dapur, Kevin menghalanginya.
__ADS_1
"Biarkan dulu. Nanti aku yang akan membersihkannya." Ucap Kevin sambil menahan tangan Tania.
"Jangan menunda pekerjaan. Lebih baik kerjakan dulu apa yang di depan mata." Tania menarik tangannya. Lalu menumpuk piring kotor dan membawanya ke dapur. Kevin tidak ada pilihan lain selain menurut dan ikut membantu Tania merapikan meja makan mereka.
Lagi-lagi kedua orang itu diam dan hanya mengerjakan apa yang mereka kerjakan. Tetapi kali ini, Kevin sedikit terburu-buru karena dia ingin semuanya cepat selesai dan mereka dapat membahas masalah lain.
Tania baru saja memasukkan makanan terakhir ke dalam lemari es saat Kevin tiba-tiba mengangkatnya dan mendudukkannya di atas meja dapur yang baru saja dia bersihkan.
"Ah!" Pekik Tania terkejut.
"Kev apa yang kamu lakukan?" Tanya Tania kesal.
"Sengaja. Agar kamu tidak bisa lari lagi." Jawab Kevin santai. Ia tahu betul jika dari tadi Tania berusaha untuk menjauhinya. Kali ini, wanita itu tidak akan bisa kabur.
"Lari? Memangnya aku bisa lari kemana?" Tania tidak berani menatap Kevin langsung dan langsung memalingkan wajahnya pada saat ia menjawab.
"Baiklah. Kalau kamu memang tidak lari, sekarang tolong katakan padaku bagaimana kehidupan kalian selama ini di luar sana? Kalian berada di negara yang jauh tanpa ada keluarga di sana. Bagaimana kamu merawat dan membesarkan kedua anak kita sendirian?" Kevin bertanya dengan wajah sendu. Semakin dipikirkan, semakin dia merasa gagal sebagai seorang laki-laki. Ia tidak pantas disebut sebagai ayah maupun suami dari seseorang.
"Uh...ini.... Ini.... Kami hidup dengan baik." Jawab Tania masih tidak berani menatap Kevin.
"Jangan berbohong padaku Tania. Katakan dengan jujur."
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_131🍁...
...kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...