
Pesawat itu adalah pesawat pribadi milik Kevin. Jadi dilihat sekilas sudah tampak banyak perbedaan dengan pesawat komersial lainnya. Semua penataan terlihat begitu rapi dan terlihat elegan. Desain dasar dari penataan pesawat sepertinya mempertimbangkan kenyamanan penumpang dilihat dari segi manapun.
"Tuan ada di dalam ruang pribadi." Melihat Tania yang berdiri diam di tengah ruangan, Hannah yang mengikuti Tania memberi petunjuk lainnya. Menunjuk sebuah ruangan yang ada di bagian yang lebih dalam dari pesawat itu.
"Aku tunggu di sini. Katakan padanya untuk keluar jika dia ingin bicara. Jika tidak, aku akan pergi." Tania melirik kursi di sisi pesawat dan duduk dengan nyaman. Melipat tangannya di depan dada. Perkataannya jelas tidak terbantah. Hannah diam beberapa saat dan melirik Jasson yang berdiri di belakangnya.
"Baik Miss. Anda tunggu sebentar di sini, saya akan menyampaikan pesan anda pada Tuan." Hannah berbicara setelah ia memberi isyarat pada Jasson untuk tetap tinggal dan menjaga Tania.
Tania melihat ini dan mendengus. Ia sudah seperti seorang tahanan yang akan kabur kapan saja ada kesempatan. Ini pasti perintah dari Kevin. Laki-laki sombong itu!
Tak lama kemudian Hannah kembali dengan Kevin yang berjalan di depannya. Kevin duduk di depan Tania yang memiliki wajah masam. Hannah dan Jasson berdiri agak jauh dari mereka.
"Katakan!" Ucap Tania tegas saat ia menatap Kevin dengan kesal.
"Aku terburu-buru datang kemarin dan tidak makan apapun sejak kemarin siang. Setidaknya biarkan aku sarapan dengan baik terlebih dahulu." Kevin berbicara dengan lemas. Tania merasa jika laki-laki di depannya ini semakin pandai memainkan wajahnya. Dulu seingatnya dia tidak seperti itu. Kapan dia berubah? Apakah tanpa sepengetahuan nya ia pergi ke sekolah akting untuk berlatih akting di sana?
Namun meskipun Tania mengetahui jika Kevin hanya berusaha meluluhkan hatinya dengan wajahnya yang tampak lemah itu, ia masih tidak memiliki bukti untuk membuktikan sehingga ia hanya bisa menurut dengan enggan.
Melihat tidak ada perlawanan dari Tania, Kevin tersenyum dan memberi isyarat pada Hannah untuk memerintahkan pelayan menyajikan makanan.
Dalam sekejap, meja yang ada di antara Tania dan Kevin dipenuhi dengan makanan. Yang hampir semuanya adalah kesukaan Tania. Saat ini sudah menjelang siang, jadi meskipun Tania telah sarapan pagi ini, itu hanyalah roti selai seperti yang dimakan kedua anaknya, perutnya masih tidak bisa berbohong. Apalagi dengan aroma harum yang menyerang hidungnya yang langsung mengirimkan sinyal ke dalam otak yang mengatakan bahwa semua makanan di atas meja di depannya memiliki rasa yang lezat.
Para pelayan menyajikan makanan dengan sangat rapi. Mereka bersiap melayani Tania dan Kevin. Namun Tania menolaknya. Lagipula akan terlalu memalukan jika dia makan bersama Kevin di sini. Harga dirinya yang tinggi tidak akan mengizinkan hal itu terjadi meskipun ia sebenarnya juga sudah lapar.
"Sekarang sudah waktunya makan siang. Aku yakin kamu juga pasti sudah lapar. Lagipula aku yang mengajakmu kemari. Jika aku membiarkanmu kelaparan, bukankah aku seperti orang yang tidak bertanggung jawab?" Kevin berbicara serius.
"Huh baiklah kalau begitu. Aku akan menganggap ini sebuah hutang. Lain kali aku akan mengundangmu makan sebagaimana gantinya." Tania akhirnya menyerah. Daripada nyanyian perutnya nanti akan terdengar dan akan membuat nya sangat malu, lebih baik dia merendahkan diri untuk menghindari bencana besar.
"Oke. Aku akan sangat menantikannya." Kevin tersenyum senang. Dia langsung setuju pada kesempatan pertama. Ia tidak mungkin melewatkan kesempatan baik seperti itu. Jika ia melewatkan yang satu ini, ia tidak yakin apakah ada kesempatan seperti ini lagi lain kali.
Tania yang melihat wajah Kevin yang tampak puas mendengus. Apa dia mengambil keputusan yang salah? Ia hanya tidak ingin berhutang pada laki-laki ini apapun itu.
__ADS_1
Kedua orang makan dengan damai. Baik Tania maupun Kevin dibesarkan di lingkungan keluarga terpandang sejak masih kecil, secara otomatis mereka mendapatkan pendidikan etika sejak mereka masih kecil. Jadi saat keduanya makan, keduanya tampak elegan dan mempesona dilihat dari manapun. Apalagi aura keduanya yang tampak seperti seorang raja dan ratu membuat semua orang tidak bisa tidak terpana pada setiap tindak laku mereka.
"Sekarang kamu sudah kenyang. Katakan sekarang. Kalau tidak, aku akan keluar dari pesawat untuk menemukan pesawat lain yang akan membawaku ke Indonesia." Ucap Tania tegas setelah ia selesai mengisi perutnya yang hampir kosong.
Kevin juga sudah selesai makan. Dan para pelayan membawa semua makanan pergi. Menyisakan meja yang bersih dan kosong. Seperti memang tidak ada apa-apa sejak awal.
"Maksudmu kamu mau melompat dari sini?" Kevin mengernyitkan alisnya saat ia mendengar perkataan Tania.
Tania tidak sadar jika pesawat telah terbang sejak lama dan saat ini telah berada ribuan kilo meter dari atas permukaan bumi. Pesawat pribadi milik Kevin memang dirancang sangat nyaman dan hampir Tidak akan merasa guncangan sedikit pun. Maklum jika Tania tidak menyadarinya. Apalagi sejak awal Tania masuk ke dalam pesawat suasana hatinya sedang tidak baik.
Tania juga menyadari ada yang salah dengan jawaban Kevin dan segera ia melirik jendela yang tidak jauh darinya dan menyadari bahwa mereka sedang berada di atas awan.
"Koper dan semua barangku ada di pesawat tadi. Kamu harus bertanggung jawab untuk mengurusnya untukku." Tania mengalihkan pembicaraan.
"Kamu tenang saja. Akan ada orang yang mengatur di sana."
"Bagus. Aku ingin melihatnya baik saat kita mendarat nanti."
"Kenapa?"
"Kamu akan tahu saat kita mendarat nanti."
***
Khanza mondar-mandir di depan meja kerjanya. Membuat Danil hampir gila karena semua pertanyaan yang diajukan oleh wanita itu padanya. Apalagi semua pertanyaannya intinya sama yaitu dimana Kevin berada.
Khanza mengeluh bahwa ia telah mencoba menghubungi Kevin berkali-kali namun nomornya masih tidak aktif bahkan setelah seharian hampir berlalu. Dia adalah asisten laki-laki itu, jadi tidak mungkin dia tidak tahu jika Kevin pergi bertemu klien di luar. Apalagi yang membuat semakin janggal adalah bahwa Danil yang selalu berada di sisi Kevin hari ini justru duduk diam di kantor dan bahkan tugas menemui klien yang seharusnya dilakukan oleh Kevin sendiri malah dikerjakan oleh Danil.
Sebagai orang kepercayaan Kevin, pasti Danil yang paling mengetahui kemana dan dimana Kevin berada saat ini. Namun Danil masih saja tidak mau memberinya jawaban yang jelas setiap kali ia bertanya. Bahkan saat ia mencoba membingungkan sekretaris serba bisa itu untuk membingungkan Danil, laki-laki itu masih saja diam tanpa mau menjawab.
"Danil, aku tahu kamu pasti tahu kemana Kevin pergi kan?"
__ADS_1
"Mohon maaf nona, saya hanya menjalankan tugas. Tolong jangan mempersulit saya." Danil menjawb dengan jawaban yang sama entah ke yang ke berapa kali.
"Danil kamu tahu aku adalah wanita yang memiliki kemungkinan paling besar untuk menjadi nyonya Abraham. Jadi aku yakin kamu pasti sudah tahu kemana kamu akan memihak. Aku hanya ingin tahu dimana Kevin saat ini. Sebagai wanitanya, aku sangat mengkhawatirkan dirinya." Uvao Khanza dengan kalimat terakhir yang terdengar rendah.
"Sekali lagi saya minta maaf nona. Ini adalah perintah dari tuan secara langsung." Danil masih menjawab dengan kesal. Ia hampir saja kehilangan kesabarannya menghadap wanita cantik di depannya yang terus berjalan ini.
"Huh! Tidak apa! Jika kamu tidak mengatakannya, aku akan mencari tahu sendiri." ucap Khanza marah saat ia menghentakkan kakinya dengan kesal saat ia mengambil tas tangannya dan pergi dari sana.
Danil menatap punggungnya yang terlihat tidak suka sampai dia melihat Khanza menghilang di dalam pintu lift yang tertutup.
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_78🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1