
Mendengar jika liburan musim panas pamannya akan datang dan menghabiskan waktu dengan mereka, Kaylee bukannya senang. Dia dan Kaisar telah memikirkan rencana untuk diam-diam menyusul mami mereka. Jika paman mereka datang, bagaimana mereka bisa pergi? Jadi dia secara tidak sadar menoleh dan menatap Kaisar yang ada di sampingnya untuk meminta pendapat. Ia memang senang menghabiskan waktu bersama dengan pamannya ini, namun dia masih lebih ingin pergi ke Indonesia untuk menemui maminya. Jika mereka beruntung, mereka juga memiliki kesempatan untuk mencari Daddy mereka di sana.
Dibandingkan dengan Kaylee, Kaisar lebih mengetahui apa niat pamannya. Apalagi dia melihat jika pamannya melakukan kontak mata dengan mami mereka sebelum dia menjawabnya. Tujuan mereka berdua pasti sama. Mereka berdua sama-sama menghalangi mereka pergi ke Indonesia.
"Itu bagus paman. Kalau begitu paman harus janji untuk mengunjungi kami ya?" Daripada menyuruh Kaylee berbicara, Kaisar memilih menjawab sendiri.
"Benar paman janji."
"Oke paman. Kalau sudah saatnya nanti, paman harus datang dan menjemput kami, oke?" Kaisar bertanya dengan serius.
Arsya merasa jika ada yang tidak beres. Tapi ia tidak tahu apa itu. Jadi dia mengangguk dan setuju dengan mudah.
"Aku rasa kamu benar untuk tidak membiarkan mereka datang. Anak-anak mu ini sangat cerdas. Terutama Kaisar. Dengan kecerdasan mereka, aku khawatir tanpa sepengetahuan kita, mereka pasti akan mencari ayah mereka. Bagaimana kalau mereka bertemu dengan Kevin?" Arsya berbicara serius setelah mereka memutuskan telepon dengan si kembar.
"Itulah maksudku kak. Meskipun aku tidak pernah memberitahu mereka dimana ayah kandung mereka, entah kenapa aku merasa jika mereka tahu jika ayah mereka berasal dari Indonesia. Aku benar-benar khawatir." Tania menjawab tanpa daya.
"Tapi kamu bisa tenang sekarang karena liburan ini mereka akan sibuk denganku. Aku tidak akan membiarkan mereka memiliki celah untuk pergi ke Indonesia." Ucap Arsya yakin. Ia tidak akan menyangka jika bahwa dia sendirilah yang akan membawa kedua anak itu bertemu dengan Kevin pada akhirnya nanti. Tapi itu masih membutuhkan waktu. Setidaknya tunggu sampai liburan musim panas dua Minggu lagi....
***
Kevin sampai di mansion Abraham saat malam sudah larut. Hampir semua orang sudah tidur termasuk kakek Seno dan nenek Ambar. Yang masih terjaga hanya para penjaga dan juga pelayan tua yang telah menjadi pelayan di sana puluhan tahun lalu. Laki-laki tua itu segera keluar dan menyambut Kevin saat ia mengetahui jika cucu satu-satunya majikannya datang setelah mendapatkan kabar dari Danil yang langsung menghubungi nya setelah ia memastikan jika Kevin akan pergi ke sana. Sedangkan Danil sudah pulang setelah ia mengantar Kevin ke mansion.
"Selamat datang di rumah tuan muda." Pak Rudi membungkuk dan menyapa dengan sopan.
"Sudah larut malam. Kenapa paman belum tidur?" Kevin menyerahkan jasnya pada Rudi.
"Oranga tua seperti saya sudah merasa sulit tidur di malam hari. Jadi tidak apa-apa." Jawab Pak Rudi sambil berjalan di belakang Kevin.
"Tapi bukannya semua orang tua seperti itu. Aku yakin jika kakek tua itu pasti sudah tidur sejak sore seperti bayi." Sinis Kevin. Semua orang yang mendengarnya pasti langsung dapat menebak siapa kakek tua yang dibicarakan oleh Kevin.
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud sudah tua dan tidur seperti bayi?" Suara laki-laki yang dalam dan berkharisma terdengar dari ujung tangga. Kevin dan Pak Rudi langsung berhenti di tempat mereka.
"Hem. Aku juga tidak mengatakan siapa itu. Kalau ada yang merasa, aku juga tidak tahu kalau selain tidur seperti bayi, orang tua itu juga sensitif." Kevin menggedikkan bahunya.
Kakek Seno mengepalkan tangannya. Jika ia tidak mengingat jika cucu baunya ini adalah satu-satunya cucu yang dimilikinya dan kelangsungan keluarga Abraham bergantung padanya, dia sudah lama menendangnya keluar dari rumah ini.
"Ikut denganku ke ruang kerja. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Kakek Seno berbicara sambil membalikkan badannya. Ia tidak menunggu kesediaan Kevin dan segera berjalan menuju ruang kerjanya di lantai dua. Kevin juga tidak menjawab sebelum dia berjalan naik ke atas tangga dan mengikuti kakek Seno masuk ke dalam ruang kerja.
Seperti ruang kerja pada umumnya, seluruhnya tampak monoton dan membosankan. Jika ruang kerja. Kevin lebih didominasi oleh warna hitam dan abu-abu, ruang kerja kakek Seno memiliki lebih banyak warna cokelat. Hampir seluruh furniture di dalamnya terbuat dari kayu mulai dari meja, kursi dan juga rak. Jadi ruang kerja kakek Seno tampak lebih kaku dan kuno.
Kursi kerja kakek Seno juga terbuat dari kayu dengan ukiran yang tajam dan jelas. Saat kakek Seno duduk di atasnya, aura yang kuat segera keluar. Meskipun kakek Seno sudah tua namun dengan latar belakang ukuran kayu yang mendominasi, membuat kakek Seno terlihat bermartabat dan hebat.
"Kemana saja kamu pergi?" Tanya kakek Seno begitu Kevin duduk.
"Bekerja. Apa lagi?" Jawab Kevin enteng. Dia menyandarkan punggungnya.
"Huh! Kamu kira aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakang punggung ku karena aku sudah tua. Ingat Kevin, dibandingkan denganmu, aku sudah lebih dulu makan banyak asam garam kehidupan." Kakek Seno menggeram marah. Ia diberi tahu oleh nenek Ambar mengenai Tania tiga hari yang lalu. Jadi dia akan memperingatkan cucunya ini untuk tidak lagi bermain-main sesuka hatinya seperti lima tahun yang lalu dan menyakiti hari seorang wanita. Jika kali ini Kevin memang dapat menjamin untuk tidak mempermainkan Tania, dia tidak hanya akan mendukung namun juga bersedia untuk membantunya. Namun jika cucunya ini tidak dapat menentukan sikap, dia akan menghajarnya untuk berhenti berbuat ulah.
"Jika kakek memang tahu, lalu kenapa masih bertanya." Jawab Kevin santai. Ia mengerucutkan bibirnya. "Sudah malam. Paman Rudi bilang jika orang tua seperti nya jadi sulit tidur. Tapi orang muda seperti ku masih membutuhkannya karena besok masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Jadi kakek, kalau tidak ada apa-apa lagi, aku pamit dulu. Untuk memanjangkan umur, aku sarankan kakek juga tidak bergadang." Kevin berdiri dan tanpa menunggu kakek Seno menjawab, Kevin berjalan dan keluar dari ruangan yang membosankan itu.
"Anak ini benar-benar membuatku marah. Dia memang ingin aku segera mati." Kakek Seno mengepalkan tangannya kesal.
"Seno, kamu juga sudah tahu bagaimana anak ini. Jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati. Meskipun dia berkata seperti itu tapi dia masih menyayangi kita, kakek neneknya. Jika tidak, mana mungkin dia akan memilih kembali daripada mengantar Tania pulang." Nenek Ambar yang tiba-tiba keluar dari ruang rahasia ruangan kerja itu berkata sambil menepuk punggung tangan Kakek Seno untuk menenangkan amarah suaminya.
"Huh. Aku sudah semakin tua. Jika anak itu bisa bergerak lebih cepat, aku juga akan dapat tenang. Kamu tahu sendiri para tikus-tikus itu seperti apa. Selama Kevin masih sendiri, mereka masih akan terus menggunakan alasan ini untuk menyerangnya."
"Kamu tenang saja. Meskipun aku sendiri sangat kurang puas dengan Kevin, namun selama ada dorongan, dia akan bergerak dengan cepat. Kamu lihat ini." Nenek Ambar menunjukkan ponsel miliknya.
Di dalam layar, terlihat sepasang anak kembar yang memakai seragam sebuah taman kanak-kanak. Keduanya tampak lucu dilihat dari manapun. Dengan Tania yang memegang tangan mereka berdua. Satu cantik dan satu tampan. Nenek Ambar baru saja mendapat kan kiriman foto itu dari anak buahnya yang ia minta untuk mengawasi Tania beberapa hari setelah Tania tiba di Indonesia untuk pertama kalinya. Jadi saat Tania pulang ke Italia, ia juga sudah mengikuti Tania sejak awal. Namun karena ia disibukkan dengan mengikuti Tania dan Kevin, ia jadi lupa untuk mengirimkan foto yang dia dapatkan pada nenek Ambar dan baru ia kirimkan malam ini.
__ADS_1
Melihat potret kedua anak kecil yang menggemaskan itu, nenek Ambar tentu saja sangat bahagia. Pasalnya, gadis kecil itu cukup mirip dengan Tania, namun memiliki bibir yang seksi seperti milik Kevin. Hidungnya juga mancung, tidak seperti hidung Tania yang mancung namun kecil. Lalu pria kecil itu bahkan hampir sembilan puluh sembilan persen adalah foto kopi Kevin saat ia masih kecil. Apalagi alis dan hidungnya yang sama persis. Pria kecil itu adalah versi kecil Kevin.
Dengan hanya melihat penampilan mereka saja, tidak perlu ditanyakan lagi siapa orang tua dari anak kembar itu. Keduanya pasti adalah cicit mereka. Hah! Cucu baunya yang tidak kompeten itu bahkan tidak tahu jika ia memiliki dua orang anak yang menggemaskan. Jika cucunya itu lebih mampu sedikit, mana mungkin ia tidak memiliki kesempatan untuk menimang mereka lebih awal dan baru mengetahuinya sekarang?
Ini memang kesalahan Kevin. Cucu si-alnya itu!
Di dalam kamarnya, Kevin yang baru saja membaringkan tubuhnya segera bangun karena bersin-bersin berkali-kali. "Apakah aku kena flu?" Gumam Kevin sambil menggosok hidungnya.
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_86🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1