
Khanza mondar-mandir di depan meja kerjanya. Membuat Danil hampir gila karena semua pertanyaan yang diajukan oleh wanita itu padanya. Apalagi semua pertanyaannya intinya sama yaitu dimana Kevin berada.
Khanza mengeluh bahwa ia telah mencoba menghubungi Kevin berkali-kali namun nomornya masih tidak aktif bahkan setelah seharian hampir berlalu. Dia adalah asisten laki-laki itu, jadi tidak mungkin dia tidak tahu jika Kevin pergi bertemu klien di luar. Apalagi yang membuat semakin janggal adalah bahwa Danil yang selalu berada di sisi Kevin hari ini justru duduk diam di kantor dan bahkan tugas menemui klien yang seharusnya dilakukan oleh Kevin sendiri malah dikerjakan oleh Danil.
Sebagai orang kepercayaan Kevin, pasti Danil yang paling mengetahui kemana dan dimana Kevin berada saat ini. Namun Danil masih saja tidak mau memberinya jawaban yang jelas setiap kali ia bertanya. Bahkan saat ia mencoba membingungkan sekretaris serba bisa itu untuk membingungkan Danil, laki-laki itu masih saja diam tanpa mau menjawab.
"Danil, aku tahu kamu pasti tahu kemana Kevin pergi kan?"
"Mohon maaf nona, saya hanya menjalankan tugas. Tolong jangan mempersulit saya." Danil menjawb dengan jawaban yang sama entah ke yang ke berapa kali.
"Danil kamu tahu aku adalah wanita yang memiliki kemungkinan paling besar untuk menjadi nyonya Abraham. Jadi aku yakin kamu pasti sudah tahu kemana kamu akan memihak. Aku hanya ingin tahu dimana Kevin saat ini. Sebagai wanitanya, aku sangat mengkhawatirkan dirinya." Uvao Khanza dengan kalimat terakhir yang terdengar rendah.
"Sekali lagi saya minta maaf nona. Ini adalah perintah dari tuan secara langsung." Danil masih menjawab dengan kesal. Ia hampir saja kehilangan kesabarannya menghadap wanita cantik di depannya yang terus berjalan ini.
"Huh! Tidak apa! Jika kamu tidak mengatakannya, aku akan mencari tahu sendiri." ucap Khanza marah saat ia menghentakkan kakinya dengan kesal saat ia mengambil tas tangannya dan pergi dari sana.
Danil menatap punggungnya yang terlihat sombong dan angkuh dengan rasa tidak suka sampai dia melihat Khanza menghilang di dalam pintu lift yang tertutup.
"Masih terlalu diri untuk mengatakan siapa yang akan menjadi nyonya Abraham masa depan. Tapi aku yakin jika pasti bukanlah dia. Apalagi nyonya tua sudah menentukan siapa cucu menantu yang akan diakuinya. Tentu saja dimana aku memihak pasti sudah jelas." Gumam Danil. Lalu baru saja ia kembali fokus pada pekerjaannya, notifikasi di ponselnya berbunyi. Ia segera tersenyum lebar saat melihat layar ponselnya yang menunjukkan angka satu dengan delapan angka nol di belakangnya.
"Baru saja dibicarakan, he he he he."
Yang sebanyak seratus juta rupiah itu dikirim oleh nenek Ambar karena dia telah melakukan hal besar untuk kemajuan hubungan tuannya.
Klien yang harusnya ditemui Kevin ternyata pada hari itu juga tidak bisa datang karena ia ada sesuatu mendesak yang harus segera ia lakukan sehingga ia mengajukan untuk membuat jadwal ulang untuk pertemuan selanjutnya. Klien itu juga bersedia untuk datang kembali ke Indonesia untuk pembahasan kontrak kerjasama mereka. Namun Danil memikirkan ide yang cemerlang pada detik berikutnya. Klien yang sebelumnya menyatakan bahwa ia dapat kembali ke Indonesia, oleh Danil malah dijawab bahwa pertemuan selanjutnya akan dijadwalkan di Australia, tempat asal klien tersebut. Adapun tujuannya yaitu agar ia dapat mengirim Kevin pergi kesana.
__ADS_1
Lalu kepada Kevin, ia mengatakan bahwa klien mereka lah yang meminta untuk pertemuan di adakan di tempat mereka. Dan yang paling penting adalah bahwa pertemuan akan dilaksanakan keesokan harinya.
Dengan pengaturan seperti itu, ia yakin jika tuannya pasti sudah akan paham. Dia yakin jika Kevin akan menemukan cara untuk membuka kesempatan untuk dirinya sendiri.
Sementara Danil tersenyum puas dengan kerja hebat yang telah ia lakukan, di dalam pesawat pribadi yang terbang dari Italia ke Australia, Kevin sedang bekerja di dalam ruangan pribadi di dalam pesawat. Sedangkan Tania duduk luar sambil membaca majalah fashion.
Memang benar dengan perkiraan Danil, Kevin pasti menemukan cara untuk membuat Tania tinggal di sampingnya untuk beberapa waktu ke depan. Kepada wanita cantik itu, Kevin mengatakan bahwa ia harus menemaninya untuk bertemu dengan klien yang tertarik untuk bekerja sama dengan Kev Fashion pada produksi kali ini. Menggunakan alasan bahwa Tania adalah desaigner inti dari produk mereka, Kevin memaksa Tania untuk menuruti keinginannya.
Awalnya, Kevin datang memang marah setelah ia melihat Tania bersama dengan laki-laki lain dan ingin mendengar penjelasan dari Tania mengenai masalah tersebut. Namun setelah ia mendengarkan penjelasan Garel mengenai hubungan antara Tania dan Oliver, Kevin segera merubah tujuannya untuk datang. Daripada mengurus hubungan Tania dengan Oliver, lebih baik memikirkan cara untuk membuat wanita itu takluk padanya.
Tania yang dibiarkan duduk sendirian mulai mengantuk. Bagaimana pun, perjalanan mereka cukup jauh dan membosankan karena sendirian. Tania tidak menyadari kapan ia mulai merebahkan dirinya dan berakhir dengan tertidur di atas sofa yang sempit. Dengan majalah yang ia dekap di dadanya.
Kevin selesai dengan pekerjaannya dan keluar untuk melihat Tania yang sengaja ia tinggalkan. Sebenarnya Tania tidak sepenuhnya sendirian, Hannah ada di dekat sana dan berjaga jika sewaktu-waktu Tania memerlukan sesuatu.
"Miss Angela sudah tidur beberapa saat yang lalu." Jawab Hannah. Sesekali ia memang akan melihat keadaan Tania dari waktu ke waktu. Ia baru akan melaporkan pada tuannya jika Tania tidur di atas sofa saat ia melihat tuannya yang keluar dari ruang pribadinya.
"Oke aku mengerti." Kevin menganggukkan kepalanya sambil berjalan masuk ke dalam ruangan dimana Tania berada.
Kevin menatap wanita cantik yang tertidur pulas di atas sofa dengan masih memegangi majalah di tangannya. Kevin berjongkok di depan Tania. Memandangi wajah Tania yang tampak damai. Lalu perlahan-lahan mengelus pipinya yang halus.
"Aku telah bersalah padamu di masa lalu. Tapi mulai sekarang, aku akan menebusnya untukmu. Aku sekarang tidak seperti dulu yang masih tidak cukup mampu untuk melindungi mu. Saat ini aku yakin jika aku pasti bisa melakukannya saat ini." Ucap Kevin sebelum ia berdiri dan menggendong Tania untuk dibawanya masuk ke dalam ruang pribadinya. Lagipula sofa itu terlalu sempit. Dengan cara tidur Tania yang seperti itu, ia takut jika wanita itu akan terjatuh saat ia pertama kali bergerak.
Hannah membungkukkan tubuhnya saat Kevin melewatinya dengan Tania di dalam dekapannya. Wanita muda yang tampak angkuh itu hanya membungkukkan tubuhnya tanpa menbulkan suara sedikitpun. Ia membuka pintu ruang pribadi dengan hati-hati dan menutupnya kembali dari luar begitu Kevin telah masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruang pribadi Kevin di dalam pesawat itu, selain meja kerja, sebuah ranjang yang cukup besar yang cukup untuk ditempati dua orang dan masih memiliki sisa. Meskipun Kevin telah masih ke sana selama lebih dari tiga puluh menit, dia hanya bekerja begitu ia masuk dan tidak menyentuh ranjang itu sama sekali. Jadi saat Kevin membaringkan Tania di atasnya, ranjang itu masih sangat rapi seperti saat para petugas kebersihan membersihkan ruang itu.
__ADS_1
Kevin memasang selimut untuk menutupi tubuh Tania setelah ia memasang guling di samping wanita itu. Ia tahu jika Tania suka tidur sambil memeluk sesuatu.
Setelah melihat jika Tania telah tidur dengan nyenyak, Kevin kembali ke meja kerjanya dan kembali bekerja.
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_79🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1