
"Tidak ma. Dia bukan putri kita. Putri kita sudah mati saat ia dilahirkan. Dan Tania hanyalah anak yang dibawa dari panti asuhan untuk menggantikan putri kita. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita." Robi tidak menghiraukan peringatan Tari dan terus berbicara. Kini, semua orang mendengar dengan jelas dan memastikan apa yang telah mereka dengar.
"Tidak pa! Tolong jangan katakan itu. Tania adalah putri kita bagaimana pun. Akulah yang menyusuinya. Aku juga yang telah membesarkan nya dengan kedua tangan ku ini. Bagiku, dia akan tetap menjadi putriku." Tari mengangkat kedua tangannya dan memandangnya dengan penuh perasaan.
"Aku sudah memutuskannya. Demi menyelamatkan keluarga dan perusahaan, kita akan memutuskan hubungan dengannya. Jika ada yang keberatan, bisa pergi dengannya namun hanya membawa diribya sendiri tanpa sepeserpun uang dan harta yang telah aku berikan." Ucap Robi dengan tegas.
Bukannya dia tidak menyayangi Tania. Setelah ia membawa bayi Tania pulang dan menggantikan putrinya yang meninggal, ia sudah menganggap bayi kecil itu putrinya sendiri. Ia telah melimpahkan kasih sayang padanya sejak ia masih bayi. Tentu saja kasih sayang seperti itu tidak akan dapat hilang begitu saja dengan mudahnya. Jika masalah seperti ini tidak muncul, kemungkinan besar ia sudah akan melupakannya dan akan dia bawa rahasia ini sampai mati. Namun masalah ini telah menyangkut perusahaan yang paling ia hargai. Ia tidak bisa mengabaikan perusahaan demi seorang putri asing yang ia bawa sebagai ganti.
"Pa, ma, apakah benar apa yang aku dengar barusan?" Semua orang di ruang keluarga menoleh begitu mereka mendengar suara bergetar seseorang yang sangat mereka kenal.
"Tania. Tidak Tania. Tolong dengarkan mama." Tari adalah orang yang pertama bereaksi. Ia dengan segera berdiri dan berlari menghampiri Tania. Memeluk putrinya yang hanya diam saja menatap papanya.
"Pa, tolong papa jawab pertanyaan Tania. Apa aku yang salah dengar, atau Apakah yang baru saja Tania dengar adalah sebuah kebenaran yang sesungguhnya?" Tania bertanya pada Robi yang mengepalkan tangannya.
"Ya. Kamu tidak salah dengar. Kamu memang bukan Putri kandung kami. Putriku yang sesungguhnya telah tiada begitu ia dilahirkan. Namun karena kondisi Tari yang tidak memungkinkan untuk hamil kembali karena ada masalah dengan rahimnya, kami akhirnya mengadopsi mu dari panti asuhan karena saat itu, kami sangat menginginkan seorang putri."
"Jadi, saat kalian tidak lagi menginginkanku, kalian akhirnya akan membuangku, kan?" Meski Tania telah mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban yang tidak ia inginkan, ia masih tidak dapat menerimanya sama sekali. Air mata yang sudah ia tahan dengan susah payah akhirnya keluar tanpa izinnya.
"Tidak Tania. Meskipun kamu bukan Putri kandung kami, di hati kami kamulah putri kami. Tolong jangan katakan itu sayang, mama sedih."
"Biarkan dia pergi. Tania bukan Putri kita ma. Sejak dia melakukan hal memalukan dan mencoreng nama baik keluarga, dia bukan lagi putri kita." Kata Robi tegas.
Tania menghapus air mata yang mengalir di pipinya sebelum ia berbicara. "Kalau begitu, aku akan pergi dari rumah ini. Terima kasih telah merawat dan membesarkan ku sejak aku masih kecil dan memberikan kasih sayang keluarga yang lengkap. Aku berjanji bahwa aku akan mencari cara untuk memperbaiki semua ini dan juga aku berjanji jika aku tidak akan lagi mengotori mata kalian dengan kehadiranku." Setelah selesai berbicara, Tania segera berlalu. Naik ke atas dan berkemas.
"Papa.... Tolong izinkan aku menghentikan Tania. Kita sudah merawat nya sejak bayi. Dan papa lah yang paling menyayangi Tania selama ini. Bohong jika papa tidak menyayangi Tania lagi kan?"
"Sudah cukup ma. Tania sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Tidak ada lagi gunanya mama mengatakan apapun untuk mengubah keputusan papa." Robi berbicara dengan tegas.
__ADS_1
"Hiks hiks." Tari yang mendengar jawaban Robi tidak mengatakan apapun dan berbalik. Ia pun pergi menyusul Tania yang sudah mulai berkemas di kamarnya.
Farel dan Nina adalah orang yang paling terlihat bahagia di sana. Kedua orang ini memang sudah lama menganggap jika Tania adalah kotoran di mata mereka yang menghalangi jalan mereka. Meskipun Robi tidak mengatakan apapun, namun melihat dari sikapnya, dapat dilihat jika Robi memiliki niat untuk memberikan perusahaan pada Tania suatu hari nanti. Apalagi suami Tania adalah Kevin. Jadi saat ini, ketika ada kesempatan untuk menyingkirkan Tania, mereka tidak akan membuang waktu lagi.
Sedangkan Arsya. Dia masih syok dengan kebenaran yang baru saja ia dengar. Ia tidak menyangka hal ini sebelumnya. Di dalam pikirannya, berbagai pemikiran muncul.
Sementara itu, di dalam kamar Tania, Tari baru saja masuk ke dalam kamar putrinya setelah ia pergi ke kamarnya sendiri sebelumnya. Putrinya akan pergi dan dia tidak mungkin ikut. Jadi dia harus melakukan sesuatu untuk membantunya mungkin untuk yang terakhir kali.
"Sayang, terimalah perhiasan ini. Nilai semua perhiasan ini bisa kamu gunakan untuk kepentingan mu nanti." Tari mengangsurkan satu kotak perhiasan ke tangan Tania.
"Mama, maaf. Tania tidak bisa menerima ini dari mama. Tania bukan Putri kandung mama. Tania tidak berhak menerima ini semua." Tania menolaknya dengan mendorong kotak perhiasan itu kembali.
"Sayang, apa kamu masih marah pada papa? Kamu tenang dulu ya, kamu tahu sendiri jika papa paling sayang padamu, dia mengatakan ini hanya karena marah sesaat. Tunggu marah papa reda, kita pasti bisa berkumpul lagi." Tari membujuk dengan cemas.
"Tidak ma. Tania bukan anak kecil lagi yang tidak bisa merasa jika kemarahan papa kali ini serius." Tania menghela napas.
Tari khawatir jika Tania merubah pikirannya dan segera memasukkan kotak perhiasan itu ke dalam koper Tania. Selain khawatir jika Tania akan berubah pikiran, Tari juga khawatir jika Tania menemukan kartu bank berwarna hitam di dalam kotak perhiasan itu, putrinya akan menolaknya lagi dan butuh usaha untuk kembali membuat nya setuju.
Di ruang keluarga yang suram, semua orang hanya diam sampai suara pintu kamar Tania yang terbuka dan Tania keluar dari kamar itu dengan menggeret koper besar di tangannya. Di belakang nya, Tari menangis sambil terus memegangi tangan Tania dengan erat.
Tania hanya melirik semua orang di ruang keluarga sekilas sebelum ia mempercepat langkahnya dan keluar dari rumah. Arsya seakan tersadar dari lamunannya. Melihat punggung Tania yang menghilang di balik pintu, ia seger berdiri dan berlari keluar.
Pada saat ini, Arsya menyadari jika meskipun saat ini ia mengetahui jika Tania bukanlah adik kandungnya, ia tidak dapat menyangkal jika ia masih menyayangi adik kecilnya yang manis. Jadi dia harus menemuinya sebelum semuanya terlambat.
*
*
__ADS_1
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_36🍁
Terima kasih sudah mampir 😘
Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya
***
...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...
...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...
...🍃Malam Ke Tiga puluh🍃...
...🌸Pada malam ke Tiga puluh, Allah berkata : Makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air Salsabil dan minumlah di telaga Kautsar. Sesungguhnya aku adalah Tuhanmu dan engkau adalah HambaKu🌸...
...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...
__ADS_1