
"Si-al! Apa yang telah aku lakukan semalam?!" Ucap Kevin kesal sambil memukul ranjang di sampingnya sebelum menoleh dan menatap wajah Tania yang tampak kelelahan sebelum menyadari jejak bekas air mata yang tertinggal di pipi Tania. Seketika, penyesalan menghampiri hatinya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar pria be-reng-sek." Gumam Kevin sambil turun dari ranjang. Memunguti pakaian yang berserekan di lantai dan memakai nya sebelum ia keluar dan pergi dari kamar Tania ke kamarnya sendiri.
Sedangkan Tania bangun tidak lama setelah Kevin meninggalkan kamarnya. Ia merasakan seluruh tubuhnya yang remuk. Mungkin karena ini bukan lagi yang pertama atau yang kedua untuknya, meskipun Kevin bertindak kasar semalam, daerah intinya tidak terasa sesakit saat sebelumnya sehingga meskipun dengan sedikit kesusahan, ia berhasil masuk ke dalam kamar mandi setelah melilitkan selimutnya untuk menutupi tubuh telanjangnya karena seluruh pakaiannya benar-benar tidak dapat dikenali lagi karena telah hancur berkeping-keping.
"Dasar Kevin! Kami akan bercerai. Lalu lihatlah apa yang telah dia lakukan?! Huh!" Tania menggerutu saat ia menggosok tubuhnya yang saat ini benar-benar tidak mulus lagi.
"Tapi bagus juga. Dengan begitu aku akan memiliki lebih banyak alasan untuk memintanya membantu perusahaan." Lanjut Tania yang segera mengganti mode kesalnya menjadi senyum aneh yang melintas di bibirnya.
"Yah benar. Jadi aku tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Aku harus segera menemui Kevin." Dengan begitu, Tania menyegerakan ritual mandinya yang seharusnya ia nikmati dengan nyaman.
Dengan cepat Tania berdiri dari bathtub. Mengguyur tubuh bersabunnya dan memakai bathrobe sebelum keluar dari kamar mandi. Takut dia akan kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Kevin, Tania tidak membuang waktu di dalam kamar dan pergi ke kamar Kevin tanpa merias wajah bahkan tidak mengeringkan rambutnya dengan sempurna.
Tepat ketika ia hendak membuka pintu, Tania menghentikan gerakannya. Menggantung tangannya di udara. Meskipun ia telah membulatkan tekadnya, ia masih belum tahu bagaimana ia akan memulai nya.
"Tok tok..." Tania sedikit terjungkit saat pintu di depannya diketuk dari luar. Tanpa berpikir panjang, ia sudah tahu jika orang di seberang pastilah Kevin. Setelah mengambil napas dalam dan menormalkan hatinya, ia membuka pintu dengan tenang.
"Tania, mari kita bicara." Kevin bicara dengan serius. Wajahnya acuh seperti biasanya. Tetapi
"Hm." Tania mengangguk. Benar. Inilah yang diinginkan Tania dan juga dibutuhkan oleh mereka berdua. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan. Demi masa depan...
"Oke. Kita bicara di ruang kerjaku." Ucap Kevin sambil berjalan tetapi segera ditolak oleh Tania. Wanita itu dengan cepat menarik tangan Kevin untuk menghentikan nya. Ruang kerja Kevin ada di dalam kamar pria itu. Saat ini, dia masih takut berada di ruangan tertutup berdua dengan Kevin, jadi dia harus menghindari ruang kerja juga. Lagipula, tidak sedikit novel online yang ia baca jika protagonis pria di dalam novel bahkan sering melakukan hal itu pada protagonis wanita. Bagaimana jika Kevin melakukan nya padanya?
"Kenapa?" Kevin memandang tangan putih yang halus yang memegang lengannya. Dia tidak bisa tidak bertanya.
__ADS_1
"Um... Maaf." Tania menyadari arah tatapan Kevin dan segera menarik tangannya dari lengan kokoh itu. Lalu mendekap tangannya dengan erat.
"Lebih baik kita bicara di ruang tamu saja." Tania menyarankan dengan yakin.
"Terserah." Melihat tangannya yang kosong, entah kenapa Kevin merasa ada sesuatu yang hilang dan segera masam. Ia menjawab dengan dingin dan berpaling dengan sangat cepat dan membuat Tania bingung.
Kevin turun dengan cepat dan duduk di sofa tamu. Tania duduk di seberangnya tak lama setelah itu. Keduanya saling diam selama beberapa saat hingga keheningan cukup untuk membunuh waktu.
"Aku ingin minta maaf untuk kejadian semalam. Kau mungkin tidak akan percaya jika aku bilang jika aku dibius dan...."
"Tidak masalah. Lagipula aku sudah pernah sekali dan dua kali. Ditambah sekali juga tidak ada bedanya." Potong Tania cepat. Ia tidak akan bisa menahan kesedihan dan kemarahannya jika sampai ia mendengar Kevin mengatakan jika ia melakukannya dengan tidak sadar dan di luar kendali nya. Jadi dia memotong nya dan berbicara dengan dingin.
"Ini.... Ya sudah. Kalau begitu anggap saja tidak pernah terjadi." Kevin sedikit ragu pada awalnya. Ia masih merasa bersalah sampai saat ini, tetapi sepertinya rasa bersalahnya sedikitpun tidak dihargai ataupun dibutuhkan oleh Tania. Sayangnya...
"Aku memang bisa menganggap masalah semalam tidak pernah terjadi dan melupakannya begitu saja. Tetapi untuk akun sebelumnya... Aku ingin menghitungnya dengan jelas." Suara Tania terdengar tegas dan menekan.
"Ha-ha-ha-ha. Lucu. Lucu sekali." Tania tertawa keras hingga keluar air mata dari sudut matanya. Tania dengan jelas menghapus air mata itu sebelum ia melanjutkan ucapannya.
"Apakah kamu pikir aku tidak tahu apa-apa?" Tania melipat tangannya di depan dada dan bertanya dengan bibir tersungging yang licik.
Kevin tidak menyangka Tania akan mengatakan nya. Bagaimana jika Tania mengetahui jika dialah yang telah membuat rencana jahat untuk mencelakainya? Bahkan mengirim seorang pria asing untuk menidurinya. Memikirkannya saja membuat Kevin merasa dingin. Mengepalkan tangannya dengan erat. Tetapi Kevin masih diam seperti ia tidak tahu sama sekali.
"Aku tahu jika semua ini memang kamu sendirilah yang merencanakan semuanya. Dan bahkan, orang asing itu adalah kamu sendiri, kan?" Tania bertanya dengan menatap Kevin dengan tajam.
"...." Kevin sangat terkejut. Bagaimana Tania bisa mengetahuinya? sedangkan ia telah merencanakan semuanya dengan hati-hati agar tidak dicurigai. Tapi bagaimana dia tahu? Apalagi dia bahkan tahu jika dirinya lah pria malam itu
__ADS_1
"Jadi bagaimana jika kamu tahu? Semua orang di luar telah lama membicarakan mu, kau tahu?" Kevin segera menemukan argumen untuk melawannya.
"Hemp! Aku memiliki bukti. Jika bukti ini aku serahkan ke kantor polisi, semua orang akan mengetahui yang sebenarnya. Dan pada saat itulah aku yakin jika bukan hanya saham keluarga Wiratmaja saja yang akan jatuh, tetapi saham keluarga Abraham. Tentu saja, jika efeknya masih kurang memuaskan, aku akan dengan senang hati membuat efek yang lebih baik." Tania berkata dengan percaya diri.
"Lalu apa yang kamu inginkan?" Tanya Kevin serius. Menatap Tania penuh tanda tanya.
*
*
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_40🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya...
...***...
...Salam sayang 😘...
__ADS_1
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...