
"Kalau tidak tahan lakukan saja. Apa kamu tidak berani?" Tania menatap Kevin dengan tersenyum. Namun tangan kiri Tania yang tidak disadari Kevin kapan melepaskan lehernya sudah berada di dalam tubuh Kevin dan meraba-raba di sana. Membuat has-rat Kevin yang sudah terbakar menjadi tidak dapat dia tunda. Hampir saja Kevin kehilangan kesadarannya sendiri dan akan meletakkan Tania di lantai lift dan dia tekan di sana. Beruntung suara lift terbuka menyadarkan dirinya.
"Buka pintunya cepat." Kevin melirik Danil yang mengikuti nya yang segera membuka pintu apartemen Kevin.
Namun Danil belum sempat masuk saat Kevin menutup pintu dengan keras meninggalkannya di luar. Jika Danil tidak bergerak cepat, wajah tampannya pasti akan menjadi korban dari keganasan pintu.
"Uh!" Danil mundur ke belakang. Menatap pintu yang hampir menabraknya ini dengan sudut bibirnya yang terangkat.
"Dimana Kevin? Bagaimana keadaannya sekarang?" Seorang pria tampan dengan jas putih dan peralatan medis di tangannya datang terburu-buru.
"Di dalam." Jawab Danil melihat dokter itu.
"Tunggu apa lagi? Cepat buka pintunya. Aku harus segera menyembuhkannya. Jika tidak, dia akan membunuhku." Ucap dokter itu tidak sabar.
"Anda tenang saja. Kali ini tuan tidak akan menyalahkan keterlambatan Anda bahkan mungkin tuan akan berterima kasih pada anda." Ucap Danil penuh maksud.
"Danil, apa maksudmu!? Aku ini dokter. Aku tahu dampak apa yang akan terjadi jika masalah seperti itu tidak segera diobati. Kamu tahu sendiri meskipun Kevin sering mengalaminya, ia masih tidak dapat menahannya. Apa kamu memang mau aku dipukuli olehnya?" Dokter itu memandang Danil tidak paham. Dokter itu adalah dokter Joe. Dokter pribadi sekaligus teman Kevin yang sudah lama membantu Kevin. Di dalam dunia bisnis, tidak jarang beberapa wanita akan melakukan berbagai macam cara untuk menjebak Kevin bermalam dengannya. Setiap kali ada orang memberi Kevin obat, dokter Joe lah yang akan datang mengobatinya.
"Tidak tidak. Tentu saja saya tidak. Tapi kali ini bukan tuan yang membutuhkan obat itu."
"Hah? Bukan Kevin? Lalu siapa?" Tanya dokter Joe penasaran.
"Nyonya."
"Maksudmu..."
__ADS_1
"Ya. Nyonya Tania Abraham." Jawab Danil tegas. "Dia telah kembali. Ceritanya panjang. Dan saat ini saya masih harus mengurus masalah ini. Orang yang memberi obat pada nyonya tidak boleh dibiarkan lepas begitu saja." Lanjutnya menatap dokter Joe yang masih Melongo.
"Oke. Aku paham. Jika memang mereka berdua berada di dalam, mereka tentu saja tidak membutuhkan ku. Aku akan pergi dulu." Dokter Joe mengangguk paham. Lalu ia dan Danil pergi bersama meninggalkan apartemen yang panas itu.
***
Kevin menatap Tania yang telah tidur di sampingnya dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya dengan puas. Mereka baru saja mengalami siang yang panas yang bergairah. Tania dalam pengaruh obat, sedangkan dia murni karena keinginannya sendiri.
"Meski aku tahu kamu pasti akan marah padaku nanti, aku tidak akan menyesali hal ini." Ucap Kevin sambil menyingkirkan anak rambut dari kening Tania. Mengecupnya dengan penuh cinta. Kevin menatap wajah Tania lama sebelum ia menarik selimut menutupi tubuh telanjang Tania dan turun dari ranjang memakai celana boxernya sebelum memunguti pakaiannya dan pakaian Tania yang berserakan di atas lantai lalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Tania yang kelelahan tidak tahu apa-apa saat ini dan tidur nyenyak sampai sore harinya.
Terapi sore itu masih cukup lama. Karena bukan hanya untuk Kevin dan Tania, siang ini juga lebih panjang bagi sebagian orang.
Danil telah menemukan siapa pelaku yang telah memberikan obat perangsang pada Tania. Dia adalah seorang office boy lama yang bekerja di lantai tempat ruangan Tania berada. Terlihat dari rekaman CCTV tersembunyi di pantri kantor, OB itu secara sembunyi-sembunyi memasukkan bubuk yang dibawanya ke dalam air minum yang akan diberikan pada Tania. Terlihat dia dengan lancar menghindari kamera CCTV. Namun sayangnya dia tidak mengetahui jika selain CCTV biasa, di kantor juga dilengkapi dengan CCTV tersembunyi yang hanya sebagian kecil orang saja yang tahu. Dengan bukti itu, OB itu tidak akan dapat berkutik. Namun sayangnya, OB itu tidak ada di mana-mana di kantor.
Tetapi Danil bukanlah orang baru di lingkungan yang akan kesulitan menemukan seseorang. Apalagi dia hanyalah seorang OB saja. Tidak sampai satu jam ia mengetahui jika OB itu adalah pelakunya, ia sudah berhasil menangkap OB itu yang akan melarikan diri di bandara. OB itu bahkan telah naik dan duduk dengan nyaman di dalam pesawat. Namun dengan menggunakan kekuasaan Kevin, Danil berhasil menarik OB itu turun dari pesawat dan membawanya ke sebuah markas bawah tanah yang tersembunyi.
"Katakan siapa yang menyuruhmu melakukannya?!" Danil duduk di depan OB itu.
"Itu... Itu.... Saya tidak tahu tuan. Saya benar-benar tidak tahu." Ucap OB itu bingung. Ia memang tidak mengenal orang itu sama sekali karena tiba-tiba dia menerima pesan dari ponselnya dari nomer yang tidak dia kenali. Lalu saat ia menyanggupinya, uang setengah dari jumlah yang disebut kan masuk ke dalam rekeningnya.
"Tidak mengenalnya? Apa kamu kira aku bodoh dan percaya begitu saja hah?" Danil berkata dengan suara rendah yang mengintimidasi.
"Saya tidak bohong tuan. Saya benar-benar tidak mengenalnya sama sekali. Hari ini saya menerima pesan dari seseorang yang tidak saya ketahui yang memerintahkan saya. Lalu setelah itu, sebuah paket berisi obat itu dikirim dengan nama saya. Saya berkata yang sebenarnya tuan. Saya tidak berbohong." OB itu menjelaskannya dengan detail. "Orang itu memberi saya seratus lima puluh juta dan meminta saya segera pergi dari kota ini dengan uang itu." Lanjutnya semakin menjelaskan.
"Mana ponselmu?" Danil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
OB itu merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Menyerahkannya pada Danil setelah itu. Ia benar-benar menyesal telah melakukan perintah orang itu. Dia bahkan belum sempat menikmati uang yang dia dapatkan namun ia sudah harus menderita. Saat ini ia hanya berharap jika dia sebanyak mungkin patuh pada Danil, penderitaannya tidak akan berat.
Danil memeriksa ponsel OB itu. Melihat riwayat pengirim pesan. Juga rekening bank yang mengirim uang padanya.
"Karena dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari sini, kalian turuti keinginannya. Kirim dia ke pedalaman Kalimantan. Namun sebelum itu, Beri dia pelajaran agar dia tahu bahwa sebagian orang, tidak bisa dia sentuh dan permainkan." Danil berdiri setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Lalu memberi perintah pada anak buahnya sebelum ia pergi meninggalkan ruangan yang segera penuh dengan suara pekikan kesakitan dan meminta tolong.
"Oh astaga. Bagaimana aku bisa lupa." Ucap Danil terkejut saat ia baru mengingat sesuatu saat ia sudah berada di dalam mobil dan akan pergi. Ia memasukkan ponsel OB itu ke dalam saku jasnya dan ganti mengambil ponselnya sendiri. Membuka ponsel dan mengirimkan sesuatu sebelum ia tersenyum puas meninggalkan markas bawah tanah itu dengan mobilnya yang mewah.
*
*
*
...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_101🍁...
...Terima kasih sudah mampir 😘...
...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...
...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...
...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...
...***...
__ADS_1
...Salam sayang 😘...
...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...