Belenggu Cinta Mantan Suami

Belenggu Cinta Mantan Suami
Bab 88. Kakek Masih Kuno dan Naif


__ADS_3

"Nenek, apakah teh buatan saya sudah sesuai?" Tanya seorang gadis pelayan yang memiliki wajah yang cantik setelah nenek Ambar menyesap teh buatannya. Gadis ini bernama Laura. Laura sebenarnya adalah cucu dari salah satu teman nenek Ambar.


Nenek Laura mengirimnya ke kediaman Abraham untuk melayani Nenek Ambar sekaligus belajar keterampilan wanita darinya. Tentu saja itu bukanlah niat aslinya. Niat utamanya adalah bahwa nenek gadis itu ingin menjodohkan cucunya dengan Kevin. Namun jika ia mengutarakannya langsung pada nenek Ambar, sahabatnya itu pasti akan langsung menolaknya. Namun ia yakin dengan penampilan cucunya yang baik, ia akan mampu menaklukkan Kevin jika ia memiliki kesempatan untuk bertemu satu sama lain. Jadi nenek Laura akhirnya membiarkan cucu kesayangannya bahkan menjadi pelayan di kediaman lain.


Namun sekatang bahkan sudah hampir satu tahun Laura berada di mansion Abraham dan menjadi pelayan pribadi nenek Ambar, namun ia masih tidak pernah bertemu dengan Kevin secara langsung bahkan tidak pernah melihatnya dari jarak dekat.


"Yah. Ini segar. Kemampuan menyeduh tehmu semakin hari semakin meningkat." Puji nenek Ambar jujur. Ia menepuk pundak Laura bangga.


Nenek Ambar memang baik pada Laura selama ini, tapi itu hanya sebatas baik terhadap sesama manusia terlebih lagi Laura adalah cucu dari sahabatnya. Jadi meskipun ia sebenarnya tahu niat terselubung nenek dan cucu ini, ia masih membiarkannya tinggal di sisinya. Lagipula mengenai berhasil tidaknya tujuan mereka, itu bukan tergantung mereka. Dia bahkan lebih pesimis lagi. Selama mereka tidak berbuat di luar batas, dia akan membiarkannya. Namun jika sekali saja ia berani bertindak di luar batas, ia tidak akan segan untuk membalasnya dengan ribuan kali lipat.


"Nyonya, sarapan sudah siap." Seorang gadis pelayan lain datang dan memberitahu Nenek Ambar.


"Mm. Terima kasih Susi." Nenek Ambar berterima kasih dengan tulus sambil berdiri dan berjalan ke ruang makan.


"Apa Kevin sudah kembali dari lari paginya?" Tanya nenek Ambar pada gadis pelayan yang dipanggil Susi itu. Begitu pertanyaan ini diangkat, Laura menajamkan telinganya.


"Sudah nyonya. Tuan muda baru saja kembali." Jawab Susi hormat.


"Baiklah. Kalau begitu aku harus segera datang. Anak ini jarang sekali pulang. Sekalinya pulang pasti juga hanya sebentar." Nenek Ambar menghela napas panjang sambil mempercepat langkahnya.


"Nenek, tuan Kevin orangnya seperti apa?" Laura memancing pertanyaan.


"Huh? Kevin? Di tidak layak dibicarakan. Selain wajahnya yang tampan itu, dia tidak memiliki sesuatu yang layak disebutkan." Jawab nenek Ambar sembarangan. Ia mana ada waktu untuk memikirkan mengenai bagaimana Kevin. Jika itu di masa lalu, pujian-pujian mengenai Kevin akan mengalir dengan lancar dari bibir nenek Ambar. Namun semenjak kejadian lima tahun lalu, di matanya, Kevin selalu terlihat menyebalkan karena membuatnya kehilangan cucu menantu yang sangat potensial.


"Nenek, bukankah tuan Kevin adalah cucu nenek sendiri. Bagaimana mungkin nenek bisa mengatakan seperti itu tentangnya. Apa mungkin nenekku juga seperti itu juga?" Tanya Laura dengan wajah sedih nya.


"Tidak tidak. Itu memang karena Kevin. Tidak ada hubungannya denganmu. Lagi pula nenekmu selalu saja memuji mu setiap saat dia membicarakan mu. Tapi itu juga bukan salahmu. Kamu memang gadis muda yang sangat bijak dan membanggakan. Sudahlah jangan bicarakan ini." Nenek Ambar melambaikan tangannya. Memberi isyarat agar Laura tidak berbicara lagi. Lagi pula waktunya dengan cucu si-alannya sangat berharga saat ini. Bagaimana pun, pria kecil itu sangat mirip dengan Kevin. Jadi dia bisa puas memandang nya.


"Loh, mana Kevin?" Tanya nenek Ambar ketika mereka sampai di ruang makan dan hanya ada kakek Seno yang ada di sana.

__ADS_1


"Tuan muda baru saja kembali. Dia pasti masih membersihkan diri." Jawab pak Rudi yang berdiri di samping mengawasi.


"Benar juga. Tidak mungkin kan kalau dia langsung makan sebelum membersihkan dirinya yang penuh keringat." Nenek Ambar segera duduk.


"Begitu cucu datang, suami sendiri pun langsung dilupakan." Kakek Seno menggerutu kesal.


"Jangan marah suamiku. Bukannya kamu setiap hari selalu aku perhatikan. Lagipula dia adalah satu-satunya cucu kita sendiri, apa perlu untuk cemburu pada cucu bau itu?" Nenek Ambar tersenyum tanpa daya.


"Cucu ya cucu. Suami ya suami. Sudah jelas siapa yang lebih penting untuk diperhatikan. Kamu itu istriku, harus lebih memperhatikan ku. Jika cucu kurang ajar itu ingin diperhatikan, suruh cari istri sendiri."


Kevin yang sudah tidak jauh dari sana tentu saja mendengar percakapan pasangan tua itu. Apakah mereka ini benar-benar cucunya? Kenapa tidak satu pun dari mereka yang memanggilnya dengan panggilan yang baik dan benar?


"Tuan muda." Pak Rudi adalah orang yang pertama melihat Kevin datang. Ia segera menyapanya. Juga untuk memberi tahu pada pasangan tua itu bahwa cucu yang sedang mereka bicarakan ada di sekitar.


"Hmm."


"Apa yang ingin anda makan hari ini tuan muda?" Pak Rudi bertanya seperti biasanya.


"Omong kosong. Kamu ini adalah pemimpin perusahaan. Bahkan jika kamu tidak datang ke kantor pun tidak akan ada yang berani berbicara. Kamu baru datang dan sekarang sudah mau pergi. Apa kamu tidak ingin tinggal untuk beberapa saat?" Nenek Ambar berkata dengan penuh harap.


"Justru karena aku pemimpin perusahaan jadi aku tidak boleh datang terlambat. Jika aku datang seenaknya, bagaimana jika para karyawan mengikuti perilaku ku yang buruk?" Kevin berbicara dengan serius.


"Tapi aku kan masih merindukanmu." Nenek Ambar mengeluh.


"Bukankah sebentar lagi akan tiba hari ulang tahun nenek? Saat itu kita akan bertemu lagi." Kevin membujuk.


"Hah.... Baiklah. Kamu benar juga." Nenek Ambar menghela napas panjang. Apa yang dikatakannya benar juga. Benar sekali. Sebentar lagi dirinya ulang tahun. Jadi ada alasan untuk mengundang Tania datang menemuinya.


"Nenek, nenek mau makan apa untuk sarapan?" Laura bertanya setelah interaksi nenek dan cucu itu selesai.

__ADS_1


"Ah Laura, aku mau nasi goreng. Dengan ayam goreng." Jawab Nenek Ambar sambil menunjuk menu yang ia inginkan.


Laura segera mengambilkan apa yang nenek Ambar inginkan seperti seorang cucu yang berbakti. Ia berharap jika Kevin akan memperhatikannya. Namun sayangnya, bukan hanya Kevin tidak memperhatikan nya sama sekali namun Kevin bahkan tidak melihatnya sama sekali. Tetapi meskipun dia juga tahu, dia masih melakukan sesuatu dengan sangat baik.


"Aku selesai. Nenek kakek, aku pergi dulu. Jaga kesehatan kalian." Kevin menyeka bibirnya dengan tisu sebelum ia berdiri dan berjalan meninggalkan meja makan.


"Kalau datang lagi, bawa cucu menantuku kembali. Kalau tidak, kamu bersiap saja untuk menyerahkan posisi kepala keluarga." Kevin berhenti saat mendengar suara kakek Seno memperingatkan nya.


Kevin bernivara tanpa menoleh. "Apakah kakek tidak bosan denvan ancaman yang sama setelah lima tahun berlalu? Apakah kakek pikir tidak ada cara yang lain untuk membungkam mulut tikus-tikus itu? Heh! Kakek masih saja sangat kuno dan naif." Setelah selesai berbicara, Kevin kembali melanjutkan langkahnya tanpa berbalik kembali.


*


*


*


...🍁Belenggu Cinta Mantan Suami_88🍁...


...Terima kasih sudah mampir 😘...


...Like, VOTE, rate dan komentar nya Author tunggu...🤗...


...Mohon maaf jika menemukan banyak-banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏...


...Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya️...


...***...


...Salam sayang 😘...

__ADS_1


...❤❤❤Queen_OK❤❤❤...


__ADS_2