
Santi hanya menghela nafas. Apalagi melihat Rani mengejar Rey kedalam kamar, ia menduga duga apa yang mereka perbuat di dalam. Tapi Santi tidak mau menganggu aktifitas keduanya di dalam, Santi hanya ingin memberikan waktu untuk mereka berdua.
Ia nyakin kalau Rey sebenarnya ingin menyentuh tubuh Rina, tapi masih terbayang masa lalunya dengan Rani. Santi hanya bisa menghela nafas dalam dalam mengingat semuanya, ia tidak menyangka perjalanan yang rumit ini harus ia jalani.
Sebenarnya ia sudah bisa menerima kalau Rani benar anak Surya tapi pengakuan jujur Rey yang membuat dirinya tidak bisa berkutik. Pengakuan jujur Rey yang membiarkan Rina untuk menjadi bagian utuh Rey dalam hidupnya.
Ya biarpun ia nyakin kalau jalan yang ia tempuh sudah salah, dan harus ia perbaiki sendiri bukan orang lain.
Sedangkan Rina yang mengejar Rey masuk ke dalam kamar kerena Rey juga masuk ke kamar.
"Sakit tahu!" Teriak Rina langsung naik ke ranjang dan memukul tubuh Rey dengan bantal.
Rey tertawa lepas melihat wajah Rina yang cemberut seperti itu. Dengan refleknya Rey mengucek rambut Rina yang tergerai indah.
Rina terbengong melihat kelakuan Rey, jarang sekali suaminya mengucek rambutnya seperti itu, ia pura pura marah dan tidak mau menatap wajah Rey. Sebenarnya dalam hatinya Rina ingin sekali kalau Rey melakukan lebih dari sentuhan.
Masih terbayang dalam ingatan Rina tadi, kejadian yang barusan kalau saja tidak ada mertuanya mungkin ia masih merasakan deburan jantung Rey yang berdetak kencang serta suara nafas yang lembut sekali.
"Hai ngelamun apa, kok malah diam?" Tanya Rey langsung mendekati Rani.
Rey duduk dekat sekali disamping Rina tidak ada jarak diantara mereka.
"Masih sakit?" Tanyanya.
Rina hanya mengangguk. Sebenarnya hatinya ingin kalau Rey menyentuh tubuhnya tidak apa apa tidak lebih dari sentuhan juga tapi ia benar benar ingin sekali tangan Rey mengelus tubuhnya.
"Aku pijit ya." Kata Rey sambil menyentuh pinggang Rina.
Bukannya memijit tapi Rey malah mencubit pinggang Rina dengan keras sekali, sampai Rina berteriak kesakitan kerena kerena cubitan tangan Rey yang keras dan kuat.
Teriakan Rina sampai terdengar di teras rumah, membuat Santi bertraveling kemana mana. Ada senyuman tipis dibibir Santi, ia bersorak dalam hati kalau Rey berhasil menerobos gawang milik Rina.
Sedangkan kenyataan yang ada di kamar keduanya malah bercanda bukan melakukan apa yang dipikirkan oleh Santi.
"Sakit tahu," hindar Rina sambil menepiskan tangan Rey dari pinggangnya.
Rey tertawa melihat Rina marah padanya, Rey dengan tiba tiba memeluk Rina dari belakang. Awalnya ia ingin menghindar tapi tidak jadi.
__ADS_1
"Mas," bisik Rina lirih.
"Boleh aku peluk dirimu, sekali ini aja," gumam Rey lembut.
Rina diam seketika juga. Tanganya memegang tangan Rey yang kekar, tiba tiba ada desiran yang muncul dihatinya begitu lembut sekali.
Rey mencium bahu Rina lembut, ia seperti nyaman sekali membaui tubuh Rina. Tiba tiba hati Rey berdetak seperti dulu saat ia kenal dengan Rani. Tiba tiba Rina melepaskan tangan Rey dari tubuhnya. Rina membalik badan menghadap Rey, mereka masih duduk di satu ranjang.
"Kamu cantik," Rey lirih.
Rina merasakan wajahnya panas seketika juga Rey menyebut dirinya cantik, ia malu malu menundukkan pandangannya malu malu.
Tiba tiba Rey mendorong bahu Rina, sampai Rina yang duduk kini berbaring. Rey langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Rina. Wanita itu langsung memejamkan matanya, Rey yang melihat itu langsung memeluk tubuh Rina dengan erat sekali.
Tok tok tok
Rey langsung yang memeluk Rina langsung bangun dan beranjak dari kasur. Rina apa lagi Dalam hatinya sangat kecewa sama orang yang telah berani mengetuk pintu kamarnya.
Rey langsung membuka pintu setelah Rina merapihkan dirinya sendiri, ketika pintu terbuka Santi berada di balik pintu itu.
Rey akhirnya meninggalkan kamar sambil melirik Rian yang masih kesal. Rey tahu kalau Rani kesal, tapi ia tidak bisa apa apa.
Setelah Rey pergi, Santi menghampiri Rina.
"Berhasil?" Tanya Santi penasaran.
"Keppo!" Sungut Rina kesal.
"Pasti berhasil ya, habis kamu tadi berteriak." Susul Santi masih belum puas.
"Berhasil apa ya sih Bu?" Rani heran.
"Berhasil, itu kamu teriak apa? Pastinya?" Cerocos Santi.
"Bu, ibu berhasil apa nya. Dengar ya Bu, ibu udah tua jangan ikut campur urusan anak muda." Jerit Santi sambil mengucek mengucek rambut ya kesal.
Rina paham apa yang dikatakan Santi. Rina menyangka kalau Santi menduga kalau ia dan Rey berhasil memadu cinta, dan ia tadi berteriak mungkin di sangka kalau Rey telah membuka segel yang ia jaga selama ini.
__ADS_1
Rina hanya menepuk kepala saja, ia tidak menyangka kalau Santi berpikir kemana mana, sedangkan ia dan Rey hanya bercanda saja.
Rina langsung meninggalkan kamar itu, ia sudah cape meladeni Santi. Wanita setengah baya itu keppo banget lada urusan kecil, seperti dirinya tidak pernah merasakan saja.
Kalau dibandingkan dengan Santi, ia lebih awam sih dalam urusan ranjang. Seharusnya Santi tidak pernah menanyakan hal itu pada dirinya.
Santi yang melihat Rina pergi, langsung mengejarnya. Tapi sebelum pergi dari kamar Rina membalikan badannya hampir saja keduanya terjadi tabrakan.
"Kamu ngapain berhenti mendadak gitu," sewot Santi yang hampir saja menabrak Rina.
"Ibu nggak liat kita dulu, masih untung nggak nabrak kalau nabrak pasti jatuh! Jalan pake mata bukan lutut." Rina marah.
"Bu, emang mas Rey mau kemana kok main pergi saja," lanjut Rina sebelum Santi bicara padanya.
Santi hanya menghela nafas."Dicari anak buahnya," ceplos Santi tanpa memandang wajah mantunya.
"Anak buahnya? Sejak kapan mas Rey punya anak buah?" Tanya bertubi tubi Rina heran.
"Oh! Itu temannya iya temannya," gugup Santi kikuk.
Dalam hati Santi, ia mengutuk dirinya sendiri. Hampir saja ia memberi tahukan kalau Rey punya anak buah. Untung Santi langsung ingat kalau selama ini Rina istrinya Rey tidak tahu apa apa.
Rina mengerutkan wajahnya mendengarkan jawaban yang tidak masuk akal dari Santi. 'Ini tempat baru buat Rey dan dirinya masa Rey punya teman, segampang itu?' bisik hati Rina heran.
"Apa yang ibu katakan benar?" Tanya Rina.
"Iya kok benar masa ibu bohong sama kamu!" Dengus Santi.
Ia mengusap dada, dan menghela nafas dalam dalam. Dalam hatinya Santi ingin kalau Rina percaya pada dirinya.
"Kira kira lama nggak sih!" Gumam Rina.
"Entah ibu juga nggak tahu. Mungkin bisa bermalam bisa juga nggak," ujar Santi mengangkat bahu.
"Yah!" Suara Rina lemes banget saat mendengar kata kata ibu mertuanya.
Tanpa menunggu waktu Rina pergi begitu saja meninggalkan ibu mertuanya. Santi yang tadi akan mengejar Rina langsung berlari mengejar Rina ke luar.*
__ADS_1