BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Perbincangan


__ADS_3

"Aku juga nggak tahu sih kak, teman aku tuh ngebet banget sama mantan pacarnya," ujar Riri.


Kakak perempuan Riri hanya diam saja, ia mendengarkan apa yang diceritakan oleh adiknya. Adinda kakak dari Riri. Tadi ia melihat adiknya pagi pagi sudah melamun, adinda langsung mendekati Riri yang berada di teras.


"Teman kamu di sekolah?" Adinda asal.menebak.


Riri mengangguk dengan cepat. Melihat anggukan kepala adiknya Adinda melonggo, ia seperti.pernah.mendengar cerita itu dari Rina sahabatnya.


'Apa ini kebenaran?' bisik Adinda dalam hati.


Adinda termenung sejenak sebelu ia berkata kata kembali, tapi saat ia akan mengatakan sesuatu tiba tiba Riri bicara kembali.


"Cinta yang seharusnya tidak pernah ada nafsu malah di dasari nafsu. Pacarnya menikah dengan wanita lain dan sekarang belum.ounya anak." lirih Riri.


Riri seperti merasa kasihan dan iba terlihat diwajahnya Riri, Adinda melihat itu.


"Kapan kapan boleh kakak ketemu dengan temanmu,dek?" pinta Adinda.


"Boleh kok kak, nanti kalau ada waktu luang ya, nggak mungkin kan kalau kakak ikut ke sekolah,"


Adinda mengelengkan kepala nya. Pagi itu akhirnya Riri berangkat ke sekolah dengan pikiran kemana mana, sedangkan Adinda hanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nafas kembali.


"Memang wanita itu cantik, sederhana tapi kenapa harus wanita itu," tangis Rina waktu itu.


Rina megungkapkan perasaan kesal, kecewa dan umpatan kasar pada dirinya. Adinda hanya diam saja mendengarkan semuanya yang keluar dari hati Rina.


Ia juga penasaran dengan wanita yang diceritakan oleh Rina pada saat itu juga, sampai sekarang juga ia penasaran sampai Rey terpikat oleh wanita mantan pacarnya. Apalagi Riri juga pernah mengajak dirinya untuk bertemu, tapi selalu gagal saja, ada salah halangan untuk bertemu dengan temannya Riri.


"Kenapa harus dia yang hamil, yang disentuh dan Rey sedangkan aku yang halal dilepaskan begitu saja,"


Rina langsung memeluk tubuh Adinda dengan erat sekali, Adinda membalas pelukan sahabatnya dengan erat sekali, ia merasakan perasaan sahabatnya.


Ya, kalau ia berada diposisi Rina pasti ia juga bakal kecewa melihat tingkah laku yang dilakukan sama suaminya. Untungnya suaminya tidak pernah melakukannya, malah suami terlalu baik.

__ADS_1


Mendengar apa yang dibicarakan oleh Rina, ia juga tidak habis pikir apa yang dilakukan suaminya Rani, kenapa harus Rina yang mengalami ujian yang menimpah nya.


"Hai, kok ngelamun," usik Ridwan melihat istrinya hanya diam menatap arah lurus.


"Rina," kata Adinda menatap suaminya.


"Sudahlah jangan ngurusin orang lain, lebih baik kamu pikirkan kehamilan mu," ingat Ridwan penuh dengan kasih sayang.


Adinda mengangguk. Tangan wanita itu menggenggam cari tangan Ridwan dengan lembut.


"Boleh nggak aku ketemu dengan teman Riri, aku pengen ketemu dengan dirinya." izin Adinda.


"Boleh, tapi aku ikut." pinta Ridwan.


Setelah asyar ketiga orang Adinda, Riri dan Ridwan langsung berangkat ke rumah Rani yang berada beda desa dengan mereka. Mereka mengunakan roda empat untuk sampai ke rumah Rani.


Sampai di rumah yang dituju, Rani langsung menyambut kedatangan kakaknya Riri, ya tadi pagi Riri berkata kalau kakaknya bakal datang ke rumah dirinya. Rani orang pertama menyambut kedatangan mereka, mata Rani dan Adinda terbelalak kaget.


Rani menganga mulutnya saat melihat siapa yang datang bersama dengan Riri, begitu juga dengan Adinda matanya hampir keluar seketika saat ia melihat siapa yang berdiri dihadapannya.


Adinda terkejut saat melihat Rani di rumah itu, tiba tiba ingatannya langsung pada peristiwa yang lampau.


Bukan hanya Adinda yang mengingat semuanya, tapi Rani juga mengingat saat ia menangis dipangkuan wanita yang kini di hadapannya.


"Din, dia jahat dia jahat, dia ninggalin aku!" tangis Rani waktu itu lima tahun yang lalu.


"Siapa yang ninggalin kamu, siapa?" tanya Adinda yang langsung membekas pelukan Rani yang tiba tiba mengais di pelukannya, Adinda ingin sebenarnya menanyakan banyak pertanyaan pada Rani tapi ia tidak tega untuk menanyakannya.


"Pacar aku menikah dengan wanita lain,"


Deg!


Hati Adinda berdetak dengan keras mendengar apa yang diucapkan oleh Rani dalam pulang dan tangisnya.

__ADS_1


"Kamu ceritanya, kalau kamu.mau cerita ceritakan kah," bujuk Adinda.


Adinda melepaskan pelukannya dan menatap wajah Rani tajam sekali, ia mengusap cairan bening yang keluar dari bola mata Rani.


"Aku benci pacar aku, Din, coba banyangan dia menikah kerena ibunya. Aku nggak terima dia menikah Din,"


"Pacar kamu nggak memperjuangkan kamu?" Adinda menatap iba.


Tiba tiba Adinda merasa geram seketika saat Rani menceritakan semuanya, Adinda geram pada pacar Rani yang sama sekali tidak melihat ketulusan yang diberikan oleh Rani padanya.


"Jangan jangan kalian udah saling kenal?" tegur Riri dan Ridwan.


Rani tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Ridwan yang ada dihadapannya, ia langsung menubruk tubuh Adinda begitu juga dengan Adinda ia membalas pelukan sahabatnya. Sekarang tinggal Riri dan Ridwan di buat heran kerena melihat Rani dan Adinda saling pelukan. satu sama lainnya.


Rani yang melihat Adinda datang langsung kaget kerena ia tidak menyangka sama sekali kalau adinda bakal mengunjungi dirinya di rumah. Sedangkan Ridwan dan Riri, melihat kedua wanita dihadapannya saling menatap satu sama lain seperti heran sekali.


Kerena Riri dan ridwan tidak tahu menahu tentang Adinda dan Rani yang sebenarnya, tiba tiba Ridwan menyadari kalau Rani yang ada dihadapannya adalah mantan temannya yaitu Rey, itu dugaan sementara Ridwan.


Rani hanya bisa menggelengkan kepala saja, melihat itu Adinda, yang berada dihadapannya. Wanita yang menghilang tidak tentu arah, membuat ia kelimpungan. Riri yang tidak tahu apa apa, tidak bisa berkata kata, hanya hatinya yang bertanya tanya tentang keduanya.


Adinda memeluk erat tubuh Rani yang selama ini memang ia cari.


'Ya Allah, pasti Rani yang kini berada dihadapannya sangat kecewa, kerena ia selalu memperjuangkan pacarnya tapi pacarnya malah meninggalkan dirinya. Siapa yang tidak kesal dengan keputusan pacarnya yang tidak membela dirinya.' bisik hati Adinda dengan perasan yang tidak menentu sama sekali.


Disisi lain Rani adalah sahabatnya sejak sebelum ketemu dengan Rina, sedangkan Rina adalah sahabat sesudah perpisahan ia dengan Rani.


"Din, kamu kemana saja. Kamu kemana saja banyak yang aku ingin ceritakan pada kamu," tiba tiba Rani menangis di pelukan Adinda, seperti dulu lagi..


"Kamu boleh cerita apa yang terjadi, jangan sungkan sungkan ya," tutur Adinda.


Adinda langsung melepaskan pelukannya lalu ditatap wajah Rani dengan tajam dan tulus, seperti dulu ia lakukan pada Rani.


"lebih baik kita duduk dulu yuk!" ajak Rani sambil mengajak adinda dan yang lainnya untuk masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


Rumah terlihat sepi kerena memang ia sendirian di rumah, sedangkan Zoya sedang ikut Pramuka di sekolahnya. Paling pulangnya jam 17.00, jadi satu jam lagi Zoya bakal sampai ke rumah.*


__ADS_2