
"Kak, maaf paman Surya nggak ada? Tadi paman ada kok!" Ujar Ana pada Rani yang masih disana.
Ana yang menghampiri Rani dan Dio langsung memberitahukan keberadaan Surya. Ana yang darintanganya membawa minuman dan makanan langsung menyodorkan teh manis anget, dan goreng singkong Krispy Dihadaon Rani dan dio.
Rani langsung mengkerenyitkan wajahnya heran.' tadi bilang ada, kok tiba tiba sekarang bilang nggak ada,' bisik Raninheran. Ditatapnya wajah gadis berkerudung panjang itu.
Ana langsung duduk dihadapan Rani dan Dio. Tangannya masih membawa nifan, lalu gadis itu menyimpan nifan ke atas meja yang ada di sana.
Ia seperti merasa bersalah mengatakan kalau Surya ada di rumah sedangkan kenyataan nya Surya memang tidak ada sama sekali.
"Maaf, saya juga nggak tahu kalau paman pergi!" Kata Ana menjelaskan..
"Dek, kita kira paman pergi kemana?" Tanya Dio bersuara.
Ya biarpun pertanyaan yang Dio lontarkan itu terdengar lucu kerena kemungkina besar Ana juga tidak tahu keberadaan Surya.
Gadis itu hanya mengelengkan kepala.
"Ya udah jangan risau. Boleh kakak minta nomor hpnya?" Kata Rani akhirnya.
Dio menyikut lengan Rani tapi wanita itu hanya menepiskan saja.
Ana bukannya langsung menjawab pertanyaan Dio ia hanya diam dan menenuduk. Rani yang tahu Ana hanya diam saja, hanya menghela nafas panjang.
"Ya udah kalau nggak boleh juga nggak apa apa kok!"
Rani langsung mengerti. Ana hanya tersenyum menetap Rani, ia juga tersenyum. Hati sebenarnya bertanya tanya kenapa Ana tidak mau kalau memberikan nomor pamannya?
Kan kalau gadis itu punya pikiran baik pasti ia menanyakan nomor juga takutnya ada kepentingan tapi Ana tidak memberikan nomor itu Rani ya udah ia juga tidak memaksa Ana.
Ana akhirnya pamit kerena ia banyak urusan untuk anak anak yang baca di perpustakaan itu, Rani hanya mengangguk saja. Menatap kepergian Ana masuk ke sebuah rumah yang tidak jauh dari sana.
"Apa kita pulang lagi," desir Rani pasrah.
__ADS_1
Ia takut kalau hari ini juga ia tidak menemukan Surya, masa harus menginap lagi. Trus Anindya bagaimana kabarnya, ditambah lagi *********** semakin kencang dan sakit kerena ia tidak menyusui Anindya dengan waktu yang lama.
Sebenarnya kalau mau jujur sekarang juga dadanya sakit seperti terbakar, apalagi kalau disentuh. Tapi ia berusaha tegar untuk menyelamatkan dirinya dan Anindya.
Tidak jauh dari tempat itu. Rey dan Rani duduk di tempat yang terpisah dengan Dio dan Rani. Rina berusaha meluluhkan hati Rey akibat masih kesal pada sosok gadis yang berkerudung itu.
Tanpa mereka ketahui sama sekali, satu sosok menghampiri Rey dan Rina. Wajah pendatang baru sangat terkejut saatelihat Rey dan Rina berada di tempat itu, hatinya mendidih kerena ia sama sekali tidak memberi tahukan alamat yang dikunjungi oleh anak dan menantunya.
"Kalian ada apa kesini?" Tanya suara yang dikenal Rey dan Rina.
"Ibu, kok ibu disini?" Tanya Rey dan Rina bersamaan.
"Seharusnya ibu yang tanya kalian bikankalian yang tanya ibu," Dengus santi menatap wajah keduanya dengan tajam.
Ya Santi yang datang ke rumah Surya. Ia sangat terkejut sekali melihat Rey dan Rina ditempat itu.
PLAK
Sebuah tamparanendsrat dipipi Rina dan Rey dengan kerasnya. Sampai keduanya langsung meringis kesakitan dan mereka tidak menduga sama sekali kalau Santi bakal melakukan itu lada mereka.
"Sekarang kalian pergi dari sini!" Usir Santi emosi.
"Kami nggak akan pergi sebelum bertemu dengan ayah!" Kata Rani menghampiri Santi.
Ia tidak sengaja melihat Santi menghampiri Rey dsn Rina, ia juga melihat kalau rsanti mengusir Rani dan Rey dari tempat itu.
Santi sangat terkejut saat matanya melihat Rani dsn Dio ditempat itu juga, apalagi mendengar kata kata Rani seperti itu.
"Kenapa kamu ada disini? Kamu sudah tahu kan kalau ayah tinggal disini hanya kamu diam saja tudakmmau jujur," sembur Rani menatap wajah Santi tajam.
"Aku nggak nyangka ya kalau kamu bisa melakukan ini sama kami," lanjut Rani tajam..
Santi gelagapan mendengar apa yang Rani katakan. Memang sela ini ia tidak pernah mengatakan keberadaan Surya pada Rani, kerena ia sendiri yang ingin menguasai kekayaan Surya tanpa cape cape menikahkan Rani dsn Rey. Menurut Santi, toh mereka adalah adik sepupunya Surya jadi bisa kecepretan kekayaan Surya.
__ADS_1
Santi tidak pernah berpikir kala itu hanya mustahil saja.
"Kenapa nggak, dulu aku menyingkarkan kamu melarang kamu menikah dengan Rey, kalau aku tahu dari dulu mungkin aku nggak bakal menyingkirkan kamu," sinis Santi pada Rani.
"Oh! Berarti aku beruntung juga ya kalau aku nggak nikah sama anak kamu, aku malah senang kok mabk Rina lah yan GB jadi menantu kamu," ketus Rani..
Kalau saja tidak ada orang mungkin Rani sudah meneteskan leher Santi saat itu juga habis ia merasa kesal dan sebal apalagi kata katanya yang bikin hatinya muak.
"Jaga mulut kasar kamu!" Teriak Santi tidak suka.
Rey dan Rina langsung menarik tangan Santi menjauhi Rani. Tapi Santi berontak sampai kedua anak dan minatunya tidak bisa melawan kekuatan tenang Santi.
Melihat itu Rani siap siap ingin melawan Santi tapi Dio langsung menjauhi Rani. Rani berusaha melepaskan ngenggaman tangan Dio tapi nihil kekuatan Rani tidak seimbang dengan kekuatan Dio.
Santi dengan kesalnya langsung mendorong tubuh Rina dan Rey. Kedua nya langsung tersungkur.
Tapi tiba tiba Rina meringis kesakitan, saat bokongnya menyentuh tanah ia.mwnjerit kerena bagian perutnya sakit. Rey yang melihat itu langsung menolong Rina, Rani kaget melihat Rina kesakitan seperti itu.
Ia langsung menyongsong Rina. Sedangkan Dio dan Santi shock melihat Rina meringis kesakitan seperti itu.
"Mbak!" Teriak Rani khawatir..
"Mas sakit!" Lirih Rina mengusap perut bagian bawah.
Merek langsung membawa ke teras aula, supaya Rina istirahat disana. Rina pun duduk di sana dan sambil bersandar ke dinding aula, sambil tangannya mengelus lembut perutnya bagian bawah.
'Apa Rina hamil,' bisik Rani menatap Rina penuh curiga.
Ia masih ingat waktu hamil Anindya, sering kram di bawah perut apalagi Rey yang tidak pernah peduli pada dirinya.
Tapi ia hanya diam saja, ada senyum di bibir Rani tapi tidak terlihat oleh semua orang yang ada disana.
"Mas, akhir akhir ini perutku sering sakit!" Rintih Rina memelas.
__ADS_1
Rani yang mendengar kata kata Rina langsung melengiskan kepalanya. Tiba tiba ada hatinya yang hilang saat mendengar rintihan Rani seperti itu, apalagi melihat tangan Rey mengelus perut Rina.
Rasanya ia ingin ngamuk danarah marah pada Rey, tapi ia berusaha menahan gejolak perasaan yang tiba tiba timbul. Ada Hela nafas yang keluar dalam nafasnya.*