BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Cerita Rey


__ADS_3

"Bu, aku masih mencintai Rani, tapi aku nggak bisa bersatu dengan Rani kerena ayahnya telah membunuh ayah."


Suara Rey terhiang hiang di telinga Santi. Santi juga tidak menyangka kalau suamianya harus meninggal oleh kakak sepupunya. Ia tidak percaya tapi melihat sinar mata Rey akhirnya Santi mau tidak mau harus percaya..


"Aku melihat jelas kalau Surya membunuhnya. Dan waktu aku tahu kalau Rani hamil olehku, aku nggak mau mengakuinya kerena aku nggak bisa menerima kerena aku benci sama Surya. Aku udah tahu sebelumnya."


"Jadi itu kenapa kamu ingin menghilangkan kehamilan Rani."


Santi bertanya pada Rey. Rey hanya mengangguk saja, Santi hanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali.


"Aku nggak mau cucu Surya lahir, ya biarpun itu juga darah daging ku, tapi anak itu tetap bukan anak nasab ku." ujar Rey.


"Lalu apa yang kita harus perbuat?" tanya Santi.


"Entah! Aku juga nggak tahu."


Santi hanya menghela nafas mengingat semua percakapan yang ia lakukan dengan Rey tadi sewaktu Rey melepaskan Zoya dan Vian.


"Kamu tahu siapa Vian?"


"Aku tahu, tapi terlambat. Entah kalau Vian tahu nggak dengan aku?"


"Kayanya tahu, masalahnya ia manggil ibu dengan sebutan bibi. Ibu nyakin Vian lebih tahu dari pada kamu,"


"Pantas," lirih Rey.


"Pantas apa?"


"Vian selalu menolong Rani di sekolah maupun di luar sekolah." ujar Rey pelan.


Rey terdiam seketika juga. Begitu juga dengan Santi. Santi mendengarkan cerita Rey tentang Vian yang selalu menolong Rani kalau dirinya menganggu Rani di sekolah, Vian selalu ada. Kadang dirinya merasa kesal pada Vian kerena Vian harus tahu masalah yang ia dan Rani hadapi.

__ADS_1


"Ketua!" panggil laki laki baju putih yang tiba tiba mengusik lamunan Santi.


Santi terkejut. Ia langsung melotot saat melihat anak buahnya yang berdiri di hadapannya dengan takut takut, Santi sebenarnya terusik oleh kedatangan anak buahnya tapi Santi hanya diam saja.


"Bagaiamana terencana kita membawa Rani?" tanya baju putih itu dengan pelan.


"Kamu atur saja Cong, ajak juga Kasta, Apeng," kata Santi akhirnya bicara sama Acong si baju putih itu.


"Baik ketua, kami bakal menjalankan tugas kami."


Setelah itu Acong pergi meninggalkan Santi yang duduk di kursi kesayangannya. Santi hanya menghembuskan nafas melihat Acong meninggalakan dirinya.


"Trus aku harus bagaimana?" gumam Santi blank.


Kalau ia melanjutkan misi diri otomatis itu yang akan membuat Rey terluka, ia juga tidak menyangka kalau Surya yang membunuh suaminya. Santi geram saat ingat waktu Surya juga telah merenggut bayi dalam kandungannya, ya ia pernah hamil sebelum Rey. Ia tahu itu kerena Acong mantan anak buah Surya yang mengatakannya.


Kerena Acong pernah mendengar apa yang Surya katakan pada anak buah Surya. Santi sama sekali tidak tahu masalah itu, ia baru tahu setelah seminggu merencanakan pernikahan Rey dengan Rani.


Santi tahu semuanya saat ia sebelum ia merencanakan menikahkan Rey dengan Rani.


Tapi kalau masalah pembatalan pernikahan Rani dengan Rey sama sekali ia tidak mengetahui kalau Rani anak Surya, ia hanya tidak ingin Rani menikah dengan Rey kerena Rani hanya berasal dari keluarga yang sederhana sekali, tapi kenyataannya lain.


Ya Rani dikenalkan oleh Rey sebagai anak Ilham. Sebenarnya yang anak Ilham adalah Zoya sendiri, ia baru tahu kalau Rani anak Surya baru kemarin kemarin saja.


Santi sekarang mengerti kenapa Rey begitu dengan Rani. Ia yang kini terpuruk antara melanjutkan rencananya dengan rencana Rey. kalau ia merencanakan rencananya pasti Rey yang terpuruk, Santi benar benar blank melakukan apapun juga.


"Ibu sebenarnya sayang ayah atau sayang ibu sih!"


Masih terhiang suara Rey atas kekecewaan dirinya pada Santi sebagai ibunya. Itu yang dirasakan oleh Santi sendiri, ia juga sebenarnya tidak mau ikut campur tapi ia sebenarnya ingin hidup berada. Santi nyakin kalau Ranty tidak tahu kalau ia memiliki ke ke kaya an dari Surya. Tapi dipikir lagi sebenarnya bukan hanya Rani aak surya ada juga Vian.


Tidak jauh berbeda. Rani dan Dio masih bicara masalah fhoto yang ada di kalung Vian. Sedangkan Adinda, Riri, Zoya dan Vian pergi begitu saja tanpa bicara lagi setelah mereka merencanakan sesuatu untuk Santi dan Rey.

__ADS_1


"Aku kenal laki laki ini," ujar Rani mengenal nafas panjang.


Ketika Dio menanyakan tentang laki laki yang ada di kalung Vian, kerena Dio merasa waktu melihat Rani ia melihat wanita itu tertegun sejenak kalau saja Vian tidak mengajak bicara mungkin Rani tidak bakal bicara. Dio awalnya ingin bertanya masalah keterkejutan Rani, tapi keburu Vian yang melemparkan kata kata pada Rani.


Akhirnya Dio diam dan setelah mereka pulang bersama Dio memutuskan menanyakan keterkejutan Rani pada fhoto yang terdapat di kalung itu.


Rani awalnya tidak bergeming atas pertanyaan Dio akhirnya ia menjawab juga. Dio mengangguk mengerti.


"Kamu pernah ketemu dia dimana?" tanya Dio ingin tahu.


"Di Serang dekat Untirta. Aku waktu itu mau mengambil uang di ATM depan kampus Untirta." Cerita Rani mengalir juga.


Ya Rani masih ingat waktu ia ke Serang waktu itu ia kehabisan uang cash, untuk mendapatkan uang cash ia mengambil uang ke ATM di depan Untirta, waktu itu keadaan ATM hanya ada beberapa orang saja yan ada.


Setelah mengambil uang, tiba tiba ada seorang laki laki masuk ia menyangka kalau laki laki itu mengambil uang di ATM tapi tiba tiba tas yang ada dompet berisikan uang itu dirampas oleh laki laki itu, tapi untungnya ada orang yang menolongnya.


Dan orang yang menolong itu adalah laki laki yang gambarnya di bandul kalung yang Vian berikan oleh Vian.


"Ya aku bertemu dengannya sebelum aku hamil sih! Dan itu setelah Rey menikah dengan kakakmu," ketus Rani agak kesal mengingat Rey berhubungan secara halal dengan Rina kakaknya Dio.


"Bagaimana kalau kita cari di Serang?" usul Dio.


"Kita butuh alamat nya Dion.Masa di Serang kita nggak pegang alamat sama saja dengan cari mati, nggak semua orang kota saling kenal?" ejek Rani.


Dio menepuk kepalanya. Ia lupa, kalau di kota dan kampung jauh berbeda sekali. Kalau di kota tetangga satu komplek juga jarang ada yang tahu, sedangkan kalau di kampung asal kita tahu nama yang kita kenal sudah beras.


"Kamu mau mengantarkan aku.kalau.aku cari Surya?''tanya Rani.


"Aku mau kok." senyum Dio.


Rani juga tersenyum. Tapi hatinya merasa heran perhatian Dio yang begitu tulus masih belum meluluhkan hatinya.*

__ADS_1


"Aku nyakin kalau laki laki yang ada di fhoto ini di Serang. Tapi aku juga tidak tahu juga sih," celetuk Rani.


__ADS_2