BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Zoya minta Jawaban


__ADS_3

"Aku anak Surya, Kak!


Mata Zoya terbelalak seketika juga mendengar kejujuran dari Vian. Ia hanya mengelengkan kepala mendengar kejujuran gadis 15 tahun dihadapannya. Vian, yang melihat Zoya terkejut hanya biasa saja, kerena ia tahu kalau suatu waktu bakal terjadi seperti ini.


Melihat Zoya melotot menatap Vian. Gadis 15 tahun itu hanya tersenyum, kerena selama ini ia sama sekali tidak cerita apa apa pada siapapun juga.


Zoya masih belum percaya atas pengakuan dari Vian.


"Aku nyakin kalau Santi nggak pernah cerita tentang diriku, aku sebenarnya tahu Santi itu adalah sepupu ayahku. Adik sepupu." ujar Vian.


"Rumit," gumam Zoya.


Hatinya masih belum percaya kalau dihadapannya adalah adik beda bapak dengannya.


"Kak Rani tahu?


"Kak Rani belum tahu, aku juga nggak cerita apalagi dengan kak Rey. Aku tahu sebenarnya kak Rey mencintai kak Rani."


"Nggak mungkin kamu anak Surya, setahuku Surya menikah dengan Amanda lalu punya anak, tapi entah anaknya dimana. Masa kamu anak Surya?"


"Kamu belum mengerti saja ya, ceritanya panjang. Nanti aku bakal ceritakan kalau ketemu dengan kak Rani," Hela nafas Vian.


Akhirnya kedua melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah Rani. Zoya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rani kakaknya begitu juga dengan Vian.


Zoya merasa seperti mimpi, perasannya juga tidak percaya kalau di sampingnya adalah anak Surya satu ayah dengan kakak Rani, dan Vian juga mengatakan kalau ia juga mencari kakaknya.


Menurut Vian ayahnya Surya menikah lagi dengan Dini--nama ibunya Vian tapi Dian telah meninggal ketika ia masih kecil, dan Vian diurus oleh adik dari ayahnya. Di sekolah ia juga terkenal sebagai anak dari Ahmad dan Nia.


Zoya hanya bisa menarik nafasnya yang penuh sekali dan menghembuskan kembali dengan berlahan lahan..


"Kak, aku nyakin kakak nggak percaya sama yang aku katakan ya!" ujar Vian sambil berjalan beriringan.

__ADS_1


Zoya hanya mengangguk saja."Aku nyakin kalau misal ka Rani tahu semuanya ia nggak bakal langsung percaya," dengus Zoya agak kesal.


Tidak kesal gimana, orang yang selama ini selalu bersama adalah adik nya juga. Mungkin kalau ia tahu Vian adalah adiknya mungkin ia juga ingin mencari tahu tentang Vian dan Rani kakaknya tapi nyatanya malah Vian lah yang tahu.


"Kamu marah?" tanya Vian menatap wajah Rani.


"Udah jangan bicara!" lirih Zoya mengingatkan Vian.


Vian lanhsung terdiam mendengar suara lirih Zoya yang hampir tidak kedengaran..


Maksudku simpan dulu nafas mu, perjalanan ke rumah kak Rani masih jauh, belum lagi kita harus menceritakan semuanya pada kak Rani.


Vian akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh Zoya. Kerena mereka ke rumah Rani dengan jalan kaki, apalagi jarak antara rumah dan tempat yang tadi memakan waktu ½ jam perjalan.


Ya otomatis setengah tenaga mereka terkuras oleh jalan kaki, apalagi jalan yang di lalui sangat panas sekali kerena sang raja siang berada diatas puncak langit. keringat mereka juga bercucuran membasahi badan den baju yang mereka gunakan.


Beberapa kali Zoya menyusut keringat keluar dari pori pori tubuhnya, kalau kena mata terasa perih sekali.


Keren Santi pernah mengancam dirinya. Rina menarik nafas dala dalam dan menghembuskan kembali, ada gulana dihatinya. Ia juga selam ini belum.oeenah bertemu dengan Dio adiknya.


Secara reflek tangan kanannya menyentuh pipi kanan, ia masih merasakan sakit yang teramat sakit saat ia harus ditampar oleh Santi.


"Kamu jangan bilang siapa siapa, kalau kamu masih mau jadi istri Rey!" teriak Santi waktu itu dengan kerasnya.


PLAK


Tiba tiba Rina terpekik kesakitan ketika Santi dengan tiba tiba menampar mukanya dengan keras sekali. Rina sama sekali tidak menduga kalau Santi bakal memukul pipinya, mata Santi melotot menatap wajah Rina.


"Bu, mama ku juga nggak pernah mukul, tapi kenapa ibu mukul aku," jerit Rina kesakitan. Tangannya mengusap pipinya yang terasa panas.


Rina menatap balik mertuanya.

__ADS_1


"Kalau ibu lakukan lagi aku nggak pernah segan segan membongkar apa yang ibu lakukan pada Rani." ancam Rina.


"Silahkan kalau kamu ingin bicara sama Rina tapi kamu nggak akan pernah akan menemukan ibu kamu hidup lagi!" balas Santi sinis.


"Satu lagi kamu juga bakal menemukan surat cerai dari Rey, dan Rey bakal menikah dengan Rani. Toh mereka punya anak," lanjut Santi tersenyum sinis.


"Nggak bakal aku biarkan Rani menikah dengan Rey, dan aku bakal bilang siapa orang yang menghancurkan dirinya," tawa Rina puas.


Ya ia tahu sebenarnya kalau Santi ingin menikahkan Rani dengan Rey bukan atas keinginan Santi maupun Rey. Santi hanya ingin merebut anak dari Rani.


"Aku tahu kemarin kalau ibu ingin menghilangkan bayi itukan, bukan kerena ingin menyatukan Rani dan Rey." lanjut Rina.


"Bangsat kau, seberapa jauhnya kau tahu semuanya!" mata Santi melotot mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rina.


Wanita itu dengan puas tertawa renyah, Santi hanya mengepalkan tanganya kerena kesal. Ia tidak bisa melakukan apa apa kerena Rina bukan lah target incaran dirinya. Kalau sampai ia mencelakakan Rina otomatis ia bakal gagal untuk melempiaskan apa yang ia lakukan pada Rani.


"Kenapa diam, Bu? Apa aku bukan incaran yang ibu inginkan? Syukurlah kalau begitu, jadi aku hari ini selamat dari cengkraman ibu," ujar Rina tersenyum manis.


Sebenarnya ia ingin sekali menjambak rambut Rina tapi masih bisa menhan emosi yang hampir saja meledak. Rina dengan entengnya mendekati ibu mertuanya dan berjalan sambil mengelilingi Santi.


"Makasih ya ibu, untuk hari ini ibu penyelamat hidupku." kata Rina.


Rina langsung meninggalkan Santi, tapi dengan cepat ia langsung meraih tangan menantunya, Rina berusaha melepaskan tangan dari ngenggaman tangan Santi.


"Sebenarnya apa yang akan kau rencanakan? Kamu bakal durhaka kalau sampai melakukan nya!" ancam Santi.


"Durhaka? Durhaka sama siapa? Ibu?"


"Ibu yang durhaka kerena membiarkan anak anaknya melakuakan kesalahan tapi nggak pernah diingatkan, masalah ikut ikutan anaknya," sembur Rina.


Rina mengatakan itu sambil menarik tangannya dari tangan mertuanya yang di cengkram kuat sekali. Untung tanganya berhasil lepas dari cengkraman dari mertuanya. Ia mengusap pergelangan tanganya yang sakit, akibat ngenggaman tangan Santi yang kuat sekali.

__ADS_1


Rina melempar krikil ke jalan yang sepi. Ia masih ingat apa yang dikatakan oleh mertuanya, jadi sampai sekarang ia tidak pulang ke rumahnya. Ingin minta bantuan suaminya tidak mungkin mau, masalahnya Rey kalau dihubungi selalu mematikan hpnya. *


__ADS_2