BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Semua menyalahkan Santi


__ADS_3

Rina mendengarkan penjelasan dari adiknya terpekur. Ia tidak menyangka kalau Ningsih bakal datang hati ini, wajahnya terlihat pucat ketika Dio memberitahukan keadaan yang sebenarnya 


"Terus kita bagaimana? Apa kita bicara kalau Rani hamil sama kamu aja," Rina tiba tiba bicara itu pada Dio. 


Dio terdiam dari sebrang hp, ia tidak menyangka kalau kakaknya bakal bicara pada dirinya, kalau mau jujur ia juga ingin seperti itu tapi Santi tidak menginginkan semuanya. 


"Terus mertua kakak bagaimana?" 


Rina tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya, ia memejamkan matanya. Rina berjalan mondar mandir di taman yang berada di belakang rumahnya, sambil tanganya satunya memainkan dedaunan yang dipetik oleh tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang hp. 


"Kak, ada apa? Kakak masih disana kan?" Tanya Dio berlahan..


"Iya, sorry nggak fokus." Dio mendengar hembusan nafas Rina yang terdengar berat sekali. 


"Kak, apa yang kakak pikirkan cepat bertindak." 


"Semua gara gara ibu," sembur Rina mengepalkan tangannya..


Terlihat raut wajah Rina kesal sekali, akhirnya ia langsung memutuskan sambungan telpon nya. Dan ia menyimpulkan semuanya kalau ia dan ibunya harus melanjutkan rencana Santi, supaya sandiwara ini tidak ketahuan..


Sebenarnya kalau ia membiarkan Ningsih tahu sebenarnya, keadaan Rani otomatis itu sama saja dengan bunuh diri, ia juga merasa kesal pada Rey yang telah berani menghamili wanita lain. Sedangkan dirinya masih menunggu cinta Rey untuknya. 


Ia langsung masuk ke dalam rumah mencari ibunya. Tapi wanita yang dicari oleh nya tidak tahu dimana keberadaannya, Rina berusaha menelpon tapi Amanda tidak mengangkatnya. Dicari ke kamarnya, kamar kosong tidak ada orang. 


Masuk ke kamar Santi, Santi sedangkan asyik dengan persiapan yang ia lakukan sendiri tanpa melibatkan keluarganya. Secara siapa yang membantu persiapan Santi untuk menikahkan Rey dengan Rani. 


Ditambah lagi masalah Ningsih, Rina benar benar tidak habis pikir. Masalah datang saling bergantian satu sama lain, masalah ini belum selesai malah datang masalah yang lainnya. 


Akhirnya Rina masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan keras. 


"Aduh!" Teriak Rina spontan saat kepalanya terbentur ke dinding. 


Ia meringis kesakitan, tanganya mengusap kepalanya. 


"Iiih! Dasar! Nanaon nan maneh, nyeri nyaho!" ( Apa apa sih kamu, sakit tahu ) Teriak Ring dengan logat sundanya. 


Ia secara reflek memukul dinding yang terkena kepala dirinya. 


BUG! Pukulan keras menimpah dinding tembok kamarnya. Bukan dinding rumahnya yang berteriak keras, tapi mulut ditinyanyang berteriak keras ketika tinju mengenai dinding.

__ADS_1


"Awww! Berengsek!" Umpatnya kesal. 


Awalnya ia ingin mengumpat tapi keburu sadar kalau ia bicara dengan dinding. Kerena tadi ia kesal kerena mendengar apa yang diceritakan Dio, sebenarnya ia kesal pada Santi tapi ia tidak berani memarahi Santi biarpun Santi tadi kelihatan di kamarnya. 


Ia lebih baik masuk kamar dari pada harus bertengkar kembali dengan Santi.


Sedangkan di rumah Rani, Ningsih yang masuk kamar tidak langsung istirahat, ia menyandarkan pungungnya di bantal yang disandarkan di dinding. Zoya sudah keluar Ningsih yang menyuruhnya, wanita itu sebenarnya merasa heran kerena Dio yang lebih dulu datang bukan Rey.


Sedangkan waktu ia bertemu dengan Rey, Rey seperti terkejut sekali. Melihat kedatanganya, tapi ningsing langsung menepiskan perasaan itu. 


"Kalau memang Rey bukan suami Rani kenapa ia harus datang saat mendengar Rani jatuh?" Tanya hati Ningsih bertanya tanya.


Dan yang anehnya waktu ia melihat Dio dengan cepat memburu Rani yang duduk dilantai, Dio berusaha menolong Rani. Biarpun Rani menolaknya, tapi dia kekeh mencoba menolong Rani. 


Ningsih hanya mendesah mengingat semuanya. Ia sudah mengenal Dio sejak dulu juga, tapi Rani belum pernah mengenalkan Dio sebagai laki laki yang istimewa. 


Rey dan Rani masih di ruang tamu. Mereka.berdua menunggu Dio yang menelpon Rina. 


"Ibu kamu seperti mau menjebak kita!" Dengus Rani. 


"Entahlah, aku juga tidak tahu,''


"Apa ini yang diinginkan ibumu," lengking Rani tertahan. 


"Kayanya apa?" Potong Rani kendaran. 


"Kayanya ibuku sekarang mengharapkan kita menikah,"


"Jangan harap!" Dengus Rani tidak terima. 


"Aku cuma kasihan sama kak Rina sebagai istrimu,"lanjut  Rani lirih. 


"Kalau misal ibuku maksa kita menikah bagaimana?" Tanya Rey menyelidik.


"Kamu punya hati nggak sih! Gimana mungkin aku bisa menghadapi Rina dan keluarganya!" seru Rani tidak suka. 


"Buat apa kamu pertahankan kandunganmu kalau kamu tidak mengharapkan aku dalam hidupmu!" Hardik Rey tajam sambil mencengkram lengan Rani dengan kuatnya. 


Rani meringis kesakitan, ia juga menarik lengannya tapi tidak dilepaskan oleh Rey. 

__ADS_1


"Sakit!" Pekik Rani mengaduh kesakitan yang terpusat pada lengan yang di cwngkram kuat oleh Rey. 


Salah satu tangannya langsung memegang tangan Rey supaya melepaskan nya tapi Rey seperti tidak ada tanda tanda untuk melepaskannya. 


"Jawab!" Sembur Rey sambil melepaskan lengan Rani, tapi Rey juga agak mendorong lengan Rani. 


"Apa yang aku jawab?" 


"Kamu sebenarnya inginkan jadi istriku, lalu kamu pertahankan kandunganmu itu!"


"Pikiran picik!" 


"Aku nggak picik! Kamu yang picik!"


"Kamu ingin tahu jawaban kenapa aku mempertahankan janin in?"


"Kerena aku nggak mau menambah dosa besar membunuh janin yang tidak ada dosa sama sekali!"ketus Rani.


Rey awalnya ingin membalas kata-kata Rani, tapi tidak jadi kerena kebutu Ningsih keluar dsn duduk tidak jauh dari Rey. Matanya memandang wajah keduanya saling bergantian memandang satu sama lainnya, seingat Ningsih mereka duduk berdekatan, tapi sekarang ia melahap Rani duduk agak menjauh dari Rey. 


"Kalian kenapa?" Selidik Ningsih..


"Nggak apa apa kok, katanya Rani perutnya sakit." Rey asal bicara. 


"Lho kalau sakit ya kamu usap usap pungungnya dong masa diperhatikan saja, itu istrimu kan?" Perintah Ningsih heran pada kelakuan Rey dan Rani.


Mendengar alasan Rey, Rani melotot kearah Rey tapi ia hanya diam saja. Rey hanya menarik nafas dalam dalam dan berlahan menghembuskan nafasnya. Akhirnya ia mendekati Rani dan dengan ragunya ia menyentuh pungung Rani, Rani sedikit mengeserkan pungungnya kearah depan, Rey menatap wajah Rani..


Keduanya di perhatikan begitu tajam dan heran oleh Ningsih. 


"Kalian itu kaya bukan suami istri saja," tukas Ningsih masih heran. 


Deg! 


Hati Rani dan Rey hampir saja berhenti mendengar apa yang keluar dari bibir Ningsih, mau tidak mau akhirnya Rey mengelus pungung Rani dengan lembut. Hati Rey tiba tiba bergetar, ia seperti merasakan darah di dalam dadanya mengalir begitu cepat ke arah jantung. 


Rani yang enggan juga akhirnya merasakan ekusan tangan Rey. Dio yang sudah telpon Rina lanhsung masuk ke ruangan tamu, ia tertegun sesaat melihat Rey berdekatan dengan Rani ditambah lagi tangan Rey mengelus pungung Rani..


Ada gejolak hati yang tidak menerima kalau Rani begitu asyik disentuh oleh Rey. Saat Rey melihat Dio diambang pintu ia langsung menghentikan elusan dipunggung Rani. 

__ADS_1


Sedangkan Ningsih tersenyum penuh misteri di wajahnya. Ya ia sebenarnya heran melihat kelakuan Rey dan Rani di depan matanya. Kelakuannya seperti bukan suami istri saja. 


Sedangkan Dio hanya tersenyum samar, ia akhirnya duduk di kursi kosong satunya, berhadapan dengan Rey dan Rani. Rey akhirnya menghentikan elusan tanganya ke punggung Rani, kerena Rani menyuruhnya.*


__ADS_2