
Hari itu juga Rani pulang ke kampung, Zoya yang mengikutinya hanya bertanya tanya dalam hati. Senja tidak bisa mencegah Rani untuk kembali.
"Udah sore dek, nanti kamu kemaleman nyampe ke rumahnya." Bujuk Senja.
Tapi kata kata Senja tidak digubrisnya, Zoya hanya bisa mengangkat bahu tanpa ia tahu harus berbuat apa pada diri kakaknya.
Senja hanya mengangguk saja, ia tidak bisa mengantarkan Rani ke terminal, tapi Senja memberikan ongkos dan uang untuk di jalan.
"Kak, cerita dong biar aku nggak pusing!" Rajuk Zoya di bus.
Sampai bus yang ditumpangi mereka berjalan, Rani hanya diam saja sambil memejamkan matanya. Ada gejolak hatinya yang kini terluka oleh Rey.
Sedangkan Dio merasaa tersisihkan kerena Rani langsung pergi begitu saja saat itu juga tidak memberikan kesempatan pada dirinya, ia beberapa kali mendesah melihat perubahan yang terjadi pada Rani.
'Apa jangan jangan Raniasih cinta pada mas Rey,' gumam Dio.
'Ran, sampai kapan sih kamu mencintai laki laki itu!" Hati Dio perih seketika juga.
Ya Dio lamhsungnmwnysngka kalau Rani cemburu pada Rina yang ketahuan hamil anak Rey. Perubahan air wajah Rani terlihat berbeda dengan waktu mereka di rumah Senja.
Deg
Hati Dio seketika berdetak dengan keras sekali, mendengar apa yang Senja katakan. Rani langsung menatap wajahnya, begitu juga dengan nya. Mereka saling tatap satu sama lainnya, Dio pernah menipiskan apa yang Rani ucapkan kemarin.
"Ran kalau dia lupa bagaimana?" Tanya Dio menatap Rani waktu itu.
"Nggak mungkin lah lupa, masa lupa sih!" Protes Rani kesal.
"Bisa jadikan kalau dia lupa, di bukan anak ABG Ran, kamu masih terbayang dirinya buat apa coba," cerca Dio.
"Cukup! Kalau kamu nggak percaya jangan cerca aku, seharusnya kamu dukung aku!"
"Dukung apa coba!"
__ADS_1
Rani seketika diam. Ia langsung beranjak dari duduknya meninggalakan Dio yang ada di ruang tamu. Melihat Rani merajuk Dio hanya diam saja, ia tidak menyangka kalau Rani bakal seperti itu.
Ya sudah Dio malah pulang tidak menghampiri Rani, ia hanya memberikan waktu Rani untuk berpikir daripada mereka bertengkar hebat gara gara orang yang ia tidak kenal lebih baik Dio pulang.
Dio terhenyak apa yang dikatakan Senja barusan tadi. Ditatap wajah Rani yang menatap dirinya, ada senyuman di bibir Rani, Dio hanya mengangkat bahunya.
Mereka yang ada di teras itu tidak menyadari pada Dio dan Rani yang saling tatap satu sama lain. Mereka hanya mendengarkan apa yang senja katakan.
"Apa gara gara wanita itu, ayahmu nggak mau menemui Rani? Sepenting apakah wanita itu sih!" Ketus Rey sewot.
Menurut Rey ini hanya bertele tele, Surya lebih mementingkan urusan wanita itu sedangkan pada Rani ia seperti menghindar.
"Ayah janji nggak bakalan ketemu siapa pun kecuali wanita itu," lanjut Senja..
"Aku juga nggak tahu apa yang dilakukan wanita itu sampai ayah ingin bertemu dengan dirinya kembali," Hela Senja.
Hati Dio bergetar saat Senja yang ada disampingnya menceritakan tentang wanita itu. Senja tidak tahu kalau wanita yang diceritakan oleh Surya adalah Rani. Dan Surya tidak akan menemui Rani sebelum bertemu dengan wanita itu. Rani yang mendengarkan semuanya hanya menelan ludah tanpa haus.
Dio menatao wajah Rani yang menunduk. Kerena jarak mereka jauh, Dio hanya mendesah, ingin rasanya ia mengelus tangan Rani kerena ia tahu Rani butuh dukungan.
"Berati kakak nggak bisa ngasih tahu kalau kami kesini untuk bertemu dengan ayah kakak?'' tanya Rey menatap Senja.
"Akan aku coba menghubungi ayah, kalau berhasil Alhamdulillah tapi kalau gagal maaf aku nggak bisa lagi bantu kalian." Kata Senja.
Wanita itu kemudian langsung menghubungi Surya. Tapi orang yang dihubungi tidak pernah mengangkat hpnya, beberapa kali Senja melakukan panggilan tapi tetap saja Surya tidak pernah mengangkat hpnya.
"Mana nomornya?" Pinta Rey gusar.
Rey sangat gusar melihat Senja beberapa beberapa kali tidak bisa menghubungi Surya. Ia yang melihatnya langsung meminta nomor Surya, Senja memberikan nomor ayahnya. Dan Rey menelponnya tapi nihil.
"Kak, kalau kakak tahu tempat ayah aku ingin menemui nya sekarang!"
"Tapi dek!
__ADS_1
"Kak, jangan cegah aku menemui ayah! Ayah lagi mencari wanita itu? Buat apa?!" Teriak Rani gusar.
"Entah lah!"
"Sekarang aku minta alamatnya, masa kakak anak yang bareng hidupnya nggak tahu tempat dimana ayah!" Ketus Rani.
Rani sebenarnya ingin cerita tapi bibirnya Kelu untuk menceritakan kejadian itu. Kalau memang apa yang Senja katakan itu benar, maka Surya sekarang sedang menanti dirinya. Dan itu yang ia lakukan demi bertemu dengan Surya.
"Iya, kak. Kalau kakak tahu lebih baik berikan alamat pak Surya." Bujuk Dio mendukung Rani.
"Dio kita jangan gegabah!" Teriak Rey tidak suka.
"Kak, kalau kita nggak gerak kita bakalan menyesal. Pak Surya sudah tahu alamat Rani, kapan kapan ia bakal menculik Anindya dsn membunuhnya." Kata Dio tegas.
"Apa kakak ingin kehilangan Anindya! Hanya yang bisa menyelamatkan Anindya dari Surya adalah Rani." Lanjut Dio.
Kata kata Dio langsung membungkamkan semua yang ada di teras rumah Senja. Rani yang mendengarkan Dio bicara tegas itu hanya terhenyak ia tidak menyangka kalau Dio bakal melakukan itu pada dirinya tanpa cerita sedikitpun masalah dirinya dengan laki laki yang pernah ia temui dan di tolong.
"Dio kamu nggak ngerti! Kamu nggak tahu Surya." Teriak Rey marah.
"Rey! Aku bisa jag aku sendiri. Aku juga hanya ingin menyelamatkan Anindya. Aku nggak peduli apa yang ayah lakukan padaku yang penting Anindya selamat!" Bela Rani pada Dio.
Dio menatap Rey dengan emosinya. Ia tahu sebenarnya Rey menyembunyikan perasaannya pada dirinya, tapi ia tidak ingin kalau Rey ada perasaan lagi ada dirinya.
"Aku nggak bela Dio, apa yang Dio katakan sebenarnya apa.adanya. Kakau aku telat sedikit menemui ayah, Anindya jadi taruhannya, atau kamu ingin Anindya jadi taruhannya?" Tanya Rani menghujam hati Rey.
"Aku hanya ingin Anindya hidup sampai kapanpun juga. Aku rela demi Anindya menukarkan nyawaku." Ujar Rani berapai rapi.
Dio terdiam ia tidak menyangka Rani yang ia kenal bakal berkata begitu ya demi Anindya Putri Rani.
Dio menatap wajah Rani, sebuah kejujuran terukir dalam raut wajah Rani, ia tidak menduga kalau kasih sayang Rani begitu tulus pada Anindya Putri yang tidak pernah Rey akui.
Tapi ia nyakin kalau Rey sebenarnya mengakui Anindya putrinya tapi Rey tetap harus menjaga hati Rina yang notabennya istri Saha Rey dimata Allah dan manusia.
__ADS_1
Dio menghela nafas panjang, dan sekarang ia merasa kalau Rani masih menyembunyikan perasaan pada Rey. Ia yang kini merasa sakit saat tahu Rani tidak pernah mengubris hatinya.*