BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Ketakutan Terbesar


__ADS_3

Rani tanpa shock mendengar pertengkaran Dio dsn Rey di ruangan kepal perpustakaan. Ia langsung balik lagi ke Fung perpustakaan hanya ingin menenangkan perasaanya, tapi jantungnya tidak bisa tenang sama sekali.


"Aku tunggu kamu di ruangan ku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Rey tegas.


Waktu itu ia sedang membuat pembatas buku yang terbuat dari karton bekas. Dari pembuatan katalog kartu, dari pada dibuang lebih baik digunakan lebih bermanfaat.


Sebenarnya Rani malas menuju ruangan Rey, yang sebenarnya tidak jauh dari ruangan perpustakaan. Hanya naik tangga sedikit saja.


Akhirnya ia pergi ke ruangan Rey. Tapi sebelum mengetuk pintu Rani berhenti dulu dibalik pintu dan tidak jadi mengetik pintunya tangan yang awalnya akan mengetuk pintu ditarik lagi.


"Dia anakku Dio! Aku berhak menjadikan dia sebagai apapun juga!" teriak Rey sambil.mwngenrak mejanya dengan keras.


"Aku nggak pernah mengakui itu anak aku kak, tapi pikir apa yang Rani lakukan itu benar," balas Dio keras ia tidak mau kalah.


"Kak, jangan egois! Dulu kakak ingin membunuh anak itu, tapi sekarang kakak mau mengambil anak itu," lanjut Dio berang sekali..


"Itu hak aku. Dia anakku?"


"Anak? Sejak kapan kakak mengakui itu anak kakak? Aku ingat kakak lah yang berusaha mengugurkan anak itu, tapi Rani mempertahankannya!" Dio tidak kalah marahnya pada Rey.


Rey yang mendengar balasan teriakan Dio hanya diam saja, memang selam ini ia salah kerena itu hanya ketakutan terbesar dirinya saja. Ia takut kalau keluarga Rina mengetahuinya, dan rencana itu gagal.


"Kenapa diam?"


"Kak, aku nggak izinkan anak itu ada ditangan kakak,"


"Aku nggak mau anak itu menyebut aku om, aku hanya mau anak itu menyebut aku ayah itu saj," ketus Dio sinis.


"Bangsat! Aku yang bikin kamu yang enak saja!" terik Rey marah.


"Itu kakak mengaku kalau anak itu bikin kakak tapi kenapa kakak ingin mengugurkan anak itu, dan tidak pernah melihat penderitaan ibunya," protes Dio.


"Diam kamu adik nggak tahu untung!" hardik Rey kewalahan.


"Keluar!" terik Rey sambil beranjak dari tempat duduk dan mengebrak meja untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Dio yang melihat itu hanya menatap sinis, dan ia pun pergi meninggalkan ruangan kakak iparnya.


Sedangkan Rani yang berada dibalik pintu lanhsung pergi begitu saja menghindar dari penglihatan Dio dan Rey. Ia tidak ingin kedua kakak dan adik ipar tahu kalau dirinya mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


Yupz!.


Untung Rani dengan cepat langsung ke ruang masuk ke ruangan perpustakaan sebelum Dio melihat kedatangannya, di ruangannya ia duduk di kursi dan tanganya langsung meraih beberapa lembar kertas bekas katalog.


Hati Rani berdetak dengan keras ketika Dio datang menghampirinya, dan tiba tiba Dio memeluk tubuh dirinya dengan erat. Rani berusaha melepaskan pelukan Dio tapi dia tidak melepaskan pelukannya.


Rani bernafas lega sih! Kerena ruangan perpustakaan sepi pengunjung jadi ia membiarkan Dio memeluk tubuhnya. Ia tahu kalau Dio butuh sandaran dari dirinya, sebenarnya ia ingin menanyakan di ruangan Rey tapi niatnya diurungkan.


'Dio, maafkan aku kerena aku kamu bertengkar dengan Rey,' bisik hati Rani getir.


"Dio kamu kenapa?" tanya Rani berusaha melepaskan pelukannya.


"Aku akan berusaha bela kamu Ran, sampai kapanpun juga." bisik Dio lembut ditelinga Rani.


Rani hanya diam saja mendengar bisikan Dio, ia tidak menanyakan pada Dio tentang percakapan yang di dengarnya.


BRAK!


Tiba tiba meja yang dekat dengan Rani di sepak begitu saja oleh seseorang, Rani dan Dio kaget seketika juga mendengar suara keras yang terdengar, keduanya langsung melihat siapa orang yang menyepak meja.


Rani lemas sekali kerena Rey berdiri di depannya dengan tatapan yang tidak bersahabat sama sekali.


"Aku ingin bicara sama kamu!" teriak Rey sambil menghampiri Rani dan menarik tangan Rani.


Rani sangat terkejut sekali tanganya di tarik begitu saja oleh Rey hampir saja ia terjatuh, Dio juga terjengkang kerena kursi yang ia duduki tersepek.oleh Rani. Untung Rani tidak apa apa, yang melihat Dio terjatuh Rani lanhsung menepiskan tangannya dari tangannya dari Rey tapi tidak berhasil.


Rey terus menarik tangan Rani ke ruangan nya tanpa memperhatikan Rani sedikitpun yang kerepotan harus mensejajarkan jalan dengan Rey apalagi jalan di tangga.


Dio yang tersungkur langsung bangkit. Tapi terlambat, Rani dsn Rey telah masuk ke ruangannya.


"Kamu duduk," perintah Rey menunjuk ke kursi.

__ADS_1


"Apa yang kau ingin bicarakan?" tatap Rani bertanya pada Rey.


Ia takut sebenarnya kalau Rey membicarakan yang telah ia bicarakan pada Dio tadi, tapi perasaannya itu ia tepiskan begitu saja kerena tidak mungkin Rey bakal melakukan itu, apalagi? ah! desahnya.


Rina akhirnya duduk di kursi berhadapan dengan Rey yang duduk di kursinya sendiri sambil tanganya berada di atas meja, sedangkan tangan Rani berada diatas pahanya, sambil jari tangannya dimainkan.


"Ran, bicara kamu butuh uang berapa dari aku dan Rina." tatap Rey tajam.


Rey melihat ada kejut dimata Rani saat wanita yang ada dihadapannya mendengar apa yang ia katakan.


"Maksudmu?"


"Berikan anak itu padaku, akan aku kasih uang kamu, pokoknya kamu minta berapapun juga aku siap,"


Rani tidak terkejut saat Rey mengucapakan tentang anak itu, dugaannya benar kalau Rey mengajak dirinya ruangan Rey hanya untuk anak dalam kandungan..


"Aku hanya butuh nyawamu saja Rey!" tegas Rani pelan tapi masih terdengar jelas.


"Kamu gila! Aku yang minta tapi kamu minta nyawaku!" ketus Rey masih belum.konek.


"Kamu yang gila bukan aku, kamu mau nggak korban nyawa buat anak ini," desak Rani sinis.


Rey membuang nafas berat ya. Ia terjebak dalam kata kata sendiri..


"Rey, aku nggak akan mengantikan bayi ini dengan uang, tapi aku rela menyerahkan nyawaku untuk dirinya," seru Rani.


"Nggak seperti kamu, awal kamu ingin mengugurkan tapi sekarang kamu ingin memiliki nya, apa itu tidak gila," hardik Rani gemas.


Masih terbayang kelakuan Rey pada dirinya maupun bayi yang ia kandung, lebih parah dari pada ibu tiri. Mendengar itu Rey hanya diam saja ia sama sekali tidak bisa bicara apa apa.


"Kamu bilang dia anakmu, aku nggak mungkin menutupinya Rey. Aku bakal katakan ke dunia ini memang anak kamu, bukan anak laki.laki lain tapi anak REY. Tapi kamu nggak pernah menganggap ia ada," ketus Rani panjang kali lebar bicara.


"Kamu ayah atau binatang sih, kucing harimau pada anaknya tidak membunuh sedangkan kamu bintang!" cerca Rani.


Rey hanya diam saja, akhirnya Rani beranjak dari tempat duduknya meninggalakan Rey yang masih termangu mendengarkan kat kata dan cercaan Rani pada dirinya.*

__ADS_1


__ADS_2