
Rani tidak menyangka kalau Rey masih mencintainya. Sejujurnya kalau ia berkata sebenarnya ia mencintai Rey lebih dari segalanya. Kalau ia tidak mencintai Rey mungkin ia tidak akan menyerahkan semua miliknya, tapi kata kata Rey seperti itu membuat dirinya terguncang sekali.
Seharusnya ia bahagia mendapatkan cinta Rey kembali, tapi semuanya tidak bisa.kembali.lagi seperti semula. Ia benar benar kecewa, kesal dan gamang pada Rey. Terlalu capai menghadapai semuanya.
'Kakau memang Rey marah, benci kenapa ia harus mengatakan itu dihadapannya? Tapi kalau ia mencintai dirinya kenapa Rey harus menyuruh ia mengugurkan anak dalam kandungannya? Kenapa Rey harus lakukan itu?' bisik hati Rani bergejolak.
Dio yang ada disamping Rani hanya termenung saja. Kata kata Rey bagaikan bom waktu yang meletus membuat hatinya hancur berkeping keping, mungkin bukan hanya hati dirinya yang hancur, hati kakaknya juga pasti bakal teriris iris kalau kakaknya mendengar pengakuan dari diri Rey.
Dio terduduk. Kaku. Begitu juga dengan Rani, Dio hanya mendengar Isak tangis Rani yang ditahan sedemikian rupa. Dio tidak tahu apa yang dirasakan oleh Rani.
Dio menghela nafas panjang mengeluarkan beban yang menghimpit hatinya.
"Kamu senang mendengarkan apa yang Rey katakan?" tanya Dio mengusik Rani.
"Pastilah kamu senang, kerena keinginan kamu hanya ingin menikah dengan Rey, tanpa melihat kakak aku yang bakal terluka,"lanjut Dio sinis.
"Aku nggak peduli apa yang kau katakan padaku, Dio. Aku nggak peduli!" terik Rani tajam menatap wajah Dio.
Rani langsung berdiri, tapi tiba tiba ia merasakan perutnya kram.
'Ya Allah kenapa ini harus terjadi?' tanya Rani dalam hatinya berbisik..
Saat ia merasakan perutnya sakit, ia berusaha menahan rasa sakit itu dan berusaha duduk di kursi yang ada di sampingnya. Untungnya Dio tidak memperhatikan Rani, ia hanya menundukkan pandangan menatap lantai keramik di ruangan perpustakaan.
Rani berusaha duduk di kursi, tapi tanganya mengelus perutnya yang terasa ngilu sekali.
"Iya nggak bakal peduli kerena.hagi kamu hanya untuk Rey!' terik Dio sambil berdiri dihadapan Rani.
Dio sebenarnya ingin kalau Rani tidak membahas Rey kembali dihadapannya tapi semuanya terlanjur.
__ADS_1
Sebenarnya Dio ingin kalau Rani berbohong mencintai dirinya itu lebih baik tapi keinginan Dio seperti tidak pernah digubrisnya oleh Rani.
"Dio kalau memang dia sayang aku kenapa dia harus menyuruh aku menghilangkan anak ini Dio!" terik Rani.
Rani meringis. Dio yang membalas teriakan Rani langsung menyentuh bahu Rani yang kesakitan.
"Aku nggak apa apa kok," ujar Rani menghindar.
Ia berusaha menghindar dari tangan Dio yang akan memegang tubuhnya. Tangan Dio hanya melayang di atas angin, akhirnya Dio mendesah melihat Rani seperti itu.
"Kamu lebih baik istirahat. Jangan banyak pikiran dulu ya," kata Dio lembut.
"Mau istirahat bagaiamana, nggak stres bagaimana, kalau kamu bikin aku seperti ini," sembur Rani menatap Dio tajam..
Dio hanya mengenal nafas mendengar apa yang Rani katakan pada dirinya. Dio langsung menarik kursi dan duduk di samping Rani, Rani awalnya akan pergi tapi Dio mencegah Rani dengan memegang tangan Rani. Rani hanya menghindar dari tangan Dio.
Rani akhirnya duduk kembali di kursi yang tadi ia tempati.
Dio mengusap bahu Rani lembut, wanita itu hanya diam saja. Dio merasa bersalah melihat Rani yang benar benar terpuruk oleh Rey. Bukan hanya Rani sih yang terpuruk, ia juga terpuruk oleh kelakuan Santi di rumahnya. Santi benar benar seperti berkuasa di rumahnya.
Dio masih ingat ketika Santi menyeret tubuh kakaknya, saat itu Rey juga belum datang entah kemana perginya. Santi dengan arogannya menunjukan gaun putih dihadapan dirinya, Rina, Amanda di ruang tamu..
"Aku ingin kalian tahu. Sebelum Rani lahiran aku ingin Rani menjadi istri kedua Rey!" suara Santi melengking keras sekali.
"Nggak aku nggak setuju, keputusan ibu. Ibu jangan sok mengatur pernikahan mas Rey dan Rani!" sembur Rani sambi berdiri..
Rina yang mengatakan itu sambil mengebrak meja dengan perasaan tertekan ia mengeluarkan uneg uneg dihatinya, ia tidak menyetujui apa yang akan Santi lakukan.
"Aku juga tidak setuju, Rey menikah dengan.wanita itu..Kamu ingat wanita itu sudah kamu biang jauh jauh tapi kenapa kamu menerima lagi!" sela Amanda dengan wajah merah padam.
__ADS_1
Ia merasa kalau kedatangan Santi bumerang bagi kehidupan anaknya. Ia jujur tidak suka kalau Rina menjadi istri pertama maupun kedua dari Rey, ia menikahkan Rina kerena ia ingin kalau Rina hanya untuk Rey seorang bukan untuk diduakan begitu saja.
"Terus mau kalian itu apa he!"
"Lebih baik aku.mekihat anakku menjadi janda daripada harus diduakan oleh anakmu,"
Dengan sengit dan keras Amanda mengucapakan kata kata tajam Itu Dihadaon Santi, Dio dan Rina. Dio yang hanya mendengarkan ocehan demi ocehan mereka.hanya diam saja kerena ia juga sebenarnya tidak mau ikut campur masalah rumah tangga kakaknya yang menurutnya seperti benang kusut.
"Ma, mama bilang apa. Apa mama bangga kalau lihat aku janda, dimana pikiran mama!" jerit Rina menatap ibunya dengan perasan tidak karuan sama sekali..
Apalagi mendengar kata kata mamanya seperti itu, seperti memberikan peluang untuk Santi menyuruh Rey menceraikan dirinya. Rina benar benar gusar atas keputusan ibunya itu.
Dulu seenaknya menyuruh menikah dan agak memaksa supaya ia menerima lamaran Rey laki laki yang tidak pernah ia temui Sam sekali. Dan sekarang saat hatinya ber paut pada Rey mamanya dengan gampang menyuruh ia cerai.
"Rin, kau jangan Buncin terhadap Rey! Rey memang nggak pernah menganggap kamu istri, kalau memang Rey menganggap kamu istri nggak mungkin kamu ditelantarkan begitu saja," ingat Amanda pada Rina.
"Tapi mas Rey masih suami aku ma, aku nggak peduli orang berkata apa tentang aku.lada mas Rey tapi aku tetap istrinya," Raung Rani..
Sekarang giliran Amanda yang tertohok.olwh kata kata yang dilancarkan oleh Rina, apa yang diucapak Rina memang benar ia adalah istri sah dari Rey bagaiamana pun juga, dsn Rina bisa.mwmiguskan apa yang ia lakukan pada Rey..
Amanda menatap Rina dengan perasan yang bagaimana, hatinya juga berontak pada apa yang keluar dari mulut Santi
"Dio, kamu kenapa?" tiba tiba Rani mengangetkan Dio yang hanya terdiam saja.
Dio hanya tersenyum disamarkan, ia tidak ingin Rani tahu persoalan yang terjadi pada keluarganya. Ia tidak mau menambah beban dan perasaan Rani.
"Nggak ada apa kok, aku minta maaf ya, sekarang kamu istirahat..Mau aku antar pulang?" tanya Dio perhatian.
Rani hanya mengelengkan.keoala saja, mendengar apa yang Dio ucapakan pada dirinya.
__ADS_1
"Aku nggak apa apa kok," senyum Rani.*