BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Surya ketemu Ningsih


__ADS_3

Sedangkan Vian dan Rani membawa Surya ke tempat yang aman. Di ruang guru, kerena disana memang tidak ada Rey sama sekali. Rani tidak tahu kalau Dio membawa Rey ke perpustakaan, kemungkina kalau Rani membawa Surya ke perpustakaan pasti mereka bertemu kembali di sana. 


Untungnya Rani membawa Surya ke ruang guru. Di ruang guru Surya hanya ingin bertemu dengan Vian, jadi mereka bicara di sana. 


Sedangkan Rani diam diam mendengarkan apa yang mereka bicarakan, ia sebenarnya ingin mengungkapkan sesuatu pada Surya ya mumpung laki laki itu ada di hadapanpannya. Kalau Surya balik lagi Rani juga harus mencari Surya kembali..


Itu yang dipikirkan oleh Rani sekarang bagaimana caranya ia mengungkapkan jati dirinya pada Surya, ia hanya ingin ada pengakuan dari Surya saja. Kerena bagaimanapun ia hanya ingin dianggap anak oleh Surya itu saja udah cukup untuknya. 


"Pak!" Seru Rani saat melihat Surya hendak beranjak dari tempat duduknya. 


Surya yang akan beranjak dari tempat duduknya langsung duduk kembali dan meemandang wajah Rani yang lembut itu. Rani langsung menghampiri Surya dengan hati berdebar debar sekali. Vian yang melihat itu mengerti dan mengangguk. 


Vian akhirnya pergi meninggalkan keduanya. Sedangkan Rani melirik kanan dan kiri, kerena saat itu semua guru ada di ruang guru. Ia ragu untuk membuka jati dirinya di hadapan Surya, apalagi banyak orang disana. Akhirnya Rani mengajak Surya ke tempat parkir, ya tempat parkir lenggang tidak ada orang lain yang bisa menguping pembicaraan mereka. 


Surya sebenarnya merasa heran kerena wanita yang pernah menolongnya mengajak ketemuan di tempat itu. 


"Neng, ada apa?" Ujar Surya saat mereka sudah sampai di tempat parkir. 


"Pak, boleh saya bicara dengan bapak empat mata saja," Rani meminta izin pada Surya dengan sopannya. 


"Ya, ada apa ya, saya tidak mwndugaa kalau kamu bakal minta tolong pada saya, insha Allah kalau saya bisa bakal saya penuhi." Surya berujar. 


Rani dan Surya duduk saling berhadapan satu sama lain tapi mereka duduk masih ada batas. 


"Pak, maaf  kalau saya lancang." Kata Rani ragu. 


Ada keraguan sebenarnya untuk menceritakan siapa dirinya, ia tidak peduli kalau tidak diakui juga yang penting ia sudah mengungkapkan. Biarpun Senja mengatakan kalau ayah memang susah percaya pada semua orang, ia berusaha untuk cerita pada Surya.


Surya mengangguk dan menunggu apa yang bakalan wanita yang ada dihadapannya ceritakan, tiba tiba laki laki itu seperti punya isyarat pada cerita yang bakal diceritakan oleh wanita yang ada dihadapannya..


Rani langsung mengeluarkan sebuah gambar waktu ia dan bapaknya sedang berada di taman. Rani dengan pelan tapi pasti memberikan gambar yang ada di tanganya, Surya yang melihat Rani menyodorkan selembar gambar di hadapannya langsung mengambil gambar itu dan melihat nya. 

__ADS_1


Mata Surya terbelalak saat melihat gambar di tanganya, pandangan matanya langsung menatap wajah Rani penuh tanda tanya. 


"Kamu kamu!" Teriak Surya emosi. 


Ia tidak menyangka kalau wanita di hadapannya. Melihat itu Rani hanya diam saja ia tidak bergeming saat Surya menyadari sesuatu dari Rani. 


"Ayah! Aku anak ayah, yang ayah tinggalkan dulu." Rani sukses menyambut nama Surya dengan sebutan ayah..


Surya begong dan mengucek ngucek matanya, ia tidak pernah menyangka kalau wanita yang ada di hadapannya menyebut ayah pada dirinya. 


"Yah, percaya lah dengan ku sekali ini saja. Ayah punya anak dari Ningsih, anak itu sudah benar," terhiang hiang suara Senja di telinga Surya. 


"Nggak nggak mungkin kamu anak ku, lalu lalu siapa laki laki yang ada di gambar ini bersama kamu," cerocos Surya tidak jelas. 


Pertanyaan dalam hati terlontar begitu saja, dari mulut Surya. Rani menatap Surya yang mulai tenang. 


"Aku bukan anak laki laki yang ada di gambar itu. Laki laki itu bapak yang telah mengurus aku waktu aku kecil, namanya bapak Ilham." Jawab Rani. 


"Nggak kamu bukan anakku, bukan." Terima Surya berdiri tapi mata nya masih menatap wajah Rani. 


"Ayah, waktu ayah meninggalkan ibu, waktu itu ibu sedang mengandung tapi ibu tidak menyadari kalau ia mengandung, kalau ayah tidak percaya ayah bisa datangi rumah ibu." Rani berusaha keras untuk membuka pikiran Surya. 


"Kalau kamu anak Ningsih, pwrtemukanlah saya dengan dirinya. Saya ingin bicara dengan dirinya bagaiamana?" 


Akhirnya Surya meminta izin untuk bertemu dengan Ningsih. Ajakan Surya untuk menemui ibunya oleh Rani disambut girang kerena bagaimana pun Ningsih kunci utama dari cerita tentang dirinya, apalagi kalau Amanda bisa membantu dirinya. 


Tanpa menunggu waktu lagi Rani langsung membawa Surya ke rumahnya, kerena ia tidak ingin menunggu waktu lagi. 


Sampai di rumah, Rani langsung menuju dalam rumah dan mencari ibunya Ningsih. 


"Kamu teriak teriak ada apa sih!" Ketus Ningsih pada Rani yang baru datang..

__ADS_1


Matanya langsung menatap dinding melihat jam yang ada di sana. Jam menunjukan pukul 11.35, Ningsih menatap heran pada Rani, "tumben jam segini udah pulang," bisik Ningsih menatap heran Rani. 


"Aku pulang lebih awal kerena ingin mengenalkan ibu pada seseorang," ujar Rani. 


Ia seperti tahu kalau ibunya kebingungan melihat dirinya pulang lebih awal dari biasanya. 


"Tamu? Tamu siapa?" Tanya Ningsih mengkerutkan wajahnya menatap wajah putrinya tajam..


"Ayo!" Ajak Rani langsung mengajak Ningsih untuk menemui Surya yang berada di ruangan tamu. 


Mau tidak mau Ningsih langsung menuju ke ruang tamu mengikuti putrinya. Saat tiba di ruang tamu matanya langsung terbelalak melihat siapa yang ada di ruanga tamu, ia tidak menyangka kalau orang yang selama ini menghilang muncul kembali di hadapannya. 


Ningsih masih mengingat biarpun ia sudah lama tidak berdua dengan laki laki yang ada dihadapannya, begitu juga dengan laki laki yang memandang wanita yang berdiri dihadapannya. 


Keduanya saling tatap, ada kerinduan yang terpendam saat itu. 


"Bu, ini ayah," uajr Rani pada Ningsih. 


"Ayah ini ibu," lanjut Rani menatap keduanya saling bergantian. 


"Mas Surya,"lirih Ningsih. 


Surya mengangguk. Ningsih langsung menubruk tubuh Surya, mereka saling pelukan melepaskan kerinduan yang telah terpendam lama, keduanya saling memeluk satu sama lainnya di perhatikan oleh Rani darimkejauhan. 


Tanpa di duga Senja yang muncul melihat ayahny memeluk Ningsih dengan erat ia hanya diam tidak bergeming sama sekali, dilubuk hatinya bahagia kalau ibu dan bapak nya bisa bertemu kembali. 


Senja juga melihat wajah Rani dari kejauhan begitu bahagia, ada binar binar senyuman di bibir Rani itunyang dilihat oleh Senja. 


"Ningsih banyak yang aku ingin ketahui dari kamu, sebenarnya," Surya ragu meneruskan apanyabgningin ia bicarakan. 


Ia menatap wajah Rani, Ningsih mengikuti tatapan Surya yang menatap wajah Rani. Sedangkan Senja oleh Surya tidak disadari kehadirannya kerena senja berada di belakang Ningsih dan Surya.*

__ADS_1


__ADS_2