BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Mencari Surya 1


__ADS_3

Rey langsung membawa rombongan ke alamat yang diberikan Senja, sebagai petunjuk tempat yang Senja sebutkan dekat dengan rumah sakit yang arah ke tol. 


Rey menuju terminal dari terminal ia lurus saja dan setelah turun dari tanjakan ia langsung mencari tanda yang diberikan Senja yaitu di bawah pohon beringin belok kanan menuju tempat tujuan. 


Tidak terlalu lama dari jalan raya, Rey langsung berhenti di depan sebuah perpustakaan. 


Tempat yang dituju oleh mereka terlihat penuh dengan tumbuhan yang bernuansa kampung. Bambu kuning tumbuh dengan subur di dekat jalan, sebuah bangunan yang kokoh berdiri di dekat sebuah lapangan. 


Deretan buku buku tersusun rapi. Rani yang seorang pustakawan begitu takjub melihat semua buku yang rapi. 


"Kaya perpustakaan ya?" Lirih Rani menatap Dio dengan mata berbinar. 


Orang yang ada di dalam mobil semuanya terdiam saja, saat melihat apa yang ada di hadapannya. Biarpun mobil yang di naiki mereka sudah lama berhenti tapi mereka.masih belum turun dari dalam mobil. Pandangan mata Rani dan yang lain masih menatap tajam ke jajaran buku yang rapi dan mengiurkan. 


"Wah! Tempat ini surganya para kutu buku," decak  Rina spontan 


Wanita  itu menatap tidak berkedip pada sebuah bangunan yang indah. Di depan ada aula terbuka, serta tempat bermain anak anak. 


"Ran apa emang Surya ada didalam?" Tanya Rina. 


Tapi pandangan matanya masih tertuju pada susunan buku buku yang tersusun rapi, ia benar benar takjub melihat semuanya itu. 


Bukan hanya Rina tapi Rani juga berdecak kagum, ada sebuah perpustakaan yang begitu sejuk dan indah sekali, Rani tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Rina, ia begitu hanyut didalam nuansa buku yang ada dihadapannya. 


"Ini apa Dio?" Tanya Rina dan Rani serempak. 


Kedua wanita itu terpesona sekali. Apalagi Rina yang memang kutu buku dan ia bakal betah diantara tumpukan buku buku yang ada di hadapannya. 


"Alamat ini yang diberikan kak Senja padaku tadi, apa aku kesasar ya?" Tanya Rani heran. 


"Tapi bener kok alamat ini yang kak senja katakan padaku tadi," Rani masih mengkerutkan wajahnya heran. 


Mereka turun dari Avanza menuju rumah paling mewah. Rumah itu berdiri dengan bangunan yang kokoh, Rani yang pertama kali turun hanya tertegun melihat pemandangan yang menyejukkan mata.

__ADS_1


Seorang remaja menghampiri rombongan Rani yang masih celingkukan di tempat. Sebenarnya Rani sudah membanyangkan tempat yang dituju sebuah tempat yang seram, dan angker kerena oramg memandang Surya sebagai orang yang disegani. 


"Assalamualaikum." Ucap remaja mengunakan kerudung dan jilbab panjang dengan tatapan matanya lembut dan halus. 


"Walaikumsalam," jawab Rani cepat diikuti yang lainnya. 


Remaja putri itu langsung mengulurkan tangan ke Rani dan Rina, sedangkan pada Dio dan Rey gadis itu menundukkan pandangan dan hanya menangkupkan tangan di dadanya. 


"Lho lho lho kok tangan aku nggak disalim sedangkan tangan Rina dan Rani disambut begitu?" Protes Rey tidak terima melihat prilaku gadis itu. 


"Maaf!" Ujarnya lirih. 


Tangan Rey langsung menyentuh bahu gadis itu, tapi dengan cepat Rani menahan tangan Rey. 


"Rey hargai dia, dek maaf kalau kedatangan kamu nggak membuat kamu nyaman." Rani melihat wajah gadis itu. 


Dio dan Rina yang melihat itu langsung menarik tangan Rey menjauhi tempat itu. 


Ia menyangka kalau tangannya kotor dsn gadis itu tidak mau salaman dengannya. Sedangkan Rey merasa kalau tangannya bersih sekali, ia tidak terima melihat gadis itu yang seenak saja mencuekan uluran tangannya. 


Seumur umur ia baru kali ini menemukan gadis yang tidak mau menggenggam tangannya. Otomatis ia marah, apalagi gadis itu umurnya lebih muda dengan dirinya. 


Sedangkan Rani dan gadis itu setelah Rey ditarik oleh adik dsn kakak ke tempat jauh dari mereka berdua. 


"De, maaf ya apa yang teman kakak lakukan sama Ade," beberapa kali Rani minta maaf. 


Ia malu pada gadis yang dihadapannya yang harus menerima tingkah buruk dari Rey. 


"Nggak apa apa kak, aku ngerti kok. Maaf, kakak dan teman teman kakak kesini untuk apa ya?" Tanya gadis itu. 


"Oya, nama saya Ana. Saya ponakan pemilik perpustakaan ini," tutur Ana sopan. 


"Dek, apa pak Surya ada disini?" Tanya Rani hati hati. 

__ADS_1


"Paman Surya, ada kok di dalam." Senyum Ana manis.


"Maaf ada keperluan apa ya kakak dsn teman teman kakak menemui paman Surya?" Kerenyit wajah Ana heran. 


Seingat dirinya paman tidak pernah menceritakan kalau ada tamu yang datang hari ini, apalagi ini hari Minggu. Kebanyakan yang datang ke perpustakaan itu adalah orang yang suka baca saja, tiba tiba ada perasaan yang lain yang menghinggapi hati Ana. 


Tapi gadis itu langsung menepiskan perasaan nya. 


"Kak, duduk dulu yuk di aula, sekalian ajak juga teman teman kakak," Ana menganjurkan Rani untuk menuju aula..


Ana langsung meninggalakan Rani yang menghampiri teman temannya, Rani mengajak Rey dsn yang lainnya untuk duduk di Aula kerena sudah diizinkan oleh Ana. 


"Mas Rey coba sih jangan kaya anak kecil!" Jerit Rina tidak suka. 


"Rey lagi. Tadi aku nggak mau ngajak kalian keren aaku Taku bakal kejadian keya gini, kamu lagi Rey jangan bikin onar sih!" Sewot Rani menghampiri Rey dan yang lainnya. 


"Kalau kamu seperti ini lebih baik kamu pulang saja, kamu nggak ada kepentingan kan kesini? Atau kamu ingin balas dendam pada ayah kerena ayah membunuh bapak kamu!'' sembur Rani berapai rapi. 


Rey yang ngamuk langsung berhenti mendengar kata kata Rani yang tajam menghantam hatinya. Ia langsung menatap wajah Rani, Rani membalas tatapan mata. 


Melihat gelagat yang tidak mengenakkan, Rina mengelus bahu Rey dengan lembut  dan Dio langsung memegang tangan Rani. 


Dio tidak ingin kalau antara Rey dsn Rani ada perang dihatinya, apalagi ini tempat baru buat mereka, tidak lucu kalau mereka harus bertengkar gara gara gadis berkerudung panjang bagaiakan kipas. 


Rey langsung beranjak dari tempat itu langsung pergi begitu saja, Rina mengikuti suamianya, sedangkan Rani hanya menghela nafas panjang, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat duduk yang ada ditempat itu. 


"Malu maluin kakakmu itu!" Hela panjang Rani terlihat kesal. 


"Seharusnya ia tahu," cerocos Rani kembali. 


Kalau saja Rey tidak membuat onar, ia benar benar takjub dan iri pada Ana hadisnyang baru saja ia temui. Gadis yang menurutnya baik, bisa menjaga mahkota dengan pakaiannya. Sedangkan dirinya malah menyerahkan semua pada orang yang tidak pernah bertangungjawab pada dirinya dan anaknya. 


Rani lanhsung mengusap cairan bening yang tiba tiba turun di pipinya, ia dengan cepat langsung mengusutnya takut Dio mengetahuinya. Tapi terlambat Dio tahu kalau Rani menangis diam diam tanpa sepengetahuan dirinya, Dio menganggam tangan Rani seperti memberikan motivasi pada Rani.*

__ADS_1


__ADS_2