BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Ada Apa dengan Rina 1


__ADS_3

Bukan hanya Rani saja yang merasa kehilangan Rina. Apalagi Amanda sang ibu dari Rina ia sangat kehilangan Rina, ya sejak Rani melahirkan. Rina seperti menghilang entah kemana, Amanda mencari tahu keberadaan Rina tapi wanita setengah baya itu harus mencari kemana? 


Kerena ia mencari rinanoada orang orang di sekitar tempat yang ia diami tapi tidak ada yang tahu. Ada kabar kalau Rina ke sebuah kota propinsi yang jarak nya juga 3-4 jam dari kampung yang ia diami. 


Tapi Amanda tidak putus asa, mencari Rina ke berbagai pelosok kampung maupun kecamatan yang dekat dengan kecamatan yang ia diami. Tapi keberadaan Rina sama sekali tidak diketahui sama sekali. 


Amanda juga tidak tahu kalau Rina menulis sesuatu di secari kertas sebagai tanda bukti. 


"Dio kita harus cari kakakmu, ibu heran kemana kakakmu perginya." 


"Ma, kita cari kemana?" Tanya Dio. 


"Kita cari kemana saja, ini gara gara Santi, sekarang Santi juga nggak ada lagi, apalagi dengan Rey!" Sembur Amanda geram pada kedua orang itu. 


Ya Amanda geram sejak kedatangan Santi, keluarganya bukan menjadi adem malah bagaikan neraka. Dan sekarang Rina seperti ditelan bumi hilang tanpa kabar, ditelpon hpnya tidak aktif begitu juga dengan Rey. Itu yang membuat Amanda gundah dan gulana, ia juga mau menanyakan kemana keberadaan Rina. 


"Ma, aku nyakin kak Rina baik baik saja disana," hibur Dio. 


"Hati mama nggak enak Dio. Kamu nggak merasakan perasaan seorang ibu!" Hardik Amanda kesal. 


"Ma, kak Rina juga pasti kalau ada apa apa telpon kita,"


PLAK


Amanda langsung memukul wajah Dio dengan kerasnya, saat Amanda mendengarkan apa yang Dio katakan pada dirinya. Amanda merasa kesal sekali, kerena Dio tidak bisa merasakan apa yang ia rasakan sama sekali. 


Dio hanya meringis sambil memegang pipinya yang terasa sakit dan panas, ia sama sekali tidak menduga kalau wanita yang melahirkan dirinya mukul dirinya dengan keras.  


"Seharusnya kamu adik laki laki bisa jaga kakak perempuan malah nggak tahu kakak pergi juga!" Bentak Amanda kesal. 


"Ma, kak Rina itu udah punya suami masa aku harus jaga kakak sih! Seharusnya jaga istri," lirih Dio. 


"Apa? Jaga istri? Kapan kamu punya istrinya? Sampai sekarang kamu belum menikah!" Teriak Amanda menatap Dio. 

__ADS_1


"Kan dulu udah,"protes Dio. 


"Mama mintanya sekarang bukan dulu. Kalau belum punya istri seharusnya jaga kakakmu dulu!" Ketus Amanda pada Dio. 


Dio hanya menarik nafas dalam dalam. Ia tidak ingin berdebat masalah istri dengan mamanya, nanti ujug ujungnya ia malah kesal juga sama Rani. Dio merasa heran kenapa hati Rani selalu tertutup untuknya, Dio membuang nafas kasar. 


"Mama ingin kamu cari kakakmu sampai ketemu!" Lengking Amanda marah. 


"Iya, aku usahakan. Paling aku nyarinya hari Minggu, insha Allah Sabtu besok ke Serang. Siapa tahu ia nyari kakaknya." Gumam Dio pasrah. 


'Kak, ada apa sih denganmu kak? Sampai kakak pergi dari rumah," bisik Dio sambil beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan ibunya. 


Amanda hanya bisa memandangi kepergian Dio, dengan perasaan campur baur. Ia merasa kehilangan Rina, anak pertamanya yang pergi begitu saja. 


Lalu ia beranjak meninggalkan ruangan tamu dan menuju teras belakang. Ia sering menghabiskan waktu di teras ini untuk bercanda riang dengan Rina. Ia menyesal kemarin kemarin waktu Rey menghamili Rani ia begitu menyanjung Rey kerena Rey punya anak dari wanita lain, sedangkan putri nya sendiri yang terguncang. 


Amanda mengeluarkan nafas kasar, seperti mengajarkan bebean dalam hati yang menghimpit dadanya. 


"Ma, kenapa sih mama seperti ini!" Sembur Rina. 


"Mama nggak nyangka ya kalau kamu wanita yang nggak bisa diharapakan oleh mama, masa seorang istri nggak mampu jaga suaminya." Hardik Amanda waktu itu. 


Ia benar benar kesal, kecewa pada Rina waktu mendengar Rey menghamili Rani. Ia menyalahkan Rina anaknya yang tidak bisa melayani Rey. Tapi kenyataannya malah Rey sendiri yang menolak dan tidak mau menyentuh anaknya. 


"Ma kenapa sih mama harus nyalahkan Rina lagi Rina lagi. Mas Rey yang selingkuh bukan aku, aku yang jadi korba bukan Rina," sembur Rina marah. 


Wajah Rina benar benar merah menatap ibunya saat ibunya selalu memojokan dirinya. 


"Seharusnya kamu yang mikir kenapa sampai Rani hamil sedangkan kamu sampai sekarang nggak?" Teriak Amanda. 


"Ma, seharusnya tanya pada Rey kenapa dia.nggak.mau menyentuh aku? Buat apa menikah kalau dia nya nggak pernah ngapa ngapain aku ma," 


Rina langsung menangis dihadapan Amanda. Ia sangat terpukul sekali mendengar apa yang Amanda keluarkan dalam mulutnya. 

__ADS_1


Pengakuan Rina tidak membuat Amanda bergeming sama sekali. Malah Amanda tetap menyalahkan Rina sebagai biang keladi dari rumah tangganya. 


"Kamu seharusnya sebegai istri bangaiaman cara merayu dan membuat suami semakin betah bersama kamu!" 


"Ma, terus salah Rina terus saja."


Rina benar benar terpuruk oleh kata kata Amanda, ibu sendiri menyalahkan dirinya apalagi orang lain. Ia sebenarnya juga tidak bisa.mwnolak atas perjodohan yang dilakukan oleh ibu dan mertuanya. 


Dan yang lebih sakit semuanya termasuk ibunya sendiri menyalahkan dirinya, sedangkan sama sama perempuan. 


'Kenapa wanita lain selalu menyalahkan wanita lain? Seharusnya wanita lain jadi pembela dengan wanita,' bisik hati Rina frustasi. 


Ia benar benar terpojok oleh wanita lain, termasuk ibunya. Sebenarnya yang Rina inginkan waktu itu dukungan ibunya bukan Kata kata pedas ibunya. 


"Ma, aku hanya ingin dukungan mama bukan mama menyalahkan aku saja," ujar Rina lirih. 


"Kenapa harus Rey yang mama bela. Terus siapa yang jadi anak mama yang sebenarnya," lanjut Rina menatap Amanda. 


Amanda hanya diam saat Rina melontarkan kata kata itu pada dirinya. Ia tidak menjawab kerena.apa yang dikatakan oleh Rina ada benarnya tidak 100%benar.


"Kalau mama seperti ini lebih baik aku pergi saja, kerena percuma juga menjelaskan kalau mama nggak pernah percaya sama aku," sembur Rina sewot..


Ia akhirnya meninggalkan Amanda yang menatap kepergian putrinya. 


Amanda menarik nafas dalam dalam lalu mengeluarkan kasar, kalau mengingat semua yang ia lakukan pada Rina. Ia.menyesal kenapa ia tidakembela Rina bagaiamana pun juga Rina adalah anaknya, anak kandung dirinya. 


'Maafkan mama sayang, mama khilaf selama ini,' gumam Amanda. 


Ia menatap teras belakang. Teras itu terasa sepi sekali tanpa Rina. 


'Rin, maafkan mama sayang. Kamu sekarang dimana? Ada apa dengan kamu sayang?' 


"Mama, jangan melamun kalau melamun nanti kaya ayam Dio lho," terhiang hiang candaan Rina sambil memeluk tubuh Amanda dengan eratnya. 

__ADS_1


Amanda lanhsung beranjak dari kursi yang ia duduki, ada perasaan kesal dalam hatinya kerena ia juga merasa bersalah pada Rina yang tidak pernah mengerti pada perasaan Rina.*


__ADS_2