BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Kisi Hati Rani


__ADS_3

Pagi cuacanya begitu sejuk sekali, sinar matahari bersinar dengan cahaya yang indah, burung burung bernyanyi dan menari diatas pohon yang rindang. 


Rani menatap beberapa buku yang tersusun sangat rapi. Hembusan angin meniup beberapa helai rambut Rani yang terikat, tapi anak anak rambut masih berkibar kibar tertiup angin jail. 


Ia duduk di kursinya, tapi tidak mengerjakan apa apa, di depannya Dio pun duduk di kursi, mereka duduk berhadapan hanya meja yang jadi pemisah diantara mereka berdua. 


"Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan lalu misal ayah menemui aku sebagai anak bapak." Rani menghela nafas. 


Rani bicara seperti itu, kerena mereka telah lam saling diam satu sam lain, bukanya Rani tidak ingin bicara tapi ia tidak punya topik pembicaraan yang bisa menjadikan obrolan diantara mereka. 


Ya Rani merasakan kelakuan diantara mereka berdua. Dio yang mendengarkan kata kata Rani ada reaksi dengan gerakan tubuhnya. Tapi mulut laki laki muda itu tidak berucapa apa apa. 


Sekarang masalah dengan Rey mulai turun, tidak seperti kemarin kemarin lagi, dan malah sekarang masalah ini makin rumit. Dibandingkan masalah yang ia hadapi kerena Rey menjadi perusuh saja, malah sekarang ditambah masalah lagi..


Informasi yang simpang siur membuat dirinya ragu untuk bertindak sendirian atau bertindak bersama dengan yang lain. Ya apa yang ia katakan pada kakaknya akan menjadikan bukti yang akurat kalau ia anak Surya bukan Ilham. 


Rani juga siap untuk tes DNA kalau memang itu dibutuhkan, atau Surya misalkan kekeh tidak mengakui dirinya sebagai anak Surya. 


Dio yang melihat Rani termenung langsung mengusap tangan Rani lembut, wanita itu hanya menghela nafas panjang dan dihembuskan secar kasar. 


Dio hanya mengkerutkan wajahnya mendengar kata kata Rani barusan, ia tidak mengerti apa yang Rani katakan. Kerena ia melihat dengan kepala sendiri kalau Surya memeluk tubuh Rani dengan erat sekali, ia hanya menduga kalau Surya telah tahu identitas Rani sebenarnya. 


Tapi saat Rani mengatakan kata kata seperti tadi, ia hanya bisa menatap wajah Rani dengan tajam. Ia masih penasaran kenapa Rani harus mengatakan perkataan itu dihadapannya. 


Rani hanya nyengir saat matanya beradu dengan mata Dio, terlihat wajah Dio penuh heran kerena ia mengucapakan kata kata tadi, ia baru sadar kaku Dio belum tahu masalah yang ia hadapi. 


Dio hanya tahu kalau ia dan ayah pergi itu saja. Akhirnya Rani menepuk tangan Dio yang ada di tanganya, sambil tersenyum manis. 


"Ayah belum tahu aku anaknya, ia datang sebenarnya hanya ingin ketemu wanita yang menolongnya itu saja." Jelas Rani..


"Jadi pak Surya menemui kamu hanya itu saja, bukan menemui kamu sebagai anaknya?" Tanya Dio heran. 


Ia tidak menyangka jawaban dari Rani membuat dirinya geleng gelengkan kepala dan garuk garuk kepal saja. 

__ADS_1


"Ya begitu lah," ujar Rani sambil melepaskan tangan nya dari ngenggaman tangan Dio. 


Dio tidak bisa mencegah saat tangan dirinya dilepas begitu saja." Terus kamu nggak cerita apa apa tentang diri kamu pada pak Surya?" 


"Aku ragu buat cerita, aku takut kalau ayah nggak percaya sam aku." 


"Terus waktu kalian ketemu peluk peluk kamu ngapain?'' ketus Dio. 


Ia bukan cemburu kalau Rani dipeluk Sam Surya, cuma Dio heran saja kenapa rani tidak langsung cerita kalau dirinya adalah anak dari Surya bukan diam saja. Dio benar benar tidak habis pikir pada Rani..


Rani hanya manyun saja mendengar suara Dio yang bernada ketus. 


"Aku nyakin kalau ayah hanya ingin menemui yang menolongnya saja, ayah cuma mencari informasi tentang Rani yang menolong dirinya," kata Rani. 


"Brengsek!" Maki Dio agak kesal. 


"Aku sekarang hanya ingin menemui dengan identitas anaknya sekarang. Kaku kemarinkan identitas Rani sang penolong," seloroh Rani tersenyum..


Ia tersenyum hanya menutupi hatinya yang tidak bisa move off dari pertemuan antara dirinya dengan Surya. 


"Iya sih itu bagimu, aku hanya khawatir kalau ayahmu menculik Anindya lagi," lirih Dio menatap Rani. 


"Makanya aku ingin ketemu dengan ayah secepatnya, sebelum terlambat. Aku nyakin kalau ayah masih mencari jejak anak Surya," tandas Rani menekan pembicaranya. 


"Kamu bisa minta bantuan Vian saja, kan kemarin juga ayahmu ke sekolah," ujar Rani. 


"Ayah hanya nyari Vian, bukan aku. Hanya Vian cerita kalau aku ada disini, masalhnya Vian menyebut namaku, dugaan Vian sama dengan dugaan kamu Dio." Tegas Rani. 


Apa yang di katakan Rani pada Dio tentang Vian benar juga. Vian sebenarnya menyangka kalau Surya dan Rani telah bertemu sebagai ayah dan anak tapi kenyataan nya tidak sama sekali. Vian juga tidak mencari tahu apa yang terjadi, ia menganggap semuanya beres itu saja tanpa pikir panjang lagi. 


Dio hanya mengangguk angguk  saja kerena ia juga menyangka begitu dari awal Rani bertemu dengan Surya..


"Rencanamu?" 

__ADS_1


"Aku pengen aku yang menemui ayah, tapi aku menemui ayah bagaimana kalau ayah tidak pernah ada ditempat," Rani mengeluh. 


Dio memahami apa yang diucapkan Rani, bukan sekali dua kali mereka ke rumah Surya tapi hasilnya nihil. Malah Senja juga sekarang ada di rumah Rani, ia juga sebenarnya heran sama Senja. Tidak heran bagaiamana senja malah betah dengan Rani dibandingkan dengan mamanya. 


Tapi Dio tidak menyakan masalah itu kerena ia takut merusak suasana hati semuanya, hanya hatinya bertanya tanya tanpa ada jawaban yang pasti. 


"Kak Senja bagaimana?''


"Kak Senja? Kemarin kita juga minta bantuan kak Senja tapi hasilnya nihil saja Dio. Tempat yang ditunjukan kak Senja tidak membuahkan hasil yang memuaskan sama sekali, aku takut apa yang kamu pikirkan itu terulang," lirih Rani seperti pasrah seperti itu. 


Ya wajar kalau Rani punya ketakutan seperti itu, kerena waktu minta bantuan Senja sekali gagal. Bukan Senja tidak bantu, tapi keren aorangnyang dicarinya sama sekali tidak ditemukan. Dan saat ditemukan malah Surya menemui Rani bukan sebagai anaknya tapi sebagai penolong Surya. 


Dio hanya bisa garuk garuk kepala. 


"Aku nyakin kalau aku kesana lagi pasti gagal lagi," ujar Rani..


"Ran, kamu jangan pesimis seperti itu. Mana rank yang selalu optimis, selalu semangat." Kata Dio memberikan sengat. 


"Percuma Dio." 


"Jangan bilang percuma, siapa tahu sekarang nggak lagi, bagaiamana mau coba besok?" 


Rani menghela nafas panjang mendengar dukungan yang diberikan oleh Dio. Rani hanya mengangguk saja menyetujui apa yang Dio rencanakan.


"Bilang kak Senja?" Tanya Dio menatap Rani. 


"Ya kak Senja ikut lah, bagiamana pun ia sudah terlalu jauh ikut semuanya salah kita," Rani menyalahkan dirinya. 


"Jangan menyalahkan sendiri," Dio menyadarkan Rani. 


"Bukan menyalahkan sendiri Dio tapi kenyataan nya seperti ini, Hela Rani agak kesal pada diri sendiri. 


"Kalau saja ibu dan mama kamu nggak ketemu mungkin aku nggak seperti ini mencari ayah, nggak tahun ayah." 

__ADS_1


"Rani, sudah jangan sesali semuanya, ini sudah jalan kamu sendiri." Sanggah Dio supaya Rani tidak melanjutkan bicaranya.


Rani langsung diam. Apalagi bel pulang berbunyi dengan nyaring sekali, ya kerena ini hari Jum'at makanya anak anak pulang jam 11.00.*


__ADS_2