BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Adzan dan Iqamah


__ADS_3

"Aduh! Sakit!" jerit Rani tertahan.


Rey shock saat melihat tubuh Rani terbentur rak buku, dan yang lebih kaget laki laki laki itu melihat cairan yang keluar diantara dua paha Rani.


Rani mengerang kesakitan, tubuh Rey sangat gemetar sekali.melihat kejadian yang tidak pernah duga. Dio yang melewati ruangan perpustakaan sempat terkejut melihat Rani kesakitan, ia melirik Rey yang diam saja. Dio langsung menolong Rani dan membawanya ke PKM terdekat.


Wajah Rani pucat, ia meringis kesakitan, Dio sangat khawatir sekali. Bukannya langsung membawa Rani, Dio mewah menarik Rey untuk menemani Rani. Rey hanya diam saja ia tidak berkomentar sama sekali, Rey akhirnya masuk.ke mobil dibelakang bersama Rani yang masih mengerang kesakitan. Sambil tanganya memengang perutnya.


Dengan berlahan akhirnya Dio mengendarai mobil menuju PKM. Ketika sampai Bidan langsung memasukan Rani ke ruangan bersalin, wajah Dio sangatlah risau sekali takut kenapa kenapa.


"Bu bidan, emang udah waktunya lahiran?" tanya Dio ketika salah satu bidan keluar dari ruangan bersalin.


"Terpaksa, takut terjadi apa apa, kerena ketubannya sudah pecah dsn mengalir terus?" kata bidan itu sambil tersenyum.


"Bapak suaminya?" lanjut Bidan menatap Dio yang terlihat rusuh.


"Iya Bu bidan, saya suaminya, bagaimana istri saya, bisa lahiran normal?" kata Dio cepat.


"Kita berdoa saja ya, semoga istri bapak tidak kenapa kenapa dan lancar dalam persalinannya," ujar bidan itu.


Rey hanya diam saja mendengarkan percakapan bidan dan Dio, ia juga sebenarnya sedang menenangkan jantungnya yang berdetak keras, terbayang saat ia mendorong tubuh Rani. Kalau tahu akan seperti ini ia tidak akan mendorong tubuh nya tapi semuanya terlambat.


"Ibu sabar ya jangan mengejan dulu," kata bidan dengan sabar.


"Kenapa nggak boleh mengejan Bu bid, aku nggak kuat," rintih Rani meringis.


"Masih pembukaan 4, untung cairan ketubannya masih banyak hanya jadi ibu bisa tenang.


"Terus harus sampe pembukaan berapa? tanya Rani.


"Pembukaan 10, itu pembukaan yang disarankan. ibu jangan mengejan ya," nasehat bidan itu sabar.


Rani pasrah!

__ADS_1


Pembukaan 4 sudah seperti ini apalagi pembukaan 10. Rani meneteskan cairan bening yang keluar dari kelopak matanya.


Keringat keluar dengan derasnya membasahi tubuh dan wajahnya, beberapa kali bidan mengusapnya dengan lembut dengan lap bersih.


"Bu, kalau ingin cepat pembukaannya ibu harus jalan jalan," kata bidan memberikan saran.


"Nggak, sakit!" Dengus Rani.


Bidan itu meninggalkan Rani sendirian, ia hanya mengerang kesakitan tanpa ada orang disana, bayi dalam kandunganya bergerak terus seperti mencari jalan keluar.


Salah satu bidan muncul lagi, hanya duduk di kursi yang berbeda menemani Rani yang kesakitan kadang bidan itu memeriksa Rani, mengelus perut Rani, dan memijit pungungnya.


Saat bayi itu bergerak, perutnya terasa keras sekali, beberapa kali ia mengerang untung mengurangi sakit, tapi rasa sakit itu tidak bisa ditahannya.


Dio datang begitu juga dengan Rey, kedua laki laki itu langsung menghampiri Rani yang terbaring dengan posisi miring ke kiri.


"Kamu kenapa kesini?" ketus Rani menatap Rey.


Mata Rani melirik bidan yang ada di ruangan itu, tapi bidan itu hanya menulis entah apa yang ditulis apa.


"Maaf ya kalau ribut lebih baik kalian keluar!" suara tegas bidan terdengar dengan nyaring sekali.


"Maaf Bu bidan," kata Dio kikuk. Matanya langsung memandang Rey dan Rani.


Tapi keduanya diam seketika juga, saat bidan mengatakan jangan ada keributan di ruangan itu.


"Kak, sudahlah jangan ada keributan!" protes Dio sambil mengusap rambut Rani dengan lembutnya.


Tangan Dio juga mengusap pungung Rani dengan lembut, melihat itu Rey hanya diam saja dan kerena ia tidak tahan lagi melihat keakraban mereka akhirnya Rey meninggalakan keduanya, tapi sebelum Rey meninggalakan mereka, Dio berhasil memegang tangan Rey.


"Lebih baik kamu yang menunggu Rani, aku pulang dulu ngasih kabar pada ibu dan adiknya," kata Dio memberikan kesempatan pada Rey untuk menemani Rani..


"Dio jangan pergi," larang Rani.

__ADS_1


"Rey yang menemani kamu, Ran, aku pulang dulu ya."


Dio langsung pergi tanpa menunggu lagi, Rey akhirnya duduk di samping Rani dengan kursi yang ada disana.


Setelah Dio pergi di ruangan itu hanya mereka berdua saja, sebenarnya kalau Dio mau sih ia bisa telpon Ningsih untuk memberi tahukan keadaan Rani. Tapi Dio ingin memberikan kesempatan buat Rey berdua menemani Rani, ya Dio tahu yang dibutuhkan Rani sebenarnya diri Rey untuk melewati semuanya.


Rani merintih beberapa kali, ia berusaha menghilangkan rasa sakit dengan mengelus perutnya. Bidan yang menunggu Rani menyuruh Rey untuk memijat punggung Rani, Rey blank seketika. Rani tidak bisa menolaknya, kerena memang ia membutuhkan pijatan dari pungungnya.


Rey sebenarnya ragu untuk memijat Rani, tapi Rey berusaha memijit punggung Rani, Rani hanya diam saja. Hati Rey merasa iba saat ia menyentuh perut Rani yang besar apalagi saat ia merasakan gerakan bayi dalam rahim Rani.


Tidak lama setelah Dio pergi Ningsih datang dengan wajah cemas, begitu juga dengan Santi, ketika Dio ke rumah Rani ketika itu juga Santi sedang berbincang dengan Ningsih tanpa menunggu waktu mereka lanhsung menuju PKM untuk melihat Rani berjuang.


5 jam setelah menunggu Rani langsung mengejan saat ada satu desakan yang menghantam perutnya. Desakan yang sangat kuat dibawah perutnya, Rey yang berada di samping Rani terus berusaha memberi semangat untuk Rani mengejan.


Dio sengaja tidak datang kembali ke PKM, ia hanya ingin memberikan kesempatan buat Rey, bagaimanpun bayi itu anak biologis Rey.


Satu desakan kembali menghantam perut Rani, ia berusaha dengan sekuat tenaga mengejan dengan sisa sisa kekuatan yang telah hilang. Saat satu desakan itulah muncul dengan kuatnya, sampai Rani merasa perutnya meledak.


Bidan yang ada di sana memberikan aba aba untuk Rani supaya mengejan saat ada dorongan, biarpun beberapa kalian gagal tapi akhirnya ia berhasil mengeluarkan bayi perempuan yang cantik. Tangisan yang keras membuat Rey terpana melihat mahluk mungil itu hadir di dunia.


Setelah bayi dibersihkan, Santi langsung mengambil bayi itu dan memberikan pada Rey. Rey termangu melihat wajah bayi yang lucu dan imut, Santi mengangguk saat tatapan Rey menuju dirinya dengan ragu Rey memangku darah dagingnya, diikuti tatapan mata Rani yang tertegun.


"Adzan dan Iqamah lah ditelinga anakmu, Rey. Dia putrimu," bisik Santi lembut.


Rey meraih tubuh mungil itu dan mendekap di dadanya. Bayi itu menangis keras sekali, Rey hendak memberikan pada Santi tapi Santi mengelengkan kepalanya.


Akhirnya mau tidak mau Rey membaca lafadz adzan dan Iqamah di telinga bayi itu, seketika juga bayi manis dan cantik terdiam seketika juga. Rani mengusap cairan bening yang keluar dari kedua matanya, ada haru menyelimuti hatinya.


Rey menidurkan bayi mungil itu ditempatnya.


"Semoga Rey bisa menerima bayi perempuan ini, Rani. Kalian harus segera menikah dan membina keluarga yang bahagia," ujar Santi tersenyum.


"Bu," ketus Rey.

__ADS_1


"Kenapa? Dia anakmu, seharusnya kamu bahagia dengan kelahiran anak ini," protes Santi.


Rey tidak mau berdebat ia langsung pergi meninggalakan mereka. Rani melirik wajah Rey yang diam saja dan pergi begitu tanpa sepatah katapun juga. Tapi sebelum pulang ia mengusap rambut bayi perempuan itu dengan lembutnya.*


__ADS_2