
"Bapak!" panggil Anindya memanggil Dio..
Batita 15 bulan itu langsung berjalan menuju Dio yang sedang duduk sambil membaca buku. Dio tidak menyadari kalau mulut Batuta itu memanggil nama dirinya dengan sebutan bapak.
Rey yang mendengar Anindya menyebut nama bapak, hanya terdiam sebutan itu tidak pernah Anindya ucapakan pada dirinya sendiri.
Hati Rey gerimis mendengarnya, apalagi saat Anindya sampai ke arah Dio, batita itu memeluk kaki Dio.
"Bapak!" panggil Anindya sekali lagi.
"Nindy! Anak bapak Sholihah!" seru Dio langsung menggendong Anindya dengan penuh kasih sayang.
Rey menghampiri mereka berdua.
"Nindy!" panggil Rey meraih tangan Anindya tapi batita itu menangis histeris. Ada perasaan perih dihatinya saat melihat batita itu menangis.
Dio juga sempat kaget melihat reaksi Anindya yang tidak mau disentuh oleh Rey.
"Bapak! Bapak! Bapak!" tangis Anindya memeluk tubuh Dio dengan erat sekali. Dio langsung meninggalakan Rey dan membawa Anindya ke depan.
Setelah mereka pergi, Rey hanya termangu melihat Anindya seperti itu pada dirinya. Sedangkan pada Dio sepertinya begitu dekat sekali.
"Kenapa lagi Anindya?" tanya Rina.
"Anindya menangis kali didekati aku!" ujar Rey pada istrinya.
"Mas sadar nggak kalau dulu mas nggak pernah menerima Anindya, jadi wajah kalau ia tidak mau didekati oleh mas." pojok Rina sinis.
DEG
Hati Rey bergetar saat ia mendengar apa yang Rina katakan. Tiba tiba ia masih ingat saat ia tahu kalau Rani hamil.ia berusaha menyuruh Rani untuk mengugurkan Anindya tapi Rani tidak mau sama sekali, ia malah berhasil melahirkan anak itu.
Anindya sekarang berusia 1,5 tahun. Tidak ada yang mengajari batita itu untuk menyebut pada Dio bapak, termasuk Rani. Apalagi mereka belum menikah hanya saling menerima satu sama lain saja, rencananya insha Allah mereka menikah satu bulan lagi. Tapi Anindya sudah menyebut Dio bapak. sedangkan Rani menyebut Dio untuk Anindya adalah om Io.
Rey diam saja mendengarkan apa yang Rina katakan pada dirinya, sang istri mengusap lengan suamianya.
__ADS_1
"Ia tahu mana yang sayang sama dirinya, Dio lah yang menemani Rani pads masa masa itu." ujar Rina.
Rey langsung menepiskan tanganya dari tangan Rina ia langsung meninggalakan ruangan itu, membiarkan istri sendirian.
Rina hanya menatap kepergian sang suamianya, ia merasa kalau Rey rindu pada Anindya biarpun batita itu dekat dengannya, tapi batita itu seperti menolak kalau Rey mendekatinya. Sedangkan pada Dio Gadis itu menempel kaya prangko.
Di luar Dio dsn Anindya bermain dengan akrabnya. Tapi pagi Dio menjemput anindya untuk di bawa ke rumahnya, awalnya Rani tidak mengizinkan, tapi Dio memohon supaya Anindya dibawa..
Rani akhirnya mengizinkan Anindya dibawa ke rumah Amanda, dan mereka berdua bermain disana. Sedangkan Rani masih membereskan rumah.
"Rey aku mohon biar ia hidup Rey, aku nggak akan pernah menuntut tangungjawab mu, aku hanya ingin ia hidup," suara Rani terngiang di telinga Rey.
Ya Rey masih ingat kejadian itu! Rani sampai memohon supaya ia tetap dibiarkan hamil dan melahirkan bayi yang ia kandung. Sebenarnya Rey punya alasan yang telah Rani ketahui, alasan ia membunuh janin yang wanita itu kandung yaitu;
Rey tidak ingin dengan lahirnya bayi itu Rani menuntut haknya, tapi Rani janji tidak pernah menuntut hak Anindya.
Apa yang Rey inginkan sekarang diluluskan begitu saja oleh Rani. Ia juga tidak mau memberikan beban pada Rey tapi sekarang lah Rey sendiri lah yang merasa bersalah pada Anindya dan Rani.
Besok paginya Dio dan Rani bermuatan ke sebuah pemakaman yang tidak jauh dari rumah Rani. Rani dan Dio hanya berjalan mengunjungi pemakaman yang berada tidak jauh dari rumah.
Di pemakaman umum Rani dan Dio duduk sambil membaca tahlil diatas kuburan.
"Pak, makasih atas kasih sayang bapak yang Rani terima dari bapak. Rani nyakin kalau bapak sudah bahagia di surga Allah," ujar Rani getir.
__ADS_1
Tidak getir bagaimana, ia sejak kecil diasuh dan diurus oleh bapaknya sampai meninggal dan saat ia mendengar kenyataannya kalau dirinya bukan anak bapak.
Tapi ia bersyukur punya bapak yang baik seperti Ilham yang selalu sayang dan perhatian seperti pada anak sendiri sedangkan anak Ilham yang sebenarnya adalah Zoya.
Dio langsung berdiri dan dengan lembutnya Dio berkata pada Rani.
"Aku nyakin bapak orang baik, keren dengan itu Allah memanggil bapak.
Rani mengangguk dengan cepat, ia mengusap cairan yang keluar dari kelopak matanya. Sepoi Sepoi angin dengan halusnya memainkan kerudung yang digunakan oleh Rani.
Sepulang dari kuburan Dio mengajak Rani ke rumahnya kerena Amanda ingin bertemu dengan Anindya dan Rani, akhirnya Rani ke rumah Dio tapi disana ada Senja dan Ningsih.
"Kita semuanya menjenguk ayah," ujar Amanda menyebut Surya pada Rani dsn Senja yang ada di depannya..
Di kota kabupaten mereka.langsung ke tempat dituju sebuah lapas. Surya tidak menduga kalau kedua putrinya Senja dan Rani berserta keluarga menjenguk dirinya.
Surya dengan gembiranya ia memeluk tubuh Rani dengan erat sekali, sedangkan Senja hanya diam saja. Rani bahagia sekali kerena mendapatkan ayah kembali setelah bapak meninggalkan dirinya..
"Ayah, Rani kangen ayah!" bisik Rani pelan..
"Ayah juga kangen kamu sayang." jawab Surya meneteskan cairan bening.
Setelah menjenguk Surya mereka langsung ke alun alun, tadi tatapan mata Rey langsung tertuju pada Surya saat Surya dsn Rani berpelukan satu sama lainnya. I a melihat itu merasa bersalah telah membuat Surya di penjara, tapi hati nya membenarkan kalau semua yang harus dipertanggungjawabkan, apalagi Surya menjalani masa tahanan hanya 19 tahun tidak seimbang dengan kematian ayahnya Rey.
Tapi Rey merasa lega kerena ia bisa mengikhlaskan ayahnya pergi, dan ia memahami takdir yang dialami oleh ayahnya.
Sesampainya di alun alun, wajah Rey dengan jelas menatatap wajah Anindya yang di gendong oleh Dio, batita 15 bulan berceloteh tiang sekali. Ia menghampiri Anindya dan memegang tangan batita itu, tapi batita itu dengan cepat menghindar dari Rey. Ada perasan getir melihat Anindya menghindar..
"Apa kerena aku nggak pernah mengharapkan dirinya sampai sekarang Anindya tidak mengharapkan aku, sampai kapan?" bisik hati Rey pilu.
Rani yang melihat itu hanya menghela nafas, tatapan mereka beradu, tapi Rani langsung memalingkan mukanya kearah lain.
"Bapak!" celoteh Anindya sambil mencium wajah Dio.
Semua mata memandang kearah Dio dan Anindya, begitu juga dengan Rey. Hatinya teriris tapi ia tidak menyalahkan Anindya kerena Anindya tidak salah ia menyalahkan dirinya sendiri pada Anindya dan ibunya.
__ADS_1
"Anindya maafkan ayah!" bisik hati Rey.