BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Siasat 1


__ADS_3

"Ran, apa.kamu bisa menerima ide yang aku jalani?" tanya Adinda pada Rani ketika Rani meminta jalan keluarnya.


Ya kemarin Rani menelpon Adinda ingin mengatakan sesuatu, Adinda datang bersama Riri ke rumah Rani. Dan Rani menceritakan apa yang ia ketahui dan tentang surat yang ia temukan di kamar Dio.


Rani memberikan surat itu pada Adinda dan Riri mereka membaca surat dari Rani yang Rani bawa di rumah Dio, itu juga minta izin dulu pada Dio. Setelah diizinkan Rani langsung membawa secarik kertas itu.


Dio juga tidak menyangka kalau surat itu bakal ditunjukan pada Adinda dan Riri.


"Kira kira ide apa sih! Kalau aku bisa bakal aku lakukan," tegas Rani.


"Pura pura menikah dengan Dio, kalian pura pura mempersiapkan semuanya dengan Dio," tiba tiba Adinda mengatakan itu pada Rani.


Rani yang sedang menatap dedaunan terkejut sekali mendengar apa yang Adinda katakan pada dirinya.


"Menikah? Nggak aku nggak mau pernikahan dibuat main main, itu nggak boleh." ujar Rani menolak.


"Bukan,"


Adinda berpikir keras. Supaya tidak menyinggung perasaan Rani maupun Rina, jadi ia menjelaskan pada Rani untuk menikah dengan Dio dan mempersiapkan semuanya hanya untuk memancing Santi.


"Sandiwara!" ujar Rani..


Adinda mengangguk.


"Apa berhasil?" tiba tiba Riri ikut menimbrung percakapan mereka setelah keduanya saling diam satu sama lainnya..


"Semoga saja,"


Akhirnya Dio di telpon untuk membicarakan tentang siasat Adinda. Dio yang datang langsung mendengarkan apa yang diatur oleh Adinda.


"Aku pernah mengatakan ini pada mama, mama setuju, tapi waktu Santi tahu dia.makah marah marah kakang kabut tidak karuan." Dio akhirnya cerita peristiwa itu lada Adinda dan Rani.


Dio masih ingat peristiwa kemarin yang hampir terjadi pertengkaran hebat antara mama dan mertuanya Santi. Dio melihat kalau Santi seperti kebakaran jenggot saat mendengar rencana Dio dan Amanda waktu itu..


Adinda , Riri dan Rani hanya mendengarkan saja apa yang diceritakan Dio pada diri nya.


"Aku setuju ide kamu Din," Rani angkat bicara.

__ADS_1


"Aku bilang mama dulu, mama setuju kok ide yang aku ajukan kemarin. Ya mungkin mama sedikit kaget sih!" senyum Dio.


"Sedikit terkejut kenapa nggak nikahan sungguhan," canda Dio melirik wajah Rani.


Rani yang dekat dengan Dio langsung memukul lengan Dio keras, sampai Dio meringis kesakitan.


Dio tidak bisa menghindar, melihat Dio di pukul seperti itu Adinda dan Riri tersenyum lucu melihat kedekatan Rani dan Dio, dalam hati Adinda dan Riri sebenarnya setuju kalau mereka menikah sungguhan bukan sandiwara, tapi Adinda tahu kalau hati Rani mungkin hanya menganggap Dio sebagai teman saja tidak lebih.


"Tapi aku jelaskan pada mama kalau ini hanya sandiwara saja, mama juga sebenarnya nggak setuju ide dari mertuanya Rina. Kalau Rani sama Rey menikah otomatis Rina tersisihkan, itu yang tidak dinginkan kami." papar Dio pada ketiganya


"Ibu kamu.adakan Dio, lebih baik lebih cepat!" saran Adinda.


"Ya mama ada di rumah." angguk Dio..


"Lebih cepat lebih baik."


Anindya?"


"Aku yang nunggu, kamu tenang saja." Adinda menenangkan perasaan Rani..


Hari itu juga Rani dan Dio pergi menuju rumah Dio untuk bertemu dengan Amanda. Amanda terkejut sekali melihat Rani dan Dio datang ke rumahnya, Dio mengajak ibunya ke ruang tamu dan mengatakan maksud kedatangannya.


"Tapi kalau kalian benar juga mau menikah nggak apa apa kok!" senyum Amanda imut.


"Ibu, apa apaan sih!" ketus Rani.


"Ya dari pada kamu nunggu laki laki yang tidak pasti!" sindir Amanda cepat.


DEG!


Hati Rani berdetak dengan kerasnya mendengar sindiran dari Amanda, ia tahu kalau Amanda menyindir dirinya dan menyingung nama laki laki yang tidak terucap oleh Amanda sendiri. Rani tahu kalau Amanda melakukan itu hanya untuk mengingatkan dirinya, tapi bagaimana pun ia merasa sakit terkena sindiran dari Amanda yang tiba tiba sekali.


Dio yang dekat dengan ibunya lanhsung menyentuh tangan ibunya lembut. Dio tidak ingin gara gara sindiran Amanda rencana pernikahan sandiwara mereka gagal..


Ya Amanda tahu kalau Rey pernah menjadi bagian dari hidup Rani, tapi menurut Amanda itu hanya masa lalu yang seharusnya tidak pernah hadir kembali dimasa depan tapi kenyataannya malah sebaliknya..


"Trus gimana nih rencana kita?" potong Dio.

__ADS_1


Ditatap mata Rani dengan serius ya. Sedangkan Rani melirik Dio.


"Aku bagaimana ibu dsn kamu saja, aku hanya ingin mengikuti saja," Rani pasrah.


"Oke!"


Mereka sepakat untuk menjalankan rencana yang telah disusun oleh mereka sendiri. Kerena Santi juga sebenarnya tanpa ada izin Rani ia juga menyusun rencana yang tidak pernah Rani duga sam sekali, apalagi Rani.


Setelah melakukan diskusi dengan Amanda Rani pulang ke rumah. Untung Anindya tidak menangis malah anteng main dengan Adinda dan Riri.


Rani.menceitskan persiapan yang akan dilakukan oleh Amanda dan Dio, Adinda yang mendengarkan menyetujui siasat yang akan dijalani mereka.


"Semoga berhasil."


"Aku hanya ingin tahu gimana Santi kalau kamu menikah dengan Dio."


Rani mengangguk.


Di beda tempat.


Seorang wanita kepala 55, sedang hilir mudik tidak karuan sama sekali. Wajahnya kelihatan begitu cemas dan khawatir, matanya berkali kali melirik arah jalan besar. Wanita itu kadang berdiri, berjalan, jongkok, harum garum kepala tidak gatal, menyandarkan pungung di pohon, serta helaan nafas yang kuat dan panjang.


Sudah 2 jam ia menunggu seseorang tapi orang yang ditunggunya belum saja muncul dihadapannya, ia berusaha menghubungi orang itu tapi orang yang dihubungi sama sekali tidak mengaktifkan hpnya.


Ditempat yang sama seorang wanita muda kira kira 30 tahun memperhatikan wanita yang ada di sebrang jalan. Ia dengan jelas melihat kegundahan wanita 55 tahun itu.


"Bu, ibu kenal dengan wanita itu?" tanya wanita 30 tahun bertanya pada seorang wanita yang berjalan kearahnya.


"Saya nggak tahu, tapi tiap hari ia selalu mondar mandir disana. Kemarin juga begitu," ungkap seorang ibu lada wanita 30 tahun.


"Ibu sama sekali nggak kenal?" selidik wanita 30 tahun bertanya kembali.


"Atau ibu tahu apa yang dilakukan wanita itu,"lanjutnya sambil melihat kearah wanita yang ada di sebrang sana.


"Entah. Kurang tahu sih!"


Wanita 30 tahun hanya mengangguk saja. Wanita yang ditanya langsung pamit. Wanita itu hanya mengangguk mengizinkan wanita yang ditanya nya.

__ADS_1


"Aku bergerak sendiri sih! nggak pernah ngomong ini sebelumnya padanya," gumam wanita itu seperti menyesali apa yang ia lakukan.


Tapi wanita itu tidak pasrah begitu saja. Ia akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Dengan perasaan bertanya tanya dalam hatinya, mau bilang sam suaminya sang suami seperti tidak peduli lagi.*


__ADS_2