
"Kamu percaya begitu saja pada mereka?" tanya Dio ketika ia masuk ke perpustakaan.
Dio duduk di samping Rani yang sedang asyik dengan kerjaan di perpustakaan. Rani tidak segera menjawab pertanyaan Dio..
Rani sedang membuat beberapa katalog yang masih belum selesai. Ia membuat katalog judul kerena ada beberapa katalog yang hilang entah kemana, memang bjsa di kerjakan membuat di komputer tapi komputernya di ambil Rey sejak seminggu yang lalu, ya terpaksa ia mengerjakan secara manual saja.
Sebenarnya Dio tidak ingin menganggu aktifitas Rani, tapi hatinya selalu berontak ingin menanyakan hal yang kemarin kemarin yang telah terjadi ada diri Rani tentang ayah kandung Rani serta kakak kandung Rani maupun Rina.
"Entahlah aku juga nggak tahu, tapi aku kemarin telah bicara sama ibuku. Ibu mengatakan itu padaku,"
"Nggak mungkin kan ibu bohong, sedangkan waktu ketemu mama mu juga ibu ku terlihat kaget," lanjut Rani.
Dio hanya mendesah mendengarkan apa yang Rani katakan, sebenarnya hati Dio masih belum percaya seratus persen kerena tidak mungkin ada satu kisah yang sama dengan kisah yang sekarang Rani alami. Hanya bedanya Rani yang jadi korban, sedangkan kisah mereka Amanda yang jadi korban.
"Kok aneh ya kisah kalian sama, bedanya kalau dulu mama yang jadi kedua, sedangkan sekarang kamu yang jadi kedua," sela Dio heran.
"Entah, ada bedanya kok, kalau ayah menikahi mamamu sedangkan aku?" keluh Rani getir.
Rani tidak.mwneruskan.kata katanya, kisah mereka tidak sama menurutnya. Kalau mereka kisahnya seputar di madu, sedangkan dirinya hanya mencintai secara nafsu saja. Itu jadi pelajaran buat dirinya, pantas kalau misal ibunya kekeh menanyakan keberadaan anak itu. Rani hanya menarik nafas dalam dalam lalu menghembuskan kembali.
Dio mengusap bahu Rani dengan lembut. Ia mengerti kenapa Rani tidak melanjutkan kata-katanya kerena.mumgkin.kata kata yang tidak pantas diucapkan menurut Rani.
"Kamu baik baik saja kan," kata Dio..
Rani hanya.menganguk pelan tapi anggukkan kepala Rani terlihat oleh Dio. Sebelum Dio bicara tiba tiba mereka.mendemgar tepuk tangan di arah pintu perpustakaan, Dio dsn Rani langsung mengalihkan pandangan langsung ke pintu..
Rani mendesah saat melihat Rey dengan tatapan yang tidak bersahabat menatap dirinya dan Dio dengan tajam sekali..
"Jangan Jangan kalian sedang ngerumpi bagaimana cara nya cari Surya ya," tawa sinis Rey.
"Dio, kamu nggak ngerti ya, kamu udah dewasa kalau mikro kalau pikir panjang dulu,"olok Rey mengejek.
__ADS_1
"Maksud mas apa?" ketus Dio tidak mengerti..
"Rina menikah seharusnya kamu bukan walinya, tapi kenyataan nya apa?" ejek Rey.
Rey lupa atau tidak tahu sama sekali. Kalau Rina dan Dio adalah satu ibu dan bapak, jadi pantas kalau Dio menjadi wali nikah Rani. Atau Rey hanya memancing emosi Dio dan Rani.
"Mas, mas lupa ya aku dan kak Rina satu bapak, wajar kalau aku jadi wali nikah kak Rani, menikahkan dengan.mas yang bajingan!" Seru Dio murka.
"Mas lupa, kecuali kalau Rani menikah baru harus dipertanyakan walinya." Lanjut Dio menatap Rey..
Deg!
Hati Rey berdetak dengan keras sekali mendengar Dio menjelaskan tentang wali pernikahan Rina. Setahu Dio memang wali nikah dari seorang perempuan bisa dengan ayahnya, kakak, dan adik laki lakinya. Kalau misal semuanya tidak ada bisa kakek, paman dari pihak bapak.
Rey terdiam saat mendengarkan penjelasan tentang wali nikah Rina. Ia sebenarnya tidak fokus apa yang ia ucapakan kerena.ia lebih fokus memikirkan tentang ayah dari kakak Rina.
Rey menyangka kalau Rina adalah saudara Rani beda ayah. Tidak tahunya anak Surya yang beribu Amanda bukan lah Rina. Rey menelan ludah tanpa haus, ia baru mengerti. Kemarin ia sempat Blank tentang kisah mereka.
Rey hanya diam mendengarkan penjelasan Rani, ia tidak menyangka kalau Dio dsn Rani bisa.menjelaskanadlah wali nikah.
"Ah! Emang kamu mau nikah," timpal Rey.
Tanpa menunggu jawab Rey langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban yang dilontarkan oleh Rani. Rani hanya diam saja mendengar kata kata Rey, sedangkan Dio mengepalkan tangannya tandanya ia geram pada kata kata ia Rey lontarkan..
"Keputusanmu?" tatap Dio..
"Entah lah, aku juga tidak mau mencari tahu keberadaannya dulu, apalagi keadaanku seperti ini," kelu Rani mengelus perutnya.
"Aku siap mengantarkan kalau kamu mau,"
"Entahlah,"
__ADS_1
Rani langsung beranjak dari tempat duduknya membiarkan kerjaan di meja. Dio melihat Rani yang berjalan menuju rak buku yang tersusun rapi. Ia mengambil buku buku itu dan disimpan di meja, Dio hanya melihat kelakuan Rani.
Sedangkan Rina bersama amanda.sedabg duduk di belakang rumah. Amanda menceritakan semuanya pada Rina, ia hanya diam saja hatinya terasa kosong sekali.
"Pantes kalau aku kena hukum karma nggak tahunya mama juga merebut suami orang," ketus Rina.
Amanda diam seketika juga saat Rina bicara itu. Sebenarnya Amanda tidak menyangka kalau semua perbuatan yang ia lakukan di masa lalu kini berbalik pada Rina putrinya.
''Trus anak itu kemana ma? Kenapa mama sampe teledor!" Dengus Rina gemas.
"Mama nggak pernah selidiki kasus ini?" lanjut Rina heran.
Rina tidak menyangka kalau semua.kemelut yang ia rasakan sekarang berasal dari kelakuan ibunya dimasa lalu, sudah jadi pelakor, punya anak, anak hilang bagaikan di sinetron Indosiar saja penuh konflik dan drama yang dibuat buat.
'Kalau ini sinetron aku ingin jadi pratagonis saja nggak mau jadi antagonis bakal dibenci sama orang!' bisik Rina tersenyum..
"Kenapa senyam senyum kaya gitu, kamu lagi mengejek mama," timbal Amanda merasa heran.
"Ma, aku nggak ngekek mama kok! Cuma aku mikir kalau kisah mama dsn ibu Ningsih bagaikan sinetron." kata Rian senyum.
"Dasar!" Dengus Amanda tidak menyangka apa yang dipikirkan Rina.
"Rian mikir kalau ini sinetron aku pengen jadi peran protogonis bukan antagonis," lanjut Rina tersenyum.
"Sebenarnya kita juga lagi menjalani lakon di sinetron Ran, cuma peran kita kitalah yang memerankan nya." tawa Amanda lucu mendengar apa yang diungkapkan Rina.
"Maksudnya?" tanya Rina.
"Kita sudah memerankan peran masing masing di kehidupan yang nyata ini Ran, ini bukan sinetron. Jadi perankan peran kamu sebagai apa, bisa jahat atau baik," jelas Amanda masih tertawa..
"Ah! Mama," sipu Rani tersenyum..
__ADS_1
Ia akhirnya mengerti apa yang diucapkan oleh Amanda. Ya apa yang dikatakan ibunya Rina.paham, sebenarnya ia juga sedang menjalani lakon kehidupan bagaikan di sinetron. Hanya peran saja belum ditentukan hanya diri sendirilah yang bisa menentukan peran itu.*