
Rani beberapa kali menelpon Zoya. Hp Zoya mati, Rani cemas keberadaan Zoya apalagi ia sampai saat ini belum tidur sama sekali. Anindya tadi malam rewel, badannya panas, tapi untungnya pagi ini panas ditubuh bayi itu mulai reda. Anindya kini tidur lelap tapi sekali kali bangun seperti kaget dan merintih.
Rani ingat Dio tapi tidak berani untuk menelponnya, ia tidak mau kalau merepotkan Dio terus menerus.
"Zoya angkat dong!" Rani benar benar kesal pada Zoya.
Baru kali ini Rani menghubungi Zoya tapi gadis itu mematikan hpnya, Rani khawatir sekali pada Zoya takut ada apa apa, ia langsung menelpon Vian tapi Vian juga sama tidak aktif.
Dengan perasan tidak karuan sama sekali, ia langsung membuang hp ke atas kasur dengan keras untung tidak jatuh ke lantai, kalau sampai jatuh bisa fatal.
Ibunya Ningsih sejak kenal dengan Amanda jarang kelihatan lagi, Amanda juga kalau ditanya tentang ibunya selalu menghindar, kadang ia curiga pada kedua wanita itu, tapi ia tepiskan perasaan negatif itu.
Kemarin waktu ia.mwnwmui Amanda dengan Dio mengatur siasat pernikahan sandiwara, Rani lanhsung mennayakan ibunya tapi Amanda hanya mengelengkan kepala saja, akhirnya Rani tidak menanyakan kembali.
Rani menyenderkan badannya ke tumpukan bantal. Ia lelah pada semuanya yang ia hadapi. Semuanya seperti disengaja tapi ia tidak bisa melakukan apa apa sendirian.
Zoya yang akan membantu kini entah kemana, baru kemarin ia masih berhubungan dengan Zoya sampai Vidio call dengan adiknya tapi sekarang adiknya susah dihubungi sama sekali.
Akhirnya dengan tubuh yang lelah dan capai akhirnya Rani merebahkan tubuhnya di samping anaknya yang tertidur. Rani yang mengatur tidak berapa lama ia juga tertidur.
Dio yang berada di depan pintu rumah Ranti berusaha mengetuk getuk pintu rumah Rani, tapi sang pemiliknya tidak mendengarkan ketukan pintu. Dio menyesal tidak membawa hp, hpnya lupa dibawa.
Hp Dio berada dikamar. Beberapa kali hp Dio berdering minta diangkat, sampai orang yang menelponnya kesal rasanya menghubungi berkali kali tapi sang pemilik hp tidak pernah mengangkatnya.
"Dek, kamu dimana sih!" ujar Rina
Ya Rina berusaha menghubungi Dio. Tapi nihil hp Dio tidak diangkat.
__ADS_1
"Kamu itu kebiasaan Dio, kalau aku butuh kamu, kamu nggak pernah mengubrisnya?" Rina kecewa pada Dio.
"Tapi kalau Rani yang butuh kamu, pasti kamu lanhsung datang ke rumah Rani!" dengsus Rina kesal.
"Adinda!" gumam Rina.
Akhirnya tanpa menunggu waktu lagi Rina lanhsung menuju rumah Adinda. Ia tidak mau menghubungi Adinda ia hanya ingin bicara beberapa kata saja untuk Adinda, jadi ia lebih baik ke rumah sahabatnya.
Untung Adinda ada di rumah, Adinda yang melihat Rina ke rumahnya kaget kerena Rina sudah lama tidak ke rumahnya ujug ujug ke rumah dengan wajah ditekuk sedemikian rupa.
Adinda juga tidak cerita kalau ia mengenal Rani pada Rina, begitu juga pada Rina ia tidak bicara tentang Rani. Ia hanya ingin keduanya tahu dengan sendirinya saja bukan lada dirinya.
Mungkin kalau Rina tahu kalau ia juga sahabat Rani, Rina tidak bisa menerima itu yang Adinda takutkan, kerena bagaiamana pun ia sudah mengetahui watak dan sifat Rina maupun Rani.
"Aku cape! Aku telpon Dio nggak pernah diangkat, kalau saja wanita itu butuh diao pasti Dio langsung datang sedangkan pada kakaknya sendiri," cerocos Rina terlihat kesal.
Adinda hanya melonggo saja, melihat tingkah laku Rina seperti itu. Ia akhirnya duduk tidak jauh dari Rina.
"Aku ingin menghubungi Dio tapi nggak diangkatnya," Dengus Rina kesal.
"Seingat ku kamu dan Dio satu rumah, kok kamu menghubungi adikmu sih!" protes Adinda heran.
Ya selam ini Adinda hanya tahunya Rian dan Dio satu rumah. Tapi sejak Rina tahu kalau Santi juga satu rumah dengan dirinya akhirnya Rina malah meninggalkan rumah. Dio dsn Amanda juga tidak tahu, asal muasal ia pergi kerena Santi menyuruh dirinya mencari Surya tapi itu hanya tak tik Santi saja. Sejak itu ia tidak pulang ke rumah tapi sekali kali pulang itu tidak lama di rumah juga..
Begitu juga dengan Rey, keberadaan Rey tidak diketahui sama sekali. Adinda menunggu jawaban dari Rina yang hanya diam saja hanya matanya menatap kearah depan seperti ingin menceritakan semuanya, tapi Adinda tidak menceritakan penemuan surat yang ditemukan oleh Rani.
Adinda tidak menceritakan, kerena takut kalau Rina curiga kalau ia dan Rani saling kenal, bukan ia menutupi dari Rina bukan. Itu lebih baik lagi dari pada ia mengungkapkan tentang Rani semuanya bisa kacau kalau ia bilang sejujurnya.
__ADS_1
"Aku nyakin kalau Rani mencari Zoya." gumam Rina lirih..
"Maksudmu? Siapa Zoya?" tanya Adinda pura pura tidak tahu.
Tapi hatinya sangat berdebar dengan kencang saat Rina menyebut nama Zoya adiknya dari Rani.
"Aku tadi subuh lihat Zoya dibawa oleh orang, tapi aku nggak tahu apa mereka.mwnvulik Zoya atau.." celetuk Rani.
"Zoya diculik? Kamu benar benar lihat kalau itu Zoya!" Resah Adinda terkejut mendengar celetukan dari Rina.
Rina yang mendengar suara resah dari mulut Adinda menatap heran. Adinda yang hilap lanhsung ingat kalau ia dihadapan Rian tidak mengenal Zoya. Ia hanya tersenyum malu, tapi hatinya risau sekali.
"Kamu seperti mengenal Zoya."selidik Rina heran.
"Nggak, aku kaget saja kok! Trus tujuan kamu telpon Dio apa?" akhirnya Adinda membelokan pertanyaan nya supaya Rina tidak curiga.
"Aku hanya ingin ngasih tahu ke Dio kalau Zoya diculik nanti biar Dio yang telon kakaknya Zoya."
"Kamu nggak punya telpon kakaknya Zoya?" tanya Adinda memancing.
Rina langsung mengelengkan kepala saja. Adinda melihat gelengan kepala Rina, hatinya kasihan sekali melihat Rina seperti itu tapi bagaimana ia harus bicara semuanya.
Apa yang dikhawatirkan oleh Rani terbukti Zoya menghilang kerena diculik, dan Rian yang menemukannya tapi Rina tidak bisa membantu kerena ia juga sendirian pada saat itu.
Si sebuah ruangan tubuh Zoya dan Vian terikat dengan kuat sekali. Keduanya berusaha melepaskan diri dari ikatan tapi nihil ikatan itu diikat dengan kuat sekali. Mulut mereka juga disumpal oleh lakban hitam supaya tidak berteriak meminta tolong.
Hanya lirikan mata saja yang mereka lakukan. Kadang Zoya maupun Vian mengunakan kaki untuk menunjuk.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Rani, ia benar benar kehilangan Zoya. sampai ia terlelap tidur di samping anaknya, Dio masih mengetuk pintu ingin bicara pada Rani masalah rencana yang akan dilakukan mereka, sedangkan Zoya dan Vian terkurung di sebuah ruangan yang beeukuran 2x2²M.