
Dio memandang wajah Rani yang menidurkan Anindya. Ya mereka kini berada di Serang tepatnya di Ciceri, mereka berhenti dulu disana untuk melakukan shalat dzuhur. Dio menatap wajah Anindya dan Rani saling bergantian satu sama lain, wajah Anindya dari rambut, mirip Rey.
Dio menyandarkan diri didinding mesjid, pandangan matanya kosong ia menarik nafas dalam dalam mengingat kejadian sebelum Rani lahiran.
Dio masih ingat waktu itu, tanpa Rina dan Rani sadari. Dua pria melihat apa yang mereka lakukan. Rey dan Dio menghampiri kedua wanita itu, Rey dan Dio tidak tahu apa yang diceritakan kedua wanita yang duduk di depan TBM
Kedua wanita itu terkejut saat, kedua pria menghampiri keduanya. Rey menatap wajah Rani, Rina melihat itu. Perih. Tapi ia berusaha menahannya. Dio dengan cepat duduk disamping Ranj, Rey akhirnya duduk di samping kiri istrinya Rani.
"Kalian sedang apa?" Tanya Rey akhirnya menatap wajah istrinya.
Rina menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya.
"Aku hanya tahu seberapa besar cinta Rani padamu. Dan cinta kamu pada Rani, semuanya sudah terungkap." Sembur Rina pada Rey.
Rani diam seketika mendengarkan apa yang keluar di hatinya Rina.
"Kak Rina yang meminta aku untuk cerita semuanya. Dan kak Rina juga mengajak aku untuk bertemu,"bela Rani menatap Rey.
Ia berkata seperti itu kerena takut disalahkan oleh Rey dan malah jadi salah paham antara dirinya dengan Rey.
"Ya aku yang mengajak dia untuk ketemu. Kerena aku tahu kamu tidak akan jujur sama aku. Tentang perasan kamu pada Rani dan aku." Rina menjawab jujur.
Rey yang mendengar hanya mendengus. Ada kecewa pada Rina yang ingin tahu urusan dirinya tapi dipikir lagi memang seharusnya Rina tahu semuanya.
Dio hanya diam saja. Ia tidak mau berkomentar masalah mereka, kerena itu akan membuat ketiganya terluka. Ia paling hanya jadi penengah diantara ketiganya itu saja tidak lebih.
Biarpun Dio tahu kalau memang hati Rey juga masih berputar pada Rani. Dio tidak bisa memungkiri itu semuanya.
"Aku berusaha benci Rani tapi aku tidak bisa," keluh Rey waktu di ruang perpustakaan itu.
"Dio, sejujurnya kalau aku menyakiti Rani, aku lebih sakit lagi!" Ujar Rey saat itu.
__ADS_1
"Aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku harus bagaimana?" Tanya Rey.
Dio iba sekali. Memang posisi Rey sangat riskan apalagi ia kini telah menjadi suami dari wanita lain. Dio merasa nyakin kalau saja Rey berhasil menikahi dengan Rani, Rey bakal sepenuh hati untuk melindungi Rani dan kandungannya.
Dio hanya diam waktu itu mendengarkan apa yang dicurahkan hati Rey pada dirinya. Pengakuan Rey sebenarnya melukai hati dirinya. Ya ia juga sangat sayang pada Rani. Tapi hati Rani untuk Rey, ia sebenarnya ingin menggapai hati Rani. Tapi itu tidak mampu digapai sama sekali.
Dio akhirnya tahu semuanya hati Rey untuk Rani masih ada. Hanya saja keadaannya tidak memungkinkan.
Rey hanya diam.membisu. ekor matanya melirik Rani, tapi Rina hanya memandang ayunan ranting ranting pepohonan yang tertiup oleh angin. Di sampingnya Dio pun menatap wajah Rani dengan lembut.
Hati Dio berdarah. Tapi ia berusaha untuk mendapatkan hati Rani.
Keempat orang saling diam satu sam lainnya. Mereka hanya tenggelam dalam.pikiran mereka sendiri sendiri.
"Dio, aku harapkan kamu bisa jaga Rani." Tiba tiba Rey mengatakan itu setelah mereka diam.
"Rey, maksudmu?" Tanya Rani memalingkan wajahnya menatap wajah Rey.
"Aku tidak pantas untukmu." Gumam Rey pelan.
Rey langsung membuang mukanya, mendengar apa yang diucapkan oleh Rani. Ucapan Rani menghantam naluri dirinya yang paling dalam.
"Aku nggak pantas, untukmu."
"Kamu pantas jadi milikku, tapi aku yang nggak pantas jadi milikmu. Sampai ibumu tidak pernah mengubris kedatanganku!" Seru Rani berdarah.
Dio dan Rina yang masih disana diam saja. Keduanya terluka. Sangat terluka, sekali mendengar sebuah kejujuran dari Rey dan Rani. Rina berusaha menurunkan emosi Rey yang hampir memuncak dengan mengusap bahu Rey lembut.
Sedangkan Dio meraih tangan Rani, tapi Rani berusaha melepaskan tangan Dio. Dio akhirnya diam. Rina menatap tangan Rani yang berusaha menghindar dari ngenggaman tangan Dio. Jelas sekali.
"Sudah, semuanya berlalu. Jangan ungkit semuanya." Ujar Dio jadi penengah diantar Rey dan Rani.
__ADS_1
"Kamu gampang bilang itu Dio. Memang aku dan Rey dulu berada di masa lalu, tapi bayi ini berada dimasa depan." Ucap Rani sambil mengusap perutnya.
Rani mengakui kalau memang kisah dirinya dan Rey itu hanya masa lalu mereka saja. Tapi Rani tidak mau kalau bayi ini dianggap masa lalu dirinya dengan Rey. Kerena mereka melakukan semuanya setelah Rey menikah dengan Rina.
"Tenang Dio, aku juga nggak akan merebut Rey dari tangan kakakmu. Aku hanya ingin Rey mengakui ia jadi anak biologisnya itu saja." Ujar Rani beranjak dari duduknya.
Ia melangkahkan kakinya pergi. Tapi Dio berhasil memegang tangan Rani. Rani diam, saat tanganya diraih oleh Dio.
"Selesaikan semuanya sekarang. Daripada kalian sama sama terluka selamanya." Kata Dio berdiri di sisi Rani.
Rani menarik nafas lalu dihembuskannya kembali. Wajahnya melihat Rina dan Rey yang masih duduk ditempatnya. Dan ia juga menatap wajah Dio. Dio yang mengerti hanya mengangguk saja, akhirnya Rani duduk kembali disamping Rina.
"Kak, mungkin aku hanya bisa minta maaf telah menjadi orang ketiga dari pernikahan kalian," akhirnya kata kata itu muncul begitu saja di mulut Rani..
"Aku masih sayang sama Rey. Tapi aku sadar sekarang kalau Rey bukan yang terbaik untukku dengan mengirimkan ibu diantara kami." Lanjut Rani memegang tangan Rina dengan lembut sekali.
Rina diam saja. Apa yang dikatakan Rani pada dirinya memang ada benarnya, kalau semuanya tidak menyadari, Allah telah memberikan yang terbaik buat mereka. Dengan ujian yang Dia berikan itu isyarat dariNya.
Rina langsung merangkul tubuh Rani dengan eratnya. Rani pun memeluk Rina. Rey dan Dio hanya melihat pemandangan indah itu.
"Kalau Rey tidak mengakui janin itu, aku ingin sekali mengakui kalau itu anakku." Kata Rina sambil melepaskan pelukannya.
Ia menatap wajah Rani dengan lembutnya. Tangan Rina menyentuh perut Rani. Kedua wanita itu tersenyum.
"Aku rindu. Melihat wanita wanita yang hamil, aku ingin merasakan seutuhnya." Desah Rina mengusap perutnya yang kempes.
Dio melihat wajah Rey dengan tajamnya. Rey hanya memalingkan mukanya ke sebelah kanan.
"Gimana sih rasanya hamil?" Tanya Rina keppo.
"Pokoknya tidak bisa diungkapkan dengan kata kata. Kehamilan itu sebuah anugrah terindah dan membuat hati senang." Seru Rani sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Ya kini ia telah merasakan gerakan lembut di dalam rahimnya. Saat tangannya mengelus perutnya, janin itu bergerak dengan lincahnya. Ia sangat bersyukur sekali diberi kesempatan berharga seperti ini.
Rey hanya mendesah. Mendengar kata kata Rani. Ia masih ingat kata kata Rani waktu itu, saat Rey berusaha menyentuh Rani untuk mengugurkan janin yang Rani kandung.*