
"Lebih cepat lebih baik kita temui pak Surya. Jangan ada kesalahpahaman." ujar Dio bangkit mengajak Rani untuk menemui Surya.
"Aku nyakin kalau itu masalahnya, mas Rey juga bakal luluh." lanjut Dio optimis.
"Terus aku bagaimana? Ikut apa jangan,salahnya kan pak Surya mengincar anak bapak?" tanya Zoya menatap kedua wajah keduanya.
"Kamu lebih baik pulang saja, kita lebih baik jalan Cibaliung bukan jalan yang tadi." usul Dio.
"Dio itu jauh kalau jalan Cibaliung, kalau ke cibaliung harus ke Cikeusik dulu." protes Rani.
"Lebih baik besok saja, ini kan udah siang. Lebih baik kita pulang saja," lanjut Rani menatap Dio.
Sebenarnya bukan itu kata kata yang keluar dari mulut Rani, ia sebenarnya ingin mengatakan kalau misal mereka berangkat sekarang dari cikoncang menuju kota propinsi, otomatis ditengah jalan kemalaman dan tidurnya dimana.
Tapi terlanjur kata kata yang pertama yang keluar dari mulut Rani. Akhirnya ketiganya pulang setelah membayar semua makanan yang mereka makan.
Hati Rani masih penasaran sebenarnya ada hukum apa yang harus di bayar nyawa dari Ilham untuk Surya. Sampai Surya ingin menghabiskan nyawa dirinya dan Anindya? Trus apa hubungan dengan Rey yang kemarin-kemarin berusaha untuk menyingkirkan Anindya?
Pertanyaan demi pertanyaan menyeruak di hatinya Rani. Tapi tidak satupun pertanyaan bisa dijawab oleh dirinya sendiri. Apa yang dipikirkan oleh Rani sama dengan pikiran Zoya, gadis umur 18 tahun tidak nyakin kalau Surya harus memenuhi Rani dengan dugaan Rani adalah putri bapaknya.
Zoya beberapa kali mentok nafas dalam dalam dan menghembuskan kembali. Sedangkan Dio gamang mendengar apa yang Zoya katakan pada mereka berdua antara hubungan Surya dengan Rey, kalau di ceritakan memang Surya dan Rey adalah ponakan kerena Santi adalah adik sepupu Surya.
Tujuan mereka membunuh Anindya apa kerena anak Ilham? Sedangkan sekarang Rey telah tahu kalau Rani bukan anak Ilham tapi anak Surya. Trus apa tujuan Santi yang begitu kuatnya menikahkan Rey dengan Rani, pertanyaan demi pertanyaan hanya ia simpan di dalam hatinya.
Di perjalanan ketiganya hanya diam saja, hanya pikiran masing masing yang bertanya tanya. Tanpa jawaban apapun juga.
"Dio aku harus bagaimana?" tanya Rani setelah mereka saling diam.
"Menurutku sih kamu harus menjelaskan kalau kamu bukan anak bapak, kamu ceritakan yang sebenarnya saja." ujar Dio.
"Kalau misal pak Surya nggak percaya dengan penjelasan yang aku sampaikan?" Rani ragu.
Ia tidak ingin hidupnya berakhir kerena kesalahpahaman yang tidak ada ujungnya. Ya menurut cerita Vian, ayah pernah mendatangi ibunya tapi saat itu ibunya bersama Ilham dan sedang hamil dirinya, jadi dugaan terfokus kerena Ilham merebut Ningsih dari Surya itu hanya dugaan Rani pada Surya saja.
__ADS_1
"Kalian bisa tes DNA, kerena kalau kamu anak kandung Surya DNA kalian bakal sama. Kamu jangan khawatir ya." bujuk Dio lembut.
Sedangkan Zoya dari tadi tidur kerena perutnya sudah full. Rani hanya mwngelangkan kepala melihat adiknya tertidur seperti itu.
"Aku bakal mengantre kamu kok kesana menemui pak Surya. Jadi kamu jangan khawatir ya,"
"Tapi Dio apa tidak merepotkan dirimu," Rani agak menolak.
"Nggak aku.nggak direpotkan kok,alah aku senang membantu dirimu."
Rani hanya menghela nafas dalam dalam mendengar apa yang Dio katakan, ia merasa malu pada Dio yang selalu membantu dirinya.
"Tapi Dio," sanggah Rani.
"Nggak apa apa kok, aku senang bantu kamu. Ya biarpun cintaku padamu selalu ditolak juga,"sindir Dio.
Rani hanya manyun mendengar apa yang Dio katakan, ia menghela nafas dalam dalam.
Dalam hatinya ia ingin sekali bertemu dengan Surya tapi ia ragu kalau misal kan mereka bertemu dan ia harus bagaimana kalau misal Surya tidak mau mengakui ia sebagai anaknya dan menolak untuk tes DNA?
"Kamu tenang saja, kita pikirkan bisa menemui pak Surya dulu. Atau kita bisa minta bantuan Vian untuk urusan ini, biar Vian lah yang menceritakan tentang kamu," hibur Dio pada Rani.
"Berarti kita sekarang ke Vian dulu?"
Dio mengangguk cepat. Sebenarnya ia sudah menghubungi Vian untuk datang ke rumah Rani sekarang, Vian menyetujui kerena sebelumnya Dion menceritakan tentang keluh Rani pada dirinya.
Vian menangkap apa yang dibicarakan oleh Dio dan ia juga mengerti apa yang harus ia lakukan. Vian menyetujui waktu Dio mengajak untuk ketemu dengan Surya.
Di tempat yang lain.
"Yah, jangan lakukan itu."
"Maksudmu apa?"
__ADS_1
"Rani yang jadi sasaran ayah kan, dia bukan anak Ilham."
"Alah kamu bicara apa, kamu tahu apa dengan Ilham," bentak Surya menatap wajah Senja.
Senja berusaha menjelaskan duduk persoalannya pada Surya kalau Rani wanita itu adalah anak Surya dari Ningsih bukan anak Ilham dari Ningsih tapi Surya tidak percaya.
Ya tidak percaya bagaimana, Senja belum.oeenah berhubungan dengan orang diluar. Surya hanya melihat senja hanya bisa bertemu dengan orang orang disekelilingnya paling dengan Vian. Itu juga paling sebulan sekali atau kalau ada urusan yang mendadak saja, jadi mustahil kalau misal Senja tahu banyak tentang Ningsih dan Ilham.
Surya lupa kalau Vian lah yang menjadi jembatan untuk menyatukan dirinya. Surya menatap wajah Senja tajam.
"Yah, percaya sama aku. Kalau ayah nggak percaya sama aku lebih baik ayah hubungi Vian saja kerena Vian yang tahu semuanya. Dan Vian salah satu murid Rani," kata Senja menjelaskannya.
Surya hanya diam mendengarkan penjelasan Senja, ditatapnya wajah putri nya dengan lembut. Disana ia melihat kejujuran dari cahaya mata Senja.
"Aku menceritakan semuanya pada Vian, jadi Vian tahu apa yang ayah akan lakukan pada Rani. Rani bukan anak Ilham tapi anak ayah, itu yang Vian katakan padaku, masa Vian bohong." ujar Senja.
Senja mengatakan itu kerena Vian sedikit pernah menyingung masalah anak Ilham dan Vian juga menceritakan kalau Rani bukan anak Ilham. Awalnya Senja tidak percaya pada Vian tapi lama lama ia percaya. Tidak mungkin kalau Vian bohong padanya, masalah anak Ilham.
"Kak Rani anak ayah."
Itu yang dikatakan Vian pada dirinya.
Wanita itu berusaha untuk mempertahankan prinsipnya, supaya ayahnya tidak membuat keputusan yang bisa membahagiakan semuanya.
Dalam diam nya Surya malah terbayang wanita yang menolongnya. Tiba tiba ketika Senja menyebut nama Rani, banyangan wajah wanita itu melintas lembut sekali, dan perasaannya juga rindu buat ketemu dengan wanita itu.
"Ayah kenapa diam?" tanya Senja sambil menyentuh bahu ayahnya.
"Aneh waktu kamu menyebut nama Rani, kenapa banyangan wanita yang menolong ayah muncul begitu saja. Senja, ayah kangen sama wanita itu, wanita yang menolong ayah," lirih Surya tertunduk.
Senja hanya mengelus bahu ayahnya dengan lembut, ya sudah beberapa kali Surya cerita tentang wanita itu padanya, dan kata Surya sendiri kalau Surya janji kalau bertemu bakal mentraktir wanita itu.
Senja hanya diam saja mendengarkan cerita ayahnya.*
__ADS_1