
Rey yang tidak menyangka diberondong kata-kata oleh Dio langsung meninggalkan keduanya. ia sama sekali tidak menduga kalau Dio dan Rani menyerang secara bersamaan diwaktu yang sama.
Rani yang melihat kepergian Rey hanya diam saja, sedangkan Dio langsung menghampiri Rani.
"Kamu nggak apa apa kan?" tanya Dio.
Rani hanya menggelengkan kepala saja, ia lalu berjalan menuju teras, diikuti oleh Dio..Rani duduk di kursi yang berdekatan dengan jendela sedangkan Dio duduk di kursi yang tidak jauh dari Rani hanya selang meja saja.
"Benar nggak apa apa, Rey melakukan apa sama kamu?" tanya Dio setelah mereka duduk.
Rani hanya diam saja, tatapannya tajam lurus.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa Dyan?" akhirnya Rani bersuara setelah sekian lama ia diam.
Ia baru menanyakan masalah Dyan pada Dio. Dio hanya manyun mendapatkan pertanyaan dari Rani.
"Dyan sebenarnya temanku sejak kecil sih, aku sudah anggap dia adik begitu juga Dyan." jawab Dio jujur.
"Kata Rey kamu dengan Dyan, kenapa nggak sama Dyan saja kamu menikah," tekan Rani.
Tiba tiba ada perasaan yang hilang saat ia mengucapakan kata kata itu di hadapan Dio, untung Dio tidak memperdulikan apa yang diucapkan Rani.
Belum sempat Dio menceritakan secara detil perihal Dyan tiba tiba Zoya datang sambil berlari menghampiri mereka berdua, Zoya langsung duduk di lantai sambil mengatur nafas yang turun naik, sedangkan matanya menatap keduanya saling bergantian.
"Kamu kenapa kaya dikejar setan?" tanya Rani heran melihat Zoya datang datang seperti itu.
Dio yang peka langsung ke dalam dan saat ia keluar langsung memberikan segelas air untuk Zoya minum. Zoya menerima segelas pemberian Dio, sekali minum langsung habis. Melihat itu Rani melotot pada Zoya, tapi gadis kelas 9 itu cuek saja.
Setelah menerima.gelas dari Zoya, Dio duduk di samping gadis 18 tahun itu, sambil tangannya merangkul tubuh Zoya dengan lembutnya.
"Aku lihat kak Rey menyeret seorang gadis, dan gadis itu berontak sambil berusaha melepaskan diri dari tangan kak Rey. Entah kak Rey mau bawa kemana itu gadis itu." adu Zoya setelah ia menguasai nafasnya.
__ADS_1
Deg!
Hati Dio berdetak keras saat Zoya cerita tentang gadis yang di bawa Rey.
"Jangan jangan Dyan?" gumam Dio cepat.
"Zoya, kamu lihat dimana?"
"Di jalan mau ke sekolah kak Rani," Zoya menjelaskan tempat yang ditanyakan oleh Dio.
"Kapan kamu.lihatnya?" tanya Rani
"Baru tadi," jawab Zoya heran melihat tatapan Dio dan Rani seperti itu.
Ya Zoya tadi bersama temannya main ke arah sekolah kakaknya, tapi ditengah jalan ia melihat Rey yang sedang menarik Dyan. Rey memaksa Dyan untuk mengikutinya. Dyan waktu itu berontak ingin kabur dari Rey tapi tidak bisa sama sekali.
Mulutnya disumpal dengan kain dan diikat ke belakang, sedangkan tanganya juga diikat kebelakang dengan tali tambang yang kuat. Dyan tidak tahu ia bakal dibawa kemana oleh Rey.
Sebenarnya tadi sewaktu Rey pergi Dyan berusaha membobol pintu kamar tempat ia disekap. Berhasil. Tapi saat itu juga Rey datang dan memukul tubuhnya sampai Dyan tersungkur wajahnya mencium tanah. Bukan itu saja Dyan juga di sepak oleh Rey dengan keras di bagian tangan sampai ia menjerit dan melolong kesakitan.
"Bug,"
Suara terdengar keras menghantam pungung dan bahu Dyan. Dyan langsung melolong kesakitan saat kayu itu mengenai tubuhnya.
Belum sampai Rey memukul kembali tiba tiba dua bayangan datang dan salah satu berdiri di samping Rey tapi sebelum ia berdiri ia menerjang tubuh Rey dulu sampai Rey terpelanting jatuh menabrak beberapa pot yang ada disana.
Mata Rey masih belum percaya saat matanya menatap siapa bayangan yang tiba tiba datang menolong Dyan. Mata Rey terbelalak seketika juga saat tahu yang datang dihadapannya.
Zoya
Ya Zoya yang datang kehadapan Rey. Sampai Rey mengepalkan tangannya ingin menghajar tubuh Zoya. Sedangkan Dyan yang tubuhnya lemas, dan sakit hanya diam di bibirnya mengucapakan terimakasih pada seorang gadis yang ia tidak kenal sama sekali.
__ADS_1
Gadis 15 tahun yang bersama Zoya membantu Dyan untuk bangun dan berusaha bangkit, biarpun tubuh Dyan terasa remuk juga.
"Kak, jangan diteruskan. Aku bisa laporkan kakak ke polisi kalau kakak melakukan ini lagi!" teriak Zoya menatap wajah Rey.
Zoya langsung menyongsong tubuh Dyan yang lemah itu, ia ingin memapah tubuh Dyan menuju tempat yang aman. Ia membatu gadis itu, tapi Rey langsung berdiri dan menarik tubuh Zoya untuk menjauhi Dyan sampai Dyan yang belum siap untuk berdiri terjungkal kembali. Untung gadis 15 tahun itu langsung tanggap pada kondisi Dyan, ia berusaha mempertahankan Dyan supaya tidak jatuh biarpun tidak mungkin jatuh. Sedangkan Zoya berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Rey.
"Rey, lepaskan dia. Dia tidak tahu apa apa masalah yang kita hadapi!" jerit Dyan berusaha berdiri, biarpun badannya sakit semua seperti remuk rasanya.
"Pak, kenapa bapak lakukan ini!" jerit gadis 15 tahun menatap wajah Rey tidak percaya.
Rey terbelalak matanya saat tahu gadis 15 tahun itu berdiri dihadapannya, ya Vian gadis itu sedang bersama dengan Zoya. Vian adalah satu siswa Rey dan Rani di sekolah yang sama.
"Aku nggak nyangka kelakuan bapak di luaran sekolah seperti ini," hardik Vian.
Dyan menatap wajah Vian dan Rey bergantian satu sama lainnya. Ia belum mengerti apa yang diucapkan Vian pada Rey. Sedangkan Zoya tersenyum sini menatap wajah Rey, ia puas membuat malu Rey dihadapan Vian.
"Kalian bersekongkol!"sembur Rey menatap tiga wajah wanita yang berbeda umur itu.
"Mau bersekongkol mau tidak terserah kamu, tapi bapak harus bertangungjawab atas semuanya ini!" cerca Vian.
Dyan menyentuh tangan Vian. Dalam hati Dyan ia tidak ingin kalau gadis yang menolongnya akan jadi korban dari Rey, tapi Vian tetap menyerobot kata kata dihadapan Rey. Dyan berusaha menghentikan kalau Vian jangan bicara seperti itu.
"Puas kamu! Kamu sebagai siswa seharusnya!" teriak Rey gusar.
"Seharusnya apa, bapak juga seharusnya menjadi teladan bagiku dan semua siswa di sekolah bukan membuat onar!" balas Vian.
Zoya langsung menarik tangan Vian dengan lembut sekali, tapi Vian sebenarnya ingin sekali mengutarakan uneg uneg hatinya Dihadapan Rey.
Rey geram sebenarnya saat mendengar kata kata Vian seperti itu, ia juga tidak menyangka kalau mereka berdua saling kenal dengan Dyan. Ketiga wanita itu meninggalakan tempat itu, sekuat apapun Rey menghalanginya tapi tidak mampu kerena Rey seorang diri sedangkan Zoya di bantu Vian meloloskan Dyan
Dyan sama sekali tidak tahu kalau Zoya adalah adik kandung Rani. Mereka berusaha pulang menuju rumah Zoya, tapi tiba tiba tanpa mereka sadari sebuah pukulan mengenai kepala kepala Dyan. Sampai wanita itu langsung ambruk seketika juga, melihat kejadian itu Vian dan Zoya berusaha menolong Dyan kembali tapi malah keduanya menjadi korban Rey.
__ADS_1
Zoya berusaha kabur mencari bantuan, melihat itu Vian dengan cerdik menendang Bitung Rey dengan tepat sekali. Sampai Rey langsung melepaskan tangannya dari tubuh Vian, saat burungnya ditendang.
Kedua gadis itu langsung meninggalakan tempat itu menuju rumah Rani, tapi sialnya motor yang mereka gunakan bannya bocor. Akhirnya Zoya berlari untuk menemui kakaknya, sedangkan Vian menambal ban.*