BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Santi Memaksa menikah


__ADS_3

"Ran, aku ingin kalau anak itu aku dan Rani yang mengurus daripada sendirian mengurusnya," kata Rina.


Rina terkejut saat mendengar Rani telah melahirkan anak perempuan. Ia dari Serang langsung meluncur ke perkampungan tempat tinggalnya. Rey yang telpon kalau Rani melahirkan, Rani yang mendengar langsung meluncur menuju rumah Rani kerena hari itu juga Rani pulang.


Kerena persalinan Rani normal, maka Rani hanya beberapa jam di PKM langsung pulang. Rina membawa Avanza dengan kecepatan sedang, Rina mengatakan itu ketika ia sudah sampai ke rumah Rani.


"Kamu kan bisa menikah dan punya anak lagi sama yang lain," lanjut Rina memohon.


"Kak, jangan bilang begitu," ketus Dio tidak suka.


"Tapi detik, kakak mau bayi itu," rengek Rina.


"Kak, maaf aku nggak bisa memberikan bayi ini, ini anak aku. Aku yang lahirkan dengan susah payah tapi kakak dengan gampang meminta bayi ini,"


"Tapi Ran, dia...,"


"Dia nggak butuh ayah seperti Rey, dia yang berusaha menghilangkan apa pantas memilikinya?" jerit Rani.


Ia masih ingat kelakuan Rey pada dirinya waktu ia masih hamil, beberapa kali Rey berusaha menghilangkan bayi itu apalagi saat istrinya belum tahu keadaannya, Rey pernah mengancam dirinya jangan sampai Rina istrinya tahu masalah kehamilannya.


Kalau ingat itu Rani hanya menelan ludah, getir sekali.


"Aku nggak mau ya kalau misal Rina tahu semuanya, kalau misal kamu bilang kamu hamil awas, aku nggak akan membuat hidupmu tenang," ancam Rey waktu itu.


Sampai kemudian hari kehamilannya tidak pernah terendus kalau saja Zoya tidak bilang apa apa pada Rani. Itu awal Rey dan Rina meminta bayi nya, sampai kapanpun ia tidak akan pernah memberikan pada Rey maupun Rina.


Untung bayi perempuan itu tertidur dengan lelap jadi ia dengan nyamannya tidak terganggu oleh pembicaraan Rina, dsn Rani.


"Ran, itu dulu sekarang nggak,kan?"


"Mbak, sampai kapanpun aku nggak akan pernah memberikan bayi ini pada siapapun juga,"


"Kenapa sih kakak ngotot ingin memilikinya?"

__ADS_1


"Kak, kakak lebih baik pulang saja dari pada kakak ribut disini, Rani butuh istirahat," Dio melerai pertengkaran mereka.berdua.


Santi yang baru datang langsung menarik tangan Rina dengan kuat, Rina berontak tapi Santi berusaha untuk menarik membawa Rani keluar, Dio membentuk Santi kerena ia juga nggak mau kalau Rani terganggu oleh kedatangan Rani.


"Kalian kenapa sih seharusnya kalian bela aku!" teriak Rina berontak menatap kedua wajah ibu mertua dan adiknya.


"Kak, bukan aku melarang kakak menemui Rani dan bayinya tapi kakak kesini hanya memancing keributan, lebih baik kakak pulang saja," Dio mengusir kakaknya.


"Apa yang dikatakan adik kamu itu betul banget, Rani butuh kenyamanan bukan keributan," ujar Santi agak ketus pada Rina.


Santi mendorong tubuh Rani dengan keras, melihat itu Dio langsung menangkap tubuh kakaknya supaya tidak jatuh, tapi Rina yang ditolong oleh Dio malah balik mendorong tubuh Dio. Ia merasa kesal keren Dio malah membela Rani, akhirnya dengan perasaan yang tercabik Rina pulang dengan cairan bening yang keluar dari kelopak matanya.


'Kenapa harus aku yang terluka, seharusnya Rina!" bisik Rina menjerit.


Ia istri Rey seperti selingkuhan Rey. Rani berselingkuh tapi Rani seperti istri sah Rey. Ia benar benar tidak bisa berbuat apa apa lagi.


'Apa aku harus melakukan sesuatu?' bisik Rina dalam hati.


Akhirnya Rina tersenyum.ounya ide yang fantastik dsn malam ini adalah malam penentuan ia harus berhasil untuk melakukan sesuatu terhadap semuanya.


Ia telah membanyangkan bayi dalam dekapannya, bayi yang mencari ****** dirinya ah membanyangkan nya juga terbayang dalam pelupuk matanya.


****


"Bu, aku bilang aku nggak mau Bu, buat apa ibu menjodohkan aku dengan Rey kembali Bu?" Isak Rani.


Hati Rani masih belum sembuh dari kelakuan Rey pada dirinya, cacian Rey, hardikan Rey dan semuanya di makan oleh dirinya sendiri. Dan sekarang Santi dan ibunya malah memaksa dirinya untuk menikah dengan Rey, itu tidak adil buat dirinya sendiri.


"Ran,"


"Bu, aku bilang nggak ya nggak kenapa sih ibu ngotot banget ya?" tanya Rani heran menatap Santi.


Rani hanya menarik nafas dalam dalam tidak mengerti apa yang Santi lakukan, tapi ia seperti mengingat kata kata Adinda kemarin, kata kata peringatan darinya.

__ADS_1


"Selidiki salah dulu, jangan jangan ada yang ortu Rey sembunyikan." kata Dinda.


"Sembunyikan? Kira kira apa ya?"


"Itu maksudku, takut ini ada hubungan dengan kehidupanmu,"


"Iya juga sih!"


"Apa dia tahu ayahmu?"


Tahu sih katanya ayahku adalah sepupunya, tapi kenapa ia tidak tahu ya keberadaan ayahku," heran Rani menatap Dinda.


"Kalau mang sepupu, kenap ia harus mencari Surya? Seharusnya ia tahu keberadaan Surya bukan bertanya pada kamu."


"Entah!"


Kata kata Adinda terhiang kembali ditelinga dirinya. Apa yang dikatakan Adinda benar sih kenapa coba Santi kekeh menikahkan dirinya kalau tidak ada maksud tertentu. Rani mulai curiga atas saran Santi pada dirinya.


Dan Ningsih juga malah mengikuti Santi, kalau dirinya menikah dengan Rey? Rani seperti memutar otak untuk memecahkan masalahnya ia hadapi sekarang.


limat tahun yang lalu memang ia dan Santi pernah bertemu itu juga tidak sering hanya seksi kalau tidak salah ingat. Ia masih ingat kata kata Santi waktu itu. Kata kata yang membuat dirinya terluka sampai sekarang, tapi untuk membenci Santi ia tidak bisa, hanya sekarang merasa heran saja.


Rani hanya mendesah. Ia akhirnya tidur disamping bayinya yang terlelap tidur dengan nyamannya.


"Selidiki! Itu lebih baik dari pada kamu bertanya pada orang yang bersangkutan. Kamu nggak bakal menemukan jawabannya." nasehat Adinda pada dirinya.


"Minta bantuan dengan orang yang tepat, bukan orang yang cuma baik di depan saja." lanjut Adinda waktu itu.


Awalnya sih ia ingin mencari tahu dulu masalah Santi, tapi gagal keburu ia lahiran. Kalau ia misal mencari tahu sekarang bagaimana anaknya? Masa harus ia tinggal hanya ingin tahu masalah yang ada?


Kita biarkan dulu Rani berkutat dengan pikirannya sendiri. Kita kembali ke tujuan Rina tadi. Ya ia sungguh sungguh bakal melakukan apa yang ia inginkan. Ia bakal mencari waktu yang tepat untuk melakukan semuanya, kerena ia tidak mau kalau rencana dirinya gagal oleh dirinya sendiri.


"Kalau kamu mau kamu harus melakukan sesuatu, Rey kan suami kamu nggak bakal berdosa kok," usul Adinda pada Rina waktu itu.

__ADS_1


"Iya sih tapi apa aku bisa melakukan? Dengan cara apa coba?" tanya Rina.


Adinda berbisik pada Rina dan Rina tersenyum saat apa yang dibisiki Adinda pada dirinya.*


__ADS_2