BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Lalu anak siapakah?


__ADS_3

Surya masih memandang lurus. Informasi dari Bandot membuat dirinya shock dan tidak menyangka sama sekali mendengar apa yang Bandot ucapkan lewat hanponnya. 


Hatinya terus bergetar dengan hebat sekali, apalagi mengingat Ilham memangku seorang batita yang lucu dan mengemaskan dalam pelukannya. 


Tiba tiba ada perasan yang hilang saat mengingat batita itu, apalagi saat Surya melihat Ilham begitu sayang lada anak itu, serta ia melihat Ilham mencium kening batita yang ada dalam pelukannya. 


Ada helaan nafas kesal dihatinya, ia menyesal kenapa dulu tidak menanyakan anak siapa yang dipangku Ilham itu. Tiba tiba ada secercah harapan saat ia mengingat Ningsih, ya Surya bakal mencari tahu pada Ningsih anak siapa yang dipangku Ilham. 


Tapi waktu Surya mengingat anak itu, tiba tiba wajah Rani di warung bakso itu terbayang bayang, senyuman, cara bicara serta tingkah lakunya. 


'Ah! Kenapa sih malah Rani yang muncul,' desis Surya merasa heran. 


Ya sejak pertemuan dirinya dengan Rani di warung bakso kemarin dekat kecamatan. Wajah dan senyuman Rani terbayang saja, biarpun ia telah menepiskan bayangan itu. Dan ia juga heran saat ia ingat Ilham malah wajah Rani yang selalu hadir dalam hatinya dan sulit untuk dilupakan. 


'Apa hubungan Rani dengan Ilham, kenapa kalau aku ingat Ilham kenapa harus wajah Rani yang hadir,' 


Pertanyaan demi pertanyaan selalu tidak ada jawaban yang pasti. 


Sebelum Surya berpikir jauh, tiba tiba hpnya berteriak dengan kerasnya. Surya langsung mengangkat hpnya dilihat nama Bandot yang tertera pada layar hpnya. 


📱Ya ada apa lagi?


Tanya Surya pada Bandot yang menelpon lagi. Ia merasa heran kenapa si Bandot harus telpon segala, apalagi kalau menyangkut anak yang di ceritakan tadi. 


📱Ketua masalah bayi yang kita culik sebenarnya bayi itu anaknya Rey. Dan kami lagi mencari ibu dari si bayi itu. 


Bandot memberitahu kan identitas bayi yang di tolong oleh Rey too dulu, masalahnya Rey lah yang meloloskan bayi itu. Ia melihat semuanya dengan jelas sekali. 


📱Apa? Rey anaknya Santi?


Suara Surya langsung melengking seketika juga, ia tidak menyangka kalau bayi yang ia culik adalah bayi Rey anaknya Santi. Surya benar benar shock mendengar kenyataan yang ada. 


Tapi ia juga heran kenapa Santi tidak memberi tahukan kalau anaknya menikah pada dirinya, bagaimanapun juga Santi adalah adik sepupunya. 

__ADS_1


'Jangan jangan Santi tahu kalau aku yang membunuh suamianya?' tanya hati Surya berbisik. 


📱Iya anak nya Rey cucunya Santi. 


Jawab Bandot mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan Surya pada dirinya. 


📱Apa informasi nggak  salah? 


Kejar Surya. Ia masih belum menerima kalau bayi yang mereka culik adalah anak Rey. 


'Apa gara gara Rey tahu aku gitu,' bisik Surya menarik nafas dan dihembuskan secara kasar. 


Ia benar benar shock mendengar informasi yang dibawakan oleh Bandot pada dirinya. 


📱Nggak ketua, ini informasi yang benar benar nyata. 


Surya menutup hubungan telponnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke lemari yang ada di pojok ruangan, pikirannya melanglang buana. 


"Lalu siapa ibu dari bayi itu?" 


Ya kerena waktu aksi penculikan itu ia benar benar tidak ikut dalam penculikannya. Bandot yang disuruh menculik bayi itu, gagal memberikan bayi itu kerena beberapa orang menolong bayi itu. 


Kalau ingat kejadian itu Surya hanya mwngelangkan kepala, ia tidak menduga kalau aksi penculikan itu gagal akibat campur tangan Rey sebagai ayah dari bayi itu, Surya hanya merasa kesal pada anak buahnya. Tapi bagaimana pun Rey dan yang lain tidak melaporkan ke pihak berwajib. 


'Kakau saja aku nggak tinggalin Ningsih, mungkin aku nggak akan memikirkan semuanya ini, kenapa ya aku nggak datangi Ningsih dulu?'bisik hati Surya..


Tiba tiba ada sebuah penyesalan yang datang dalam hati, ya ia meninggalkan Ningsih begitu saja, wajar kau misal ia menikah lagi dengan Ilham. Tapi anak yang pangku ilham itu anak siapa, pertanyaan itu yang belum bisa dijawab oleh dirinya. 


Dan ia juga menyesal tidak menanyakan pada Ningsih waktu ia melihat Ningsih sedang hamil besar setelah ia meninggalakan dirinya beberapa bulan yang lalu. 


Kalau saja waktu bisa diputar ulang, mungkin ia bakal kembali lagi ke masa itu dan bakal menanyakan ke Ningsih, supaya wanita itu menjawab kalau Ningsih hamil oleh siapa? 


Tapi waktu tidak bakal berubah sama sekali, ia hanya bisa menyesali diri sendiri. Dan malah seperti ini ceritanya.

__ADS_1


*


Santi terkejut saat mendengar Rani bertemu dengan Surya. ia sama sekali kecolongan kalau itu berita benar, dengan tangan terkepal dan meninju pada meja yang ada dihadapannya. Biarpun rasa sakit tapi ia tidak dirasakan sama sekali, dengan luapan emosi yang tinggi ia langsung menuju rumah Rani.


Dengan amarah yang masih ada di ubun ubun, ia menyepak pintu rumah Rani dengan keras sekali. Rani juga berteriak teriak teriak memanggil nama Rani, serta gedoran pintu yang keras sekali.


"Ibu, ada apa?" tanya Rani heran.


"Kamu bilang ada apa? Seharusnya kamu jelaskan bukan tanya sama aku!" teriak Santi matanya berkobar marah.


Rani tidak bergeming sama sekali, ia berpikir keras apanyang pernah ia lakukan sampai wanita yang ada dihadapannya sedemikian marah pada dirinya.


Tapi seingat dirinya, ia sama sekali tidak melakukan kesalahan tapi Rani juga tidak tahu pasti kesalahan apanyang pernah ia lakukan sampai wanita yang ada dihadapannya sampai emosi seperti itu.


"Bu, ada apa, jelaskan dulu jangan marah!" ujar Rani lembut.


PLAK


Bukannya.langsung menjawab pertanyaan Rani, Santi dengan emosinya langsung melayangkan tangan memberikan stempel di pipi nya dengan tangannya, Rani yang sama sekali tidak menyangka terpekik. Rani merasakan sakit pada pipinya yang di tampar oleh Santi


"Ibu, jangan main tampar saja!" teriak Rani kesal.


Dalam hatinya berbisik pantas saja Rey selalu main tangan tidak tahunya ibunya juga seperti itu.


"Alah kamu pantas ditampar seperti itu, kerena kamu nggak jujur!" pojok Santi mendelik..


"Apa yang aku terangkan Bu kalau ibu begini terus aku nggak bisa jelaskan apa apa." kata Rani heran.


"Kamu sudah berapa kalau ketemu Surya, kamu kenapa nggak pernah bilang sama aku kalau kamu," kata Santi bergetar menahan emosi yang semakin meluap dan hatinya.


Rani hanya menggaruk garuk kepala tidak gatal saat Santi sukses menceritakan alasan kenapa ia marah dan uring uringan. Ia hanya menarik nafas dalam dalam lalu dihembuskan secara kasar.


Rani akhirnya mengajak Rani untuk duduk, ya awalnya Santi tidak mau duduk tapi ia memaksa Santi untuk duduk, akhirnya Ranty duduk setelah Rani mempersilahkan.

__ADS_1


__ADS_2