
Tatapan mata Rey hanya tertuju pada batita yang berceloteh mengemaskan sekali. Seorang anak yang olehnya dipaksa untuk dibunuh oleh keegoisan dirinya.
Ia sama sekali tidak bisa menerima saat mendengar kehamilan yang dialami oleh Rani, ia emosi sekali mendengar Rani hamil oleh dirinya sampai berniat mengugurkan kandungannya dengan memaksa Rani ke dokter, ke dukun tapi wanita itu kekeh tidak mau menyetujui menggugurkan kandungannya.
Rey pernah punya pikiran mengugurkan kehamilan Rani dengan memukul perut Rani tapi Rey niat dirinya gagal kerena ketahuan Zoya saat ia mengendap masuk ke dalam kamar Rani.
Ia juga sampai marah dan membuat Zoya kesakitan dipukul oleh Rey dengan besi yang dibawa olehnya, niatnya besi itu di pukul kan ke perut Rani yang sedang tertidur lelap.
Akhirnya besi yang dibawa olehnya Rey dihantamkan ke pinggang Zoya dengan keras, sampai Zoya menjerit kesakitan sekali. Rani yang mendengar keributan itu langsung terbangun dan melihat Zoya dipukul oleh Rey dengan ganasnya.
Rani langsung bangkit dsn mendorong tubuh Rey dengan sekuat tenaga sampai tubuh Rey terjengkang.
Waktu itu Rey langsung kabur, Rani yang akan mengejar Rey tidak jadi, akhirnya ia membawa ke PKM yang terdekat.
Rey hanya menghela nafas panjang, mengingat semua yang ia lakukan pada Rani, ia.masihndsyangbsama Rani hanya keadaannya lah yang membuat dirinya seperti ini. Tapi sekarang ia melihat Rani seperti bahagia ia hanya bisa mengucapkan syukur ia tidak mungkin menghalangi kebahagian Rani kembali.
Dan sekarang apalagi Anindya begitu akrabnya dengan Dio, itu yang membuat dirinya merasa bersalah pada Rani. Ya seharusnya ia sebagi ayah biologisnya Anindya yang akrab malah Dio yang akrab dengan Anindya.
Apalagi saat Anindya memanggil Dio bapak sedangkan pada dirinya Anindya memanggil om. Ada kecemburuan yang menusuk hatinya, tapi bagaimanapun ia tidak menyalakan Rani, tapi ia menyalahkan dirinya.
Rey beberapa kali menghela nafas panjang, ada rasa kesal dalam hatinya, kalau saja ia dulu.menerima Anindya tidak mungkin ia tersisa oleh keadaan sekarang.
"Rey, biarkan ia hidup. Aku nggak akan minta apa pun darimu." kata Ranty waktu itu.
"Please! Rey, aku hanya ingin ia hidup jadi temanku suatu nanti, aku nggak bakal mengenalkan dirinya dengan kamu." lanjut Rani.
Rey mengiyakan apa yang Rani katakan waktu itu. Dan kata kata Rani waktu itu akhirnya dibuktikan oleh Rani, ia tidak bisa menyalahkan Rani saat ini.
"Jangan sesali keputusan kamu Rey, jangan salahkan aku kalau suatu anak ini nggak akan pernah tahu siapa ayah biologisnya," lanjut Rani langsung meninggalkan Rey.
Rey menghela nafas kesal mengingat tingkah laku dirinya lada Rani sampai sekarang ia menyesali semuanya. Apalagi Anindya sekarang genap usia 16 bulan, seorang anak yang tidak pernah meminta dilahirkan. Ia lahir kerena kebiadaban seorang ayah yang tidak pernah mengakui anak biologis ya.
Ditatap lagi bocah batita itu dengan hati teriris hatinya. Tangan mungil, bibir yang kecil, membuat ia merasa bersalah pada Anindya.
"Aku telah memaafkan kamu kok Rey, makasih kamu telah membiarkan anindya hidup untuk aku. Aku bahagia sekali melihat Anindya tumbuh sehat dan mengemaskan." suara Rani terngiang di telinganya.
__ADS_1
Kata kata Rani yang lembut membuat hatinya meleleh. Apalagi melihat Anindya yang selalu menolak saat ia pengang. Dan yang lebih menohok hatinya kata kata Dio.
"Anindya tahu siapa yang datang pada dirinya,"
Rey hanya menelan ludah.
Hari itu!
Setelah di alun alun, mereka meninggalkan alun alun dengan perasan gembira. Hanya Rey yang begitu tersiksa melihat keakraban antara Dio dan Anindya.
Seminggu sejak kejadian itu, Rey yang tidak bisa menahan rasa bersalah pada Rani dsn anindya, akhirnya ia menuju rumah Rani dan mengungkapkan rasa salah pada Rani maupun Anindya.
Pada waktu Rey sampai di rumah Rani, ia melihat Anindya sedang bermain di depan rumahnya dengan kakak sepupunya Aulia. Sebelum ia menghampirinya Rey hanya manatap dari kejauhan melihat mereka berdua dengan pandangan yang tidak bisa dilukiskan.
"Anindya!" panggil Rey.
Pria itu langsung berlari mendekati tubuh mungil itu, memeluk dan mencium wajah Anindya dengan perasaan membuncah dalam hatinya.
Anindya yang kangen langsung menangis ketakutan kerena ia merasa ada tubuh yang memangku dirinya dan mencium wajahnya saat mata mungilnya melihat Rey ia langsung menangis tanpa ba bi bu lagi.
Tangan kecik Anindya lanhsung memukul wajah Rey. Tapi ia tidak merasa sakit kerena pukulan Anindya tidak keras hanya Rey merasakan geli sekali.
Rani yang mendengar Anindya mengais langsung lari keluar dan melihat apa yang terjadi, matanya terpaku saat melihat Rey mengendong Anindya.
Rani mendekati Rey dsn mengambil Anindya, tapi Rey menjauhi Anindya pada Rani.
"Ran, maafkan aku ya. Aku salah telah membuat kamu susah." tatap Rey menatap wajah Rani yang kini terbingkai kerudung.
Rani hanya diam saja."Anindya maafkan ayah sayang, maafkan ayah sayang, berikan ayah kesempatan untuk menyanyangi kamu sayang," Rey beberapa kali memeluk tubuh mungil itu.
Melihat Rey seperti itu Rani hanya diam saja melihat Rey. Dilihat wajah Rey, ia merasakan kalau tatapan mata Rey penuh dengan penyesalan pada Anindya. Ia juga ingin kalau Anindya berada di pelukan ayahnya tapi kerena batita itu menangis akhirnya Rani meminta Rey memberikan pada dirinya..Mau tidak mau akhirnya Rey memberikan Anindya pada Rani.
"Ran, izinkan aku membiayai hidup Anindya. Aku seharusnya bertangungjawab, keren aku adlah ayahnya." Rey mengatakan isi hatinya pada Rani.
"Rey aku nggak pernah melarang kamu untuk bertemu dengan Anindya, aku juga nggak mau memisahkan Anindya pada ayah biologisnya," ujar Rani.
__ADS_1
Rani tidak menyangka kalau Rey secepat itu ia mengatakan perkataan yang tidak mungkin dikatakan, ada rasa haru yang menyelinap dihatinya kalau Rey mampu mengatakan nya dihadapan Anindya.
"Ayah sayang kamu," bisik Rey di samping Anindya." Rani mendengar jelas kata kata Rey dihadapannya.
"Aku janji,"
"Bilang dulu sama mbak Rina, kalau mbak Rina nggak setuju nggak apa apa, aku juga nggak memaksa kamu untuk mempertangungjawabkan semuanya, aku juga salah."
"Tadi malam aku mengatakan pada Rina, Rina setuju atas apa yang aku katakan pada dirinya."
"Ran, kamu nggak salah. Aku salah mencintaimu malah melakukan perbuatan nafsu dsn membiarkan yang halal tersiksa." lanjut Rey mengakui kesalahan pada Rani dan Rina.
Rey merogoh saku dan memberikan satu buah kartu ATM buat Anindya. Rani ragu melihat ATM yang disodorkan dihadapannya.
"Ambil lah, insha Allah kalau aku punya uang aku akan transfer ua ke ATM ini, aku buat untuk Anindya, dsn PINnya tanggal, bukan tahun lahir Anindya." kata Rey menatap wajah Anindya yang berceloteh lucunya.
"Makasih Rey!"
Rey tersenyum manis kearah Rani. Dsn satu ciuman cinta mendarat di pipi Anindya, masih terhiang suara Rani di telinga Rey.
"Biarkan ia Hidup.
Tanpa disadari oleh keduanya, Dio, Senja, dan Ningsih melihat adegan antara Rey dsn Anindya begitu mengharukan. Setelah mencium pipi Anindya, Rey akhirnya pamit pada Rani meninggalakan Anindya yang tersenyum pada Rey
Semilirnya angin pagi mengantarkan Rey pulang dengan tatapan batita yang dulu akan dibunuh kini menjadi kerinduan Rey menatap wajah Anindya, putrinya yang pernah ia sia sia kan
**
Alhamdulilah! selesai juga menamatkan novel tentang Biar Ia Hidup, inspirasi yang saya ambil dari novel ini adalah banyak sekali remaja remaja yang menggiurkan kandungan kerena hamil di luar nikah..
Mereka malu hamil, melahirkan dsn menyusui anak hasil hubungan terlarang, tapi mereka tidak malu melakukan hubungan nafsu bejat mereka.
Semoga dengan novel ini bisa memberikan inspirasi pada remaja remaja supaya tidak mengunakan nafsu untuk meraih cinta yang suci.
\#Salam hangat author Hanum Anindya\#
__ADS_1