BIAR IA HIDUP

BIAR IA HIDUP
Semuanya mencari jalan


__ADS_3

"Nggak mungkin! Apa ini siasat Santi lagi? Ya Allah." Ujar Rani getir. 


Rani sangat shock saat membaca surat yang diberikan oleh Dion untuk dirinya. Dio duduk di hadapan Rani yang terlihat terpukul sekali. 


"Aku nggak mau terjebak oleh Santi. Maunya apa sih wanita itu,"lanjut Rani agak geram. 


"Jangan jangan ini jebakan lagi," lirih Dio. 


Laki laki itu merasa iba pada Rani, sejujurnya kalau ia diizinkan Dio ingn memeluk tubuh Rani dengan erat tapi ia ragu untuk melakukannya.


Dio hanya mengenggam tangan Rani, ia merasakan tangan Rani berkeringat dingin. 


"Aku nggak apa apa kok!" Rani berusaha melepaskan ngenggaaman tangan Dio dari tanganya. 


"Kita harus cari tahu masalah ini,"


"Aku nggak bisa." 


"Kenapa?" 


"Anindya dengan siapa?" 


Dio terdiam. Ia melirik Anindya ngoceh sendirian ditempat tidur. Bayi itu seperti riang sekali, wajahnya berseri seri dan tanganya diimut. Kakinya bergerak kesana kemari. 


Dio membenarkan apa yang dikatakan oleh Rani, kalau misal ia mengajak Rani mencari tahu kebenarnya maka Anindya harus kemanakah? Masa harus dibawa bawa, bisa tapi kondisinya tidak memungkinkan. 


*


Di tempat yang berbeda Rina masih menunggu Santi, ia ingin sekali tahu apa yang telah Santi lakukan pada Rey sampai Rey sama sekali tidak pernah menghubungi dirinya sama sekali. 


Rina berpikir kalau Santi telah melakukan pernikahan Rey dengan Rani. Ia bukannya tidak mau memberi khaabr pada Dio tapi ia tidak mau mendengar apa yang akan Dio katakan padanya. Jadi ia lebih baik menjauh dulu daripada mendekati keluarganya, masih untung kalau tidak memberi kabar pernikahan Rey dan Rani. 


Kalau misal ia pulang malah mendengar kabar itu bagaimana?


"Lebih baik kamu pulang, siapa tahu mereka nggak menikah," terhiang hiang kata kata Adinda pada dirinya. 


"Kalau," 


"Kamu takut apa yang belum terjadi, kalau memang itunterjadi berati Rey bukan jodoh kamu." Ingat Adinda. 


"Kenapa sih kamu selalu bilang begitu. Kalau misal kamu berada diposisi aku bagaimana?" Ketus Rina sewot. 

__ADS_1


"Aku hanya menduga kalau Rey belum menikah bagaimana? Seharusnya kamu pulang dulu, harus tahu keadaan rumah baru menyimpulkan." 


Rina diam seketika juga. Ia ingin membenarkan apa yang dikatakan oleh Adinda tapi hati nya masih belum menerima apa yang diucapkan oleh Adinda. 


"Din, kalau misal kamu berada diposisi ku bagaiamana?" Tanya Rina memandang wajah Adinda serius. 


Adinda tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rina. Ia menarik nafas dan mengeluarkan kembali, Adindawncari jawaban untuk Rina supaya wanita yang ada dihadapannya tidak marah maupun kesal. 


"Kalau misal aku jadi kamu, aku lebih baik memasrahkan diriku pada Allah, kerena apa yang Allah berikan itu yang terbaik buat kita," ujar Adinda menepuk bahu Rina lembut. 


"Kamu bisa saja bilang begitu kerena kamu nggak pernah berada diposisi ku, Rina dingin. 


Adinda hanya mwngelangkan kepala saja kerena mendengar apa yang Rina katakan. 


"Ya udah kalau kamu seperti itu, aku juga cape menghadapi kamu," akhirnya Adinda marah dan meninggalakan Rani. 


Rina mendengus kesal. Ingat Adinda. 


'Apa yang aku.lakukan sekarang?' 


Hati Rina berbisik lembut. Ia spontan menghajar kursi yang ia duduki, sampai ia menjerit kesakitan saat tangannya terasa sakit akibat hajatan tangan dirinya. 


"Kalau kamu marah ribohkan saja gubuk ini," suara Santi terdengar ketus dibelakang Rina. 


"Boleh aku getok kepalaa ibu," sembur Rina kesal. 


Ia merasa kesal atas ucapan yang di lancarakan oleh mertuanya pada dirinya.ertua Rina hanya diam saat Rina melontarkan kata kata itu. 


"Kita kerjasama,"


"Maksudnya? Kala itu. Aku nggak mau? Bu, kenapa sih ibu harus menjodohkan aku dan Rey kalau sekarang ibu.mau menjauhkan aku dengan Rey!" Teriak Rani spontan. 


Santi tertawa renyah mendengar teriakan mennayunya. 


"Jawabannya sama kok, ibu juga bigung kenapa aku harus menikahkan anak ku dengan dirimu, sedangkan aku sekarang mengharapakan Rey menikah dengan Rani." Tanya Santi tersenyum kecut sekali. 


"Aku heran cara berpikir ibu!" Dengus Rina kesal. 


"Oke! Ibu nggak bakal menikahkan Rey dengan Rani asal kita kerjasama." Tatap Santi serius. 


"Nggak akan, ibu jahat dan aku nggak percaya sama ibu," hindar Rina. 

__ADS_1


Wanita itu tidak mau mengikuti paa yang dikatakan oleh Santi, kerena menurutnya percuma kalau ia mengikuti Santi, wanita itu bakal menjadikan ia jadi korban dan itu tidak bakal Rina lakukan lagi untuk kedua kali nya. 


"Percaya lah padaku," Santi lembut. 


Hampir saja Santi menceritakan siapa Surya yang sebenarnya pada Rina, tapi ia langsung mengurungkan niatnya kerena Santi takut kalau menantunya tidak bakal setuju dan malah memberitahukan Amanda. 


Santi menatap wajah Rina. Tapi Rina hanya memandang lurus kearah lalu lintas yang semakin ramai. 


"Entah aku harus percaya sama siapa? Kerena orang yang pernah aku percayai masih menghianati," tohok Rani menghindar. 


Ya sebenarnya Rina menginginkan kalau Santi berpihak pada dirinya nyatanya malah lain lagi. Dan sekarang Santi datang mempunyai rencana kembali, ia hanya membuang nafas kesal. 


*


Rani yang mendapatkan telpon dari Dio hanya bisa menarik nafas. Cerita Dio membuat ia tidak percaya, sebenarnya bukan hanya cerita Dio saja, kehidupan yang ia jalani penuh dengan rahasia. 


Ia harus mengakui dirinya menjadi anak Surya. Antara percaya dsn tidak percaya kerena selam ini Ningsih ibunya tidak menceritakan apa apa pada dirinya. Dan waktu Ningsih pulang malah memberikan Khabar ia salah satu anak Surya. 


Dan sekarang ia mendengar kalau Surya pernah membunuh ayahnya Rey. Mana yang benar mana yang salah, Rani hanya mengehlaa nafas saja. 


"Jangan terpengaruh ya, kamu jangan goyah." Nasehat Dio. 


"Entah aku juga masih gamang." Rani lirih. 


"Siapa tahu bukan Surya ayahmu."


"Dio aku bukan mikirin Surya, aku hanya mikirin bapak." Kata Rani. 


Ya Rani tidak fokus apa yang Dio bicarakan padanya, ia hanya berpikir kalau Ilham adalah bapak kandungnya bukan Surya. Tapi kalau ingat tindak tanduk Ilham semasa hidupnya Rani, Ilham seperti ingin menceritakan sesuatu padanya. 


Tapi sampai Ilham meninggal ia tidak pernah cerita apa apa pada Rani, hanya ia mengusap kepala Rani dengan lembutnya. 


"Apa yang kau pikirkan pada bapak kamu," kata Dio. 


Dio mengenal Ilham. Ia pernah bertemu dengannya, dan Ilham pernah bicara pada dirinya. 


"Kamu pantas menjadi penjaga putriku Rani, bapak titip Rani ya," senyum Ilham sambil menepuk bahu Dio. 


Ia tidak menyadari apa yang Ilham katakan pada dirinya, Dio hanya menganggap kata kata Ilham hanya candaan saja kerena memang selama ini Dio selalu bersama dengan Rani. 


"Aku merasa semua hanya sandiwara saja." Ujar Rani. 

__ADS_1


Oe oe oe


Rani tersentak saat ia mendengar suara Anindya mwnnagis dengan kencangnya. Ia langsung menghampiri Anindya yang menangis, saat Rani mendekati Anindya bayi imut itu langsung terdiam seketika juga.*


__ADS_2